Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
6


__ADS_3

Hinana mengeluarkan earphone dari tasnya. Sore ini ia akan pergi ke Nisekoi dan bermain Ice skating meskipun tangannya masih sakit.


Saat sampai di tempat Hinana tidak di perbolehkan untuk bermain oleh instruktur karena lukanya parah. Hinana akhirnya hanya melihat, meskipun begitu sudah membuat Hinana terhibur.


"Aish kenapa orang itu disini." kata Hinana saat melihat Ren. Hinana membalikkan arahnya untuk menghindari Ren.


"Nana..." panggil Ren, dan usahanya Hinana sepertinya sia-sia.


"Nana, tunggu sebentar. Kenapa kau tak berhenti saat ku panggil." Ren menghadang tepat di depan Hinana.


"sudah ku peringatkan jangan pangil aku Nana, namaku Hinana."


"lebih singkat jika ku panggil Nana."


"kau tak boleh memanggil nama orang lain seenak jidad mu."


"aku tidak sembarangan, panggilanmu terlalu panjang. Emi, Shota, Rena lebih mudah memanggil Nana."


"Tsubaki kenapa kau menyingkatnya?"


"Tsu Ba Ki, Ba Ki. Tidak ,jika aku memanggilnya Baki tak enak di dengar. Eh Nana kau mau kemana." Ren mengejar Hinana yang berjalan menghindarinya.


"kau marah, baiklah aku tak akan lagi memanggilmu Nana. Apa kau akan bermain Ice skating?"


"tidak, kau tak lihat tanganku?"


"Eh, kenapa tak pakai perban untuk menutupnya."


"sudahlah, nanti akan kering dan sembuh sendiri." ucap Hinana namun tiba-tiba Ren memegang tangannya dan melihat lukanya.


"apa yang kau lakukan? Kau akan ku tampar jika begini." Hinana merasa gugup karena Ren selalu berbuat mengejutkannya.


"luka nya masih basah, ikutlah dengan ku akan ku obati."


"tidak mau." Hinana segera melepas genggaman Ren.


"Hinana, luka bakar jika tak di obati dengan benar maka akan membekas nantinya. Jangan ceroboh ayo." Ren memegang tangan Hinana kembali dan mengajak ke mobilnya karena dia membawa kotak obat.


"Aw..."


"masih terasa sakit ?"


"hem, sangat sakit dari yang sebelumnya."


"Eh bagaimana bisa? Seharusnya tadi lebih sakit dari yang sekarang." ucap Ren dan mengacak-acak rambut Hinana.


"hentikan. Jika kau melakukannya lagi aku tidak segan akan memukulmu."


"maaf tapi kau sangat lucu." Ren pun berhenti dan tertawa kecil melihat Hinana.


"sekarang apa kau mau kembali lagi." tanya Ren dan merapikan kotak obat.


"tidak, antarkan aku pulang."

__ADS_1


"Baiklah tapi ada syaratnya."


"lupakan aku akan naik taksi saja." Hinana membuka pintu mobil dan akan keluar.


"tunggu sebentar aku hanya bercanda." Ren mencegah Hinana pergi dengan memegang Hinana, tapi Hinana dengan kasar melepaskan pegangan Ren.


"kau ini kenapa? Apa kau alergi terhadap laki-laki?."


"tutup mulutmu dan jalankan saja mobilnya." tegas Hinana. Ren tak ingin ribut dan hanya menuruti perintahnya saja.


Saat sudah sampai di rumah Hinana langsung keluar dari mobil Ren tanpa mengucap terima kasih.


Ren hanya tersenyum tipis melihat Hinana masuk ke gerbang rumahnya kemudian mengemudikan mobilnya ke rumahnya.


"aku pulang." Hinana melepas sepatunya dan berjalan ke kamarnya.


"selamat datang, makanan sudah siap ayo kita makan bersama." balas Keiko saat melihat kepulangan Hinana.


"aku tidak ikut makan, maaf."


Hinana melempar tasnya ke kasur dan merebahkan dirinya. Ia masih teringat perlakuan Ren saat mengobati lukanya dan mengusap rambutnya. Sama seperti Yukiatsu, saat masih berpacaran Hinana sering mendapat perlakuan seperti itu. Jauh di lubuk hatinya masih menginginkan Yukiatsu.


"Onii-san.... Onii-san, kau tak mengganti baju mu?" Keiko membangunkan Hinana karena ia tidur pasih memakai Coat tebalnya dan kaos kaki panjang.


"hem iya Keiko."


"kau tidak apa-apa?"


"iya, aku hanya kelelahan saja."


"terima kasih."


"jika Onii ada masalah, kau bisa berbagi denganku. Kita kan teman sekamar."


"hem iya, aku tidak ada masalah apapun." Hinana menyembunyikan perasaannya dan meminum minumannya.


"pernahkah Onii merindukan seseorang?"


DEG...


Pertanyaan Keiko membuat Hinana terkejut, Hinana hanya terdiam tak bisa membalas Keiko.


"saat ini aku merindukan seseorang, Onii aku baru saja memutuskan pacarku. Aku sudah lama berkencan dengannya meskipun diam-diam, tapi sahabatku tiba-tiba mengatakan kalau menyukainya." Keiko mengusap air matanya yang mengalir sangat deras. Hinana mendekati Keiko dab perlahan memeluknya.


"aku tak ingin kehilangan sahabatku Onii, tapi perasaanku sangat berat memutuskan pacarku." lanjut Keiko yang menangis di pelukan Hinana.


Hinana tak bisa melakukan apapun selain memeluk Keiko, karena sejujurnya kisahnya hampir mirip dengan Keiko. Tapi Hinana yang di tinggalkan, jauh di lubuh hati Hinana masih menginginkan Yukiatsu.


Keesokan harinya Hinana akan berangkat bekerja menggunakan mobilnya. Ia melihat Keiko sudah bersemangat menjalani hari-harinya padahal semalam menangis histeris. Semudah itukah melupakan orang yang kita cintai ?.


"selamat pagi Onii-san."


"selamat pagi, terima kasih bekalnya aku berangkat dulu." Hinana menerima bekal yang di buat Keiko dan berjalan keluar.

__ADS_1


Baru saja ia akan masuk ke mobil sudah melihat Ren di halaman.


"Selamat pagi Hinana." sapa Ren dan melambaikan tangannya.


"ayo kita berangkat bersama."


"pergilah aku akan berangkat kerja sendiri."


"ayolah Hinana kita kan teman sekantor, dari pada menunggu taksi."


"tidak aku menyetir sendiri." Hinana membuka pintu mobilnya dan menaruh bekal makanan di kursi belakang.


"Wonderful, ini mobilmu?" Ren mendekati Hinana di sebalh mobil jenis SUV.


"iya, baru datang dari Tokyo."


"baiklah, ayo kita berangkat sekarang." Ren langsung masuk ke kursi penumpang mobil Hinana.


"apa yang kau lakukan?"


"kita akan bekerja kan?"


"HAh keluarlah aku tak ingin berangkat bersamamu."


"ayolah Hinana, aku belum pernah naik mobil semewah ini. Ayo ayo." Ren tak peduli meskipun Hinana tak menyetujuinya. Ia tetap bersikeras untuk pergi kerja bersama Hinana.


Melihat kelakuan Ren yang seperti anak kecil Hinana tak dapat marah. Waktu sudah hampir setengah sembilan Hinana tak ingin berdebat dengan Ren, karena bagaimana pun juga Ren tak akan mau keluar.


"terima kasih tumpangan nya Hinana, Daah." Ren melambaikan tangan kearah Hinana sebelum keluar dari mobil.


"Eh Ren.." sapa Tsubaki saat di koridor.


"Kau berangkat bersama Hinana?"


"kau melihatnya? Kau tahu Tsubaki mobil Hinana sangatlah keren."


"benarkah."


"tentu jenis SUV."


"Woah... Apa kau pacaran dengan Hinana? Rumah mu berlawanan arah dengannya."


"tentu saja tidak, tapi..."


"kau menyukainya?" teriak Tsubaki saat melihat wajah Ren memerah.


"Diamlah, jika dia tahu maka aku akan di tendang." Ren kemudian menutup mulut Tsubaki yang tidak bisa mengontrol ucapannya.


Tapi sudah terlambat, karena tidak jauh dari sana Shota telah mendengar semuanya.


"selamat pagi semuanya, hari ini bagian marketing akan meeting. Karena kita kedatangan client yang datang dari Tokyo langsung. Jadi silahkan persiapakan diri." Shota menyuruh semua staff marketing untuk meeting bersama.


Sepuluh menit kemudian semuanya sudah berkupul di ruang meeting.

__ADS_1


"selamat pagi." sapa Sawako Direktur utama dari brand pakaian ternama di jepang yaitu Comme des Garcons.


"baiklah kita mulai sekarang, Nona Hinana dan Nona Emi silahkan presentasikan hasilnya ke depan." ucap Shota yang memandu jalannya meeting.


__ADS_2