
Malam itu Aoyama keluar dari apartemennya karena ingin membeli sesuatu. Ia merencanakan untuk pergi ke kota Kuriyama menemui pacarnya.
Saat ia akan pergi malah melihat seorang pemuda yang berjalan sempoyongan di jalan. Aoyama tak menghiraukan kemudian memasang earphone di telinganya.
Dan tak lama pemuda itu terjatuh di jalan. Awalnya Aoyama tak ingin peduli, tapi karena polisi di Saporro sangat ketat ia menghampirinya pemuda itu untuk menghubungi keluarganya.
(Di Jepang, jika ada orang yang mabuk di tempat umum maka akan di tangkap dan di tahan).
"Hey, apa kau sedang mabuk? Setidaknya hubungi keluargamu jika kau mabuk berat." Ucap Aoyama seraya menendang kecil tubuh pemuda itu.
Karena ia merasa jijik jika tangannya menyentuh orang yang berbau alkohol. Tak lama kemudian ia melihat pemuda itu bergerak dan berbalik.
"Sensei, watashi o tasukete kudasai (Dokter, tolong bantu saya)."
Betapa terkejutnya Aoyama saat melihat pemuda itu adalah Ren. Dengan segera Aoyama memanggil ambulance dan ikut pergi ke rumah sakit.
...*************...
"Ohayou." ucap Hinana dengan semangat pada teman-temannya.
"Ohayou, apa kau sudah baikan?" tanya Sawako yang sibuk menata ruangan.
"Hem, aku sudah minum obat."
"Kau membuat kami khawatir saja." Balas Arumi kemudian memberikan Hinana sebuah gorden untuk di pasang.
"Aku hanya kelelahan saja. Tapi seorang teman yang baik sudah merawatku." ucap Hinana kemudian melepas gorden yang lama dan menggantikan yang baru.
"Iya iya kau benar. Ren memang selalu baik padamu."
"Ren kun?" Ucap Hinana dan mengernyitkan dahinya.
"Iya. Dia datang terlambat karena membuatkanmu makanan. Dokter bilang kau kelelahan dan makan tidak teratur. Tapi Ren hanya mengatakan padaku dan menyuruhku merahasiakan dari teman-teman." Arumi menceritakan semua perlakuan Ren pada Hinana.
(Kejadian satu hari yang lalu.)
Malam harinya Hinana menangis karena mengetahui bahwa Nanami mengumumkan pernikahannya di media. Ia akan menikah pada musim gugur yang akan datang.
Karena merasa kecewa Hinana menangis histeris dan akhirnya tertidur di lantai.
Keesokan paginya Ren datang sangat pagi ke apartemen untuk menjemput Hinana. Seperti biasa Ren ingin mengajak Hinana makan pagi dulu sebelum pergi.
"Hi..na..na." ucap Ren berkali-kali dengan menekan bel tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Ren memutuskan masuk ke apartemen Hinana karena tahu kata sandinya.
"Hinana, apa kau baik-baik saja." Ren terkejut melihat Hinana tidur di lantai dengan komputer yang masih menyala. Ia segera mengampirinya.
"Hinana bangunlah, kau demam. Hinana." Panggil Ren berkali-kali tapi Hinana tak juga sadar.
__ADS_1
Ren menggendong Hinana ke kamarnya kemudian menelepon dokter Seto untuk memeriksa Hinana.
Karena tak mungkin jika Ren menggendong Hinana sampai parkiran. Ia tak ingin sembrono dan penyakitnya kambuh lagi.
"Jadi bagaimana dengannya, Sensei?" tanya Ren pada dokter Seto.
"Demam yang tinggi karena kelelahan dan makan tidak teratur. Aku akan memberinya obat, biarkan dia istirahat yang cukup." Jawab Seto sensei dan memberikan sejumlah obat pada Ren.
"Haik (baik)."
"Oh ya Ren pastikan dia untuk meminum obatnya dan setelah itu pastikan untuk makan yang teratur."
"Haik, Arigatou Sensei."
"Apa dia pacarmu?" tanya Seto saat Ren mengantarnya sampai pintu.
"Aku sudah berkomitmen untuk tidak pacaran dengan siapapun. Sebentar lagi aku mati, jadi aku sudah mempersiapkan diri." Ren menjawab pertanyaan dari Seto kemudian menunduk.
"Tapi kau menyukainya kan?. Baiklah Ren aku pergi dulu, dan jangan lupa tiga hari jadwalmu chek up."
"Haik."
Setelah kepergian dokter Seto, ia menghampiri Hinana yang sedang tidur. Perlahan Ren menggenggam tangan Hinana dan membelainya dengan lembut.
"Yang di katakan Seto sensei benar, aku menyukai bahkan sangat mencintaimu. Jadi aku ingin melindungimu, agar kau tak terluka saat kematianku nanti. Berada di sisimu memang membuatku bahagia, tapi aku sadar akan waktu yang kumiliki." ucap Ren dengan pelan agar tidak membangunkan Hinana.
Ren sengaja meletakkan obat di meja sebelah ranjang, tak jauh dari ponsel Hinana. Lalu Ren membuatkan Hinana sarapan seperti yang di katakan dokter Seto.
Sebelum pergi Ren menengok Hinana sebentar, senyum Ren menggambang saat melihat lukisannya terpasang di kamar Hinana.
"Ren kau kemana saja, kami tidak tahu seberapa panjang bawahan yang ingin kau buat." Suara cerewet Arumi mulai terdengar di telinga Ren.
"Gomenn aku terlambat." balas Ren dan langsung berkutat pada kain merah mudanya.
"Bukankah kau berangkat dari rumah jam 7 pagi?" Shota melempar pertanyaan pada Ren.
"I-iya, karena u-urusan lain." Jawab Ren mencari-cari alasan.
"Oh." ucap Shota kemudian kembali memotong-motong kain.
"Sebenarnya kau dari mana saja?" tanya Arumi saat mengukur kain pada manekin bersama Ren.
"Aku mengurus Hinana sebentar dia sedang sakit."
"What kenapa kau tak bilang?" Ucap Arumi yang hampir berteriak.
"Ssst, pelankan suaramu. Aku tak ingin mereka berpikiran yang macam-macam tentang aku dan Hinana." jelas Ren dan mengisyaratkan jari telunjuk di bibirnya.
__ADS_1
"Baiklah aku paham. Tapi bagaimana keadaanya sekarang?" tanya Arumi berbisik.
"Dia sedang istirahat, tadi sudah ada dokter yang memeriksanya."
"Semuanya, Hinana tidak bisa datang karena sakit." Teriak Arumi pada teman-temannya. Sementara Ren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ingin rasanya ia menendang Arumi yang tak bisa jaga rahasia.
"Benarkah?" Tanya Tsubaki.
"Darimana kau tahu." Aoyama juga ikut bertanya.
"Dia mengirimkan pesan padaku." Jawab Arumi asal kemudian melanjutkan pekerjaannya.
(Kembali ke hari ini)
"Sepertinya Hinana beruntung punya Bos yang sangat perhatian." Ucap Sawako dan memukul pundak Hinana.
"Ohayou, teman-teman Ren tidak datang hari ini karena di rumah sakit." Ucap Tsubaki yang baru datang kemudian membongkar isi tasnya.
"Tsubaki tunggu sebentar jangan seenaknya mengacau." Arumi kesal karena baru saja ia membereskan ruangan dan sekarang Tsubaki langsung mengacaukannya.
"Apa Ren sakit lagi?" tanya Hinana.
"Tidak, dia hanya menjalani chek up seperti biasa. Kenapa?"
"Ah tidak." Jawab Hinana. Masih tak percaya dengan yang di katakan Arumi, karena Hinana pikir Aoyama yang merawatnya kemarin. Resep obatnya juga dari rumah sakit dimana Aoyama berkerja, jadi tak salah jika yang Hinana pikir Aoyama. Ponsel Hinana berbunyi dan mendapat pesan dari Aoyama.
Aoyama kou
Aku pergi ke Kuriyama untuk menemui pacarku. Jadi tidak bisa membantumu.
Hinana Arizawa
Baiklah hati-hati. Oh ya terimakasih makanannya semalam.
Aoyama Kou
Tidak masalah, Ren memintaku untuk berbaik hati padamu.
Setelah membaca pesan Aoyama yang terakhir, membuat hati Hinana terguncang. Karena Ren meminta Aoyama untuk baik padanya. Jika Ren sangat peduli padanya mengapa waktu itu ia menyuruh Hinana melupakan saat berkencan dengannya.
Apa karena Ren takut jika Hinana mengetahui penyakitnya maka ia akan meninggalkannya seperti Arimura dulu.
Beberapa pertanyaan memenuhi kepala Hinana dan ingun rasanya ia menanyakan pada Ren.
"Yo berhentilah melamun." Tsubaki membuyarkan lamunan Hinana.
"Aku tidak melamun." Hinana menyangkal tuduhan Tsubaki. "Hey Aoyama juga tidak datang, dia sedang berkencan." ucap Hinana pada teman-temannya.
__ADS_1
"Sokka (begitukah)." gumam Tsubaki dan lainnya.