Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
120


__ADS_3

Entah kenapa sekan Arimura bisa mendengar suara Aoyama yang sangat pelan dan jaraknya jauh. Arimura menoleh kebelakang dan tersenyum kepada Aoyama.


Ren merangkul Aoyama dan membiarkannya menangis, meskipun pantang laki-laki untuk menangis.


Tsubaki dan Hinana juga tanpa sadar telah meneteskan air mata karena melihat perpisahan yang begitu menyakitkan.


Setelah membiarkan Aoyama menangis di pundaknya, Ren memesankan minuman untuk Aoyama. Dan Aoyama juga naik ke balkon restoran untuk menenangkan diri.


"Hey bicaralah." Teriak Hinana yang datang menghampiri Aoyama.


"Apa yang harus ku katakan." Balas Aoyama dengan santai dan menyobek kelopak bunga peony satu persatu.


"Apa saja yang menandakan kau masih hidup. Hey Aoyama apa kau ingin mati?"


Pertanyaan Hinana sebenarnya sangat menyebalkan untuk dijawab. Entah itu hanya bercanda atau terlepas dari mulutnya, Aoyama hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa mati rasanya lebih sakit dari pukulanmu dan cubitanmu?" jawab Aoyama dengan mendengus.


"Tentu saja, bahkan sangat sakit. Sakitnya sangat berbekas dan tak akan bisa di hilangkan." Jawab Hinana dengan cepat.


"Soal itu aku minta maaf."


"Tidak apa. Lain kali jangan pukul aku ataupun melukaiku, rasanya sangat sakit."


Aoyama menunjukkan bekas cubitan dari Hinana yang membekas merah. Ia juga sedikit tersenyum karena kelakuan Hinana masih seperti dulu.


Hinana selalu memukulnya saat ia hanya memendam rasa sakit karena perbuatan orang lain. Hinana juga mengatakan jika pukulannya akan membuat rasa sakit di hatinya menghilang dan berpindah ketempat yang Hinana pukul.


Ren dan Tsubaki memesan beberapa minuman soda untuk Aoyama, dan Tsubaki Sedangkan ia sendiri hanya memesan air mineral. Tanpa sengaja Ren menyenggol tas milik Aoyama dan menjatuhkan buku. Sebuah foto terjatuh dari buku milik Aoyama


"Aku mencintaimu selamanya."


"Izumi... " Pekik Ren saat melihat foto Aoyama dan wanita yang sangat di kenalnya.


Izumi Sakura adalah teman Ren saat berada dirumah sakit. Izumi telah meninggal karena penyakit yang sama dengan Ren. Difoto itu Izumi dan Aoyama memakai baju pengantin itu artinya Aoyama dan Izumi...


Ren hanya bisa membuka mulutnya tanpa bersuara, ia mulai mengingat ucapan Aoyama yang sangat mencintai pacarnya.


.

__ADS_1


.


"Aku akan membelikan sesuatu untuk kekasihku." ucap Aoyama saat di toko pernak- pernik.


.


.


"Pacarku berada sangat jauh, jadi dia tidak bisa datang." Jawab Aoyama saat Ren menyuruh Aoyama untuk memperkenalkan pacarnya.


.


.


"Aku ada urusan. Aku akan pergi ke Kuriyama untuk menemui kekasihku." Aoyama mengatakan pada Hinana saat Hinana mengajaknya berkumpul bersama.


"Kuriyama... " Gumam Ren sekali lagi. Ia tahu bahwa Kuriyama adalah tempat pemakaman terbesar di sana, tapi Ren tidak menyadari jika kekasihnya Aoyama sudah meninggal dan itu Izumi Sakura. Ia dan Shota juga menghadiri upacara pemakaman dan tidak menyadari jika laki-laki yang terpuruk adalah Aoyama.


Dada Ren mulai merasa sakit, ia memikirkan bagaimana Hinana jika ia sudah meninggal. Apakah Hinana akan menjalani hidupnya seperti Aoyama. Itu pasti sangat sulit, dan Aoyama pasti sangat sulit melupakan Izumi.


Smartband yang terpasang di pergelangan tangannya mulai berbunyi, Ren merasa dadanya benar-benar nyeri.


"Ren... Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Taubaki yang kebingungan.


"Izumi.. "


Sedangkan Ren hanya bergumam tak jelas. Tak lama Aoyama dan Hinana turun karena merasa Aoyama sudah baikan.


"Aoyama... Ren.. " Tsubaki memanggil Aoyama dengan keras. Dengan segera Aoyama dan Hinana berlari kearah Ren untuk segera menolong.


Ren langsung mencengkram kra baju milik Aoyama karena merasa marah. Hinana dan Tsubaki hanya terkejut, dan berpikir apa yang sedang terjadi.


"Kenapa kau menikahi perempuan ini? " tanya Ren menahan rasa sakitnya.


"Aku sangat mencintainya." Jawab Aoyama dan mencari oksigen cadangan di tasnya untuk Ren, meski kesulitan karena Ren hampir mencekiknya.


"Izumi chan sudah meninggal dan kau tahu dia meninggal karena apa."


Perkataan Ren membuat Hinana dan Tsubaki semakin terkejut. Tsubaki langsung mengambil foto yang terjatuh dari tangan Ren, saat Aoyama membaringkan Ren dengan keras ke sofa.

__ADS_1


"Kau menikahi orang yang sudah mati...?" Gumam Tsubaki dengan pelan tapi Aoyama bisa mendengarnya tapi Aoyama seperti biasa hanya diam malas untuk menjawab.


Perlahan detak jantung Ren mulai membaik, suara smartbandnya juga sudah tidak berbunyi Aoyama memberikan obat dan langsung menyuruh Ren untuk meminumnya meskipun selang oksigen masih menempel di hidung Ren.


"Aku mencintainya, apa itu salah?"


Jawab Aoyama pada Tsubaki dan mengambil foto miliknya. Aoyama kemudian pergi, tapi tak mungkin pergi jauh dari Ren.


Hinana semakin bingung, kekasihnya sedang sakit sementara Aoyama pergi. Ia harus kemana? Aoyama tak mungkin dibiarkan sendirian karena seperti kata ibunya bisa saja Aoyama akan.....


"Hinana pergilah cari Aoyama, aku akan menemani Ren. Sepertinya keadaannya sudah membaik. Suruh Aoyama untuk pulang bersama kita, karena aku tidak bisa melakukan apapun kalau Ren sedang serangan." Tsubaki menyuruh Hinana pergi sementara dirinya menemani Ren yang sedang berbaring di sofa.


"Pergilah." Ucap Tsubaki sekali lagi yang seakan tahu apa yang dipikirkan Hinana. Mungkin Ren juga akan mengatakan apa yang terjadi saat Hinana tidak ada disini.


Hinana langsung berlari mencari Aoyama, dirinya yakin bahwa Aoyama tidak akan pergi jauh karena Ren adalah tanggung jawabnya.


Sosok yang dicarinya berhasil Hinana temukan, firasat Hinana benar. Aoyama tak mungkin pergi jauh, ia berada di parkiran dan duduk di kursi.


"Kau tidak memukulku? "Tanya Aoyama yang sudah hafal karena mendengar suara langkah kaki Hinana.


Hinana masih belum menanyakan apapun, karena ia belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Antara pacarnya Aoyama apakah Ren memiliki hubungan yang khusus, karena Hinana melihat Ren yang terkejut.


"Kau sudah pernah melihatnya kan? " Aoyama memeberikan fotonya dengan Izumi Sakura kepada Hinana. Waktu itu Aoyama mengenalkannya dengan nama Sakura, karena Aoyama menyukai bunga Sakura.


"Dia sudah meninggal?" tanya Hinana perlahan dan Aoyama hanya mengangguk.


Wajah Hinana seketika berubah menjadi sayu, ia memikirkan betapa menyedihkan jalan hidup yang di alami Aoyama.


"Aoyama aku ingin kau mengenalkannya padaku. Izumi Sakura bukankah dia gadis yang baik?" Ucap Hinana pada Aoyama.


Dari semua orang yang Aoyama temui, hanya Hinana yang selalu mengertinya. Dan kenapa hanya Hinana yang selalu mengertinya, mungkin karena mereka berdua sudah mengenal sangat lama. Aoyama mengulaskan senyum di bibirnya, ia tak ingin membuat Hinana mencemaskannya.


"Apa kau tahu kenapa Izumi meninggal?"


Hinana hanya diam dan menggeleng ia menahan air matanya, saat ini ia berusaha untuk menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya. Meskipun Hinana sendiri tak sanggup jika mendengar cerita Aoyama yang sangat pilu.


"Izumi mempunyai penyakit yang sama dengan Ren. Aku bangga padanya, karena Izumi selalu berjuang keras meskipun tahu hidupnya tak lama. Hinana, kau tahu kenapa Ren marah padaku? Saat ini Ren pasti mengkhawatirkanmu, Ren takut jika kau akan berakhir sama sepertiku. Pergilah, peluklah kekasihmu." Aoyama mengusap lembut kepala Hinana. Kesedihannya tentang Izumi masih tak sebanding dengan kesedihan yang dirasakan Ren.


Hinana segera berlari pergi setelah mendengar penjelasan dari Aoyama. Saat ini pasti Ren benar -benar terluka seperti yang di katakan Aoyama.

__ADS_1


"Hey Aoyama, kau harus mengenalkannya padaku. Orang yang kau cintai." ucap Hinana sebelum benar-benar pergi.


__ADS_2