Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
51


__ADS_3

Hinana hanya terdiam saat mendengar apa yang di ceritakan Emi.


"kalau begitu kenapa tak buat design yang baru saja." ucap Hinana dengan entengnya.


"HAH!!! Apa kau pikir membuat design itu mudah?" mendengar ucapan Hinana, Emi pun juga terkejut dan menaikkan intonasi.


"waktu itu kan ada beberapa design dari kalian, kenapa tak memilih salah satu lagi dan membuatnya?"


"Ne Hinana, sebenarnya hal itu pernah terlintas di pikiranku. Sekarang mana mungkin bisa, bahkan Ren sendiri tak mengatakan apapun setelah itu." Jelas Emi


"kau benar juga, meskipun aku tak begitu paham. Tapi aku melihat kerja keras kalian." Hinana menyesali ucapannya sendiri. Meskipun biasanya mulutnya asal bicara tapi kali ini melihat ekspresi Emi yang tampak kecewa membuatnya merasa bersalah.


"Baiklah Hinana cepatlah sembuh, dan kita akan kembali kerja di kantor lagi. Aku merindukanmu."


"hem, arigatou sudah menjengukku." Hinana melambaikan tangan pada Emi yang berlalu pergi.


Setelah kepergian teman kerjanya, Hinana beranjak dari tempat tidurnya. Berada di rumah sakit membuat Hinana merasa bosan.


"Arumi, kenapa kau kemari?" tanya Hinana yang baru membuka pintu kamarnya. Tepat saat itu Arumi akan mengetuk pintu kamar Hinana.


"aku menjengukmu, tapi kelihatannya kau sudah lebih baik. Kau mau kemana?"


"entahlah, berada di kamar sungguh muak sekali."


"bagaimana jika aku mengajakmu jalan keluar, aku membawakan makanan."


"tawaranmu boleh juga, ayo pergi."


"Matte (tunggu) kuambilkan kursi roda untukmu."


"ayolah yang cidera hanya kepalaku, kaki ku masih bisa berjalan." tanpa berlama-lama Hinana segera keluar dan Arumi dengan tersenyum mengikuti langkah Hinana. Sebenarnya tidak peduli Hinana keras kepala, Arumi tetap berbaik hati padanya. Karena Arumi menganggap tidak ada orang yang benar-benar jahat di dunia ini.


Hinana memakan bekal makanan yang di bawakan Arumi. Makanan rumah sakit selama dua hari sudah terasa bosan di lidah Hinana. Karena taman rumah sakit penuh, Hinana mengajaknya di Rooftop tempat perawat biasanya menjemur seprai dan pakaian rumah sakit.


"ku dengar kau mengundurkan diri." tanya Hinana dengan melahap pancakenya.


"Benar."

__ADS_1


"Doshite? (kenapa)."


"aku mana punya muka untuk bertemu dengan mereka. Terutama Ren, aku telah membuatnya kecewa." Jawab Arumi, perlahan Arumi mulai berjan menjauhi Hinana. Ia berdiri di depan pagar dan melihat pemandangan di bawah gedung.


Sadar karena pertanyaan menyakiti temannya, Hinana menutup mulutnya.


"Gommen Arumi, seharusnya tak kutanyakan itu." ucap Hinana dalam hatinya. Ia melihat punggung Arumi yang sedikit terguncang. Sepertinya Arumi menangis, Hinana pun semakin merasa bersalah padanya.


"Hey mau mendengarkan lagu yang sesungguhnya." Hinana mendekati Arumi dan memasang salah satu ear phone di telinga Arumi.


Ku pikir aku bisa gunakan cara yang sama untuk menghiburmu. Arumi san, saat itu saat aku sedangkan bersedih dan mereka semua menghinaku, hanya kau yang datang menemaniku. Aku ingin menolakmu, tapi perasaanku sangat lemah untuk berpura-pura jika aku baik-baik saja.


Hinana mengucapkan hal yang sama kepada Arumi. Saat semua orang-orang di perusahaan memakinya Hinana memakai ear phone di telinganya. Hal itu bertujuan untuk tidak mendengar umpatan mereka, tapi sayang Hinana tak punya satu lagu pun untuk didengar.


"Hey mau mendengarkan lagu yang sesungguhnya?" ucap Arumi saat itu dan memasang salah satu ear phone di telinga Hinana. Saat itu Hinana sangat terkejut kenapa Arumi bisa tahu bahwa tidak ada satu pun lagu yang ia dengarkan. Rasanya sangat malu dan ingin pergi tapi lagu yang terdengar sangat indah, hingga Hinana memutuskan untuk mendengarkannya.


Tangis Arumi yang semula tenang perlahan mulai keras. Hinana tidak tahu harus melakukan apa, ia hanya memeluk Arumi dan mengatakan "Daijobu?".


"Daijobu, semua kegagalan pasti mendatangkan keberhasilan yang luar biasa." entah tiba-tiba ucapan itu mengalir dari mulut Hinana.


"aku bahkan tidak tahu sekarang apa yang harus ku lakukan." Setelah sekian lama akhirnya Arumi bersuara lagi.


"maaf, aku dan yang lain tidak mengerti perasaanmu saat itu."


"tak masalah tak perlu minta maaf. Setidaknya sekarang ada hal yang aku lakukan."


"tidakkah kau ingin kembali di kehidupanmu yang dulu."


"mustahil, aku sudah memutus koneksinya. Sekarang hanya pekerjaan itu satu-satunya yang bisa kulakukan untuk bertahan hidup. Jadi terserah kau bisa melakukan apapun."


"sepertinya kehidupan kita satu sama." akhirnya Arumi mulai bisa tersenyum kembali.


Entah dari mana datangnya pertemanan ini, semua itu mengalir apa adanya. Sejak di khianati oleh sahabatnya dulu, Hinana memutuskan tidak ingin berteman dengan siapapun. Tapi melihat ketulusan Arumi yang menemaninya membuat Hinana berpikir, bahwa jalan setiap orang tidaklah sama. Meskipun masih enggan berteman akrab setidaknya bisa membantu satu sama lain.


Satu jam sudah mereka berada di rooftop dan akhirnya Hinana meminta untuk kembali, karena ada pemeriksaan.


Arumi senantiasa mengikutinya dari belakang untuk menuju kamar tempat Hinana.

__ADS_1


"Hinana, apa kau keberatan jika kembali sendiri ke kamarmu." ucap Arumi tiba-tiba. Ia melihat Jouji ayah Ren sedang keluar dari kamar Ren. Hinana paham dengan situasinya.


"hem tidak masalah, terima kasih sudah menjengukku." jawab Hinana dan menautkan senyum di bibirnya.


"cepatlah sembuh. Mata ashita(sampai jumpa besok) Hinana."


"hem mata ashita Arumi." Hinana melambaikan tangan dan membiarkan Arumi pergi lebih dulu. Baru ia berjalan lagi ke kamarnya.


Saat berpapasan dengan ayah Ren, Hinana memutuskan untuk menyapa. Karena bagaimanapun juga dialah yang menanggung biaya rumah sakit.


"Konnichiwa." sapa Hinana sopan dan membungkuk.


"Konnichiwa, Apa kau sudah baikan Hinana."


"begitulah, tapi dokter masih menyuruhku tinggal satu hari lagi besok."


"begitukah, tidak masalah. Jangan khawatirkan pekerjaan yang penting kau sembuh dulu." ucap Jouji dan menepuk lembut kepala Hinana.


"apa Ren masih tidur? " tanya Hinana sambil mengintip di jendela.


"dia sudah bangun pagi tadi, tapi menyuruhku keluar. Katanya tak ingin di ganggu. Hinana bisakah aku minta tolong padamu." tanya Jouji dan mengajak Hinana duduk di kursi.


"tentu saja Tuan."


"bisakah kau bersikap baik pada Ren."


"ku mohon maafkan aku. "Mendengar pernyataan itu Hinana langsung berdiri dan meminta maaf pada ayah Ren. Karena selama ini sering kali bersikap tidak sopan pada anaknya.


" tidak tidak, bukan itu maksudku saat ini perasaan Ren sedang tidak baik, kau sudah tau tentunya. Bisakah kau sekedar berbaik hati padanya? Karena saat sedang sedih Ren cenderung menyendiri. Jadi kumohon temani dia." jelas ayah Ren.


"Anoo... Aku tidak tahu apakah bisa."


"aku percaya padamu Hinana. Kau tidak kembali ke kamar mu?"


"iya, Sumimasen."


"wakatta." Jouji masih memandangi Hinana yang berjalan menjauhinya.

__ADS_1


Alasannya menyuruh Hinana karena hanya Hinana yang bisa melakukannya. Ia sering melihat Ren tersenyum dan tertawa tapi tidak setulus saat melihat Ren tersenyum pada Hinana. Setidaknya di sisa hidupnya Ren, ayahnya berharap Ren bisa melakukan apa yang di sukai.


Semakin ia memikirkan Ren semakin pula ada perasaan tidak rela melepas kepergian anaknya. Perlahan satu butir air mata Jouji menetes dan dengan cepat ia mengusapnya.


__ADS_2