Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
26


__ADS_3

Ren mengajak Hinana ke taman Furano, karena kemarin Hinana tak datang.


"Hinana kenapa tidak datang kemarin." Ren membuka percakapan karena dari tadi Hinana hanya menunduk.


"aku ketiduran."


"baiklah tidak apa-apa, sekarang aku sudah mengajakmu kemari."


""eh dia tidak marah sama sekali padaku?""batin Hinana.


"maaf." ucap Hinana yang sadar diri.


"tidak apa-apa, Furano di musim semi sangat indah. Maaf mengajakmu saat musim dingin."


"kau sering kesini?"


"hem, tempatnya sangat sejuk dan banyak bunga."


"kau ini laki-laki aneh sekali jika suka bunga." lirih Hinana dan berjalan mendahului Ren.


Tepat di ujung jalan ada sebuah rumah lukis dan Hinana masuk kedalam.


" Woah banyak sekali lukisannya semuanya sangat indah."


"kau menyukai lukisan?" tanya Ren yang sudah ada disampingnya.


"iya, tapi aku tidak bisa menggambar sama sekali. Saat SMP ada tugas mengambar singa, tapi gambaranku malah seperti kucing yang sakit. Aku sangat payah saat pelajaran seni."


"mau ku ajari?"


"eh kau bisa melukis?"


"tentu saja, aku lulusan designer mana mungkin tak bisa menggambar."


"kau pandai menggambar rancangan baju, tapi belum tentu bisa melukis sebagus ini." Hinana tak memperdulikan Ren, ia terus berjalan memandangi semua lukisan yang terpajang. Pandangan mata Hinana tertuju pada lukisan yang di pajang paling ujung.


"siapa yang menggambarnya?" pekik Hinana sangat terkejut. Lukisan itu adalah dirinya saat di kereta.


"ada apa Hinana?" tanya Ren saat melihat Hinana terdiam. Ren segera memundurkan langkahnya, ia yang melukisnya. Saat itu pertemuan pertamanya dengan Hinana di kereta.


"Ren Koizumi Itu kau." Hinana membaca tulisan kecil di pojok lukisan dan menyadari Ren tidak disampingnya.


"hey tunggu sebentar, Ren. Sialan beraninya kau kabur dariku." Hinana langsung mengejar Ren. Di luar gedung Ren tampak berlari menghindari Hinana.


"berhenti disana Hinana, jangan mendekat." Ren berhenti karena lelah di kejar Hinana.


"kau sialan Ren. Kemari kau akan ku hajar."


"maaf maaf, aku menyerah jangan kejar aku lagi." Ren kesusahan mengatur nafasnya, dan melihat gelang digitalnya hampir menginjak angka 130.


"tidak akan ku maafkan." Hinana tetap mengejar Ren tapi saat itu sepatunya mengijak salju dan tergelincir.


Ketika Hinana akan terjatuh dan Ren berhasil menangkapnya. Hingga akhirnya Hinana memeluk erat Ren.


Tiiiit....Tiiiit....Tiiit


Suara gelang Ren menyadarkan Hinana, dan ia segara melepas pelukan Ren.


"are you okay Ren?" tanya Hinana karena melihat Ren yang kesulitan bernafas, dan wajah Ren sangat pucat.


"bantu aku." Ren mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Hinana langsung membantu Ren berdiri dan mengajaknya ke masuk kedalam cafe. Hinana memesankan air putih dan macha hangat untuk Ren.


"apa ada yang kau butuhkan lagi?."


"aku kedinginan, peluk aku." tanpa memberi aba-aba Ren merebahkan tubuhnya ke Hinana.


Tentu saja Hinana terkejut dan hatinya berdebar-debar. Hari ini hati Hinana berhasil di buat kacau oleh Ren. Kali ini Hinana tidak bisa marah pada Ren, ia membiarkan Ren tidur dipelukannya.


"Hinana." ucap Ren setelah cukup lama terdiam.


"hem ada apa?"


"terima kasih sudah boleh memelukmu." ucap Ren dan melepaskan pelukannya. Ren segera mengambil obat dan meminunnya.


"kau sakit?" tanya Hinana dan Ren hanya mengangguk.


"kalau begitu kita pulang saja. Akan ku antar."


"kau bawa mobil?"


"tidak, tapi apartemenku tak jauh dari sini. Tunggulah sebentar aku akan mengambilnya."


"tidak perlu, bolehkah aku ke apartemenmu ?"


"tidak boleh."


"baiklah aku pulang naik taksi saja." Ren meminum segelas machanya dan beranjak pergi.


"tapi kalau sebentar tidak apa-apa."


"baiklah ayo pergi." ajak Ren dengan semangat. Hinana pun akhirnya kalah dan membiarkan Ren main ke apartemennya.


"woah besar juga ternyata. Eh kau juga punya teleskop untuk melihat bintang. Keren sekali." mendadak tubuh Ren terlihat sangat sehat saat masuk ke apartemen Hinana.


"duduklah jangan kekanak-kanakan." melihat tingakah Ren yang seperti itu Hinana hanya bisa tersenyum.


"apa ini?." Ren tekejut saat melihat robot pembersih milik Hinana. "aww sakit." Ren mencoba menyetuh robot itu tapi tangannya di singkirkan dengan kasar.


"diamlah Ren kau sedang di netralisir olehnya."


"amazing... Semua barang-barangmu sangat canggih."


"ini namanya Toru, dia robot pembersih dan masih di produksi di Jerman."


"keren sekali, dari mana kau dapatkan ini?"


"ini milik ayahku, dulu ayahku bekerja sama dengan rumah sakit di Jerman. Karena ada wabah penyakit yang menular jadi mereka memberikan robot untuk menemani pasien. Ku buatkan teh untukmu."


"oh terima kasih, apa ini manis?"


"tidak, disebelahnya ada gula kau bisa menambahkannya."


"tehnya sangat wangi, enak sekali." ucap Ren dan tersenyum ke arah Hinana.


Kali ini Hinana benar-benar telah mengizinkan Ren masuk dalam hidupnya. Tanpa sadar Hinana mulai nyaman dengan kehadiran Ren.


"Ren.."


"hem ada apa?"


"Tokyo Summer kau sudah mempersiapkannya?"

__ADS_1


"tentu saja, besok saat kerja aku akan bawa semua design ku. Hinana aku harus pulang sekarang."


"ah iya, sampai jumpa di tempat kerja Ren."


"terima kasih semuanya Hinana." Ren mencium kening Hinana sangat lama sebelum pergi.


Tanpa bisa berkata apa-apa Hinana hanya bisa terdiam. Sepertinya mimpinya menjadi kenyataan, Hinana hanya merasakan suara detak jantungnya dan memandangi Ren pergi.


Setelah memastikan Ren benar-benar pegi, Hinana berlari menuju tempat melukis di taman Furano.


"permisi apa lukisan ini di jual?" tanya Hinana dengan nafas tergesa-tegesa pada penjaga.


"maaf nona semua lukisan disini tidak dijual. Kami menyediakan tempat melukis dan lukisan ini bukan milik siapa pun."


"wanita di lukisan ini adalah aku. Lihatlah.!!!! Akan ku bayar berapapun." Hinana memohon untuk membeli lukisan yang di buat Ren.


"baiklah kau harus menjawab pertanyaan dariku jika ingin membeli."


"siapa nama pelukisnya?"


"Ren Koizumi."


"benar, apa hubungannya Ren melukis gadis ini?"


"eh.. Kekasihnya?"


"aku rasa salah. Saat melukis dia tak mengatakan jika punya pacar."


"kalau begitu orang yang disukai Ren, saat di kereta." jawab Hinana dengan berpikir.


(flash back )


"ah Ren kau melukis seorang gadis? Biasanya kau selalu melukis bunga." tanya Haru penjaga gedung.


"aku rasa dia bunga yang indah bagiku." Ren tersenyum dan melanjutkan lukisannya.


"apa dia pacarmu?"


"aku tidak akan pacaran, tapi gadis ini yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama."


"eh benarkah, kenapa tak kau nyatakan saja?"


"mungkin aku tidak akan bertemu dengannya lagi."


"heh kenapa?"


"karena aku bertemu dengannya di kereta, dan itu hanya sebuah kebetulan."


(back to time)


"silahkan bawa lukisannya nona dan temui meneger kami." ucap penjaga gedung dengan tersenyum.


Hinana segera membawa lukisan itu dan menemui meneger gedung itu.


"aku rasa kau akan bertemu dengannya lagi Ren." ucap penjaga gedung dengan memandangi Hinana yang berlari.


Dengan transaksi yang cukup lama akhirnya Hinana berhasil membawa lukisan itu. Sebenarnya Hinana hanya membayar untuk kanfas dan catnya saja. Tapi karena memang lukisan itu tidak di perjual belikan, Hinana harus memohon berkali-kali.


Senyum Hinana mengambang saat meletakan lukisan itu di dinding kamarnya. Ia memegangi nama Ren di lukisan itu.


"arigatou Ren, kau telah membuktikan bahwa hidup tidak hanya ada warna hitam dan putih. Ada warna abu-abu, sesuatu yang ku anggap salah tidak sepenuhnya salah. Begitu juga sebaliknya." ucap Hinana.

__ADS_1


__ADS_2