
Seminggu sudah berlalu dan Hinana sudah pulang dari rumah sakit. Sebenarnya tangan kanan Hinana masih sakit untuk di gerakkan, tapi Shota sudah meminta Hinana kembali bekerja.
Karena nona Sawako tidak bisa menunda terlalu lama, dan hanya Hinana yang paham tentang project nya.
"Hinana bagaimana keadaanmu?" Arumi menghampiri Hinana yang baru duduk di kursinya.
"sudah lebih baik."
"tangan kananmu masih terlihat tidak baik, tidak bisakah tuan Shota memberimu cuti lagi?"
"tidak apa, aku bisa bekerja dengan tangan kiriku."
"baiklah, jika kau butuh bantuan bisa memanggilku."
"terima kasih Arumi." ucap Hinana dan memulai pekerjaannya.
Sebenarnya Hinana masih sangat kesulitan bekerja, dan tangan kanannya akan membengkak jika terlalu lama di luruskan.
"Hinana, kau bisa bantu aku sebentar?" Tsubaki menghampiri Hinana dengan Rena.
"ada apa?"
"Rena akan melakukan pengukuran baju, tubuhmu yang yang bagus sangat pas jika di ukur."
"tapi aku belum selesai dengan pekerjaanku."
"tanganmu sudah mulai bengkak, biar aku saja yang kerjakan." Tsubaki mencoba membatu Hinana meskipun takut jika akan ditampar seperti Ren
"terima kasih, terima kasih sudah mau membantuku." ucap Hinana dengan perasaan haru.
"Hinana kami semua adalah teman. Aku minta maaf karena waktu itu menyakitimu." Arumi menghampiri Hinana dan memeluknya.
"terima kasih." ucap Hinana sekali lagi dengan senyum haru di wajahnya.
Saat jam makan siang Hinana melihat Shota keluar dari kantor. Hinana menghampiri Shota karena ingin mengembalikan payungnya.
"Tuan Shota, maaf baru bisa mengembalikan." Hinana menyerahkan payung milik Shota dengan tangan kirinya.
"oh tidak masalah. Hinana bisa kah kau menghentikan membantu Ren. Aku dan kedua orang tuaku menolak Ren mengikuti festival Tokyo Summer."
"eh tapi kenapa? Ren sangat menginginkannya."
"itu akan membutuhkan banyak waktu dan Ren akan sangat kelelahan. Aku ada di sini karena menggantikan posisi Ren, ibu ku menghawatirkan kesehatan Ren karena lelah bekerja."
"Tokyo Summer bekerja secara team, Ren tidak akan bekerja keras sendiri. Ada lima anggota dalam satu team, jika bekerja sama maka tidak akan kelelahan satu sama lain." Hinana memberikan penjelasan terhadap Shota.
"aku tak peduli, yang penting HENTIKAN SEMUANYA."
"kau ingin menghentikan impian adikmu?" tanya Hinana terkejut karena Shota membentaknya.
__ADS_1
"pergilah, jika kau tak mau membatuku aku akan menghentikan dengan caraku sendiri." ucap Shota kemudian meninggalkan Hinana.
Hinana kembali lagi ke dalam ruangannya, ia masih memikirkan ucapan Shota yang membuatnya kesal. Sebenarnya alasan Hinana membantu Ren karena Hinana ingin melihat Tokyo, ia juga merindukan dunia modelingnya.
"Hinana." Ren tiba-tiba memeluk Hinana, karena Ren mendengar kabar jika Hinana sudah bekerja dan membuat tangannya memar lagi.
Hinana melepaskan pelukan Ren, meskipun tidak terlalu keras tapi membuat Ren terjatuh di lantai.
"Ren.." Emi berteriak dan membantu Ren yang terjatuh.
"Hinana apa yang kau lakukan?" Tsubaki menghampiri Ren.
"Hinana jika ada masalah katakan saja, jangan berbuat keterlaluan." Arumi melihat Ren terjatuh segera menghampiri dan membantu.
"maaf aku tidak sengaja." ucap Hinana dan mencoba membantu Ren. Tapi Shota segera menarik Hinana dan membawa ke ruangannya.
"Shota lepaskan Hinana." ucap Ren karena melihat Shota menariknya dengan kasar.
"kau baik-baik saja Ren, duduklah dulu dan minumlah." Tsubaki memberikan segelas air putih untuk Ren.
Shota dengan marahnya membawa Hinana masuk dan menyuruhnya duduk.
"menjauhlah dari Ren, kau selalu melukainya. Setelah kerja sama dengan brand Comme des Garcons keluarlah dari kantor, dan pergilah jauh dari Ren."
Hinana tidak dapat berkata apapun, Shota menatap matanya dengan sangat tajam. Persis saat Yukiatsu menatapnya saat bertengkar.
"Hinana." panggil Ren saat melihat Hinana keluar dari ruang Direktur.
"aku sudah lebih baik."
"kau rela kabur dari rumah sakit hanya untuk menghawatirkan Hinana?" tanya Tsubaki dan membantu Ren berdiri.
"benarkah itu? Jika aku jadi Hinana pasti aku akan mengatakan aku mencintaimu Ren." sahut Arumi dengan menggoda Ren.
"hentikan Arumi, itu sama sekali tidak lucu."
"iya iya aku tahu. Ayo Tsubaki kita bantu sang pangeran mengejar Cinderelanya." Arumi membantu Ren berjalan untuk menghampiri Hinana.
"teman-teman, terima kasih." ucap Ren kepada Tsubaki dan Arumi yang membantunya menaiki tangga.
"hem, berjuanglah." jawab Tsubaki dan mengajak Arumi kembali ke lagi bekerja.
Hinana masih memikirkan perkataan Shota, memang benar ia sangat keterlaluan terhadap Ren.
Dan Ren selalu baik padanya, Shota benar jika Hinana selalu menyakiti Ren.
Hinana melihat Ren berjalan kearahnya. Ren membalut tangan kanan Hinana dengan kain perban, dan mengikatnya di leher Hinana.
Tanpa berkata apa-apa Ren membantu Hinana dan tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"apakah masih sakit?" tanya Hinana dan Ren hanya mengangguk.
"dimana letak sakitnya?" tanyanya sekali lagi. Lalu Ren memegang tangan Hinana dan meletakkannya di dadanya.
Hinana menatap kedua mata Ren yang berwarna biru abu-abu. Tatapan mata itu yang selalu membuat Hinana tenang.
"maafkan aku." ucap Hinana kemudian menangis.
Ren segera memeluk Hinana, dan Hinana semakin menangis dalam pelukan Ren.
(flash back)
"Hinana menjadi pendiam saat itu, bahkan saat kekasihnya meninggalkannya Hinana tak pernah menangis sampai sekarang. Ia memendam semua kesakitannya sendirian. Sunngguh anak yang malang." ucap Miyo-san
Saat itu Ren menyadari bahwa sifat Hinana yang keras seakan menutupi kesedihannya.
(back to time)
"menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Aku akan merasa sakit jika kau memendamnya." ucap Ren dengan membelai rambut Hinana.
"aku akan menyakitimu jika bersamamu."
"tidak, bersamamu menjadikanku lebih kuat. Ayo masuk Hinana salju akan segera turun." Ren mengajak Hinana karena langit sudah sangat mendung.
"aku menyukai salju, aku akan menikmati turunnya salju. Kau masuklah dulu aku tak ingin sakitmu bertambah parah." ucap Hinana dengan menghapus air matanya.
"baiklah, jangan terlalu lama. Lukamu tidak boleh basah lagi." Ren menyelimuti Hinana dengan mantelnya, meskipun Hinana sudah memakai jaket tebal.
Ren memutuskan untuk kembali kedalam, karena kondisi tubuhnya yang belum stabil.
"kau keterlaluan, pihak rumah sakit mencarimu kemana-mana karena kau kabur." Shota memarahi Ren setelah mendapat telepon.
"aku sudah izin akan keluar."
"tapi kau benar-benar belum pulih, haruskah kau pergi demi Hinana. Itu sangat konyol dan satu hal lagi hentikan festivalmu dan tinggalkan Hinana, karena Hinana selalu menyakitimu."
"BERISIKK, KELUARLAH DARI SINI!!." teriak Ren marah dan mengejutkan Shota.
Shota keluar tanpa mengucapkan apapun, tampaknya semua orang di ruangan marketing mendengarnya dan terkejut. Selama ini Ren tidak pernah berteriak dan semarah itu.
"maaf, apakah kalian melihat Hinana?" tanya Shota pada semua maeketing.
"aku rasa di ada di atap." jawab Emi.
"baiklah terima kasih." Shota kemudian pergi untuk menemui Hinana.
"kenapa kau beri tahu Shota? Apa kau mau mengadu domba?" ucap Arumi kesal.
"ada atasan yang bertanya, apa salahnya menjawab."
__ADS_1
"kau benar-benar bermuka dua."
"sudah hentikan, kalian malah membuat suasana menjadi runyam." Tsubaki menghentikan perang dingin antara Arumi dan Emi.