
..."Aku ingin menghabiskan hariku bersamamu Hinana, bagaimana menurutmu? Aku juga ingin memberikan kado spesial saat hari ulang tahunmu." (Ren Koizumi)...
.......
.
.
.
"Bagaimana? Masih terasa sakit?" Tanya Seto kepada Ren untuk memastikan jika Ren masih tersadar. Ia juga masih sibuk memeriksa nadi pasiennya, meskipun smarbandnya yang dipakai Ren sudah tidak berbunyi. Ren mengangguk untuk membalas perkataan Seto.
Seto sudah tidak panik lagi saat menangani Ren, karena sudah biasa Ren mendapat serangan sesuai dengan prediksinya.
"Hanya serangan biasa, kalau begini aku akan mengambil surat izinmu." Ucap Seto lagi kepada Ren saat Ren sudah mendapatkan kesadaran penuh.
"Jangan, aku mohon. Aku tidak akan melakukan apapun." Jawab Ren dengan menahan rasa sakit di dadanya.
"Sekarang katakan padaku apa yang terjadi. Disini tidak ada Aoyama atau Hinana bahkan perawat Kishi mungkin kau menyimpan rahasia." Tanya Seto dan membantu Ren untuk duduk setelah keadaannya stabil.
"Jika aku memberitahumu kau tidak boleh memarahiku ." Ancam Ren pada Dokter kesayangannya.
"Tentu saja aku akan memarahimu karena kau pasien yang sangat nakal."
"Kalau begitu aku tidak akan cerita."
"Baiklah, aku tidak akan marah padamu." Balas Seto menyerah.
"Janji??" Tanya Ren untuk memastikan.
" Iya janji aku tidak akan memarahimu." Jawab Seto mempertegas ucapannya.
"Mana jari kelingkingmu." Ren mengacungkan jari kelingkingnya pada Seto.
"Kau seperti anak-anak saja." Guman Seto dengan gemas dan mengacungkan jari kelingkingnya dengan pasrah.
"Aku mencium Hinana."
Ucap Ren setelah berjanji dengan Seto.
Mendengar ucapan keluar dari mulut Ren, Seto langsung tertawa dengan lebar.
"Kau curang, bukankah kita sudah berjanji." Teriak Ren dengan kesal dan melempar bantal kearah Seto.
"Tapi aku tidak berjanji untuk tidak mentertawakanmu. Hey Ren apakah kau sangat polos, hanya dengan menciumnya saja kau mengalami serangan." Ucap Seto yang masih mentertawakan pasiennya.
"Hey berhentilah tertawa, aku ini hampir mati dan kau masih bisa mentertawakanku dasar kejam. Itu adalah ciuman pertamamu dengan Hinana." Ren semakin kesal pada dokternya dan memukulinya dengan bantal.
"Apakah selama ini kau tidak pernah berciuman?"
"Tidak..." Jawab Ren menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu seringlah berciuman agar kau terbiasa." Seto memegangi perutnya karena sakit akibat mentertawakan Ren.
"Dasar gila...." Umpat Ren.
__ADS_1
Seto memberikan air minum pada Ren setelah memberikan oksigen selama beberapa menit.
"Ren, ku beritahu satu hal. Kau boleh melakukan apapun asal satu ini kau tidak boleh melakukan." Ucap Seto dengan serius.
"Apa itu?" Tanya Ren dengan keheranan.
"Kau tidak boleh melakukan yang lebih jauh pada Hinana. Kau mengerti maksudnya kan??"
"Eh kenapa?"
"Setelah kau melakukannya, tubuhmu pasti akan kelelahan. Setelah itu perlahan kondisimu tidak akan stabil lagi karena kerja jantung yang meningkat. Oleh sebab itu aku melarangmu. Bahkan kau bisa mendapatkan serangan saat melakukannya."
Seto menjelaskan semuanya kepada Ren dengan serius. Ia tak ingin pasiennya bertindak terlalu jauh dan membuat kondisinya memburuk.
"Itu artinya aku...." ekpresi Ren berubah menjadi kesal.
"Kau akan menjadi perjaka terus," Seto langsung menyahuti ucapan Ren yang menggantung.
"Woiy jangan seenaknya berbicara, kau menyakiti hatiku." Teriak Ren dengan kesal dan melempar Seto dengan bantal sekali lagi karena dokternya terus tertawa.
"Lalu kenapa kau tak melakukannya dulu?" Tanya Seto kembali mengejek pasiennya.
"Sudah ku bilang bahwa aku kehilangan cinta pertamaku, sejak saat itu aku tidak tertarik lagi pada siapapun." Jawab Ren dengan kesal.
"Ternyata di balik otakmu yang jenius, ada kebodohan yang sangat luar biasa."
"Kau terus- terusan mengataiku. Lebih baik pergilah." Ren semkain kesal dengan Seto karena terus menerus membuka aibnya.
"Baiklah aku akan pergi agar kau bisa istirahat. Oh ya jika kau butuh sesorang untuk mengajari cara berciuman aku bisa jadi guru pembimbingmu."
Sementara Ren dan dokter Seto saling mengejek. Ada Aoyama dan Hinana di luar yang menunggu hasil pemeriksaan dengan panik.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Aoyama memecah keheningan suasana. Karena mereka berdua dari tadi hanya diam.
Hinana masih belum menjawab pertanyaan Aoyama, karena menurutnya tidak mungkin juga Hinana mengatakan jika mencium Ren.
"Seto Sensei bagaimana keadaannya Ren?" Tanya Aoyama saat Seto keluar dari kamar Ren.
"Sudah lebih baik kondisinya. Kalian tahu jika ada yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan untuk Ren. Jadi sebaiknya berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu." Jawab Seto, dan mendengar penjelasan dari Seto Hinana hanya menundukkan kepala. Kali ini memang karena Hinana yang menyebabkan Ren mengalami serangan.
Setelah menjelaskan semuanya pada Hinana, Seto pergi dengan tawanya. Entahlah dokter yang satu ini memang sangat suka jika melihat Ren kena karmanya, karena selalu membuat Seto mencemaskan.
"Bagaimana keadaanmu."
Aoyama datang menghampiri Ren yang terbaring di ranjang.
Ren hanya diam saja enggan menjawab pertanyaan dari Aoyama.
Hinana masuk ke kamar Ren, ia masih menunduk karena merasa bersalah kepada Ren.
"Baiklah kalau kau masih tak mau bicara padaku, aku pulang saja." Aoyama lalu pergi karena merasa mungkin Ren ada yang harus dibicarakan pada Hinana.
Setelah kepergian Aoyama perlahan Hinana menhampiri Ren. Namun Ren masih diam dan memandang ke luar jendela.
"Apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Hinana perlahan.
__ADS_1
Ren hanya diam enggan menjawab pertanyan dari Hinana. Ren juga masih malu untuk menatap Hinana. Nalurinya begitu ingin mencium kekasihnya, hingga akhirnya tidak bisa mengontrol diri dan lupa dengan kondisinya.
"Ren, baiklah jika kau masih butuh istirahat. Aku akan pulang, persiapkan dirimu untuk berangkat besok." Hinana akhirnya memilih pergi, dan suasananya memang sangat canggung.
"Gomenne (Maaf)."
Ren langsung berdiri dari ranjangnya dan memeluk Hinana dari belakang.
"Maafkan aku Hinana, karena tak bisa membuat Hinana merasa senang. Maafkan aku."
Bisik Ren dengan penuh penyesalan.
Saat ini Hinana pasti sudah menganggap Ren adalah laki-laki yang bodoh dan sangat lemah. Itulah yang ada di pikiran Ren, karena dirinya langsung pingsan saat Hinana menciumnya. Padahal sudah sewajarnya jika sepasang kekasih saling berciuman.
"Ren, aku bahagia bisa bersamamu." Balas Hinana dan menghadap kearah Ren untuk menghibur kekasihnya.
"Hountoni ? (benarkah)." Suara Ren yang sangat lembut selalu membuat Hinana bahagia, bahkan senyumannya.
"Kau tidak perlu memaksakan apapun untuk membuatku bahagia. Aku juga harusnya mengerti itu."
Ucap Hinana lagi. Harusnya Hinana yang meminta maaf pada Ren karena terlalu memaksakan keinginannya. Tapi mendengar Ren yang meminta maaf lebih dulu, membuat Hinana yakin bahwa Ren adalah sosok laki-laki yang baik.
"Aku ingin memelukmu boleh?"
"Hum, boleh." Jawab Hinana dan tersenyum. Ia membalas pelukan Ren yang hangat.
Meskipun hanya begini saja rasanya sudah membuat Hinana bahagia. Mungkin itulah kenapa alasan Ren selalu izin jika ingin melalukukan sesuatu pada Hinana. Dan bodohnya Hinana tak menyadari itu.
"Hinana, aku sangat mencintaimu. Selalu." Bisik Ren pada Hinana.
Mendengar kata-kata dari Ren, Hinana semakin erat memeluk kekasihnya.
-------
Keesokan harinya Ren sudah memakai baju bebas dan sweater tebal miliknya. Ia sudah istirahat banyak kemarin, dan Hinana sudah membantu Ren menata apa yang perlu dibawa.
"Aku mengingatkanmu kau harus kembali sebelum malam." Ucap Seto yang langsung masuk ke kamar Ren.
"Wakatta (aku mengerti) kau sudah mengatakan berkali-kali." Balas Ren dan merapikan rambutnya.
"Malam ini aku ingin berkencan dengan kekasihku jadi jangan berbuat onar. Kau mengerti."
Ucpaan Seto kali ini tidak di gubris oleh Ren. Ia juga tidak mungkin membahayakan tubuhnya sendiri, Ren hanya ingin menghirup udara bebasa karena sudah beberapa bulan terkurung di rumah sakit.
"Tentunya aku juga akan berciuman dengan kekasihku, jadi jangan tiba-tiba mengejutkanku." Imbuh Seto seraya mengejek Ren.
"Dasar brengsek, bisakah jangan membahas hal itu lagi. Aku malu." Ucap Ren dan Seto langsung pergi keluar dari kamar Ren.
Ren bisa mendengar suara tawa dari Seto, betapa malunya dirinya karena sudah tak bisa merasa paling keren di hadapan dokternya.
Tak lama kemudian Kishi mengetuk pintu dan masuk ke kamarnya Ren.
"Sudah siap berpetualang?" Kishi tersenyum melihat pasiennya yang sudah memakai baju santai. Selama di rumah sakit Ren selalu memakai baju tudur yang disediakan dari rumah sakit.
"Tentu saja. Tinggal menunggu kedua temanku." Jawab Ren dan tersenyum.
__ADS_1