
.
.
.
"Hey Aoyama apa tidak ada cara lain untuk kesana tanpa berjalan kaki?" Tanya Hinana pada sahabatnya.
"Bisa saja jika kau bisa terbang." Aoyama menjawab pertanyaan Hinana dengan asal. Karena jalan satu-satunya menuju bukit hanya berjalan karena jalan setapak yang kecil tidak bisa di lewati oleh kendaraan apapun.
Mendengar jawaban dari Aoyama hanya bisa membuat Hinana kesal. Karena ia bertanya serius tapi Aoyama malah menjawab dengan hal sedemikian. Hal itu tidak lucu di situasi sekarang.
"Tenang saja. Ren kan bisa terbang." Teriak Hinana dan semua orang melihat kearahnya.
"HAH." Aoyama dan Kishi terkejut mendengar penuturan Hinana. Termasuk juga Ren, tapi Ren hanya melihat ke Hinana.
"Aku akan menggendong Ren sampai ke atas bukit. Ayo Ren naiklah ke punggungku." Ucap Hinana sambil meregangkan tangannya dan bersiap untuk menggendong Ren.
"Bakane Hinana chan (bodoh). Kau tak bisa membawa Ren sampai ke sana, kau saja lebih pendek dari Ren." Umpat Aoyama pada Hinana. Entah apa yang ada dipikiran Hinana sehingga memaksakan dirinya.
"Hey siapa yang kau sebut bodoh? Aku pernah menggendong Ryusei sampai rumah sakit, padahal Ryusei juga lebih tinggi dari ku." Tak terima dengan umpatan Aoyama, Hinana pun malah memarahinya.
"Saat itu Ryusei masih berumur empat belas tahun, dan kau lebih muda dari Ren dan lebih pendek dari Ren. Kau bukan hanya bodoh tapi gila." Aoyama semakin pusing dengan kelakuan Hinana.
Ren hanya bisa diam dan memandangi kedua orang yang sedang berdebat. Ia juga merasa bersalah karena keinginannya Hinana sampai mau membawanya ke bukit.
"Sudahlah....!" Ren mencegah perdebatan keduanya dan sedikit berteriak.
"Memangnya Hinana kuat menggendongku?"
"Kau meremehkanku juga." Balas Hinana dan tak lama kemudian Kishi tertawa keras.
"Maaf, aku bukan bermaksud menertawakan kalian. Kenapa tak coba saja? Nona Hinana bersikeras, jadi kenapa tidak mencoba saja." Ucap Kishi.
"Kishi san juga meremehkanku?" Tanya Hinana pada Kishi, ia merasa benar-benar di remehkan oleh ketiga pria.
"Tidak, aku bukan bermaksud meremehkanmu. Aku ingin tahu bagaimana kemampuanmu. Tenang saja aku akan menggantikanmu saat lelah di pertengahan jalan." Jawab Kishi, ia juga merasa Hinana adalah orang yang sangat tangguh.
"Baiklah, akan ku buktikan pada kalian semua. Jika aku bisa Aoyama harus membelikanku makanan yang aku suka." Tunjuk Hinana kearah Aoyama.
__ADS_1
"Kenapa harus aku." Gumam Aoyama dan memukul dahinya sendiri.
"Ayolah Ren kau bisa naik ke pundakku." Hinana kemudian berjongkok membelakangi Ren.
Ren hanya menuruti perintah Hinana, ia belum pernah membayangkan jika gadis yang lebih pendek darinya akan menggendongnya.
"Yoshh... Ayo kita pergi." Ucap Hinana dan mulai berjalan dengan menggendong kekasihnya.
Aoyama dan Kishi hanya bisa melihat dengan tatapan tidak percaya, mereka tak percaya jika Hinana benar-benar bisa melakukan hal seperti itu.
"Hinana apa aku terasa ringan?" Tanya Ren dengan sedikit keheranan.
"Tidak juga." Jawab Hinana singkat.
"Nona Hinana ternyata hebat juga." Kishi pun akhirnya bertepuk tangan kepada Hinana, karena baru kali ini ia melihat ada seorang perempuan yang kuat untuk menggendong laki-laki. Padahal tubuh Hinana lebih kecil.
"Sudah kubilang jangan pernah meragukanku." Ucap Hinana.
Aoyama tak berkomentar apapun, sudah pasti Hinana bisa melakukan apa saja.
"Hinana chan berhentilah sebentar." Ren meminta kekasihnya berhenti dan kemudian ia turun dari pundak Hinana.
"Aku juga akan berjuang." Ucap Ren pada Hinana dan tersenyum. Sementara Hinana hanya diam sambil memandangi kekasihnya.
"Hinana chan aku tidak pernah meragukanmu sama sekali. Melihatmu yang keras kepala pada keinginanmu membuatku sadar bahwa aku juga bisa kuat sepertimu. Ayo mendaki bukit sampai ke kuil, jika di tengah jalan aku sudah lelah kumohon bantuanmu. Onegaishimasu." Ucap Ren sekali lagi pada Hinana, kemudian ia memberikan anggukan kecil untuk meminta bantuan pada Hinana.
"Hum, ayo kita pergi." Hinana akhirnya membalas senyuman dari Ren, ia kemudian menggandeng tangan Ren untuk melanjutkan perjalanan.
Aoyama dan Kishi hanya memperhatikan tingkah kedua orang yang sedang dimabuk cinta. Sesuai dengan apa yang ditebak Kishi, bahwa Hinana bukan gadis yang mudah menyerah begitu saja. Begitu juga dengan Ren, selama ini Kishi sudah sangat paham bagaimana sifat Ren. Meskipun Seto seringkali memarahinya karena Ren selalu meninggalkan rumah sakit tanpa izin. Hal itu karena Ren ingin meraih impiannya.
"Sensei, ayo pergi. Mereka berdua sudah berjalan jauh dari kita." Ajak Kishi pada Aoyama yang terlihat diam dan sedang memikirkan sesuatu.
"Hum, Wakatta (aku mengerti)." Dengan memberi anggukan, akhirnya Aoyama menuruti perintah Kishi.
Sesuai dengan perkiraan bahwa kondisi Ren tak lagi sehat seperti dulu. Hinana akhirnya menggendong Ren saat di tengah jalan. Tak hanya Hinana saja, Kishi juga ikut membantu sesuai dengan ucapannya.
"Aoyama, kau semakin lama terlihat semakin kecil." Ucap Ren saat Aoyama bergilir menggendong Ren.
"Itu karena kau semakin hari semakin membesar, jadi kau melihatku seperti itu." Jawab Aoyama dengan suara yang keberatan.
__ADS_1
"Benar juga, aku semakin gemuk. Dan Hinana memanggilku gamoy." Balas Ren dan tertawa kecil.
Mendengar uncapan Ren membuat Hinana tersadar, bahwa tak semestinya ia memanggil Ren dengan sebutan itu. Tubuh Ren terlihat gemuk juga karena penyakit yang di deritanya. Itulah yang dikatakan oleh Seto pada Hinana.
"Doshite (kenapa) Hinana.?" Tanya Kishi dan membuat Hinana tersadar kembali.
"Iie (tidak)." Hinana menggeleng memberi jawaban pada Kishi.
"Ren kun, gomenne (maaf)." Ucap Hinana dan memegang jaket Ren. "Tidak seharusnya aku memanggilmu seperti itu. Aku benar-benar minta maaf."
Ren masih belum berbicara pada Hinana, dan Aoyama langsung menurunkan Ren dari pundaknya. Badan Ren benar-benar sangat berat bagi Aoyama, entah bagaimana bisa Hinana sangat kuat menggendong Ren tanpa rasa lelah dan berjalan menanjak.
"Daijoubu." Balas Ren dan membelai kepala Hinana dengan lembut.
"Apa saja yang dikatakan pada Seto sensei padamu? Jangan terlalu percaya pada Seto sensei, terkadang Seto sensei selalu melebih-lebihkan." Ucap Ren lagi pada kekasihnya, ia juga tersenyum lebar agar Hinana tidak terlalu khawatir.
"Ayo kita jalan lagi. Ren kau sudah tidak lelah?" Ajak Kishi.
"Hum, aku bisa berjalan lagi. Terimakasih sudah menggendongku. Hinana ayo." Ren langsung menggandeng tangan Hinana dan mengajaknya pergi.
"Kalian semua berjalan lah dulu. Sedikit lagi akan sampai ke kuil." Ucap Aoyama dengan nafas yang tergesa-gesa.
"Baiklah, Aoyama sampai jumpa di atas." Jawab Ren.
Aoyama duduk masih duduk di posisinya dan membiarkan ketiga temannya meninggalkannya. Memang tak jauh dari pohon besar tempat ia beristirahat sudah terlihat bangunan kuil dan letak pemakamannya ada di sebelah barat.
Aoyama memberikan seikat bunga lili di atas nisan pemakaman Sakura. Kali ini ia hanya duduk dan enggam mengatakan apapun.
.
.
.
"Tenang saja. Ren kan bisa terbang." Teriak Hinana dan semua orang melihat kearahnya.
"Aku akan menggendong Ren sampai ke atas bukit. Ayo Ren naiklah ke punggungku." Ucap Hinana sambil meregangkan tangannya dan bersiap untuk menggendong Ren.
Kata-kata yang terucap dari mulut Hinana masih memenuhi kepala Aoyama. Kali ini kisah cintanya dengan Hinana tak sama. Hinana terlihat sangat berjuang untuk kekasihnya sedangkan dirinya hanya berjalan mengikuti arus. Meskipun Hinana tahu bahwa hidup Ren tak akan lama, tapi Hinana selalu berusaha keras demi Ren.
__ADS_1
Aoyama masih ingat masa-masa yang ia lalui dengan Sakura. Aoyama hanya menuruti semua keinginan Sakura tanpa memperjuangkan seperti yang Hinana lakukan. Saat itu, Aoyama hanya beranggapan bahwa dirinya akan berguna jika bersama Sakura dan kisah cintanya hanya berjalan begitu saja. Hingga saat kematian Sakura datanya, dirinya begitu hancur karena kehilangan.