Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
29


__ADS_3

Hinana menaiki busway untuk ke rumah Tsubaki. Sebenarnya Ren menyuruhnya naik taksi, tapi ia memilih menikmati suasana naik busway.


"Hinana." panggil Aoyama saat melihatnya.


"ya, kau kemana?"


"oh aku baru mengunjungi nenek ku, kau?"


"kerumah temanku."


"begitukah, apa kau sibuk malam ini? Shota akan mentraktir kita karena pekerjaan barunya."


"benarkah? Tapi dia tidak memberi tahuku."


"eh maaf aku yang mendahuluinya." ucap Aoyama dengan meringis.


"dari dulu kau selalu yang pertama kalau tentang makan. Daah Aoyama, aku berhenti di halte ini."


"hem ku harap kau datang Hinana. Sampai jumpa." balas Aoyama dan melambaikan tangan.


Pintu busway tertutup Hinana membalas lambaian tangan Aoyama. Saat bus sudah berjalan Hinana melanjutkan berjalan kaki menuju rumah Tsubaki.


"koniichiwa.." ucap Hinana saat tiba di rumah Tsubaki.


"konii-.... Eh Hinana, masuklah. Tahu dari mana rumahku? Baru saja aku akan menjemputmu."


"tidak perlu, dimana yang lain?"


"hanya ada Ren, dia sedang di lantai atas. Ayo kesana." ajak Tsubaki. Hinana mengikuti Tsubaki dan melihat-lihat rumah Tsubaki. Rumah Tsubaki seperti castel milik ayahnya.


"kau tingal sendiri?"


"tidak, aku dengan adikku."


"lalu dimanakah kedua orang tuamu." tanya Hinana dan membantu Tsubaki membawa gelas minuman dan makanan ringan.


"mereka sudah meninggal." ucap Tsubaki dengan datar. Hinana merasa tidak enak karena menanyakan hal tersebut.


"aku minta maaf Tsubaki, aku tidak tahu jika pertanyaanku menyakiti perasaanmu." Hinana merasa menyesal, dan membungkukkan badan.


"tidak apa Hinana, memang itu kenyataannya. Aku senang kau mulai peduli dengan orang disekitarmu. Kau mau buah?"


"aku benar-benar minta maaf."


"sudahlah tidak apa. Ayo ke atas, Ren pasti sudah menunggu." ajak Tsubaki dengan membawa buah dan minuman.


Hinana terus mengikuti Tsubaki, kali ini ia akan memilih diam karena takut salah bertanya lagi.


"Hinana sudah datang, oh ya Ren tadi Arumi menghubungiku kalau tidak bisa datang, dia harus membantu tuan Jouji di kantor." ucap Tsubaki saat sampai di balkon.


"apa dia tidur?" tanya Hinana saat melihat Ren matanya terpejam.


"entahlah, mungkin iya. Karena dari tadi ia mengatakan jika mengantuk."


"em, enak sekali dia bisa tidur dimana saja dan kapan saja."


"Hinana kemarilah, bantu aku."


"Haik..." Hinana segera menghampiri Tsubaki.


Tsubaki memberikan beberapa lembar kertas dengan design baju untuk Hinana. Ia menyuruh Hinana memilih mana yang menurutnya bagus dan cocok untuk festival.


"kau yang menggambar semua ini?" tanya Hinana yang kagum dengan gambar-gambar Tsubaki.


"hem, aku butuh saran mu. Karena kau pandai menilai sesuatu."

__ADS_1


"HUAH keren sekali. Aku hampir bingung memilihnya."


"itu tidak seberapa, masih bagus milik Ren, Arumi dan Emi. Oh ita Hinana mana hasil gambarmu."


"Eh, aku belum menyelesaikannya satu pun."


"tidak apa waktunya masih 5 hari lagi kau bisa menyelesaikannya. Lagi pula ini gambarku saat kuliah, barangkali saja ada salah satu yang menarik."


"semua ini menarik bagiku."


"apa Emi akan kemari?"


"mungkin tidak, dia baru tiba dari Yokohama tadi pagi."


"baiklah jadi hanta kita bertiga saja hari ini." ucap Hinana dan menyerahkan satu gambar design yang menurutnya menarik.


Tsubaki mengiyakan pilihan Hinana, namun ia melanjutkan gambarnya. Sedangkan Hinana menghampiri Ren dan melihat-lihat hasil gambarnya.


"dia tidur seperti bayi." guman Hinana dan memandangi Ren dari dekat.


"Hinana apa yang kau lakukan, biarkan dia tidur." teriak Tsubaki.


"aku tidak mengganggunya tenang saja." jawab Hinana namun masih memandangi Ren.


Cukup lama Hinana memperhatikan Ren, dan tiba-tiba Ren perlahan membuka matanya.


Hinana terkejut namun mulutnya tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, dan Ren juga hanya diam melihat Hinana kemudian kembali memejamkan matanya.


"Tsubaki-san, sampai kapan Ren akan tidur?" tanya Hinana.


"emm kalau begitu kau bangunkan saja, sebentar lagi sudah waktunya makan siang."


"tadi dia sudah bangun tapi tertidur lagi." ucap Hinana kesal.


"benarkah? Ren... Ren bangunlah." Tsubaki beranjak mendekati Hinana dan membangunkan Ren.


Tsubaki membangunkan Ren dengan menggoyangkan tubuhnya tapi tidak ada respon.


"Hinana bantu aku bawa Ren ke mobil." Tsubaki mulai panik karena denyut nadi Ren semakin melemah.


"Heh, ada apa?." Hinana menjadi panik karena Tsubaki dan membantu memapah Ren.


"memangnya Ren kenapa? Tadi ia terbangun." tanya Hinana sekali lagi saat di mobil.


"aku barusan periksa nadinya sangat lemah, Hinana tolong kau saja yang menyetir ke rumah sakit."


"baiklah." sesegera mungkin Hinana membawa mobil Tsubaki ke rumah sakit.


"cepatlah sedikit Hinana."


"baiklah, pegangan yang kuat."


Satu-satunya rumah sakit yang dituju Hinana adalah dekat Sapporo tempat ia dirawat dulu. Melihat wajah Tsubaki yang sangat panik membuat Hinana juga ikutan, walaupun Hinana tidak tahu apa yang terjadi pada Ren.


"Hinana."


"eh Aoyama."


"sedang apa kau kemari?"


"mengantar Ren. Sepertinya ia pingsan."


"apa Ren sakit lagi?"


"entahlah tadi aku lihat dia tidur, namun Tsubaki bilang denyut nadinya melemah." jawab Hinana.

__ADS_1


"Hinana, cepatlah." teriak Tsubaki.


"iya.... Maaf Aoyama, aku pergi sekarang."


"hem tidak apa. Daah Hinana." Aoyama melambaikan tangan pada Hinana dan mulai keluar dari lobi.


"nanti jika dokter sudah keluar, kau temani dulu Ren. Aku akan mengurus adminya."


"siap pak. Kau sudah menghubungi keluarganya?"


"belum, aku agak khawatir jika menghubungi tuan Jouji. Karena keadaan kantor belum juga stabil."


"kabari saja Shota, aku rasa dia belum berangkat ke Osaka."


"baiklah."


"siapa wali dari pasien?" Ucap dokter yang baru keluar.


"kau bisa bicara padaku, aku kerabatnya." Tsubaki langsung menjawab pertanyaan dokter dengan spontan.


"baiklah mari ikut ke ruanganku."


"baik. Hinana kau temani dulu Ren." Tsubaki memberi isyarat pada Hinana dan mengikuti dokter Seto.


Hinana masuk ke ruang priksa dan melihat Ren masih saja tertidur. Namun tak lama saat Hinana duduk di sofa Ren mulai membuka matanya.


"kau tidak apa-apa?" tanya Hinana langsung menghampiri Ren.


"em, aku hanya merasa mengantuk. Tapi kenapa tiba-tiba di rumah sakit."


"aku pikir kau tidur, kau membuatku dan Tsubaki panik ."


"maaf, aku tadi hanya sedikit pusing."


"lain kali kalau sakit bilang saja, jangan diam dan menutup mata."


"hem baiklah, aku benar-benar minta maaf." ucap Ren dan tersenyum, Hinana membalas senyum Ren hingga suasananya menjadi hening kembali.


Sementara itu Tsubaki masih berdiskusi dengan dokter.


"apa Ren-san makan atau minum yang manis?" tanya dokter.


Tsubaki teringat bahwa tadi membuatkan secangkir teh manis dan buah persik.


"sepertinya iya, tapi aku juga tidak yakin."


"kondisinya jantungnya sangat tidak baik, jadi mempengaruhi hatinya dan tidak bisa memproduksi insulin. Ren-san tidak boleh makan dan minum yang manis, terutama mengandung gula."


"eh begitukah?"


"apa Ren-san tidak memberitahumu? Hanya manis dari buah pisang saja yang boleh. Kuberi resep obat dan pastikan sekali lagi, agar Ren tidak makan dan minum yang manis."


"baik aku mengerti, arigatou sensei. Aku permisi." Tsubaki meninggalkan ruangan dokter dan menuju ruang obat.


Ia benar-benar menyesal telah membuatkan Ren teh manis. Akhirnya dengan langkah lemas Tsubaki menuju kamar Ren.


"kau sudah baikan Ren?" tanya Tsubaki dan memberikan obatnya. Tidak disangka di kamar sudah ada Shota.


"terima kasih, maaf merepotkanmu." Ren langsung meminum obatnya.


"hei kenapa lagi dengannya? Apa dia buat onar lagi" tanya Shota pada Tsubaki.


"aku membuatkan Ren teh manis dan buah persik." jawab Tsubaki.


BUUUKKK!!!!

__ADS_1


Shota langsung memukul Tsubaki sampai terjatuh di lantai. Hinana dan Ren yang melihatnya pun sangat terkejut.


"kau mau MEMBUNUHNYA...!" teriak Shota.


__ADS_2