
Alarm Hinana berbunyi, dengan malas Hinana meraih tangannya dan menunda beberapa menit lagi.
"Hinana-san wake up." teriak Keiko yang menuju kamarnya.
"sepuluh menit lagi." ucap Hinana menarik selimutnya keatas kepala.
"kau menyebalkan Hinana, hari ini aku ujian masuk universitas. Tak bisakah kau memberiku perhatian."
"Ganbatte yo." Hinana hanya asal menyemangati adiknya dan tidur lagi.
"menyebalkan. Baiklah aku pergi dulu, pulang kerja bawakan aku sashimi. Daah Hinana."
Setelah Keiko keluar akhirnya Hinana memutuskan untuk bangun, sebenarnya Hinana sangat malas ke kantor.
"Hah Ren." pekiknya saat melihat ponsel ada chat dari Ren.
"apa kau sibuk Hinana? Aku ingin banana bisakah kau membawakannya?"
"aku sangat sibuk, belilah sendiri." balas Hinana dengan senyumnya tersungging.
Entah suasana hati Hinana langsung berubah setelah mendapat pesan dari Ren. Tidak butuh waktu lama Hinana bersiap-siap ketempat kerjanya.
"selamat pagi." sapa Hinana.
"selamat pagi Hinana. Kau sangat ceria hari ini, apa karena berhasil memenangkan hati nona Sawako?" tanya Tsubaki.
"mungkin saja, baiklah selamat bekerja."
"Hinana sudah ku selesaikan semuanya." Emi memberikan semua berkas administari dan pihak Client yang sudah mencairkan dananya.
"terima kasih Emi."
"kau memang terbaik."
"tidak. Semua karena kalian, jika kerja sama ini sukses besar semua karena kerja keras kalian. Terima kasih semuanya." Hinana membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih.
Dari kejahuan tuan Jouji melihat perlakuan Hinana, meskipun semua karena Hinana tapi Hinana merasa semuanya karena kerja keras team.
"kalian akan makan siang?" tanya Hinana saat jam makan siang tiba.
"tentu saja. Ada apa?" jawab Arumi.
"bolehkah aku ikut?"
"tentu saja, aku sangat senang. Ayo Hinana." Arumi langsung menarik tangan Hinana dan mengajaknya.
Suasana di jalan sangat ramai karena menjelang tahun baru. Tak sedikit turis dan warga lokal yang berkunjung ke Hokkaido.
"Hinana libur tahun baru kau akan kemana?" tanya Emi.
"entahlah, mungkin tidak kemana-mana."
"biasanya Shota membuat acara saat tahun baru."
"benarkah? Tapi aku tidak tertarik."
"iya aku tahu kau tidak menyukai hal seperti itu, tapi jika kali tuan Jouji yang mengajak apa kau berani menolak?"
"tentu saja tidak, dengan terpaksa aku datang." jawab Hinana dengan sedikit tertawa.
"Hinana aku masih penasaran, mantra apa yang kau buat sehingga nona Sawako bisa kerja sama kembali?"
" Amaterasu." ucap Hinana dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"kau bisa bercanda juga ternyata. Ayo cepat sebentar lagi kembali bekerja." Emi tertawa keras melihat kelakuan Hinana.
"aku harus ke minimarket sebentar, kau kembali dulu Emi."
"baiklah, Daah Hinana." Emi melambaikan tangannya.
Hinana masuk ke Yamato mart dan memilih buah pisang yang bagus. Sepulang kerja ia ingin menemui Ren di rumah sakit.
"apa kau dirumah?" Hinana menulis pesan untuk Ren.
"tidak aku masih dirumah sakit, ada apa?"
"hanya bertanya."
"oh ya ku dengar Comme des Garcons kerja sama kembali bekarkat kau, terima kasih Hinana."
"semua karena team marketing. Beri aku hadiah."
Hinana tak mengatakan akan kerumah sakit, bukan ingin memberi kejutan tapi memang Hinana tak ingin basa basi.
Siang ini waktu berjalan sangat lambat bagi Hinana, rasanya ingin segera pulang.
"Hi na na. Hinana..." panggil Tsubaki.
"Eh, ada apa?"
"kau melamun?"
"tidak aku bekerja."
"kau terus memandangi ponselmu. Oh tidak, sepertinya kau memandang foto itu."
"hentikan Tsubaki."
"iya, terima kasih kata Ren."
"tak masalah."
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, semua orang bergegas begitu juga dengan Hinana.
"maaf mendadak hari ini kita ada meeting, tuan Jun Matsumoto baru tiba dari Amerika." ucap tuan Jouji mengejutkan semuanya.
"apa semua harus hadir?" tanya Arumi.
"tentu saja, segera persiapkan."
"tuan Jouji bolehkah aku izin tidak menghadiri?" Hinana merasa kecewa.
"ada apa Hinana?"
"eh tidak, tidak jadi."
"kalian semua ku tunggu di ruangan meeting tiga puluh menit lagi." perintah tuan Jouji dan semua mengiyakan.
Tsubaki melihat wajah Hinana yang cemas, tangannya membawa bingkisan buah pisang. Tsubaki tahu bahwa Hinana akan menemui Ren, karena Ren sangat menyukai buah pisang.
"ayo kesana." ucap Arumi.
Semua bergesas ke ruang meeting, Hinana berjalan dengan cemas di koridor.
"Hinana, pergilah." ucap Tsubaki sebelum masuk ruangan.
"eh."
__ADS_1
"kau akan menemui Ren kan? Pergilah, akan ku izinkan pada tuan Jouji." Tsubaki menghampiri Hinana. Meskipun sempat berpikir lama, akhirnya Hinana memutuskan pergi. Tuan Jun Matsumoto adalah relasi kerja Ren, dan meeting tidak begitu formal, tentu saja ada acara makan malam.
"Arigatou Tsubaki-san." ucap Hinana dengan terharu, kemudian berlari keluar.
Tiga puluh menit perjalanan ke rumah sakit dan sudah menunjukkan pukul 8 malam. Hinana berlari di koridor menuju kamar Ren, karena orang sakit jika malam akan istirahat.
Hinana melihat Ren sudah tidur ia tidak tega membangunkannya. Meskipun masih kecewa tapi setidaknya Hinana masih bisa melihat wajah Ren.
"Hinana." Ren terkejut saat bangun sudah melihat Hinana di depannya.
"sudah jam 10 malam ada apa kau kemari." Ren melihat ke arah jam, dan ia juga tidak tahu bahwa Hinana sudah menunggu dua jam.
"banana." jawab Hinana memberikan sekantong buah pisang.
"aku mau makan satu." ucap Ren dengan senyumnya.
"ku kupaskan ini makanlah." ucap Hinana dengan memberikan buah pisang yang sudah di kupasnya.
"emmm oishi... Terima kasih Hinana." Ren sangat menikmatinya.
"kau suka, makanlah yang banyak."
"kau juga makanlah Hinana."
"tidak perlu aku sudah kenyang." ucap Hinana dengan menyandarkan kepalanya di kasur Ren.
Sebenarnya Hinana belum makan malam ,tapi karena pekerjaan hari ini sangat melelahkan membuat Hinana malas. Ia memandangi Ren yang sangat lahap makan buah pisang hingga akhirnya tertidur.
"bahkan meskipun kau tertidur, tetap saja membuat ku jatuh cinta." gumam Ren dengan memebelai rambut Hinana.
Ren menutupi Hinana dengan selimut tebalnya, lalu berbaring dengan menghadap wajah Hinana.
"oyasumi nassai Hinana." ucapnya dan ikut tidur. Malam ini Ren tidak menduganya jika akan menghabiskan waktu bersama Hinana. Ren juga tidak percaya jika bisa mendekati Hinana yang hatinya sangat keras.
Tengah malam selesai meeting, tuan Jouji menyempatkan diri untuk mengunjungi Ren di rumah sakit.
Ren divonis memiliki penyakit jantung akut sejak umur 20 tahun, dan sudah menjalani tiga kali operasi. Serta pemasangan ring di jantungnya. Maka dari itu semua keluarganya sangat menghawatirkan Ren terutama Shota kakaknya.
Jouji melihat Hinana tidur dengan posisi duduk dan Ren tidur dengan memandangi Hinana.
"sudah kuduga." batin Jouji. Sebenarnya ia terkejut bagaimana bisa Hinana tahu Ren dirawat. Tapi setidaknya Jouji bisa melihat Ren bahagia menjalani hari-harinya dengan Hinana.
**********
"Ohayo Hinana.." Ren sangat ceria saat melihat Hinana membuka matanya.
"eh, apa aku tertidur disini?." tanya Hinana dan Ren mengangguk.
"jam berapa sekarang? Aku harus bekerja, aku tidak membawa baju." Hinana sangat panik saat tahu sudah jam 7 pagi, satu jam lagi harus berada di tempat kerjanya.
"kau ribut sekali pagi-pagi."
"harusnya kau bangunkan aku lebih pagi."
"kenapa aku yang salah, aku juga baru bangun." Ren membela diri dan tertawa melihat tingkah Hinana.
"ah aku harus bagaimana ini?"
"kau mau kemana?"
"bekerja."
"setidaknya mandilah dulu sebelum kerja." ucap Ren. Dengan malu Hinana menutup mukanya dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1