Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
123


__ADS_3

Aoyama masih berusaha melawan Seto yang terus menghalanginya. Entah kenapa sebenarnya Seto juga tidak tega mencegah Aoyama. Hanya saja jika keduanya bertemu salah satunya akan terluka,entah itu Aoyama atau Ren.


"Aku bukan penjahat, aku ingin tahu kenapa Ren pergi meninggalkan aku dan yang lainnya." Ucap Aoyama sambil melawan Dokter seniornya.


"Tetap saja tak boleh. Biarkan dia pergi." Jawab Seto dan memeluk Aoyama dengan erat.


"Tolonglah Sensei... "


"Tidak boleh... "


"Selama ini aku ingin punya teman tapi saat Ren mau menjadi temanku, kenapa dia pergi meninggalkanku." Ucap Aoyama lalu terjatuh karena tidak bisa melawan Seniornya.


Tangan Seto perlahan merenggang, baru kali ini ia mendengar ucapan Aoyama yang sangat menyetuh hatinya. Beberapa hari ini memang Aoyama sering bertanya padanya mengenai penyakit jangung dan solusi. Tapi Seto tidak sadar jika itu Aoyama lakukan untuk Ren. Aoyama masih belum bangun dari tempat jatuhnya, ia terlihat masih sibuk menyeka sisa air matanya. Seto mengulurkan tangannya untuk mengajak Aoyama menemui Ren bersama, ia ingin Aoyama dan Ren bisa berbaikan.


"Maaf, selamat tinggal." Ucap Ren dan kembali berjalan.


Seto telah terlambat membawa Aoyama untuk berpamitan dengan Ren. Ia melihat Ren yang sudah masuk ke pintu gate dan teman-teman lainnya menangis.


"SELAMAT TINGGAL DAN PERGILAH... Aku akan mengutukmu agar sisa waktumu tidak bahagia dan matimu tidak akan tenang."


Suara Hinana terdengar lantang dan memenuhi seisi bandara. Tentu saja membuat Ren dan ayahnya berhenti meskipun sudah masuk dalam gate. Kedua orang tua Hinana juga terlihat berlari mendekati Hinana.


Hinana membuka pintu gate dengan kartu aksesnya, tentu saja keberanian besar ia miliki karena bantuan dari adiknya.


"Baka." Ucap Hinana tepat di hadapan Ren, matanya sudah terlihat sembab karena menangis di sepanjang perjalanan.


"Anoo, kami minta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang dikatakan putriku. Sebenarnya ia tak bermaksud untuk mengatakan yang demikian, hanya saja mulutnya sulit untuk mengontrol emosi."


Aoi ayahnya Hinana juga ikut masuk menerobos gate dan meminta maaf pada Jouji ayahnya Ren. Ia juga tak menyangka jika putrinya akan berkata demikian.


"Renchiro, aku sudah mendengar banyak tentangmu. Pada awalnya aku tak menyetujui hubunganmu dengan Hinana. Tapi melihat Hinana yang bahagia dan Aoyama yang sudah bisa terbuka aku menyadari jika peranmu begitu penting. Apakah kau masih ingin pergi dari teman-temanmu?" Larisa juga ikut mengejar Hinana sampai masuk gate dan berbicara dengan Ren.

__ADS_1


Awalnya Larisa sangat tidak setuju karena nanti Ren pasti akan meninggalkan Hinana. Tapi Larisa juga melihat Aoyama yang sudah terbuka dan bisa menghargai hidup karena sering bersama Ren. Akhirnya Larisa mengikuti Hinana pergi ke Saporrow dan ingin mencegah keberangkatan Ren. Ia juga sudah berjanji akan menanggung semua biaya perawatan Ren jika Ren mau kembali dirawat di rumah sakitnya.


Ren melihat ketiga temannya berkumpul, bahkan Tsubaki yang rela meninggalkan pekerjaannya demi dirinya. Aoyama yang bergandengan tangan dengan dokter Seto, Hinana bersama kedua orang tuanya. Dan ayahnya yang tersenyum padanya tentu saja menjadi kebahagiaan untuk Ren.Tinggal Shota kakaknya yang belum bisa ia hubungi sampai saat ini.


"Aku takut dengan kutukan itu, aku juga ingin mati dengan tenang." Ucap Ren yang akhirnya bisa mengukir senyum di bibirnya.


"Maka dari itu jangan pergi. Berjanjilah kita akan bersama-sama hingga akhir." Balas Hinana yang akhirnya tak bisa membendung air matanya yang dari tadi mencoba tegar.


Ren hanya mengangguk sebagai jawabannya kemudian Hinana memeluknya. Ketiga temannya pun ikut menerobos gate dan memeluk Ren. Jika bukan karena koneksinya Ryusei mungkin saja Hinana dan semuanya akan ditangkap oleh petugas keamanan bandara karena membuat keributan.


Seto menyuruh Aoyama untuk menghampiri Ren dan yang lainnya. Meskipun dengan sedikit ragu Aoyama akhirnya melangkah maju. Larisa bisa tersenyum lega karena putra sahabatnya sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa dengan benar. Ren melihat Aoyama yang berjalan pelan mengahampirinya langsung menarik tangannya dan merangkul pundaknya.


"Maaf telah merepotkan kalian semua." Ucap Ren dan mulai tersenyum lagi.


Jadwal keberangkatan sudah berlalu dua belas menit yang lalu. Ren akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke Paris. Seto segera menyuruh Ren kembali ke rumah sakit karena udara sudah semakin dingin.


Saat ini Ren,ayahnya, Aoyama dan dokter Seto berada di dalam satu mobil. Sedangkan Hinana bersama kedua orangtuanya dan teman-teman, karena mobil yang dibawa orang tua Hinana berjenis mini bus dan muat untuk banyak orang.


"Tidak."


"Baiklah." Balas Ren dan tersenyum.


"Aku senang kau tidak jadi pergi. Maafkan aku." Ucap Aoyama dengan pelan tapi Ren bisa mendengarnya.


"Aoyama sensei tidak bersalah, hanya saja aku terlalu khawatir yang berlebihan." Jawab Ren dan tersenyum. Ia menutup matanya karena akhir-akir ini Ren merasa sering kelelahan padahal tidak melakukan aktivitas apapun.


...****************...


Hinana saat ini sudah berhasil debut, ia sudah menjadi idol dan beberapa kali tour di luar kota. Tapi Hinana selalu menyempatkan diri menelepon Ren kekasihnya agar tidak merasa kesepian.


"Bagaimana suasana musim gugur disana? "

__ADS_1


Tanya Hinana pada Ren melalui telepon.


"Entahlah, aku bahkan belum merasakan udara di musim gugur." Jawab Ren dan tertawa kecil. Mungkin saat ini Ren sedang tersenyum tapi Hinana tidak bisa melihatnya.


"Kasihan sekali kekasihku. Hey dua hari lagi aku akan pergi ke Saporrow. Kita akan jalan-jalan bersama. Tenang saja, aku akan berusaha membujuk Aoyama."


"Benarkah. Aku sangat menantikannya, oh ya tidak lama lagi ada festival musim gugur. Hanya saja Seto sensei sangat menjengkelkan. Bisakah kau merayunya agar memberikanku izin? Tapi jangan terlalu berlebihan merayu."


Suara Ren terdengar seperti memohon, Hinana sudah paham jika Ren merasa bosan karena tidak bisa pergi kemanapun.


"Tenanglah, serahkan saja padaku."


"Arizawa Chan, apakah kau sudah siap? Mobilnya akan segera tiba lima menit lagi."


Teriak Kaori selaku menegernya. Hari ini Hinana akan pergi ke Fukuoka dan akan syuting video clip dari band grup ternama. Produser memilih Hinana sebagai modelnya.


"Baiklah, aku akan bersiap-siap." Jawab Hinana dengam berteriak karena Kaori sudah menghilang dari hadapannya.


"Ren kun, aku harus bersiap-siap untuk pergi.


Jaa ne... " Hinana kembali berbicara pada Ren di telepon.


"Humm, aku menantikan telepon darimu berikutnya. Jaa ne Hinana chan."


Jawab Ren dan tak lama kemudian Hinana segera mematikan panggilannya. Ia segera bersiap-siap untuk pergi.


Selama diperjalanan Hinana hanya bermain ponsel dan merekan beberapa pandangan untuk dikirimkan ke Ren. Hinana juga membeli berbagai pernak pernik khas dari beberapa kota untuk Ren.


"Bagaimana hubunganmu dengan tuan muda Ren? " Pertanyaan dari Kaori seakan menggoda Hinana.


"Bicara apa kau ini." Elak Hinana. "Aku akan menghabiskan masa liburku di Saporrow, aku tidak sabar untuk menantikannya."

__ADS_1


"Aku senang jika hubungan kalian baik-baik saja. Aku juga bahagia karena sepertinya Ren sangat mencintaimu." Ucap Kaori dan memeluk Hinana.


__ADS_2