Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
28


__ADS_3

"" kembali lagi ke dunia modeling, apakah aku bisa? Aku benar-benar tidak yakin. Tidak, hanya saja aku belum siap mengahadapi semuanya. Kembali ke dunia itu berati aku harus kembali ke masa lalu ku."" batin Hinana.


"Hinana..... Hinana. Kita sudah sampai di apartemenmu, apa kau saja yang mengantarku ke rumah?" tanya Ren. Karena mobil Ren rusak dan ia meminjam mobil Hinana untuk keperluannya.


"aku turun sekarang." Hinana melepas self belt dan turun dari mobilnya.


"sampai jumpa Hinana, aku akan menjemputmu besok pagi."


Hinana tak menghiraukan ucapan Ren, ia terus berjalan menuju lift.


Keiko belum juga kembali dari liburannya, Hinana membuka sebuah buku album berwarna merah. Semua yang ada disana adalah foto Hinana dari masa training hingga debut pertamanya.


"bisakah aku kembali lagi?" batin Hinana.


Dulu sewaktu SMP Hinana selalu diejek bertubuh gemuk dan jelek. Hingga Hinana melakukan perubahan dan bercita-cita menjadi model.


Usaha Hinana berhasil saat itu berat badan Hinana ideal dengan tingginya, juga Hinana memiliki wajah cantik turunan dari ibunya.


Produser menawarkan Hinana menjadi model majalah, dan menjadikan Hinana peserta Rookie untuk debut top model.


Malam hari Hinana pergi ke bistro terdekat karena merasa lapar. Mobilnya terpaksa ia pinjamkan Ren karena ia tidak tega jika Ren naik busway.


"Hinana." panggil Shota saat melihat Hinana berjalan.


"Shota, ku kira kau sudah pergi ke Osaka."


"hem ada sedikit masalah. Kau mau kemana?"


"aku ingin makan malam."


"masuklah, aku juga akan makan malam." Shota membukakan pintu mobil, dan Hinana masuk ke mobilnya.


"sudah malam begini kenapa kau berjalan kaki?"


"mobilku di pinjam Ren, dia bilang mobilnya rusak dan masih di service."


"dasar anak ingusan bisa-bisanya saja." gumam Shota. Karena mobil Ren tergeletak di parkiran rumah ,dan dalam kondisi baik-baik saja.


"eh apa yang kau katakan." tanya Hinana yang sedikit mendengar clotehan Shota.


"tidak apa-apa, pasti kau kesal karena tidak bisa kemana-mana."


"um tidak masalah bagiku."


"kau mau makan dimana?"


"terserah kau, asalkan kau antarkan aku pulang nantinya."

__ADS_1


"baiklah kita makan Nikujaga (daging rebus dan kentang dibumbui dengan dashi dan kecap)." Shota segera memarkirkan mobilnya di dekan resto dan mengajak Hinana.


Shota melihat Hinana memesan banyak menu utama dan desert. Dan tak segan untuk memakannya semua, tentunya sangat rapi ia memakannya. Sedangkan Shota hanya memesan dua menu utama dan satu desert.


"hey kemanakah hilangnya semua makanan di meja ini ?." tanya Shota dengan nada bercanda pada Hinana.


"diamlah, itu alasan aku tidak mau makan dengan orang lain."


"apa kau berusaha membuat tubuhmu gendut lagi?"


"kau menyebalkan Shota. Tapi kau benar aku bisa makan sebanyak ini saat aku berhenti jadi model."


"kau tak ingin kembali lagi?"


"kenapa banyak sekali orang yang menyuruhku kembali. Menyebalkan."


"maaf. Aku hanya berfikir kau ini cantik, mungkin ada masa kau libur dan kembali lagi nantinya."


"benarkah aku cantik?" tanya Hinana dan mendekatkan wajahnya pada Shota.


Sebenarnya Hinana hanya bercanda, karena menurutnya Shota tidak begitu menyebalkan dari pada Ren. Tapi dipandang Hinana seperti itu membuat hati Shota bergejolak.


"eh Shota kenapa wajahmu memerah." Hinana terkejut.


"tidak apa-apa, hanya saja tadi supnya sangat panas." ucap Shota dan memalingkan wajahnya.


"hem apa maksudmu?"


"tidak ada, aku melihat mata orang-orang jepang semua berwarna coklat tua, ada yang hitam tapi sedikit. Tapi aku menemukan mata yang sangat indah dan tidak sama dengan kita."


"Ren?" tebak Shota, karena adiknya memiliki warna mata biru keabu-abuan.


"sudahlah aku tak ingin membahas siapapun." ucap Hinana lalu meminum lemon float yang di pesannya.


"apa kau menyukai Ren?" Shota terus terang menanyakan pada Hinana. Karena selama ini Shota selalu memperhatikan Hinana. Dan karena Ren juga, Hinana mulai membuka diri pada orang lain.


"aku tak mengerti maksud ucapanmu." sangkal Hinana.


"aku rasa kau menyukai Ren, kau selalu dekat dengannya."


"tentu saja tidak. Ren hanya seorang pengganggu yang masuk dalam kehidupanku."


"tapi Ren juga yang berhasil membuatmu berubah, dan perlahan kau juga menemukan cintamu yang baru."


Sejujurnya Shota merasa cemburu melihat kedekatan antara Hinana dan Ren. Karena Shota sudah mulai menyukai Hinana dari awal bertemu, tapi tak tahu dari mana memulainya.


"cinta yang baru? Aku lebih baik mati dari pada harus jatuh cinta lagi. Bahkan aku memutuskan tidak akan menikah sampai kapanpun."

__ADS_1


"maaf Hinana, aku tidak bermaksud menyinggung masa lalumu."


"hem tidak apa-apa, aku juga akan berdamai dengan masa laluku." jawab Hinana kemudian menghabiskan minumannya.


Sudah hampir tengah malam, Shota mengantar Hinana untuk pulang. Tanpa sadar pertemuannya dengan Hinana membuat Shota mengerti tentang hidup Hinana.


"terima kasih." ucap Hinana dan beranjak turun dari mobil.


"tidak masalah, Hinana aku minta maaf jika selama ini menyakitimu."


"aish itu sudah berkali-kali kau katakan. Tapi Shota kau lebih menyenangkan saat di luar dari pada jadi boss."


"hey apa maksudmu?"


"tidak ada. Daah."


"Sampai jumpa Hinana." Shota membalas lambaian tangan Hinana dan segera melajukan mobilnya.


Sudah tengah malam dan Hinana masih berpikir design seperti apa yang akan ia buat. Hinana bahkan sama sekali tak pernah menggambar design baju. Ia masih melihat gambar design pada internet, Ren dan Arumi mengatakan jika melihat internet itu hanya referensi saja.


"haruskah aku membukanya." ucap Hinana yang memegangi album merah besar. Harapannya ia bisa dapat inspirasi dari baju yang pernah ia pakai dulu.


TING TONG....


Bel apartemen Hinana berulang kali dibunyikan. Hinana baru saja tidur jam 3 pagi, dan ini masih jam 7 siapa yang datang ke apartemennya sepagi ini.


"Ohayou Hinana." sapa Ren saat Hinana membukakan pintu.


"apa kau gila, ini masih jam 7 untuk apa kemari." umpat Hinana kesal dan menutup pintunya kembali.


"tunggu sebentar Hinana." Ren berhasil menahan pintunya dan masuk ke dalam. Hinana tak menghiraukannya ia memutuskan tidur kembali ke sofa.


"jangan bangunkan aku sebelum jam 9." ucap Hinana kemudian melanjutkan tidur.


Ren melihat ruang tengah Hinana yang berantakan, laptonya masih menyala begitu juga dengan tabnya. Ia juga melihat album foto yang besar, disana banyak foto Hinana di red carpet. Tentu saja Ren melihat foto Hinana bersama Yukiatsu.


"Hinana, laki-laki itu pasti sangat berharga bagimu. Tapi bisakah aku menggantikannya. Tentu saja tidak mungkin, di waktu ku yang sedikit ini mana mungkin aku bisa membuatmu bahagia." ucap Ren dengan memandang wajah Hinana yang sedang tidur.


Ren memutuskan pergi dari apartemen Hinana dan membiarkannya tidur. Sepertinya Ren tahu jika membuat design baju merupakan hal pertama bagi Hinana.


BIP


"apa kau sudah bangun Hinana? Gomen aku meninggalkanmu, jika kau sudah bangun datanglah ke rumah Tsubaki. Naiklah taxi soal tarif biar aku yang bayar." Ren memberikan pesan untuk Hinana dan mengirim lokasinya.


Tepat jam 9 Hinana bangun karena bunyi alarm di ponselnya. Ia memandang bahwa apartemennya sangat rapi, dan ada omurice di meja makan.


"hem ini tidak terlalu buruk, rasanya sama seperti buatan ibuku." ucap Hinana sendiri saat makan omurice buatan Ren.

__ADS_1


__ADS_2