
Ren pergi dengan mobil Hinana, entah belum tahu tujuannya. Saat itu ia melihat salju turun, mungkin ini salju terakhir karena sebentar lagi musim semi akan datang.
Ren melajukan mobilnya ke Niseko, ia melihat orang-orang tertawa dengan bermain ice skating. Meskipun tidak menghibur perasaannya, setidaknya ia melihat orang tertawa senang. Hingga Hinana datang memanggilnya.
(back to time)
"kenapa kau bersedih? Padahal aku menyukai senyumanmu dan mata indahmu." ucap Hinana dan menyentuh pipi Ren. Meskipun dalam keadaan mabuk tapi sedikit perhatian dari Hinana membuat Ren tersenyum kembali.
"nah begitu seharusnya. Aku menyukaimu."
"baiklah aku akan tetap tersenyum padamu dan kau juga harus janji untuk tersenyum padaku."
"Yakusoku Ren."
"yakusoku (berjanjilah) Hinana." ucap Ren dan menarik selimut untuk Hinana.
Ren memandangi Hinana yang sedang tidur, tapi karena tubuhnya semakin lemah akhirnya ia tertidur di lantai kamar Hinana.
********************************
Sinar matahari berhasil menembus jendela kamar dan membangunkan Hinana. Ia terbangun dan kepalanya merasa sangat pusing. Selain itu Hinana mencium aroma tamagoyaki yang enak di hidungnya.
"Ren." ucap Hinana saat melihat Ren di dapurnya.
"selamat pagi Hinana."
"bagaimana bisa kau ada disini?"
"emm apa kau lupa semalam."
"semalam." Hinana mencoba mengingat apa yang terjadi, karena dia benar-benar mabuk dan tak ingat apapun.
"ap apa yang kau lakukan padaku?" Hinana panik dan menodongkan sebuah kemucing pada Ren.
"tunggu sebentar, aku tidak melakukan apapun padamu. Kau sedang mabuk aku hanya mengantarmu percayalah." Ren mencoba menjelaskan apa yang terjadi sesuai dengan kenyataannya.
"lalu bagaimana bisa kau masuk apartemenku?"
"kau sendiri yang membuka sandinya. Aku juga lelah semalam, maaf aku menginap tanpa izinmu."
"benarkah tidak sesuatu yang terjadi."
"hem percayalah." Ren tersenyum untuk meyakinkan pada Hinana. "baiklah ayo kita makan, aku sudah membuatkan sarapan untukmu." ajak Ren kemudian Hinana menurut dan sarapan pagi bersama.
"masakanmu sangat enak, terima kasih." puji Hinana dan menghabiskan semua masakan Ren.
"benarkah? Kau menyukainya?"
"hem aku suka." jawab Hinana. Mengucapkan kata suka membuat Hinana teringat ucapannya semalam pada Ren. Ia merasa malu dan menutupi wajahnya dengan piring kosong.
"heh ada apa Hinana?" tanya Ren karena melihat tingkah konyolnya.
"berhenti disana.!!" ucap Hinana dan menjauh dari meja makan.
"heh kau kenapa Hinana?"
"kau bilang tidak terjadi apa-apa semalam. Kau tidak berbohong kan?"
"astaga, kau masih belum juga percaya."
"apa aku mengatakan kalau aku menyukaimu?"
__ADS_1
"hem."
"eh maaf, aku bukan menyukaimu, eh bukan begitu aku tidak suka padamu, eh aku bingung mengatakannya."
"aku tahu, kau hanya suka jika aku tersenyum kan." jawab Ren memperjelas maksud Hinana.
"ah akhirnya kau paham juga maksudku." Hinana merasa lega karena Ren tidak salah paham padanya.
Tapi tidak dengan Ren, ia terpaksa memaksakan senyumannya karena sepertinya tidak ada harapan menyukai Hinana.
"baiklah aku pulang dulu, terima kasih sudah boleh menginap di rumahmu. Daah Toru." sapa Ren pada Robot Hinana.
"Ren apa hari ini kita akan bekerja di rumah Tsubaki?"
"tidak, aku masih tidak enak pada Tsubaki. Oh ya Hinana kabari mereka kalau hari ini tidak usah kerja."
"baiklah," ucap Hinana lalu mengantar Ren ke depan pintu.
"Ren."
"iya, ada apa?"
"mau ke taman Furano sekarang?"
"baiklah ayo." Ren tersenyum kemudian menggandeng tangan Hinana.
Entah kenapa perasaan Hinana hari ini lebih baik, seakan semua bebannya hilang. Hinana juga belum sadar bahwa semalam telah menceritakan semua masalahnya dengan Ren. Entah masalah dengan Yukiatsu ataupun adiknya Ryusei.
Sepanjang taman Hinana masih membiarkan tangannya di gandeng oleh Ren. Bukannya tidak sadar tapi Hinana memang sengaja membiarkan. Sepertinya ia mulai nyaman dengan Ren.
"eh Ren lihatlah pohon sakuranya tumbuh daun." dengan semangat Hinana menunjukkan pada Ren.
"aku tidak sabar menantikannya."
"bukankah kau menyukai musim dingin?"
"memang benar, tapi aku juga suka melihat bunga sakura. Ren musim apa yang kau sukai?" tanya Hinana lalu Ren menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Hinana.
"musim gugur."
"apa alasannya?"
"entahlah aku tidak tahu."
"kalau begitu jangan menyukai musim gugur. Bagaimana kalau kau menyukai musim semi saja ,suasananya sangat indah, banyak bunga mekar dan burung-burung terbang."
"lalu kenapa kau tidak menyukai musim semi?"
"tidak, bunga salju lebih indah dari pada bunga lainnya. Ayo ajari aku melukis." Hinana menarik tangan Ren menuju galery.
Hinana sangat payah dalam hal melukis maupun menggambar. Berkali-kali Ren tertawa karena ulah Hinana. Tapi dengan sabar Ren tetap mengajari Hinana melukis.
"kau mengambar apa?"
"bunga sakura."
"benarkah hahahah."
"diamlah kenapa kau tertawa."
"tidak- tidak, aku pikir kau menggambar seekor kumbang. Maaf aku tidak bermaksud meledekmu."
__ADS_1
"kau menyebalkan Ren. Kau membuatku patah semangat."
"maaf maaf." Ren kembali meminta maaf tapi belum juga menghentikan tawanya. Hingga akhirnya Ren melihat bahwa Shota menghampirinya.
"ternyata kau disini." ucap Shota menghampiri Hinana dan Ren.
"Shota kau juga tahu tempat ini." sapa Hinana.
"pulanglah, ibu menghawatirkanmu." Shota berbicara dengan Ren tanpa memperhatikan Hinana. Kali ini Shota tak menunjukkan sikap marah karena memang bukan salah Ren juga. Ren tak menjawab dan membereskan alat-alat lukisnya.
"sampai jumpa Hinana, terima kasih." ucap Ren.
"hem sama-sama. Shota aku harap kau tidak bertengkar lagi dengan Ren. Kau kakak yang baik." ucap Hinana karena tak ingin kejadian di rumah sakit terulang.
Shota tak menjawab ucapan Hinana, ia masih berusaha menahan kesedihannya sampai saat ini.
"eh Ren tunggu sebentar." Hinana berusaha mengejar Ren tapi ia terpeleset. Ren berbalik dan dengat cepat menangkap tubuh Hinana yang hampir terjatuh.
" sebenarnya aku ingin tahu kenapa kau menangis semalam. Ren yang ku kenal sangat ceria kenapa tiba-tiba bersedih?" ucap Hinana dalam hati saat di pelukan Ren.
"hem hem apa kalian sudah selesai." Shota sangat cemburu karena melihat posisi mereka berpelukan. Karena ia benar-benar mencintai Hinana.
"kau tidak apa-apa?" tanya Ren dan melepaskan Hinana.
"iya aku baik-baik saja, aku hanya ingin mengatakan jika masih sakit istirahatlah."
"iya sampai jumpa Hinana."
"sampai jumpa Ren." Hinana enggan menanyakan kenapa Ren bersedih kemarin.
Ia melambaikan tangan kearah Ren dan Shota.
Ren naik di mobil Shota, ia mengembalikan mobil Hinana ke asalnya. Suasana di mobil sangat canggung karena Shota hanya fokus menyetir.
"anoo soal kemarin aku...."
"aku tidak ingin membahasnya." Shota memotong ucapan Ren.
"maaf." ucap Ren dan tak melanjutkan perkataannya.
Hinana merasa puas meskipun lukisannya jelek, karena sudah lama sekali ia tak melakukannya. Ia memajang lukisannya dan membereskan cat dan kuas.
"eh bukankah ini milik Ren." Hinana mengambil gelang milik Ren yang tertinggal di meja. Hinana membawa gelang Ren pulang dan akan mengembalikannya besok pagi.
"Hinana." suara Arumi terdengar ditelinganya.
"Arumi sedang apa kau disini?"
"sebenarnya aku akan ke rumah Tsubaki, tapi karena kau membatalkannya jadi aku jalan-jalan kemari."
"Ren yang meminta membatalkannya, dia sedang tidak enak badan."
"eh apakah Ren sakit lagi?"
"iya kemarin ia pingsan di rumah Tsubaki. Apa Ren selalu begitu?"
"entahlah, tapi lima tahun setelah pulang dari Paris aku rasa Ren lebih sering sakit jika capek. Hinana maukah kau menemaniku ke toko kain?" tanya Arumi.
"baiklah."
"oke, lets go...."
__ADS_1