
Aoyama belum mengeluarkan perkataan apapun, ia masih mendengarkan nasihat dari seniornya.
"Baiklah, sekarang pergilah minta maaf. Dan berjanjilah padaku hal itu tidak akan terulang lagi." kata Seto dan merapikan catatan medis yang diberikan Aoyama.
"Mengapa orang lain harus minta maaf, padahal orang itu sendiri yang menyakiti dirinya sendiri."
"AOYAMA." Seto sedikit berteriak saat Aoyama menyangkal kesalahannya.
"Buku riwayat medis, banyak sekali tinta yang memudar. Aku pikir karena kau sangat dekat dengan Ren, sensei menulis riwayat itu dengan menangis. Karena tinta yang memudar itu disebabkan oleh tetesan air mata. Aku menyadarinya saat melihat tulisan tangan itu sama persis seperti milik Ren. Sensei, aku bertanya padamu. Siapakah yang menulis riwayat medis itu?"
Pertanyaan dari Aoyama tak bisa dijawab oleh Seto, memang benar yang menulisnya Ren. Tapi mengapa ia begitu bodoh tidak menyadari jika Ren akan sedih.
"Sensei, sepertinya kau banyak pekerjaan? Akan ku bantu menyalinnya." ucap Ren dan langsung mengambil catatan medis miliknya.
"Eh Ren, kau tak perlu lakukan itu. Lagipula itu mengenai kondisimu " Seto berusaha mencegah Ren.
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa kok. Atau mungkin aku kabur saja dari sini." perkataan Ren sekaan mengancam Seto dan akhirnya ia membiarkan Ren.
"Jika Ren sendiri yang menyakiti dirinya mengapa orang lain yang harus minta maaf." Ucap Aoyama dan akhirnya meninggalkan ruangan dokter Seto.
Setelah kepergian Aoyama, dengan segera Seto membuka buku riwayat medis untuk melihat ada beberapa tinta yang memudar. Ia memegang kepalanya, bagaimana bisa ia tak menyadari.
"Memangnya salah jika aku ingin tahu apa yang terjadi pada hidupku." Gumam Ren dan segera bersembunyi saat melihat Aoyama keluar.
Saat itu Ren pergi ke ruangan Seto untuk meminjam spidolnya. Ia tahu jika Seto sedang lembur jadi Ren ingin bermain-main di tempatnya Seto. Tapi saat itu ia melihat Aoyama masuk, Ren mengurungkan niatnya dan kembali. Ketika baru satu langkah Ren mendengar namanya disebut, ia pun mendekati dan mendengarkan semuanya.
Pukul 8 malam saat Aoyama akan pulang ia menyempatkan ke kamar Ren. Bagaimanapun juga tidak semestinya Aoyama berkata kasar.
"Kau belum tidur?" tanya Aoyama yang baru masuk dan melihat Ren masih membaca buku.
Ren tetap diam pada posisinya tanpa memperdulikan Aoyama yang datang.
"Gomenne (maaf), aku ini tidak bisa bersikap baik. Dan aku juga tidak butuh orang lain mengerti." ucap Aoyama dan meletakkan sekotak pensil warna di nakas.
Pensil warna yang sengaja ia belikan untuk Ren, tapi karena kejadian itu Ren belum memakainya sama sekali.
Aoyama tak butuh jawaban dari Ren, ia langsung keluar dan menutup pintu kamar. Saat Aoyama pulang tanpa sengaja ia bertemu Hinana yang sedang menunggu bus.
"Eh kau baru pulang?" tanya Hinana saat mengetahui seseorang yang turun dari mobil adalah temannya.
__ADS_1
"Iya, sedang apa kau disini?"
"Aku menunggu bus untuk pulang, tapi karena kau datang bagaimana kalau aku nebeng saja." Tanpa permisi Hinana langsung membawa barang-barangnya masuk ke mobil Aoyama.
"Apa ada masalah? Kenapa muka mu terlihat menyedihkan?" ucap Hinana saat Aoyama sudah duduk disampingnya.
"Tidak ada, ayo kita pulang." Jawab Aoyama dan melajukan mobilnya. Dari dulu Aoyama buka tipe orang yamg menceritakan masalahnya pada siapapun.
Sesampai di Apartemen Hinana menyiapkan untuk pergi ke Tokyo. Ia berencana untuk pulang ke rumah orangtuanya sesuai pesan ayahnya.
Telepon Hinana berdering dan segera ia menjawab panggilan dari Tsubaki.
"Moshi-moshi (halo)."
"Hinana, ada sesuatu yang harus ku bicarakan padamu." ucap Tsubaki dari telepon. Tsubaki menyuruh Hinana untuk menemuinya karena ada masalah penting.
"Ada apa?" tanya Hinana dengan nafas yang tidak beraturan karena berlari.
"Ren sudah mempersiapkan semua untuk ke Tokyo, bahkan dia sudah membeli tiket Shinkasen untuk kita berlima. Dan mengatur keberangkatan."
Jawab Tsubaki dengan raut wajah kebingungan.
"Iya, Jouji san sangat terkejut dan menyuruhku untuk melarang Ren. Aku harus bagaimana Hinana? Kau tahu sendiri bagaimana Ren." Dengan suara putus asa Tsubaki mengacak-acak rambutnya.
"Mau bagaimana lagi."
"HAH??? Apa kau bodoh Hinana, hey bagaimana kalau terjadi sesuatu? Apa kau mau tanggung jawab, ini bukan soal sakit biasa. "
"Kalau Ren sudah memutuskan seperti itu kita bisa apa? Kau pikir aku tidak khawatir? Coba saja kau melarangnya pasti tidak akan berhasil." Jelas Hinana dengan setengah berteriak. Disituasi yang seperti ini mereka berdua sama-sama bingung karena ulah seseorang.
Keduanya sama-sama terdiam di tengah sepinya malam, saling memikirkan solusi yang terbaik.
"Hey Tsubaki, apa kau masih terjaga?" tanya Hinana yang duduk saling membelakangi.
"HEM."
Terdengar jawaban yang sangat singkat namun membuat perasaan Hinana sedikit lega.
"Sebelumnya Ren sudah mengatakan hal itu padaku dan aku melarangnya. Tahukah apa yang dikatakannya?
__ADS_1
Ren bilang 'Desainku, gaunku dan perusahaanku. Jadi tidak ada alasan kau melarangku pergi.' Aku pun berpikir seperti itu, dan aku mengkhawatirkannya. Kepalaku terasa pecah jika terus memikirkannya."
Saat Hinana akan melanjutkan kata-katanya, ia mendengar seperti tangis yang sesegukan. Hinana juga merasakan punggung Tsubaki yang ia buat bersandar juga bergetar.
"Apa kau menangis?" tanya Hinana yang masih membelakanginya ,dan tidak ada jawaban sama sekali dari pria yang sering mengajaknya berkelahi.
"Kalau Ren menginginkan seperti itu kita bisa apa. Kau mengerti maksudku kan? Kita hanya meyakinkan Jouji san agar memberikan izin dan solusi saat disana nanti."
Hinana berbalik dan memukul kepala Tsubaki.
"Aku hanya tak ingin Ren mati karena hal yang sepele." Ucap Tsubaki yang sedari tadi membungkam mulutnya.
"Lima tahun bersamanya mana mungkin bisa aku melihatnya mati."
"Ren tidak sebodoh yang kau pikirkan, Baakaa (bodoh)." celetuk Hinana dengan memaksakan tawanya.
"Saat Ren kritis karena mengejar Shota, apa kau kau tahu bagaimana perasaanku? Aku takut jika Ren mati aku belum siap dengan kepergian Ren. Setiap hari sebelum kau mengunjunginya, aku selalu disana. Tapi... aku tidak sanggup melihatnya, hingga akhirnya aku memberanikan diriku untuk melihat di kaca."
flashback
Saat dokter menyatakan bahwa kondisi Ren akan mengalami masa kritis, Tsubaki yang mendengarnya langsung tak kuat menopang kakinya. Karena salah satu kehidupannya bergantung pada Ren. Ia harus membayar biaya kuliah adiknya, dan tentunya Ren yang selama ini membantunya.
Pagi sekali sebelum Hinana menjenguk Ren di rumah sakit, Tsubaki sudah berada disana. Tapi ia tak pernah melihatnya, Tsubaki hanya bersembunyi di balik tembok.
Hingga akhirnya Tsubaki memberanikan diri untuk melihat kondisi Ren. Tepat saat itu perlahan Ren membuka matanya.
" HAH?? Yokatta (syukurlah)." ucap Tsubaki dan air matanya langsung jatuh tanpa sadar. Ia berlari untuk menghubungi dokter dan mengatakan jika Ren membuka matanya.
Hinana hampir tak percaya dengan yang dikatakan Tsubaki, ia sangat terkejut. Selama ini bukan hanya dirinya yang mengkhawatirkan Ren, tapi ada seseorang yang lebih peduli pada Ren.
"Tsubaki." ucap Hinana dengan lirih.
"Aku belum siap jika Ren mati."
Hinana lalu mendekati Tsubaki dan memeluknya. Dalam pelukan Tsubaki mengeluarkan kesedihan yang selama ini ia pendam.
maaf ya otor baru bisa update
otor masih perjalanan ke luar kota untuk beberapa bulan.
__ADS_1
yang sudah setia membaca terimakasih sekali, tanpa kalian otor bukan apa-apa 🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩