
Saat istirahat makan siang Ren mengunjungi kantornya. Sebenarnya ibunya sudah melarangnya, tapi Ren keras kepala dan mengatakan bahwa ia hanya melihat-lihat saja.
"apa ini?" guman Ren saat melihat sebuah map kuning, dan melihat ada surat pengunduran diri dari Hinana.
Ren segera membawa map kuning dengan surat Hinana keluar ruangan. Tapi saat itu kantor sedang sepi hanya ada Emi dan Rena.
"tuan Ren anda sudah kembali." tanya Rena.
"dimana Shota?"
"Shota sedang makan siang sepertinya, apa ada sesuatu?" tanya Emi.
"tidak ada,oh iya aku hanya sebentar saja. Daah Emi." ucap Ren lalu pergi pulang.
Sebelum pulang Ren memutuskan untuk menghampiri Hinana.
"kau temannya Hinana kan?" sapa Bibi Miyo.
"aku Ren bi kau mengingatku?"
"iya, kau mau menemui Hinana? Maaf Ren sudah hampir satu minggu Hinana tidak tinggal disini?"
"lalu dimanakah dia?"
"Hinana dan Keiko tinggal di apartemen, tunggu sebentar ku ambilkan alamatnya."
"terima kasih bi, aku permisi."
"sama-sama."
Ren merasa kecewa karena tidak bertemu dengan Hinana. Saat Ren akan ke apartemen tiba-tiba dadanya terasa sakit karena saking dinginnya udara. Ren memutuskan untuk pulang ke rumah.
"aku pulang." ucap Shota.
BRAAAK...
Sebuah buku terlempar.
"apa yang kau lakukan?" ucap Ren yang melempar sebuah dokumen dengan surat Hinana.
"Ren aku bisa jelaskan." Shota terkejut bagaimana bisa Ren membawa dokumen itu.
"kau menghancurkan semuanya." teriak Ren.
"Ada apa Ren." ibu dan ayahnya bergegas menuju ruang tamu karena teriakan Ren.
"Ren tenanglah, akan ku jelaskan semuanya." Shota berusaha mendekati Ren, akhir-akhir ini Shota takut karena Ren selalu marah.
"kau bodoh, kau tak tahu berapa banyak pengeluaran semua itu. Bodoh kau Shota."
"Ren hentikan, tenanglah." Jouji memeluk Ren karena Ren sudah sangat marah dan memegangi kepalanya.
"Shota masuklah ke kamarmu." ibunya menyuruh Shota untuk meninggalkan Ren.
"kemana kau bodoh, jangan kau melarikan diri."
"Ren kau baru saja keluar dari rumah sakit, tenanglah." ucap ibunya dan memeluk Ren.
"Dady akan bereskan semuanya, sekarang tenang dan istirahatlah."
"Shota menghancurkan semuanya, Hinana pergi... Apa yang harus ku lakukan.." Ren merasa marah dan sedih, karena perusahaannya sudah mengeluarkan banyak dana, namun tidak ada hasil.
Keesokan harinya, Ren pergi ke kantornya dengan Shota dan Ayahnya. Mereka bertiga mencari jalan keluar untuk permasalahan yang terjadi.
__ADS_1
Mereka ta ingin membahas masalah perusahaan di rumah, karena ayahnya selalu profesional.
"kesimpulannya kita cari client yang bisa menutupi administrasi kita." ucap Jounji setelah melihat data perusahaan.
"mana ada perusahaan yang bekerja sama dengan kita yang hampir bangkrut." jawab Ren dan menatap Shota secara tajam.
"apa Hinana berperan penting dalam kasus ini?"
"awal kerja sama melalui Hinana, mungkin saat tahu Hinana keluar client baru membatalkan kerja samanya."
"aku akan berhenti dari perusahaan ini." ucap Shota tiba-tiba.
"kau mau melarikan diri." Ren menarik kra baju Shota karena marah.
"Ren kita sudah berjanji membicarakan hal ini tanpa emosi." ayahnya berusaha melerai Ren, karena kondisi Ren yang masih lemah.
"Shota yang menyebabkan semua ini dan dia akan lari tanggung jawab. Kau juga melarangku untuk Tokyo Summer."
"DIAMLAH BODOH...!!!." Shota yang dari menahan emosinya akhirnya terpancing.
"Tokyo Summer? Kau pikir hanya kau yang punya impian? Aku selama ini mengubur impianku demi dirimu. Berpikirlah kalau semua orang menghawatirkan mu.
Jika aku masih di sini apa kau pikir Hinana mau kembali?" Shota melampiaskan kemarahannya dan keluar.
Semua orang mendengar pembicaraan mereka dan terkejut saat melihat Shota keluar.
Memang benar yang dikatakan Shota, dulunya ia bekerja sebagai fotografer di Paris. Shota harus berhenti karena ayahnya meminta untuk membantu Ren.
"Shota, Shota. Cukup Shota bicaralah di dalam." Jouji ayahnya segera mengejar Shota.
Sementara Ren diruangan sendiri merasa dadanya sangat sakit. Ren berpikir selama ini ada yang menderita karenanya dan itu Shota. Ren terjatuh, dan pingsan karena kondisinya belum benar-benar pulih.
TOK....TOK....TOK...
"Ren, aku dapat client. Bolehkah aku masuk." teriak Tsubaki.
Karena tidak ada jawaban Tsubaki memutuskan untuk membuka pintu.
Tsubaki tahu semarah-marahnya Ren, ia tidak pernah berteriak pada karyawannya berbeda dengan Shota. Karena Ren merupakan Bos yang sangat baik hati bagi karyawannya.
"Ren... Ren bangunlah kau kenapa?" Tsubaki terkejut karena menemukan Ren sudah tersungkur di lantai.
"siapapun di luar bantu aku!!!!" teriak Tsubaki memanggil orang di luar dan mengangkat tubuh Ren.
"ada apa kau berteriak? Ada apa dengan Ren?" Arumi masuk dan terkejut.
"entahlah, dimana Shota dan tuan Jouji?"
"entahlah akan ku cari."
"tidak perlu, telepon ambulance nadinya sangat lemah." ucap Tsubaki sangat panik.
Tsubaki sering menolong orang pingsan tapi tidak separah Ren.
"baiklah." Arumi segara menghubungi ambulance.
Sepuluh menit kemudian ambulance datang dan Ren dibawa. Hinana saat itu berjalan di sekitar kantornya melihat Ren di bawa ke mobil ambulance.
"Ren.." teriak Hinana dan berlari menghampiri.
"Hinana, Ren pingsan saat di kantor." ucap Arumi.
"ayo Arumi masuklah." Tsubaki meminta Arumi ikut mengantar Ren, tapi Arumi sebenarnya sedang menerima telepon dari sales.
__ADS_1
"anoo.." perkataan Arumi tertahan.
"kembalilah bekerja, aku akan membantu Tsubaki." ucap Hinana yang mengerti bahasa tubuh Arumi.
"terima kasih Hinana kau sangat mengerti, hubungi aku jika Ren sudah sadar."
"tentu, daah." Hinana segera masuk ke mobil ambulance.
Ren sudah berada di rumah sakit dan sudah di periksa oleh dokter. Sementara Tsubaki masih mondar-mandir menghubungi keluarga Ren, tapi tidak satu pun yang menjawab teleponnya.
Tsubaki memutuskan untuk menelepon Emi.
"halo Emi dimana Arumi?"
"dia sedang meeting, ada apa? Apa Ren baik-baik saja?"
"masih di periksa, tolong carilah Shota dan tuan Jouji aku sudah menghubunginya tapi tidak ada jawaban."
"baiklah aku ku suruh mereka ke rumah sakit jika kutemukan."
"iya akan ku share lokasinya." ucap Tsubaki dan menutup teleponnya.
"dimana wali dari pasien?" tanya seorang perawat perempuan.
"masih dalam perjalanan aku yang membawanya kemari." jawab Hinana.
"dokter harus berbicara serta harus mengurus administrasinya."
"aku teman dekatnya, aku akan mengurus adminnya juga."
"baiklah kau bisa ikuti aku tuan."
"Hinana tolong temani Ren." ucap Tsubaki kemudian mengikuti perawat tersebut.
"baik." Hinana masuk ke kamar Ren. Ia melihat banyak sekali jarum yang tertancap pada tubuh Ren, dan oksigen di hidungnya.
"menyeramkan sekali." gumam Hinana saat melihat kondisi Ren. Hinana duduk di sebelah Ren, ia teringat saat Ren mengampirinya saat akan operasi.
Ren terlihat sangat pucat waktu itu sama seperti saat ini.
Hinana memberanikan diri memegang tangan Ren, dan saat itu juga Ren tersadar.
"Hinana." panggil Ren dan membuat Hinana terkejut.
"kau sudah bangun."
"dimana ayahku?"
"entahlah mungkin masih di jalan, aku melihatmu di ambulance lalu kuputuskan untuk menemanimu." jawab Hinana yang gugup karena ketahuan memegang tangan Ren.
"terima kasih Hinana, kau tidak akan menamparku lagi kan?." ucap Ren dan memegang tangan Hinana.
Tanpa berkata apapun Hinana menunduk karena jantungnya berdebar-debar.
"kenapa ada tas besar disana?" tanya Ren yang melihat tas belanja Hinana.
"oh itu, aku akan membuat kue ulang tahun. Itu belanjaanku." jawab Hinana dan melepaskan tangan Ren.
"kue ulang tahun ya, enaknya."
"aku belum membuatnya, apa kau mau?"
"tentu saja jika kau yang membuatnya." Ren tersenyum kearah Hinana. Meskipun dengan wajahnya yang pucat tapi senyumnya masih mempesona.
__ADS_1