
"nona Sawako." Hinana berada di kantor Sawako dan memanggil ketika melihatnya.
"Hinana, aku tak percaya kau disini."
"bisakah aku bicara denganmu sebentar?"
"tentu saja, aku senang sekali kau mengunjungiku. Ayo kita ke bistro." ajak Sawako dan Hinana mengikutinya.
"kau mau makan apa Hinana? Aku akan pesan steak, apa kita pesan shabushabu saja karena cuaca sangat dingin."
"nona Sawako sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu." ucap Hinana.
"apa?"
"kumohon untuk bekerja sama dengan Koizumi Clothes."
"aku tahu kau kemari hanya untuk itu, sangat mengecewakan." ekspresi Sawako mulai berubah dan Hinana mulai ragu.
"waktu itu aku benar-benar minta maaf, aku tidak bisa membedakan mana masalah pribadi dan kerjaan. Aku benar-benar minta maaf." Hinana terus memohon agar Sawako mau kembali lagi.
"aku menyukai Yukiatsu."
"heh." Hinana terkejut dan merasa darahnya berhenti mengalir ketika mendengar nama Yukiatsu.
"apa hubungannya dengan pekerjaan kita." tanya Hinana dengan menahan emosinya.
"kau tahu Hinana, aku sudah menyukai Yukiatsu saat SMA. Saat aku tahu dia berpacaran denganmu aku merasa hancur sangat hancur." jelas Sawako dengan menangis. Hinana masih terdiam tidak mengerti semuanya.
"tapi aku sudah tidak bersama dengannya."
"aku tidak peduli. Dari SMA aku selalu dirundung, aku juga tidak pernah punya teman. Aku menyukai kak Yukiatsu dan tak pernah menceritakan pada siapapun.
Jika kau ingin kerja sama kembali, kau harus mendengar semua ceritaku tentang Yukiatsu."
Kali ini Hinana benar-benar akan berakhir, Sawako mengancamnya. Tujuan Hinana ke Hokkaido untuk melupakan Yukiatsu, tapi mengapa harus membuka dan menyayat luka kembali.
"apa tidak ada cara lain?"
"tidak, karena aku ingin kau juga merasakan rasa sakitku dulu. Pergilah jika kau tidak setuju."
""apa yang harus ku lakukan? Yukiatsu meninggalkanku sudah membuat luka yang dalam, tapi perusahaan ini bagaimana jika hancur."" ucap Hinana dalam hati. Tak berapa lama Sawako meninggalkan Hinana. Dan Hinana masih tetap diam tidak mengejarnya.
Hinana memutuskan kembali ke kantor.
"Hinana kau sudah kembali? Bagaimana apakah berhasil?" tanya Arumi dengan semangat.
"tak apa Hinana, lain hari kita rayu lagi. Kami semua membantumu." ucap Tsubaki karena melihat wajah Hinana yang putus asa.
"iya Hinana, besok aku menemanimu."
"terima kasih. Tapi jangan besok aku ada kepentingan."
"kau mau kemana Hinana, besok hari libur aku juga ingin pergi bersamamu." Ajak Arumi.
"lain waktu saja Arumi, aku harus menemani Keiko ke pesta ulang tahun temannya."
"baiklah Hinana, jika kau perlu bantuan hubungi aku." Arumi merasa senang akhirnya Hinana mau berteman dengannya, namun Arumi belum meminta maaf pada Hinana. Ia tidak tahu harus memulainya dari mana.
Hari minggu pagi Hinana sudah memakai pakaian yang rapi. Ia menghubungi Ren berkali-kali tapi tidak bisa.
Sebenarnya Hinana ingin bertemu Ren, tanpa di sadari Hinana mulai merindukan Ren.
Tempat dimana Hinana selalu bertemu dengan Ren adalah di Niseko, tanpa berpikir lama Hinana meluncurkan mobilnya.
"Ren.." panggil Hinana dan memegang pundaknya. Namun setelah seorang itu menoleh kearah Hinana ternyata bukan Ren.
"maaf aku salah orang, aku benar-benar minta minta maaf."
__ADS_1
"tidak apa-apa." ucap pria itu dan pergi.
"Hinana." terdengar suara seseorang memanggil namanya. Hinana berbalik dan berharap orang itu Ren.
"Shota." harapan Hinana memudar.
"kau mau main SKI?" ajak Shota dan Hinana mengiyakan.
Hinana dan Shota menikmati berseluncur di gunung salju. Sudah terlanjur datang di Nisekoi jadi tidak mungkin Hinana menyia-nyiakan.
"kau hebat Hinana." Shota memuji Hinana karena meluncur dengan baik.
"aku sering kesini tiap akhir pekan."
"benarkah? Pantas saja kau tak terjatuh dari tadi. Hinana aku benar-benar minta maaf."
"hem untuk apa?"
"saat itu aku benar-benar marah, tidak seharusnya aku membentakmu."
"aku sudah memaafkanmu."
"eh benarkah? Terima kasih."
"aku mau main ice skating."
"baiklah ayo kesana." Shota merasa senang karena akhirnya semudah itu Hinana memaafkannya.
Shota melihat Hinana sangat senang dan tertawa berkali-kali. Tanpa sadar jantungnya sudah berdebar-debar.
"kau diam saja dari tadi, dasar payah." teriak Hinana pada Shota.
"iya aku kesana." Shota menyusul Hinana.
Hampir dua puluh menit mereka bermain dan Hinana terjatuh karena sudah lelah.
(flash back)
"Aw.." ucap Hinana. Ren yang melihat Hinana terjatuh segera mendekat tapi ada sekat yang memisahkan. Ren sangat mencemaskan Hinana.
"kau baik-baik saja Hinana?"
"tidak apa-apa, ini menyenangkan Ren." ucap Hinana dengan tertawa.
"benarkah syukurlah."
"kau tidak mau bermain? Ini benar-benar menyenangkan."
"tidak, aku tidak bisa."
"akan ku ajari."
"itu sangat melelahkan. Aku tidak bisa."
"hanya sebentar saja, tidak akan membuatmu lelah. Hanya meluncur di pinggiran saja. Cobalah Ren." ajak Hinana.
"baiklah tapi hanya sebentar saja, aku mengambil peralatan dulu."
"hem baiklah."
Hinana membantu Ren memakai safety belt, tanpa sadar Hinana mulai membuka dirinya untuk bersosialisasi dengan orang lain.
Kemudian Hinana mengajari Ren untuk bejalan di lantai es meskipun Ren masih berpegangan pada pagar pembatas.
"mau coba meluncur?"
"ah tidak-tidak itu menakutkan."
__ADS_1
"aku akan menjagamu, ayo meluncur bersama." ajak Hinana dan menarik tangan Ren.
Ren tersenyum puas dan Hinana melihatnya. Hinana merasa seperti mengajari anak kecil. Tapi Hinana sangat bahagia.
(backnto time)
Hinana memikirkan saat bersama Ren.
"Hinana kau baik-baik saja?" tanya Shota yang menghampirinya.
"hem tidak apa."
"kita sudahi bermainnya, ayo makan."
"baiklah."
Hinana dan Shota menuju rumah makan ramen yang terdekat.
"hem aromanya sangat enak." Shota segera memakan ramen yang di hidangkan, begitu juga dengan Hinana.
"aku akan ke Osaka." ucap Shota.
"eh. Kenapa?"
"aku akan melamar pekerjaan sebagai fotografer disana."
"kenapa kau tidak bekerja di perusahaanmu saja?"
"itu milik Ren, aku tidak mengerti semua tentang designer. Aku ingin mewujudkan impianku sendiri."
"hati-hati." ucap Hinana dengan senyumnya dan membuat Shota terdiam.
"hem."
"apa Ren sudah pulang?"
"entahlah kenapa tak tanya sendiri?"
"sudah tapi Ren tidak menjawab."
"emm mungkin dia sedang sibuk."
"begitukah. Aku pulang dulu Shota terima kasih ramennya. Daah." Hinana melambaikan tangan dan kembali ke apartemennya.
Keesokan harinya seperti biasa Hinana menyiapkan bekal dan berangkat bekerja.
"Selamat pagi." sapa Hinana.
"oh Hinana. Selamat pagi." balas Tsubaki dan teman-temannya.
"dimana Arumi dan Emi?" Tanya Hinana, karena di ruang marketing hanya melihat Tsubaki.
"mereka pergi menemui nona Sawako."
"Hah, kenapa tak mengajakku?" Hinana terkejut.
"dia bilang ingin membantumu, tenanglah meskipun Arumi terlihat ceroboh tapi sangat ahli merayu client."
"bukan itu tapi nona Sawako sangat sulit."
"iya aku tahu, aku juga sudah siapkan berkas baru. Jika Arumi tidak berhasil aku akan maju."
"terima kasih Tsubaki." ucap Hinana terharu.
"ayolah Hinana kita adalah Team, dan teman." Tsubaki mengulurkan tangan pada Hinana.
"hem." Hinana mulai berani menjabat tangan Tsubaki.
__ADS_1