
Lima tahun yang lalu setelah kematian dokter Nakamura, pihak rumah sakit memutasi dokter Seto untuk menggantikannya.
"Watashi wa Seto. Yoroshiku onegaisimasu (namaku Seto, senang berkenalan dengan anda)." ucap doker Seto memperkenalkan diri pada pasien penyakit jantung, karena ia adalah dokter spesialis jantung.
"Sensei, kau akan ku repotkan. Jangan sering marah-marah ya." ucap salah satu pemuda dengan tersenyum ceria. Ia memakai pakaian yang kasual dengan topi flatnya, Seto mengira bahwa pemuda itu salah satu wali dari pasien disini.
"Aku ini orangnya baik kok, jadi tidak mungkin memarahi pasien." Seto membela dirinya sendiri dan membalas senyuman pemuda itu.
Hari kedua Seto bekerja, ia sangat terkejut bahwa pemuda itu adalah salah satu pasiennya. Dengan penyakit jantung yang kronis, pemuda itu hanya bisa menjalani sisa hidupnya. Pemuda itu adalah Renchiro Koizumi, yang amat disayangkan jika takdir hidupnya seperti ini.*
"Apa kau sudah benar-benar siap Ren? Aku ingin jika riwayat medismu itu seratus persen salah." Gumam Seto yang tanpa sadar air matanya sudah terjatuh.
...**************************...
Hinana memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju apartemen. Hari ini menurutnya menyenangkan karena telah melihat Ren seperti dahulu.
"Hinana, kenapa tak mengajak ayah makan siang? Bukankah kau sudah berjanji." Teriak ayahnya saat Hinana baru masuk ke apartemennya.
"Maaf, aku ada urusan tadi." jawab Hinana tanpa rasa bersalah. "Eh ayah membelikanku sashimi? Kelihatannya lezat." Hinana langsung mendekati meja makan.
"Itadaki...." saat Hinana akan makan tiba-tiba ayahnya mengambil hidangan yang ada di depan Hinana. "Eh kenapa?"
"Kau ini. Kita tunggu Aoyama, dia masih beli minuman." Ucap Ayah Hinana.
"Eh ayah mengajak Aoyama juga makan malam?"
"Tentu saja. Pergilah ganti pakaianmu dulu."
"Haik (iya)." Dengan suara yang malas Hinana pergi ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Sementara ayahnya masih berkutat di dapur untuk membuat hidangan penutup.
"ITADAKIMASU." ucap Hinana, Aoyama dan Aoi ayah Hinana. Mereka semua menikmati makanan yang di sajikan oleh ayah Hinana.
"Hum Oishi. Aku sangat menyukai uni (landak laut)." Hinana sangat menikmati makannya karena sudah lama sekali ia tak menyantap sashimi apalagi buatan ayahnya yang potongan ikannya sangat tebal.
"Kau suka, makanlah yang banyak." Ayah Hinana menambahkan potongan uni kedalam mangkok Hinana.
"Ngomong-ngomong kapan paman akan kembali ke Tokyo?" tanya Aoyama di sela-sela menyantap makanannya.
"Mungkin besok, kasian Ryusei jika aku terlalu lama berlibur."
__ADS_1
"Kenapa sebentar sekali? Apa ayah tak ingin mengunjungi bibi Miyo dulu." ucap Hinana dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Haah kau masih merindukan ayah? Tapi kenapa tadi kau tak mengakui kalau aku ini ayahmu." Aoi semakin kesal dan menambahkan potong salmon ke mangkok Hinana.
"Woh, hentikan ayah kau akan membuatku kekenyangan."
Sementara itu Aoyama hanya tertawa melihatnya kelakuan Hinana dan ayahnya. Orang paruh baya di depannya itulah yang menolongnya sampai sekarang, entah apa jadinya hidup Aoyama jika keluarga Hinana tidak menolongnya.
Malam telah berganti pagi, hari ini Hinana tak ada pekerjaan dikantor. Tinggal menunggu hari keberangkatan ke Tokyo.
"Ohayogozaimasu (selamat pagi)." Sapa Hinana dengan menguap. Ia menuju kedapur dan mengambil air minum.
"Ohayou, mau sarapan?" tanya ayahnya yang sedang membuat makan pagi.
"Aku masih kenyang, itu semua berkat ayah yang memberiku makanan. Oh ya semalam apa ayah menginap di kamar Aoyama?"
"Tidak, ayah pulang malam. Kemarin ayah bertemu dengan bos mu dan mengobrol sampai larut malam. Kenapa?"
"Tidak ada, ayah bersama Jouji san?" tanya Hinana sekali lagi dan membuatkan secangkir kopi untuknya dan ayahnya.
"Iya, dulu ayah pernah bekerja dengan nya. Jouji bilang kau dekat dengan putranya apa itu benar?"
"Hum. Kedua putranya bekerja di kantor itu juga. Tapi akhirnya putra pertamanya pergi karena ingin jadi fotografer terkenal. Ini." Hinana menyerahkan secangkir kopi yang di buat tadi.
"Tentu saja dua, Shota dan Ren. Kenapa ayah tidak tahu, padahal semalam bertemu dengannya."
Hinana beranjak ke kamar mandi karena pagi ini ia sudah berjanji dengan Arumi untuk mengunjungi Ren.
"Setahuku istrinya tidak bisa hamil lagi waktu itu, tapi entahlah." gumam Aoi tapi Hinana masih bisa mendengarnya.
Karena merasa penasaran Hinana mengurungkan niatnya untuk mandi dan menghampiri ayahnya.
"Apa yang ayah katakan?" Tanya Hinana dengan raut wajah yang penuh selidik.
"Tidak ada."
"Ada... Aku masih bisa mendengarnya."
"Oh itu, sekitar tiga puluh tahun yang lalu ayah membuatkan rumah dengan denah yang sesuai harapan. Anaknya meninggal saat berusia enam bulan dan istrinya divonis kanker ovarium jadi sulit untuk hami lagi. Karena istrinya terus-terusan bersedih, Jouji san membuat rumah yang besar untuk menghibur istrinya."
__ADS_1
Aoi menceritakan kenangan dengan Jouji sewaktu ia masih menjadi arsitek. Meskipun pada akhirnya Aoi bekerja di perusahaan keluarga tapi ia pernah membuat beberapa rumah dengan bantuan Maira temannya.
"Meninggal?" pekik Hinana terkejut.
"Iya, putranya telah divonis gagal jantung akut waktu itu."
"Jadi Shota punya kakak." Gumam Hinana ia merasa tidak percaya dengan yang dikatakan ayahnya.
"Shota??" tanya Aoi yang mendengar. "Oh ya dulu Jouji menemukan Shota yang di tinggalkan oleh orang tuanya di dekat kuil, istrinya sangat senang lalu mengadopsinya."
"Ehhh, jadi Shota bukan anak kandung tuan Jouji? Apakah mereka berdua bukan saudara sekandung?" mata Hinana semakin melebar saat mendengar penjelasan ayahnya ia benar-benar terkejut mendengarnya.
" Mungkin seperti itu, tapi sebaiknya tak kau katakan pada siapapun, ayahpun ragu apakah Jouji yang ayah temui benar-benar Jouji teman lama ayah." ucap Aoi dan lalu meminum secangkir kopi buatan putrinya.
Hinana masih belum percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya. Jadi selama ini Shota dan Ren ternyata bukanlah saudara kandung. Putra pertama Jouji meninggal karena penyakit jantung dan kini Ren pun juga mengidap penyakit yang sama.
"Aku pergi dulu." Hinana berpamitan pada ayahnya yang sedang berkutat pada laptopnya.
"Hati-hati dijalan."
"Apa ayah akan pulang hari ini? " tanya Hinana sebelum keluar dari apartemennya.
"Entahlah, aku akan pergi mengunjungi Aoyama dirumah sakit. Kenapa?"
"Hum tidak ada, otousan (ayah) sebaiknya jangan katakan apapun pada Aoyama." Hinana masih mengkhawatirkan jika Aoyama tahu kalau kakak dan ayahnya berada di Jepang.
"Tenang saja. Pergilah kau akan terlambat bekerja."
"Jaa ne (sampai jumpa)." setelah berpamitan Hinana segera menemui Arumi yang sudah menunggunya di depan loby.
Mereja berdua berangkat dengan menggunakan mobil Arumi, tak hanya itu Arumi juga membawakan beberapa makanan untuk Ren.
"Itu Tsubaki." ucap arumi dan meminggirkan mobilnya ke arah Tsubaki.
"Eh Tsubaki juga ikut?"
"Tentu saja."
"Kenapa? Kenapa kau melihatku seperti itu." Tsubaki yang baru masuk ke dalam mobil merasa heran dengan ekspresi Hinana yang tampak bingung.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya saja Ren bilang jika kau kesana kau akan membuat suasana berisik." Jawab Hinana.
"Aku sudah mengatakannya begitu, tapi Tsubaki tetap bersikeras untuk iku. Sudahlah biarkan saja Hinana." Arumi tertawa kecil saat menjelaskan pada Hinana, kemudian ia berfokus pada kemudinya.