Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
24


__ADS_3

SREEEET...... CIIIIITTTT...


Hinana panik dan mengerem mobilnya mendadak, hampir saja ia akan menabrak orang mabuk.


"kau tidak apa-apa." tanya Hinana dan turun dari mobil menghampiri seorang wanita.


"siapa kau apa aku mengenalmu.?" ucap wanita itu dengan mabuk.


"maaf aku hampir saja menabrakmu, sekali lagi maaf." Hinana mengucap kata maaf berkali-kali dan membantunya menyebrang.


"ada apa denganku." Hinana mengacak-acak rambutnya saat masuk mobil.


Dari tadi Hinana tidak fokus menyetir karena memikirkan ucapan Emi, tanpa sadar bahwa lampu merah menyala.


Saat tiba di apartemennya Hinana segera masuk ke kamarnya.


"AAARGH.... mengapa aku tidak bisa juga tidur." Teriak Hinana dan bangun dari tidurnya.


"mungkin aku mandi dulu, setelah itu pasti akan mengantuk." gumamnya dan beranjak ke kamar mandi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi, dan Hinana masih saja tidak bisa tidur. Ia menuju ke dapur dan mengambil sebotol shake yang di belikan Emi.


""Aku menyukai Ren dari dulu saat SMA tahun pertama, hingga sekarang.""


Pernyataan Emi masih terpikiran oleh Hinana, itulah alasan Hinana tak bisa tidur.


"Hinana, kau minum shake sepagi ini." Keiko bangun dan mengambil air minum di dapur.


"aku tidak bisa tidur."


"apa kau stres karena pekerjaanmu."


"ku pikir begitu, kenapa kau sepagi ini bangun?"


"perutku lapar dan aku lupa tidak makan malam karena lelah belajar."


"bagaimana ujianmu?"


"akan diumumkan satu minggu lagi, aku harap aku benar-benar diterima di universitas itu."


"pasti mendebarkan saat pengumuman."


"tentu, apa kau dulu juga merasa begitu Hinana?"


"tidak, aku tidak kuliah."


"maaf aku lupa, tapi kau keren Hinana. Setelah lulus SMA kau langsung debut pertama. Hinana kemarin aku bertemu dengan kak Ren di rumah sakit."


"hem dia memang sakit tapi sudah sembuh. Aku ke kamar sepertinya aku bisa tidur sekarang." Hinana pergi meninggalkan Keiko sendiri.


Saat matahari mulai terbit Hinana melihat ke arah sinarnya, rasa sakit di kepalanya sudah datang hingga akhirnya ia tertidur.


"astaga jam berapa ini." Hinana terbangun dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Ia ada janji dengan Ren jam 9.


Tapi ketika Hinana akan turun dari ranjang, masih teringat kembali perkataan Emi.


Hinana memegangi dadanya ia tak ingin membuatnya terluka lagi. Keputusan Hinana adalah tidur lagi dan tidak menemui Ren.


Sementara itu Ren masih menunggu Hinana di taman Furano. Sejak ia selesai pemeriksaan terakhir ibunya melarang Ren menggunakan ponselnya. Karena ingin menjauhkan Ren dari masalah perusahaan.


"apa kau benar-benar tidak datang Hinana." pekiknya dan Ren memang sudah dua jam menunggu Hinana. Gelang Ren berbunyi tanda denyutnya perlahan melemah, Ren memegangi dadanya yang nyeri dan mencari tempat yang hangat.


"anda mau pesan apa tuan?" tanya seorang pelayan kafe dekat taman.


"satu macha hangat." jawab Ren dan menarik nafas panjang agar menghilangkan rasa nyeri.

__ADS_1


"terima kasih."


"pulanglah." Shota menghampiri Ren yang sedang meminum segelas teh hijaunya.


"bagaimana bisa kau disini Shota?"


"aku mengikutimu karena momy bilang dia menyita ponselmu." ucap Shota yang mengkikat shalnya ke tubuh Ren.


"thank you Shota." Ren kemudian mengikuti Shota masuk ke mobilnya.


"apa yang kau lakukan disini?"


"aku menunggu seseorang."


"apa Hinana?" tanya Shota dan Ren hanya diam tanpa menjawabnya. Shota menyetir mobilnya pulang ke rumah, disepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun diantara mereka.


"dengarlah Ren, selama ini aku selalu menjaga kondisimu tapi kau selalu mencelakainya."


"HAH apa maksudmu."


"kali ini aku ingin mengatakan sesuatu mungkin kau akan terkejut dan mempengaruhi kondisimu, tapi aku tidak peduli." Shota memberanikan diri untuk mengatakan pada Ren.


"Ren, aku mencintai Hinana." kata Shota lalu masuk ke rumah membiarkan Ren sendiri.


Tiiiiiit.....Tiiiiiiit.....Tiiiiiit.


Lima menit kemudian gelang Ren berbunyi, dan Ren memegangi dadanya karena rasa nyeri datang.


Shota mendengarnya dia paham jika gelangnya berbunyi maka jantung Ren tidak stabil. Tapi Shota mulai tak memperdulikannya, ia terus masuk kerumah.


"kau sudah pulang Shota, apa kau bersama Ren?" tanya ibunya saat melihatnya. Namun ia tak menjawab dan terus berjalan menuju kamarnya.


"Ren kau baik-baik saja?" ibu Ren panik saat melihat anaknya terduduk di tanah.


"sakit."


Saat itu ayahnya baru pulang langsung menghampiri Ren dan membawa ke rumah sakit.


Dari atas jendela kamar Shota melihat semuanya. Dia sadar bahwa tidak seharusnya mengatakan itu.


"Hinana... Hinana..." Keiko membangunkan Hinana.


"ada apa?"


"kau tak mau bangun? Ini sudah sore."


"ah iya, aku tidur sangat nyenyak. Aku lapar ayo pergi makan."


"maaf, sore ini aku akan pergi berlibur."


"kemana? Dengan siapa."


"entahlah, mungkin ke Tokyo kau mau ikut?. Tentu saja dengan ayah dan ibuku. Mereka menyuruhmu ikut."


"tidak, aku sudah bosan."


"sudah kuduga, aku pergi Hinana. Daah."


"berapa hari kau pergi."


"tiga atau empat hari. Ayahku akan balik bekerja minggu depan."


"baiklah pergilah."


"daah Hinana." Keiko dengan semangat meninggalkan Hinana.

__ADS_1


Hinana keluar untuk makan malam sendiri. Meskipun sudah menginjak bulan Januari tapi tetap saja udara sangat dingin.


"Hinana..!" panggil Aoyama saat ia membeli minuman di vanding machine (mesin otomatis dan hanya memasukkan uang koin).


"Aoyama hallo. Kau juga disini?"


"hem aku selesai makan malam. Kau?"


"sama denganmu."


"bagaimana kalu kita main basket sebentar."


"HAh malam seperti ini?"


"ayolah, aku rindu teman-teman lamaku." Aoyama menarik lengan jaket Hinana.


"maaf aku terlambat." ucap Aoyama pada seseorang saat sampai di lapangan basket.


"Shota?"


"kalian sudah saling kenal? ." tanya Aoyama.


"hem tentu saja." jawab Shota.


Hinana dan Aoyama bermain basket bersama, sementara Shota hanya melihat dan makan yakisoba yang dibawakan Aoyama.


"YOSH.. Tri point. Aku menang." teriak Hinana saat melempar bola dan masuk ke net.


"iyalah baiklah aku selalu kalah darimu." ucap Aoyama pasrah.


"kau selalu payah dari dulu."


"aku tahu itu, tapi kau selalu hebat Hinana."


"kau jago bermain basket Hinana, teknikmu memainkannya sangat bagus." Shota memberikan minuman pada Hinana dan Aoyama.


"thanks Shota. Kau tahu Hinana sangat hebat saat pelajaran olahraga, dia memenangkan tournament Judo saat kelas satu SMP."


"kau berlebihan Aoyama, aku hanya peringkat 2."


"meskipun kau peringkat 2 tetap saja kau hebat. Aku juga ikut tournament tapi di kalahkan oleh wanita." Shota memuji Hinana, ia tidak menyangka bahwa wanita cantik di depannya ternyata sangat pandai berolahraga.


"kau mau lihat aku masih punya foto Hinana saat menang."


"eh itu benaran Hinana? Dia gemuk ya saat SMP."


"hentikan kalian menyebalkan." Hinana mengambil ponsel Aoyama secara paksa.


"ayolah Hinana, berikan ponselku."


"Aish...aku tidak gemuk, seperti itu adalah tubuh atletis tahu." Hinana membela diri karena merasa malu pada Shota.


Ponsel Aoyama berdering, dengan cepat ia merampas dari tangan Hinana.


Aoyama mengangkat telepon sangat penting, sementara Hinana dan Shota menunggu dengan makan takoyaki yang ia bawa.


"maaf aku tidak bermaksud mengejekmu tadi, hanya saja kau yang sangat berbeda." ucap Shota.


"tidak masalah, semua anak dulu juga menyebutku begitu, hingga aku merasa malu dan melakukan diet ketat."


"kenapa kau malu? Meskipun dulu kau sedikit gemuk tapi kau cantik."


"ibuku seorang dokter yang cantik, dan anak-anak mengejekku kalau aku anak pungut."


"maaf teman-teman aku harus ke rumah sakit, ada situasi yang darurat." Aoyama terlihat panik dan meninggalkan temannya.

__ADS_1


"be careful." sahut Shota.


__ADS_2