Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
78 Apa yang terjadi dengan Shota


__ADS_3

..."jika sakit katakanlah sakit, jika ingin menangis maka menangislah tak perlu di tahan. Memang semua itu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya bisa membuatnya merasa lega." Ren Koizumi...


...----------------------------------------------------...


Hinana terus berlari menjauh dari rumah sakit, ia belum tahu kemana arah tujuannya. Air matanya terus-terusan mengalir dan beberapa kali Hinana menyeka air matanya.


Akhirnya ia langkahnya terhenti di sebuah tempat bermain Ice skating dimana lagi kalau bukan di Niseko.


Perlahan ia mulai mendekati tempat itu, ia sering bertemu dengan Ren disini. Hinana menutup matanya membayangkan bagaimana Ren selalu memberikan bantuan padanya.


"TIDAKKKK!!!!" Teriak Hinana dengan keras dan akhirnya terjatuh karena kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya. "Ren tak akan mati semudah itu, dia tak mungkin mati semudah itu." ucap Hinana yang mulai melantur, ia mulai menguatkan dirinya dan berdiri.


Malam yang terasa sangat panjang hingga akhirnya pagi datang juga. Hinana terbangun dengan perasaan yang sama sekali tidak baik.


Ting Tong


Suara bel berbunyi, dengan keadaan yang berantakan ia membuka pintu apartemennya.


"Apa kau habis mabuk semalam?" ucap Arimura saat melihat kondisi Hinana.


"Aku tidak bisa tidur semalam, apa kau berhasil bertemu dengan Shota?" tanya Hinana dan mengajak Arimura masuk ke ruang tamunya.


"Tidak sama sekali, bahkan tidak ada yang bisa menghubunginya. Bagaimana dengan Ren?"


Pertanyaan Arimura seakan menyakiti Hinana. Padahal sudah sewajarnya jika Arimura bertanya.


"Dia kritis." jawab Hinana dengan pelan.


"Astaga... Sudah kuduga ini terjadi. Ren juga bodoh mengapa dia nekat naik sepeda, sudah tahu hal itu akan membahayakan kondisinya." Arimura masih saja mengomel tanpa tahu mata Hinana sudah berkaca-kaca.


"Hinana kau baik-baik saja?"


"Anoo Ren tidak akan mati kan?"


"Hinana, sepertinya kau benar-benar punya perasaan padanya." Arimura merasa terguncang saat mendengar perkataan Hinana.


"Jouji-san mengatakan jika masa kritisnya mungkin tiga hari bahkan lebih. Atau mungkin Ren tidak akan bangun lagi." ucap Hinana.


"Kau harus pergi sekarang." Arimura tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangan pada Hinana.


"Eh?." Ucap Hinana dengan tidak mengerti.


"Bukankah lebih baik kau memastikan sendiri. Keadaan Ren, bukankah lebih baik kau kesana." Arimura meyakinkan Hinana kembali.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanku?"


"Pergilah. Mereka pasti paham dengan apa yang terjadi. Aku akan ke kantor dan memberitahu pada semua rekan-rekanmu."

__ADS_1


"Arigatougozaimasu Arimura." ucap Hinana dengan senyum yang mengambang. Ia segera berkemas kemudian pergi ke rumah sakit.


Sebenarnya saat itu Arimura berhasil menemukan Shota. Hanya saja Shota meminta agar Arimura tidak mengatakan apapun pada keluarganya maupun temannya.


"Penyakit Ren kambuh saat mengejarmu. Dia nekat menaiki sepeda dan mengejar taksi yang kau kendarai." ucap Arimura pada Shota yang saat itu berada di atas lantai empat bangungan yang sudah tua.


"Benarkah, lalu bagaimana keadaannya." tanya Shota dengan panik.


"Aku juga tidak tahu. Hey Shota, jika kau khawatir dengan adikmu maka pulanglah dan lihat sendiri kondisinya."


"Tidak mungkin."


"Apanya yang tidak mungkin ?....."


"BERISIK." teriak Shota dan Arimura tidak melanjutkan perkataannya. "Hey Arimura, pergilah. Dan kumohon jangan katakan pada siapapun jika kau bertemu denganku, Termasuk Hinana." ucap Shota dan membuat suasana menjadi hening.


"Aku akan pergi jika kau menjawab pertanyaan dariku."


"Tidak ada yang perlu ku jawab."


"Hey Shota, apa kau ingin putus dariku apa karena Ren? Ataukah ada seseorang yang kau cintai saat ini?" tanya Arimura dengan menahan air matanya. Saat ini Shota hanya melihat kearah Arimura tanpa menjawabnya.


"Shota kun, kumohon jawablah. Jika kau putus dariku karena ada seseorang yang kau cintai, aku akan benar-benar akan pergi dari mu." ucap Arimura kembali karena Shota masih belum berbicara.


"Iya." jawab Shota dengan singkat kemudian mengangguk.


"Apakah orang itu Hinana?"


"Shota, aku harap kau akan memperjuangkan perasaanmu kali ini. Jangan melepaskan orang yang kau cintai begitu saja. Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, sayounara." ucap Arimura lalu pergi perlahan meninggalkan Shota sesuai janjinya.


"Arimura chan, tolong bantulah Hinana. Bertemanlah dengannya." ucap Shota pada akhirnya, sementara Arimura hanya tersenyum dan benar-benar pergi meninggalkannya.


Hinana telah sampai di rumah saki, ia langsung menuju ke ruangan NICU karena kondisi Ren belum mengalami perubahan.


"Dia masih belum bangun." ucap Jouji yang langsung mengejutkan Hinana.


"Bolehkah aku menjenguknya di dalam?" tanya Hinana dengan penuh harap. Karena ia ingin melihat wajah Ren dengan jelas.


"Dokter belum memperbolehkan siapapun untuk masuk kedalam."


"Wakatta (baiklah)." Ucap Hinana saat mendengar jawaban Jouji yang mengecewakan.


"Hinana apa kau tidak bekerja?" tanya Jouji tapi Hinana seakan enggam menjawab pertanyaan. "Pergilah, tolong wujudkan impian Ren yang terakhir. Hanya Hinana yang bisa melakukannya."


"Aku tak bisa tanpa Ren, bahkan aku sama sekali tidak mengerti."jawab Hinana dengan air matanya yang sudah tak bisa laagi ditahannya.


"Kau bisa melakukannya, aku yakin bahwa kau bisa melanjutkan semuanya. Hinana jangan menangis, Ren tidak akan menyukainya."Jouji berusaha membuat Hinana tetap kuat tapi ia sendiri juga tak bisa menahan air matanya keluar.

__ADS_1


"Jouji san bisakah kita bicara." ucap Dokter Seto yang datang bersama dengan Aoyama di belakangnya.


"Baik." jawab Jouji dan mengikuti dokter Seto. Sementara Hinana langsung menahan Aoyama.


"Hey katakan padaku apa yang terjadi pada Ren." Hinana langsung menarik kra baju milik Aoyama.


"Maaf hanya keluarga pasien yang berhak tahu." jawab Aoyama dan berusaha melepaskan cengkraman Hinana tapi tidak bisa.


"Katakan padaku atau aku akan memukulmu." ucap Hinana dengan nada mengancam. Aoyama juga melihat bahwa mata milik Hinana sudah merah.


"Kau bisa pukul aku sepuasmu." jawaban Aoyama membuat Hinana melemah dan perlahan melepas tangannya. Ia tersungkur di lantai tanpa sepatah apapun, sehingga membuat Aoyama memanfaatkan situsi ini untuk kabur dari Hinana.


Sudah lebih dari dua jam Hinana menunggu Ren tapi tidak ada hasil sama sekali, dan Jouji San juga belum kembali lagi.


"Sampai kapan kau disini?" terdengar suara yang Hinana kenal, siapa lagi kalau bukan Aoyama.


"Entahlah, kapankah Ren bangun." Balas Hinana.


"Aku sedang istirahat, bagaimana kalau makan siang bersama." Ajak Aoyama karena memang dari tadi ia melihat Hinana menunggu Ren.


"Pergilah sendiri, aku sedang tak ingin makan apapun."


"Jika kau ikut denganku, akan kubocorkan sedikit kondisi Ren." Tak kekurangan akal Aoyama menggunakan nama Ren untuk mengajak Hinana pergi.


"Hey Aoyama, bisakah kita makan sashimi? Aku ingin makan yang banyak." Ucap Hinana dengan mengejar Aoyama.


"Emm tentu saja. Igo (ayo)."


Mereka berdua pergi di restoran sashimi terdekat. Sebenarnya Aoyama ingin makan yakisoba siang ini, tapi ia lebih memilih mendahulukan keinginan Hinana. Aoyama juga tahu bahwa Hinana pasti belum makan dari tadi pagi.


"Mau ku tuangkan segelas bear untukmu?" tanya Aoyama pada Hinana yang sedang makan.


"Hum, arigatou (terimakasih)."


"Tidak biasanya kau tak nafsu makan, apa mau kupesankan donburi?" tanya Aoyama kembali.


"Ren kun, dia belum makan dari kemarin. Apa dia tidak lapar." Gumam Hinana.


Aoyama hanya memandang Hinana dengan sinis, sepertinya ajakannya tak berhasil menghibur hati Hinana.


Haloo.... otor mau sapa kalian yang setia membaca novel aku dari awal sampai akhir.


Terimakasih banyak ya.....☺


Sebenarnya otor gak punya orangnya tidak terlalu percaya diri untuk menyapa kalian, otor juga tidak terlalu banyak baicara. Semoga karya otor bisa menghibur kalian semua,


Mohon dukungannya ya untuk like dan komen

__ADS_1


Salam kenal dari Otor


Yoroshiku onegaisimasu🙏


__ADS_2