Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
128


__ADS_3

...'Musim dingin sebentar lagi datang, itu berati waktuku tinggal sedikit lagi. Ya hanya sedikit lagi, maka dari itu tolong bertahanlah untuk sedikit lagi.' (Ren Koizumi)...


.


.


.


"Ohayou (selamat pagi). Bagaiman apakah kau sudah siap?" Tanya Aoyama yang langsung masuk ke kamar Ren saat melihat Kishi sudah ada di sana.


"Tentu saja, aku juga sudah beristirahat dengan cukup." Jawab Ren dan tersenyum senang.


"Baiklah, ayo pergi sekarang. Hinana sudah berada di tempat parkir." Ajak Aoyama dan menggandeng temannya untuk keluar dari kamarnya. Kishi mengikuti dari belakang, ia juga sudah mengecek barang-barang apa yang harus ia bawa.


Sesampai di parkiran, Aoyama menyuruh Ren untuk masuk terlebih dahulu. Sedangkan Aoyama dan Kishi memasukkan barang-barang perlengkapan medis kedalam bagasi.


"Ohayou, Ren (selamat pagi). Apakah kau tidur dengan baik?" Dengan tersenyum manis Hinana menyambut Ren yang baru masuk ke mobil.


"Selamat pagi.Tentu saja, Hinana aku ingin mengahbiskan hari ini bersamamu. Apa kau tidak keberatan?" Jawab Ren.


"Tentu saja tidak. Mari kita bersenang-senang hari ini." Balas Hinana kemudian memeluk Ren. Hinana paham jika saat ini kekasihnya bisa tersenyum bahagia karena bisa keluar dari rumah sakit.


"Kenapa lama sekali Aoyama dan Kishi san." Gumam Hinana karena menunggu dua orang temannya yang tak selesai-selesai memeriksa barang.


"Entahlah, mungkin terjadi sesuatu. Biar kuperiksa sebentar." Ren membuka pintu mobil dan hendak keluar tetapi Hinana mencegahnya.


"Biar aku saja. Ren kun tetaplah disini karena udara di luar sudah mulai dingin." Ucap Hinana dan Ren menuruti perkataan kekasihnya.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Hinana dan hanya melihat Aoyama saja.


"Aku berpikiran untuk membawa penghangat perut dan Kishi san sedang mengambilnya." Jawab Aoyama dan sudah menutup kembali tas medisnya.


Tak lama kemudian Kishi datang dengan berlari, ia membawa kompres penghangat perut dan selimut hangat untuk berjaga-jaga.


"Eh, banyak sekali yang akan di bawa?" Pekik Hinana dengan melihat barang bawaan Kishi yang dirasa cukup banyak. Padahal tidak sampai satu hari, hanya sampai sore saja.


"Mau bagaimana lagi, Hinana kondisi Ren sudah tidak seperti dulu. Jika udara dingin pasti akan mempengaruhi kondisinya." Jawab Kishi dan segera memasukkan ke bagasi mobil.


"Lihatlah, betapa bahagianya senyum Ren hari ini. Aku harap senyuman itu tidak akan memudar lagi." Ucap Kishi yang melihat Ren sedang berbicara dengan telepon di dalam mobil.


"Hum, sejak Seto sensei mengizinkan Ren keluar dari rumah sakit. Aku juga sering melihatnya tersenyum seperti itu." Sahut Aoyama.


"Aku harap Ren tetap tersenyum hingga hari akhirnya. Benar kan Hinana? Maka dari itu aku tak ingin ada penghalang apapun untuk hari ini."


Kishi masih memandangi Ren dengan tatapan haru. Sementara Hinana seolah melupakan jika memang waktu yang Ren miliki tidaklah banyak.

__ADS_1


"Hinana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Aoyama karena melihat sahabatnya yang hanya diam saja.


"Hum, aku sampai lupa jika waktuku dengan Ren tak lebih panjang. Terimakasih kalian semua sudah mengingatkanku." Ucap Hinana dengan perasaan yang sedih. Jika saja Aoyama dan Kishi san tidak membahas tentang kondisi Ren, pasti saja Hinana benar-benar menganggap Ren akan bersamanya untuk waktu yang lama.


"Maaf Hinana aku tak bermaksud untuk membuatmu sedih." Wajah Kishi langsung panik, harusnya ia tak mengatakannya pada Hinana. Mengingat Hinana adalah kekasih Ren, pasti Hinana adalah orang pertama yang sedih jika Ren pergi.


"Kenapa kalian lama sekali." Ren tiba-tiba keluar dari mobil sehingga membuat Kishi terkejut.


"Ada beberapa barang-barang yang ketinggalan, jadi Kishi san harus mengambilnya dulu. Tapi sudah selesai kok, ayo kita pergi." Jawab Aoyama pada Ren.


Ren melihat ada selimut dan beberapa tas medis besar yang berada di bagasi yang belum di tutup. Kemudian ia menutupnya, tapi Ren melihat wajah Hinana yang sedikit murung. Mungkin saja saat ini Hinana sedang mengkhawatirkan keadaannya.


"Baiklah, ayo kita pergi. Aku mendapat kabar dari Tsubaki bahwa ia akan kemari saat festival musim gugur." Ucap Ren agar membuat kekasihnya ceria lagi. Tapi Hinana masih terlihat murung dan Ren juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Hinana, di musim dingin ini aku memang sering tertidur. Jadi jangan cemas tentang itu. Bisa di katakan aku akan berhibernasi."


Ucap Ren lagi dan memegang pipi Hinana.


"Hibernasi?" Hinana mengulangi perkataan Ren.


"Ya, kau tahu kan artinya. Tidur yang panjang." Ren setengah meringis saat melihat wajah kekasihnya yang seakan kebingungan.


"Ren kun bukanlah beruang."


"Ehhh benarkah. Tapi aku semakin gendut, dan lebih lucu jika kau panggil beruang dari pada gamoy." Pekik Ren dan tak lama kemudian Hinana tertawa.


"Baiklah ayo berangkat, biar aku saja yang menyetir." Ajak Aoyama.


"Wakatta." Balas Hinana dan melempar kunci mobilnya kearah Aoyama.


Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke Kuriyama. Di dalam mobil, Ren banyak mengambil gambar serta merekam pemandangan di sepanjang jalan.


"Aoyama kun, apakah bunga krisannya masih mekar saat musim dingin?" Tanya Ren yang masih serius mengambil gambar dengan Hinana.


"Tentu saja, bunga krisan selalu mekar di musim dingin." Jawab Aoyama sambil menyetir.


"Kau tahu, saat paman Aoi datang menjengukku kami berdua membahas tentang bunga krisan. Katanya warna kuningnya sangat membuat bahagia." Ren menceritakan ayahnya Hinana yang saat itu berkunjung ke rumah sakit.


"Ayahku?" Tanya Hinana dengan heran.


"Benar. Paman sempat ke rumah sakit seminggu yang lalu setelah dari Kuriyama." Sahut Aoyama menjawab pertanyaan Hinana.


"Aku tidak menyukai jika ayahku selalu berkunjung ke pemakaman lagi." Ungkap Hinana kesal.


"Kenapa? Bukankah ayahmu mengunjungi saudara kembarnya?" Tanya Ren kembali.

__ADS_1


"Itu memang benar. Tapi ayahku masih menganggap jika kematian paman Tanaka adalah karenanya. Meskipun ibuku berkali-kali meyakinkan bahwa kematiannya karena kecelakaan. Ayahku selalu menyesal semasa hidupnya." Jawab Hinana, ia juga merasa kesal karena pamannya yang bernama Kohei selalu mengingatkan kematian itu pada ayahnya.


"Hinana mungkin ayahmu selalu pergi mengunjunginya karena berbagi cerita dengan saudaranya. Paman Aoi juga bercerita bahwa semasa mudanya ia kesepian, paman selalu mengajak saudaranya bercerita di rumah sakit meskipun saudaranya dalam keadaan koma. Hingga akhirnya bertemu dengan ibumu." Ucap Ren dan memegang tangan Hinana.


"Kenapa ayah tak pernah bercerita padaku." Gumam Hinana pada dirinya sendiri.


"Hinana chan, cobalah berbicara lebih lama dengan ayahmu. Maka kau akan saling memahaminya." Ren mengusap kepala Hinana dengan lembut agar membuatnya tenang.


'Kau tahu Ren, sebenarnya aku tidak menyukai bunga krisan. Karena bunga itu kesukaan paman Tanaka dan ayahku selalu selalu membawakannya saat ulang tahunnya. Saat kutanya kenapa selalu membawanya, ayahku mengatakan jika harusnya dirinya yang berada di posisi paman Tanaka. Ayahku mengatakan dengan mata merah sehabis menangis. Oleh karena itu aku selalu membenci ayahku saat datang menemui paman Tanaka.' Batin Hinana.


"Lihatlah, hamparan luas bunga krisan kuning sudah mulai terlihat." Seru Kishi dan menunjuk kearah depan.


"Wah sugoine.... " Ren sangat kagum saat melihat sepanjang jalan bak lautan kuninh karena di penuhi bunga krisan.


"Kita sudah sampai, tinggal mencari tempat parkir." Ucap Aoyama yang masih mengemudikan mobilnya.


Tak lama kemudian mereka berempat sudah keluar dari mobil dan berjalan menikmatan hamparan bunga krisan yang luas seperti savana.


"Aku ingin berfoto di sini." Ren langsung mengeluarkan kameranya dan mengajak Hinana. Ia juga beberapa kali mengajak Kishi untuk berfoto.


"Ayo foto bersama, Aoyama." Ren mengajak Aoyama yang masih berdiri terdiam.


"Hum baiklah." Jawab Aoyama mengangguk dan mengikuti ajakan Ren.


Mereka semua berdiri mengambil pose untuk berfoto, dengan hamparan bunga krisan yang sangat indah membuat fotonya terlihat mempesona.


"Andai saja Shota ada di sini, mungkin akan terlihat lebih keren." Gumam Ren pada dirinya sendiri.


"Ren...."


"Tidak apa-apa. Shota telah menghubungiku beberapa hari yang lalu. Aku sangat bahagia." Ucap Ren pada Hinana dan memberikan seulas senyuman.


"Kau bertemu dengan Shota?" Tanya Hinana.


"Belum,"


"Kalian semua bisa tunggu aku disini sebentar. Aku akan pergi tidak akan lama." Aoyama tiba-tiba menghampiri Ren dan Hinana, ia juga sudah membawakan seikat bunga lili untuk ke pemakaman Sakura.


"Apa di sebelah pemakaman ada kuil, aku pernah kesana sebelumnya." Tanya Ren dengan mata yang berbinar-binar.


"Hum." Aoyama mengangguk.


"Aku ingin pergi kesana. Biksu disana sangat ramah, biasanya akan membagikan ubi panggang untuk pengunjung." Ucap Ren dengan antusias. Memang saat masih kecil ia pernah kesana dengan keluarganya. Saat itu ayahnya mengajak Ren.


"Tempatnya di atas bukit lho, dan kau mana mungkin bisa berjalan kesana." Jawab Aoyama.

__ADS_1


"Hey Aoyama apa tidak ada cara lain untuk kesana tanpa berjalan kaki?" Tanya Hinana pada sahabatnya.


"Bisa saja jika kau bisa terbang." Aoyama menjawab pertanyaan Hinana dengan asal. Karena jalan satu-satunya menuju bukit hanya berjalan karena jalan setapak yang kecil tidak bisa di lewati oleh kendaraan apapun.


__ADS_2