Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
62


__ADS_3

Shota masih terus memotret pemandangan sakura di sela-sela ia berjalan. Dan Hinana masih saja memperhatikan, ia senang akhirnya bisa melihat Shota kembali melanjutkan keinginannya.


Saat itu ada kelopak bunga sakura yang jatuh di hidung Shota, dan Hinana mengambilnya.


"Kirei (cantik)." Ucap Hinana dengan tertawa kecil. "Hey harusnya ku foto saat menempel di hidungmu."


"Kalau begitu tempel lagi saja."


"Haik." Hinana meletakkan kembali di hidung Shota.


"Itai yo (sakit)." Pekik Shota karena Hinana menepuknya dengan keras.


"Kau bisa mengambilnya kembali."


Shota mengambil kelopak bunga sakura yang berbentuk hati, ia menyimpan di sakunya kemudian menyamai langkah Hinana. Shota mengantar pulang Hinana dengan naik busway.


"Sepertinya jam pulang kerja, lihatlah penuh sekali." Ucap Shota saat melihat dalam bus.


"Sedikit berdesakan, tak apa ayo masuk." Ajak Hinana dan masuk terlebih dulu. Sebenarnya bisa saja Hinana menunggu bus selanjutnya, tapi Hinana sudah ingin pulang dan menyelesaikan membuat payet bunganya.


Hinana dan Shota terpaksa berdiri karena tempat duduk sudah tidak ada, dan juga berdesakan. Saat bus mengerem, tanpa sengaja Shota terjatuh dan kepalanya saling berbenturan dengan Hinana.


"Maaf." Ucap Shota dan Hinana malah tertawa kecil sambil mengusap kepalanya yang sakit.


"Hey Shota mata ashita (sampai jumpa besok)." Ucap Hinana saat sampai di depan gedung apartemennya.


"Hinana, su-suki... suki-yaki.. Aku ingin makan sukiyaki." Ucap Shota terbata-bata, sebenarnya Shota ingin mengatakan jika ia menyukai Hinana. Tapi ia segera menahan perasaannya. (suki dalam dalam bahasa jepang artinya suka/cinta. Kalau Sukiyaki artinya makanan).


"Eh, aku sudah kenyang sekarang. Aku akan mengajakmu makan kapan-kapan."


"Be-benarkah?"


"Hem jaa mata Shota kun." Hinana melambaikan tangan lalu masuk kedalam gedung. Sementara Shota masih memandangi punggung Hinana dan menggenggam kelopak bunga sakura.


Keesokan harinya Hinana terburu-buru pergi bekerja, hingga tidak sadar bahwa sepatu yang di pakainya tidak sama. Ia terlambat bangun karena membuat payet bunga semalaman.


"Ohayou, maaf aku terlambat hari ini." Hinana segera mengeluarkan hasil kerjanya semalam dan memberikan pada Arumi.


"Wuah keren sekali." Ucap Arumi melihat payet cantik yang di buat Hinana. Kemudian Arumi memadukan dengan gaun.


"Apakah itu model baru?" Tanya Ren yang berdiri di belakang Hinana.


"Apa?"


"Sepatumu." Ucap Ren dan menunjuk kearah sepatu Hinana.


"Buset....gawat gawat gawat. Aku malu sekali." Pekik Hinana dan menutupi wajahnya dengan tangan kanannya. Sedangkan semua teman-temannya menertawakan Hinana.


"Aku terburu-buru." ucap Hinana dengan malu dan masih duduk di lantai.


"Baka yo Hinana." Ejek Sawako dan tak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


Dan Hinana juga melihat Ren menertawakannya, tapi tak lama kemudian ia melihat Ren menghampirinya dan ikut menunduk. Ren melepaskan kedua sepatu yang di pakai Hinana.


"Pakailah ini." Ren menyodorkan sandal miliknya pada Hinana. Meskipun kebesaran Hinana tetap memakainya.


"Hey Ren apa kau akan bertelanjang kaki?" tanya Tsubaki yang memperhatikannya.


"Aku akan pakai sepatu." Jawab Ren.


"Satu point untukmu Hinana." Emi yang melihatnya dengan spontan melempar kata-kata.


"Eh??"


"Ada apa?" tanya Ren pada Emi saat akan pergi ke ruangannya.


"Tidak apa-apa." Jawab Emi kemudian membantu Arumi memanjangkan tile. Hinana yang paham maksud Arumi memberikan tanda oke dengan tangannya. Dan Emi tersenyum melihat kelakuan Hinana yang seperti anak kecil.


"Hinana ada yang mencarimu di loby." Panggil Ariko kemudian Hinana segera turun menemuinya.


Sementara itu seorang laki-laki dengan blazer hitam terlihat asik membaca majalah dan menunggu Hinana di loby.


"Yo kenapa kau kemari?" Panggil Shota yang baru masuk dari pintu utama.


"Hinana menyuruhku kemari. Kau?" Jawab Aoyama dengan santainya.


"Ku kira kita sama." balas Shota dan tak lama kemudian Hinana datang.


"Akhirnya kalian berdua mau membantuku." Ucap Hinana dengan senang lalu menarik tangan Shota dan Aoyama untuk masuk.


"Mina-san aku membawakan bantuan untuk kalian." ucap Hinana kepada temannya dengan menarik Shota dan Aoyama.


"Shota. Lama sekali tidak bertemu. Apa kabar?" Sapa Tsubaki dan bersalaman dengan Shota.


"Genki yo (baik)." Balas Shota.


"Hinana bukankah dia Sensei yang ada dirumah sakit?" tanya Arumi dan arah matanya melihat Aoyama.


"Iya kenalkan dia temanku." Jawab Hinana dan menyeret Aoyama untuk di perkenalkan pada temannya. "Sebutkan namamu." Desak Hinana.


"Kau tak bilang jika ada banyak orang."Bisik Aoyama.


"Ayolah, kau sudah berjanji padaku." Hinana juga berbisik kemudian mendorong Aoyama supaya memperkenalkan namanya.


"A-Aoyama kou desu (aku Aoyama Kou)." ucapnya dan menunduk.


"Watashi Sawako."


"Emi desu."


"Arumi desu. Hajimemashite (senang bertemu denganmu)." Ucap teman-teman Hinana bergantian.


"Hajimemashite."

__ADS_1


"Aoyama apa kau bisa menjahit?" tanya Sawako.


"Iya." Jawab Aoyama singkat, karena memang Aoyama sangat sulit berteman.


"Benarkah, kalau begitu apa saja yang biasa kau jahit?" Tanya Emi dengan basa basi.


"Tubuh manusia." Jawaban Aoyama membuat Ren tertawa lebar. Dan semua orang yang ada di ruangan juga sama. Memang Aoyama terlalu kaku jika bertemu dengan orang yang baru.


"Hey hey sudahlah jangan menganggunya, Aoyama kun kemari juga ingin membantu kita semua. Kalian paham." Hinana mencoba menjelaskan dan membantu Aoyama. Karena ia juga melihat bahwa Aoyama kurang nyaman dengan sikap teman-temannya.


"Gomenne." Ucap Ren dan menghentikan tawanya. "Baiklah kalau begitu kita bagi tugas, Sensei kau bisa menjahit jadi tolong pasangkan renda. Kau bisa kerjakan bersama Arumi dia akan membantumu." Ren berbicara dengan Aoyama.


Sedangkan Ren menyuruh Hinana, Shota dan Emi membuat payet bunga lagi. Kali ini ia menginginkan payet berbentuk kelopak bunga sakura. Ren, Tsubaki dan Sawako menyelesaikan gaun utamanya.


"Auch, itai yo aku berkali-kali tertusuk jarum." Keluh Hinana kesakitan.


"Ne berhati-hatilah. Lihat aku saja laki-laki bisa membuat lebih bagus dari pada kau." balas Shota.


"Tapi kau sangat lamban, lihat tanganku." Hinana menunjukkan jari-jarinya yang terluka karena tusukan jarum jahit.


"HAH kenapa bisa sampai begini." Shota terkejut dan mengambil tangan Hinana.


"Apakah sakit sekali?" tanya Shota dan Hinana mengangguk.


"Coba ku lihat." Emi menghampiri Hinana dan melihat jari-jari mungil Hinana. Kemudian ia mengambil tasnya dan mencarikan sesuatu untuk dipakai Hinana.


"Ini, coba kau pakai."


"Apa ini?"


"Pelindung untuk jari-jarimu. Dulu saat aku belajar menjahit juga sering tertusuk jarum." Ucap Emi dan membantu memasangkan ke jari Hinana.


"Em jariku rasanya agak tebal. Dan agak sedikit sudah menggerakkan."


"Lama-lama kau akan terbiasa."


"Jempolmu jadi membesar tiga kali lipat Hinana." Ejek Shota dan tertawa.


"Berisik kau."Hinana merasa jengkel dan memukul Shota dengan tasnya.


Ren yang dari tadi memperhatikan jadi tersenyum. Ia merasa Hinana yang saat ini sudah banyak berubah. Hinana yang sekarang mempunyai sikap yang hangat, tidak seperti yang ia temui pertama kali.


"Cotto matte kudasai (tolong tunggu sebentar)." Ucap Ren pada Hinana saat Hinana akan duduk.


"Eh Doshite?( kenapa)." tanya Hinana.


"Tetap berdiri di posisi itu Hinana." Ren kemudian mengambil secarik kertas dan pensil. Di posisi Hinana berdiri Ren yang melihatnya terhalang bunga sakura yang seperti sebuah gaun. Saat itu menurutnya sangat cocok di pakai Hinana dan dengan cepat ia mengambar sketsa.


"Ren apa kau akan mengubah gaunnya lagi." Tanya Tsubaki dan menghampiri Ren. Sementara teman-teman yang lain berhenti menyelesaikan aktivitas dan berjalan menuju Ren.


"Tetaplah diam seperti itu Hinana." Ucap Ren sekali lagi saat Hinana akan menuju ke tempatnya.

__ADS_1


"HAH berapa lama lagi aku harus seperti ini? Aku juga penasaran." Balas Hinana, namun Ren tidak menjawab dan menyelesaikan skets nya.


__ADS_2