Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
71 Bunga krisan


__ADS_3

..." Aku hanya berharap kau tidak memilih jalan yang sama denganku. Karena aku saja tidak yakin apakah bisa melaluinya. Tapi aku juga tidak bisa memaksamu untuk pergi dari nya. Karena aku sendiri tidak bisa berlari."(Aoyama kou)...


Rerumputan hijau dan bunga krisan sudah bermekaran di kota Kuriyama. Warna yang kuning seakan membuat pemandangan kota Kuriyama menjadi terang.


Seorang pemuda sedang berdiri disekeliling bungan krisan dengan membawa rangkaian bunga lili, tapi pandangan matanya entah tertuju kemana.


"Sensei." terdengar suara merdu seorang gadis.


Pemuda itu adalah Aoyama, dengan rangkaian bunga lili yang sengaja ia bawa untuk pacarnya.


"Apa kau mengenalku?" tanya Aoyama dengan sedikit ragu dan gadis di depannya mengangguk.


"Hum. Sensei adalah teman Hinana bukan? Watashi wa Arimura Tezuka desu." Ucapnya dan mengulurkan tangan.


"Aoyama kou desu." Jawab Aoyama tanpa membalas uluran tangan Arimura.


"Hey Sensei, sedang apa kau disini?" tanya Arimura mendekat namun Aoyama segera memberi jarak.


"Aku ingin bertemu dengan pacarku. Kau?" Tanya Aoyama kembali.


"Oh begitu, maaf telah mengganggu."


"Tidak tidak, jika kau masih ingin disini tidak apa. Sepertinya pacarku tidak datang."Ucap Aoyama saat melihat Arimura akan pergi.


"Apa kau di campakkan oleh pacarmu? Karena aku juga di campakkan oleh orang yang ku sukai. Aku sudah jauh-jauh datang dari Paris tapi dia tetap saja menolakku. Tapi tak apa setidaknya dia mau menemuiku dan mengatakan hiduplah dengan bahagia." Arimura bercerita panjang lebar seakan mengeluarkan semua isi hatinya. Angin yang berhembus dan meniup rambut milik Arimura sehingga terlihat tawanya disertai tangisan.


"Lalu kenapa kau datang ke Kuriyama. Tidak hal yang menarik disini." Tanya Aoyama yang masih memperhatikan Arimura.


"Aku hanya ingin melihat pemandangan bunga sebelum kembali ke Paris. Bagaimana dengan Sensei? Mengapa berkencan di sini?"


"Aku ingin melihatnya, orang yang ku sukai. Kalau kau mau melihat bunga yang indah pergilah ke taman Furano. Good bye." ucap Aoyama memberikan serangkaian bunga lili pada Arimura lalu pergi meninggalkannya.


...****************...


Saporrow


Hinana melajukan mobilnya ke rumah sakit untuk bertemu dengan Ren.


"Koniichiwa." ucap Hinana pelan dan dia sudah melihat Ren duduk diranjangnya dengan membaca buku.


"Doshite? (kenapa)?" balas Ren dengan sedikit melirik kearah Hinana yang baru datang.


"Apa kau sakit lagi?"


"Tidak, aku hanya menjalani pemeriksaan seperti biasa. Kemarilah." Ren menggeser posisi duduknya dan menyuruh Hinana duduk di sampingnya.


"Hinana chan, kalau kau kemari bawakan saja aku makanan." ucap Ren saat melihat bunga camelia yang ada di tangan Hinana.

__ADS_1


"Eh, kenapa? Bukankah bunga ini indah?"


"Aku tidak menyukai bunga." Jawab Ren dengan dingin. Matanya menerawang kearah jendela.


Hinana yang sedari tadi memperhatikan Ren lalu menghampiri jendela dan membukanya.


"Musim semi sangat indah bukan." Ucap Hinana dengan menghirup udara yang dalam. Angin berhembus menerbangkan rambutnya yang hitam.


"Apa kau sangat menyukai?" tanya Ren dan ikut mengahmpiri Hinana.


"Sudah pernah kukatakan padamu jika aku menyukai musim dingin."


"Hem aku mengerti. Ada sesuatu di rambutmu." Ren melihat kelopak bunga sakura yang menempel di rambut Hinana kemudian mengambilnya.


"Kirei (cantik)." ucap Hinana setelah menerimanya. " Ren kun, Arigato."


"Eh Nannotameni? (untuk apa)."


"Kinoo (kemarin)." Hinana agak ragu melanjutkan perkataannya, karena ia salah mengira. Dan harusnya Hinana juga tahu bahwa orang benar-benar peduli padanya adalah Ren.


"Aku senang melihatmu sudah baikan." Ucap Ren seraya menempelkan tangannya di kening Hinana. Hal itu tentu saja membuat perasaan Hinana kalang kabut. Diperlakukan sedemikian lembut oleh Ren tentu saja membuat Hinana makin menyukai. Tapi Hinana tak ingin lagi jatuh ke lubang yang sama, apalagi setelah perasaannya di tolak oleh Ren.


"Tolong hentikan." Hinana segera menepis tangan Ren.


"Gomenne."


"Kekkon suru (menikah)?" tanya Hinana yang memastikan apakah pendengarannya salah atau tidak.


"Hum." Jawab Ren dengan anggukan. Tapi sepertinya Hinana enggan menjawab pertanyaan itu. Sehingga suasana sunyi menghampiri mereka berdua.


"Anoo... kurasa pertanyaan itu tak perlu kau jawab." Ren mulai memecah suasana hening yang sangat canggung.


"Bagaimana denganmu?"


"Eh."


"Apa kau ingin menikah?" kini Hinana yang berbalik melempar pertanyaan untuk Ren.


"Tidak mungkin." Jawab Ren dan berhenti sejenak menjawab pertanyaan Hinana. "Orang seperti aku mana mungkin ada yang menerima. Maksudku, setiap orang yang menikah mempunyai masa depan yang ingin di ciptakan. Sedangkan aku tidak." Ren melanjutkan kalimatnya meskipun ragu memberi tahu keadaannya pada Hinana.


Ren kembali ke tempat tidurnya dan melanjutkan kembali membaca bukunya sebelum Hinana datang.


"Hey Hinana. Jika tak ada yang ingin kau sampaikan lagi, pulanglah. Tak perlu khawatir denganku aku sudah biasa datang ke rumah sakit. Besok aku sudah bisa kembali kerja." ucap Ren namun tidak melihat kearah Hinana, ia terlihat sibuk membaca bukunya.


Hinana yang merasa terusir, kemudian menunduk berpamitan kemudian pergi dari kamar Ren tanpa mengucapkan satu katapun.


"Hinana chan, apakah kau tak ingin menikah?"

__ADS_1


"Hinana chan, apakah kau tak ingin menikah?"


"Hinana chan, apakah kau tak ingin menikah?"


Pertanyaan dari Ren seakan memenuhi otak Hinana, hingga ia memutuskan untuk menghentikan mobil yang ia kendarai.


"Nana chan, aku ingin menikah."


Ingatan itu kembali lagi. Saat Hinana tak sengaja melihat gantungan yang ada di kaca mobilnya.


"Yu chan." gumam Hinana bersamaan dengan air matanya yang mengalir.


Karena merasa perasaannya sudah buruk Hinana menghentikan mobilnya tepat di depan kelab malam. Baru kali ini ia mengunjungi kelap malam, terdengar riuh musik yang sedang diputar dan orang-orang yang sedang menari mengikuti alunan musik.


"Anoo berikan aku sampanye." ucap Hinana pada barista yang sedang menuang minum pada pelanggan.


"Tentu saja." jawab barista itu kemudian menuangkan pada gelas dan memberikan pada Hinana.


"Bisa berikan lagi." Hinana mengayunkan gelas kosong pada barista itu. Dengan segera seorang barista menuangkan kembali ke gelas kosong Hinana. " Aku bisa menuangnya sendiri, berikan saja aku sebotol."


"Baiklah."


Hinana menuangkan sendiri sampanye ke dalam gelas dan berkali-kali meminumnya. Aroma anggur yang sangat menyengat membuatnya terasa tenang. Tapi berkali-kali Hinana juga menyebut nama Yukiatsu.


"Hey Yu chan, bagaimana kabarmu? Aku dengar kau akan menikah dengan Nanami, kau pasti punya harapan untuk hidup bersamanya kan." ucap Hinana dengan senyum yang getir kemudian meneguk segelas lagi. Perlahan ia mulai mengingat masa lalunya lagi, padahal hampir satu tahun ia mulai melupakannya.


"Nana chan, kenapa kau berada di luar." Yukiatsu menghampiri Hinana yang sedang berdiri dibalkon dan memakaikan mantelnya.


"Aku senang melihat salju yang turun." balas Hinana dan tersenyum.


"Wakatta, Nana chan selalu menyukai musim dingin." Yukiatsu membalas senyum Hinana kemudian memeluk Hinana dari belakang. "Nana chan."


"Hum."


"Suki desu (aku menyukaimu)."


" Mo suki desu yo (aku juga menyukaimu)."


"Nana chan, apa yang membuatmu menyukaiku?" tanya Yukiatsu kemudian Hinana berbalik menatap kearahnya.


"Yuki (yuki \= salju). Aku menyukaimu dan musim dingin."


"Emm aku mengerti sekarang. Bagaimana kalau namaku bukan Yukiatsu apa kau masih tetap menyukaiku?" Balas Yukiatsu dan meletakkan kedua tangan Hinana di pundaknya.


"Aku akan tetap menyukaimu." jawab Hinana dan menatap kedua bola mata milik kekasihnya. Kemudian perlahan Yukiatsu mendekatkan ke bibir Hinana hingga akhirnya berciuman.


"Yukiatsu hountoni suki desu (Aku benar-benar menyukaimu)." gumam Hinana dan perlahan air matanya sudah membasahi pipinya.

__ADS_1



__ADS_2