
Tsubaki menghampiri Hinana di dapur, tapi saat itu ia melihat adiknya menangis dan Hinana memeluknya. Tsubaki enggan mengganggunya, ia mengambil makanan yang sudah jadi dan membawanya ke meja makan.
" Oy ikutlah makan bersama kami." ucap Tsubaki pada adiknya.
"tidak perlu, aku bisa makan nanti."
"Hinana bilang bahwa kau yang memasak. Ayo." Tsubaki tahu bahwa perasaan adiknya tidak baik. Tapi setelah melihatnya bisa bercanda dengan Hinana ia merasa sedikit lega.
"dasar Hinana." gumam Naomi dan mengikuti langkah kakaknya.
" ITADAKIMASU..." ucap semua orang dan mulai makan.
Hinana melihat ada sebuah piano di ruang makan. Setelah ia membersihkan peralatan makan dengan perlahan menghampiri piano dan membukanya.
Satu persatu jarinya menekan tuts piano dan akhirnya Hinana memainkan sebuah lagu. Ia mulai memainkan lagu yang berjudul Kiseki. Dulu saat SMP ibunya yang mengajarinya saat pulang kerja.
" kau bisa bermain piano ternyata." ucap Ren yang dari tadi mendengarkan permainan piano Hinana.
"hem ibuku yang mengajariku. Bagaimana denganmu?"
"aku hanya bisa sedikit."
"mainkanlah."
"tdak mau."
" ayolah Ren. Apa bermain piano adalah kelemahanmu?" ejek Hinana.
"HAH, jangan asal bicara. Nanti kau akan menyesal jika sudah mendengarnya."
"kalau begitu mainkanlah, lagu apa yang kau bisa?"
"emm sakura no shiori."
"baiklah kita mulai." Hinana menggeser tempat duduknya dan mulai memainkan piano. Ren menghampiri Hinana dan ikut memaikan beberapa nada di belakangnya.
"sudah lama sekali Ren tidak pernah bermain piano." ucap Arumi.
"hem kau benar, sama seperti dulu. Tidak ada yang kurang dari Ren." sahut Tsubaki yang saat itu sedang lewat.
"tapi sangat disayangkan saat Ren memutuskan untuk berhenti dari semua kegiatan sekolah. Sampai saat ini aku tidak tahu penyebabnya." gumam Arumi dan Tsubaki mendengarnya.
Terbesit perasaan sedih oleh Tsubaki karena Ren berhenti dari kegiatan sekolah. Saat itu Ren menghadap ke wali kelas dan menyatakan bahwa dirinya keluar dari semua kegiatan sekolah. Padahal Ren sangat pandai dalam hal apapun, Tsubaki berpikir bahwa Ren akan fokus untuk ujian universitas. Tapi sekarang akhirnya Tsubaki tahu alasan yang sebenarnya.
" ternyata Ren yang bermain piano." ucap Emi menghampiri Arumi.
"hem dia bermain dengan Hinana, cocok kan?"
"kau tidak cemburu?"
"HAH untuk apa aku cemburu!!!"
"kau kan selalu dekat dengan Ren sejak kelas pertama." ucap Emi dengan mengambil sekaleng soda di kulkas, lalu pergi.
" maaf." ucap Ren menghentikan permainannya, saat air matanya jatuh mengenai tangan Hinana. Dan Hinana yang menyadari itu juga terkejut.
__ADS_1
"Ren."
" aku harus ke kemar mandi." Ren langsung bergegas meninggalkan Hinana. Arumi juga melihatnya kemudian berlari menghampiri Ren.
"Ren." Arumi memanggilnya tapi di hiraukan. "kenapa dengannya?"
"aku juga tidak tahu." jawab Hinana dengan menggeleng.
"teman-teman mari kita lanjutkan kembali pekerjaannya." Tsubaki mengajak Hinana dan Arumi untuk kembali ke ruang tengah.
"Tsubaki apa Ren baik-baik saja?" tanya Arumi.
"aku rasa dia baik-baik saja, ayo kita pergi."
"hem ayo Hinana." ajak Arumi lalu mereka bertiga kembali ke ruang tengah.
"eh apa kita mulai kembali? Dimana Ren?" tanya Emi.
" Ren...."
"dia sedang di kamar mandi, ayo kita lanjutkan." Tsubaki segera memotong perkataan Hinana.
"baiklah."
" Hinana, Ren baik-baik saja. Dia memang seperti itu saat bermain piano. Ren selalu terharu jika memainkan lagu yang indah." ucap Tsubaki dan Arumi juga ikut mendengarkan.
"begitukah."
"hem. Oh iya ada sesuatu yang harus ku ambil. Sebentar."
"hey Tsubaki, ambil juga payet matahari yang kemarin di buat." teriak Emi.
Tapi Tsubaki berbohong, ia menghampiri Ren karena takut terjadi sesuatu padanya.
"Ren kau baik-baik saja?" tanya Tsubaki dari belakang pintu. Tak lama kemudian Ren keluar dari kamar mandi.
"aku baik-baik saja."
"syukurlah, kau membuat dua wanita khawatir. Minumlah dan tenanglah dirimu." Tsubaki segera menuangkan air di gelas dan memberikan pada Ren.
"terima kasih." Ren mengambil segelas air dan duduk meminumnya.
"tidak masalah, oh ya mereka semua sudah melanjutkan pekerjaannya kau bisa tenangkan dirimu."
"sejujurnya, saat aku memainkan lirik tentang masa depan, aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku punya masa depan? Jika benar helai bunga sakura penanda masa depan, apa saat aku memetiknya akan ada masa depan untukku."
"Ren kau tentu punya masa depan, percayalah."
"itu mustahil Tsubaki. Sebentar lagi aku akan mati."
"Ren, semua orang pasti akan mati. Kau jangan terlalu memikirkan itu."
"kau benar, dan aku lebih dulu dari mu. Baiklah kita pergi, jangan sampai ketahuan yang lain." ucap Ren dan menuju ruang tengah. Sementara Tsubaki masih belum bisa menggerakkan kakinya.
Sebenarnya Tsubaki masih belum bisa menerima semuanya. Ren yang dianggapnya sempurna sejak masa SMA, tidak disangka memiliki penyakit yang serius.
__ADS_1
"Ren, kau lama sekali. Oh iya bagaimana menurutmu." Emi menghampiri Ren yang baru datang dengan membawa potongan gaun.
"menurutku kurang bagus di jahitan, bongkar dan ulangi lagi."
" Ren, apa kau sudah baikan?" tanya Hinana karena mengkhawatirkannya dari tadi.
"tak ada masalah denganku. Baiklah cepat lanjutkan." ucap Ren. Dan Hinana pun juga menurutinya, namun Hinana masih memandangi dari kejahuan.
Selang empat jam akhirnya mereka telah menyelesaikan sebagian besar gaun yang dirancangnya.
" Daah kami pergi dulu Tsubaki." ucap Ren.
"hem terima kasih, sampai jumpa besok lagi."
"ayo Hinana." ajak Ren dan Hinana masuk kedalam mobil.
"Hinana hari ini kita mau kemana?" tanya Ren saat di dalam mobil.
"emm entahlah, aku ingin ke Niseko."
"HAH, apa yang kau lihat. Musim dingin hampir selesai."
"kau benar juga. Kalau kau ingin kemana?"
"emm, ada tempat yang ingin ku kunjungi. Baiklah nona aku akan mengantarmu ke tempat yang menyenangkan." ucap Ren dan tersenyum ke arah Hinana. Ia melajukan mobilnya menuju Disneyland.
"Ren-kun kenapa kau mengajakku kemari?" tanya Hinana saat sudah sampai dan mulai membeli tiket.
" tidak apa hanya saja dari dulu aku penasaran dengan tempat ini."
"apa kau tak pernah kesini sebelumnya?"
"belum ini yang pertama." ucap Ren lalu tersenyum.
"baiklah akan ku turuti kemauanmu. Oh ya Ren kau mau menaiki roller coaster?"
"oh itu tidak mungkin, aku takut ketinggian." Ren menolak ajakan Hinana.
"kalau begitu wahana apa yang ingin kau naiki?"
"aku hanya ingin jalan-jalan saja."
"HAH." ucap Hinana terkejut dan menghentikan langkahnya.
"ada apa Hinana?"
"lalu untuk apa kau membeli tiket? Tiket VIP kau bebas menaiki wahana apapun."
"eh benarkah? Aku tidak tahu, aku kira itu tiket masuk."
"BAKA!!!" ucap Hinana dan menjauh dari Ren.
"eh beraninya kau mengataiku. Tunggu sebentar Hinana." Ren pun mengejar Hinana dengan seribu langkahnya. "aku ini lulusan terbaik di Paris university, beraninya kau mengataiku bodoh."
" HAH mungkin otakmu saja yang ecer, tapi tidak dengan pikiranmu."
__ADS_1
" sialan kau Hinana." umpat Ren tapi Hinana masih terus lari, hingga akhirnya Hinana menaiki salah satu wahana permainan dan Ren hanya memandanginya saja.
Hinana bersenang-senang sendiri dan sesekali melihat kearah Ren. Sekali lagi ia merasa menemukan harapan ketika bersama Ren. Dan apapun yang terjadi Ren juga tersenyum kepadanya, itulah mengapa Hinana merasa jika harapan itu ada ketika bersama Ren.