Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
98 Saat Ren bersama Aoyama


__ADS_3

..."Jika kau datang hanya untuk pergi, lalu untuk apakah kau datang padaku?...


...Apakah akan menggoreskan luka?...


...Senyuman itu, suara itu, dan sebuah pelukan aku tidak bisa menghindarinya....


...Kami-sama (Tuhan), aku ingin orang sebaik itu tetap hidup. Biarkan dia tetap hidup, aku mohon....


...(Hinana Arizawa)...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Entah sudah berapa lama Hinana dalam pelukan Ren, rasanya ia tak ingin melepasnya.


"Aku harus pergi." ucap Ren dan perlahan melepaskan Hinana dari pelukannya.


"Bisakah kau hidup lebih lama lagi, ibuku seorang dokter aku bisa tanyakan mungkin ada cara lain agar kau bisa bertahan. Kumohon jangan pergi, hiduplah sedikit lebih lama." Masih dengan mata yang berkaca-kaca Hinana berusaha untuk menahan air matanya.


"Apa yang kau katakan? Aku harus pergi untuk menyatakan kehadiran di festival itu."


"Ehh???" Hanya itu yang keluar dari mulut Hinana. Saat Ren mengatakan dirinya harus pergi, ia beranggapan jika hidup Ren akan berakhir.


"Ehhh?" Ren mengikuti ucapan Hinana. "Hahahaha, apa yang sedang kau pikirkan. Cepatlah panggil Aoyama aku harus pergi bersamanya."


Ren tertawa keras saat melihat Hinana menutup wajahnya dengan satu tangan. Ia juga mengacak-acak rambut Hinana karena tahu jika Hinana malu ia akan menutup wajahnya sebagian.


"Jika kau ingin ikut mandilah dahulu." ucap Ren sekali lagi.


"Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu." gumam Hinana dengan membereskan rambutnya yang sudah acak-acakan.


"Aku mencium baunya dari sini." Jawab Ren dengan menutup hidungnya.


"MENYEBALKAN...!!!"teriak Hinana dengan pipinya yang sangat merah. Ia merasa kesal karena dua kali dipermalukan oleh Ren.


Hinana berlari meninggalkan Ren, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Aoyama menghampiri Ren yang sedang duduk dibangku. Melihat Ren yang duduk seperti itu, ia teringat pada kekasihnya.


"Maaf membuatmu menunggu lama." sapa Aoyama yang menghampiri Ren.


"Aku tidak menunggumu kok."


"Eh?? Tapi Hinana bilang kau... Ah sudahlah, apa kita akan pergi sekarang?


"Hinana bilang akan ikut." Jawab Ren dengan jarinya menunjuk kearah Hinana yang pergi.


"Lebih baik kita tinggalkan saja."


Ucap Aoyama dngan raut wajah yang masam, karena ia tahu kejadian apa yang menimpa Hinana setahun yang lalu.


"Emm baiklah, ayo kita pergi." tanpa bertanya apa penyebabnya Ren menyetujui pergi tanpa Hinana.

__ADS_1


Musim panas di kota Tokyo terasa sangat ramai, sudah hampir sepuluh tahun Ren tidak pernah menginjakkan kaki di kota kelahirannya. Ia memang lahir di Tokyo namun keluarganya pidah ke Paris saat Ren usia dua tahun.


Aoyama pun juga terlihat memandangi gedung-gedung yang berdiri. Lima tahun yang lalu, Tokyo menjadi kota terindahnya. Kenangannya bersama Sakura masih membekas di ingatannya.


"Sensei terlihat sangat menikmati." ucap Ren sembari tertawa kecil memulai percakapan sela-sela berjalan.


"Tidak juga, aku dulu pernah bekerja di Tokyo." Jawab Aoyama dengan senyuman.


"Ohh jadi bernostalgia rupanya."


"Emm kedengarannya begitu. Ren apa kau akan lama?"


Mereka berdua sudah sampai di sebuah gedung. Dan Aoyama enggan menemani Ren hingga kedalam, ia berencana menunggu Ren di depan lobi.


"Entahlah, kau akan menunggu di lobi?" Jawab Ren dengan mengisi buku tamu.


"Hum, kabari aku jika terjadi sesuatu."


"Tenanglah, aku merasa sangat sehat sekarang. Jaa ne."


Ren melambaikan tangannya dengan senyum khasnya sebelum masuk kedalam lift.


...Sakura chan bagaimana kabarmu. Aku masih mengingat saat kau mengatakan untuk melupakanmu. Tapi bagaimana bisa aku melupakanmu, jika saat ini saja aku masih bersama dengan orang yang sangat mirip denganmu. Sakura chan apa kau bahagia disana...


Dengan senyuman yang masam Aoyama bergumam pada dirinya sendiri. Ia membaca buku yang ada di lobi, pandangannya tertarik pada buku yang bersampul bunga matahari.


...Secerah Matahari...


... (Judul bukunya)...


Ia mulai mengisi formulir dan menuliskan nama ke empat temannya. Untuk busananya Ren menyuruh Arimura karena hanya dia yang bisa diandalkan.


"Haik, arigatougozaimasu (terimakasih banyak)." ucap Ren saat menerima id card peserta yang di berikan oleh panitia.


"Semoga sukses di acara." Kata seorang wanita paruh baya yang merupakan salah satu panita.


Ren membalas dengan senyuman menunduk sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Ren segera kembali ke lobi untuk menemui Aoyama. Ia melihat Aoyama yang duduk dengan tenang dengan membaca sebuah buku.


"Serius sekali." suara Ren membuat Aoyama terkejut kemudian ia meletakkan kembali buku yang ia pegang ketempatnya.


"Ahhh. Kau sudah selesai?"


"Hum. Secerah Matahari, aku pernah membacanya dua kali. Dari situ aku menemukan keberanian untuk menemui kematianku."


Ren mengambil buku itu dan mulai membuka lembar-lembarnya.


"Apa begitu terkesan sampai-sampai nilai jualnya tinggi?"


"Seperti begitu, karena penulisnya telah wafat. Sang penulis mengidap penyakit hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Setelah itu buku ini sangat ramai dipasarkan. Sensei aku akan membacakan satu bait dari buku ini...."

__ADS_1


"Jika suatu kelahiran ditakdirkan untuk mati, maka kehidupan merupakan waktu luang." Aoyama memotong perkataan Ren dengan satu kutipan yang ada di buku itu.


"Woah Sugoi, Sensei ternyata tahu." ucap Ren terkesima.


"Aku sudah membaca ratusan kali. Baiklah ayo pergi!"


Ajak Aoyama yang keluar dari gedung di ikuti dengan Ren dibelakangnya.


Karena hari sudah siang, keduanya memutuskan untuk makan di rumah makan tradisional.


Setelahnya Aoyama mengajak Ren untuk berjalan-jalan menikmati kota Tokyo. Aoyama berhenti di sebuah toko oleh-oleh, ia melihat sebuah gaun yang terpajang di manekin.


"Kau ingin beli oleh-oleh?" tanya Ren dengan mulut yang masih penuh dengan takoyaki.


"Ayo masuk untuk melihatnya."


Tanpa persetujuan Aoyama langsung menggeret tangan Ren untuk masuk ke toko.


Banyaknya pernak-pernik yang terpajang sebagai oleh-oleh khas kota itu. Pandangan Aoyama tertuju pada sebuah cincin.


"Kirei (cantiknya), apa Sensei akan membelinya?" suara Ren yang tiba-tiba membuat Aoyama sangat terkejut.


"Kau membuatku kaget saja." ucap Aoyama dengan memegangi dadanya.


"Sensei belikan aku sesuatu." Ren mengambil sebuah syal warna merah dan menunjukkan pada Aoyama.


"Aku sedang bokek, kau beli saja sendiri." dengan sikap cueknya Aoyama kembali berjalan melihat sebuah gantungan kunci.


"Bukankah gaji seorang dokter itu banyak, belikan satu untukku tak masalah kan."


"Kau seorang bos, harusnya uangmu lebih banyak dariku. Belilah sendiri."


"Sensei kan yang mengajakku, jadi sensei yang harus membelikan." balas Ren yang tak mau kalah.


"Sudahlah hentikan, kenapa kita membahas soal uang."


Aoyama mulai tertawa kecil karena kelakuan Ren. Keduanya pun tertawa bersama, entah membicarakan tentang uang rasanya sudah cukup membuat mereka tertawa.


Ren yang melihat gantungan kunci berbentuk kucing menjadi tertarik dan membelinya.


"Kenapa kau tak membelikan untuk pacarmu? Bukankah sensei punya pacar." Ren memberikan saran saat Aoyama memandangi cincin daisy.


"Menurutmu apakah dia menyukainya?" tanya Aoyama dengan ragu.


"Emmm entahlah, tapi pemikiran Sensei sangat dewasa. Jika Sensei sudah lama berpacaran maka dia akan menganggap Sensei serius. Ahh enaknya punya pacar aku jadi iri padamu."


Ren menepuk bahu Aoyama kemudian keluar dari toko oleh-oleh. Ia membeli air mineral di mesin minuman.


Beberapa butir obat yang harus Ren minum, meskipun terasa pahit tapi itulah satu-satunya yang bisa membuatnya bertahan hidup.


Setelah selesai menelan obatnya, pandangan Ren sejenak menghadap ke langit. Ia berpikir apakah diatas langit adalah tempatnya setelah mati. Disaat yang bersamaan Aoyama juga menghadap ke langit dengan hatinya mengatakan sesuatu.

__ADS_1



Cincin daisy


__ADS_2