
Udara yang semakin mendingin ini aku berharap, jika suatu saat waktunya telah tiba, Aku tidak ingin Hinana melihatku. Hinana hanya boleh melihatku saat aku sedang bahagia saja, Kamisama (Tuhan), tolong dengarlah doaku. (Ren Koizumi)
Aoyama dan Hinana masih terlihat berdebat, sementara Kishi masih memberikan Ren selimut hangat. Dan para biksu juga membantu membuatkan teh hangat untuk Ren.
"Nona Hinana bagaimana kelanjutannya?" Tanya Kishi pada Hinana.
"Aoyama mengatakan akan menghubungi ambulan." Jawab Hinana dengan santai, padahal Hinana juga bersedia jika harus menggendong Ren kembali.
"Eh, ambulan? Di tempat seperti ini mana mungkin bisa di jangkau oleh ambulan?" Pekik Kishi dengan terkejut.
"Entahlah, kita lihat saja bagaimana."
Hinana hanya menekuk kedua tangannya di depan dada, ia sambil menghitung dalam hatinya. Pasti dalam hitungan ke tiga Aoyama akan kembali dengan kabar yang tidak baik.
"Indahnya.... Matahari terbenam, bisa terlihat jelas di atas bukit."
Suara Ren membuat Hinana dan Kishi melihat ke arah barat. Mereka berdua lalu mendekat ke tempat Ren berbaring.
"Benar- benar indah." Gumam Hinana dan menyaksikan matahari terbenam.
Baik Ren maupun yang lainnya telah melupakan pesan dari Seto. Mereka tidak sadar hingga waktu malam telah tiba.
"Hinana chan, matahari yang terbitpun pasti akan tenggelam pada waktunya. Tapi dia tidak pernah menyesali sama sekali saat di gantikan malam. Hinana chan, berjanjilah padaku kita akan menjalani hidup ini dengan bahagia, kita akan bertemu di kehidupan lain."
Ren memegang tangan Hinana dengan erat. Sedari tadi Ren sudah mencemaskan Hinana, ia berkali-kali melihat wajah sedih Hinana saat berada di tempat doa. Saat di dinding harapan Ren sudah memperhatikan jika kekasihnya berkali-kali mengusap air matanya.
"Hinana, mari kita membuat janji. Kau harus bahagia ketika bersamaku atau tidak bersamaku. Berjanjilah !" Ucap Ren sekali lagi pada Hinana karena sedari tadi Hinana masih diam. Kishi yang berada di sebelah mereka tentu saja mendengar ucapan Ren, dirinya segera menutup wajahnya dengan tangannya agar tidak terlihat jika sedang menangis.
"Janji." Jawab Hinana dengan tersenyum, ia juga melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Ren.
"Nona Hinana kau begitu kuat. Aku saja tidak akan bisa sekuat itu jika berada di posisimu. Diantara kalian berdua aku sudah tahu siapa yang paling sedih saat ini. Tuan Ren, aku tidak menyukai kebohonganmu. Menyakitkan sekali." Batin Kishi yang belum juga membuka wajahnya.
"Ayo kita pulang, aku akan menggendongmu." Hinana mengajak Ren untuk pulang karena sudah di pastikan bahwa usaha Aoyama akan gagal.
"Kishi san, kau akan membantuku bergantian kan?" Hinana menepuk pundak Kishi mengisyaratkan agar segera berkemas.
__ADS_1
"Tentu saja." Jawab Kishi dan langsung membawa barang-barangnya.
Tak lama kemudian Aoyama datang menghampiri Hinana dan Ren.
"Pasti tidak berhasilkan? Ayo pergi sebelum terjadi sesuatu." Ucap Hinana saat melihat Aoyama datang kearah. Padahal Aoyama baru saja akan membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi sudah berhasil ditebak oleh Hinana. Kali ini gadis di depannya sudah menggendong kekasihnya dan mulai berjalan untuk turun dari bukit.
Kishi menyerahkan barang bawaannya kepada Aoyama sementara ia lebih memilih membantu Hinana menggendong Ren daripada membantu Aoyama.
"Hari ini aku benar-benar seperti beruang kutub." Ucap Ren dan membuat Kishi tertawa.
"Tapi kau bahagia." Balas Kishi.
"Tentu saja, ada kekasihku yang sangat kuat menggendongku. Hey Hinana apa kau benar-benar tidak merasa lelah?" Ren semakin bersandar di punggung kecil Hinana, ia merasa senang karena bisa melihat matahari tenggelam bersama.
"Tentu saja kau berat. Karena aku kuat jadi menggendongmu saja aku tak keberatan." Jawab Hinana dan sontak mengundang tawa teman-temannya baik Aoyama maupun Kishi.
"Benar...! Hinana chan memang gadis yang sangat kuat. Hinana chan juga akan kuat menghadapi apapun oleh karena itu aku mencintainya." Puji Ren pada kekasihnya.
"Hinana juga harus kuat untuk masa yang akan datang." Ucap Ren sekali lagi dan membuat Hinana menghentikan langkah kakinya.
"Hinana ada apa? Apa kau sudah lelah?" Tanya Ren saat Hinana berhenti berjalan.
"Hinana harus kuat untuk masa yang akan datang. Memangnya ada apa? Bukankah kau bisa hidup lebih lama daripada aku?" Ren segera turun, ia juga menyadari jika perkataannya mungkin saja telah melukai perasaan Hinana.
"Meskipun begitu kau...." Belum selesai Hinana berbicara Ren segera menepelkan jari telunjuknya ke bibir Hinana dan membuat Hinana berhenti bicara.
"Bukankah kita sudah berjanji akan bahagia bersama? Jika aku hidup lebih lama maka akan ku gunakan untuk hal yang lebih baik dan akan menjadi kuat. Maka dari itu aku mengatakan jika seperti itu. Hinana berjanjilah padaku." Ucap Ren dengan senyuman yang lebar, ia ingin memaksa Hinana agar tidak menangisi kondisinya.
"Sebaiknya ayo bergegas pulang!!! Seto sensei pasti tidak akan memafkan kita kalau terlambat." Aoyama berjalan pergi mendahului Ren dan Hinana dengan membawa banyak barang. Sebenarnya saat mendengar ucapan Ren, ia juga merasa sedih. Karena menjalani kehidupan tanpa seseorang bukan hal yang mudah seperti menelan air.
"Baiklah. Kishi san maukah kau membawaku." Ucap Ren kepada Kishi.
"Biarkan aku saja yang membawamu. Cepatlah naik ke punggungku !" Hinana segera menyela jawaban Kishi dan duduk di depan Ren.
"Hinana chan pasti merasa lelah, biarkan Kishi san saja." Balas Ren karena merasa tidak hati merepotkan kekasihnya.
__ADS_1
"Cepatlah...!" Ucap Hinana memberi perintah. Dari nada bicaranya saja sepertinya Hinana sudah tidak ingin di bantah. Ren akhirnya tidak punya cara lain selain menurutinya. Meskipun tak banyak bicara selama diperjalanan tapi Hinana sudah merasa bahagia bisa sedekat itu dengan kekasihnya.
"Ren, dulu aku sangat menyukai bintang Polaris. Bagaimana denganmu?" Hinana mengajak Ren berbicara untuk mencairkan suasana.
"Betelgeuse... Dulu saat SMA banyak orang yang menyebutku sebagai bintang Betelgeuse.." Jawab Ren pada Hinana.
"Betelgeuse kurasa bintang yang paling bersinar terang, kau sangat hebat saat SMA." Sahut Kishi dengan kagum.
"Hem, itu benar. Aku juga merasa seperti itu. Aku adalah bintang yang paling bersinar dan akhirnya meled..." Tangan Ren yang memeluk Hinana tiba-tiba terjatuh dan tubuhnya hampir saja jatuh kebelakang. Untung saja Kishi langsung sigap menopang Ren dari belakang.
"Ren.... Daijjoubu..." Hinana terkejut saat Ren terjatuh, ia memanggil-manggil nama Ren dan menggerakkan tubuh Ren.
Aoyama yang berjalan di depan langsung berbalik dan menolong Ren saat mendengar suara Hinana yang panik. Aoyama juga langsung membuka tasnya dan mengambil beberapa peralatam medis.
"Hinana minggirlah...!" Aoyama mendorong tubuh Hinana yang dari tadi menghalanginya untuk memeriksa Ren. Sejak dari sore hari Aoyama sudah mengkhawatirkan Ren dan sekarang ia terpaksa harus mendorong Hinana hingga terjatuh demi menolong Ren dan berharap Ren baik-baik saja.
.
.
.
.
*" Sensei, kenapa kau mengizinkan Ren begitu saja? Bukankah kau tahu jika Ren pasti akan nekat naik ke bukit. Aku bahkan tidak percaya jika alasan Ren hanya untuk melihat bungan krisan saja." Ucap Aoyama pada dokter Seto.
Seto masih belum menjawab pertanyaan Aoyama, ia memberikan catatan medis Ren dan menyuruh Aoyama untuk membacanya.
"Apa ini?" tanya Aoyama tidak mengerti.
"Baca dan pahami saja." Dengan memberi senyuman kecil Seto menyuruh Aoyama untuk membaca.
"Meskipun aku mengizinkannya atau tidak mengizinkannya, Ren pasti akan meninggal. Jadi aku putuskan Ren meninggal dengan bahagia. Aku mengambil cuti dihari kalian pergi dan menunggu kalian dirumah sakit. Jika Ren meninggal di hari itu, aku bisa segera mengurusnya." Ucap Seto menjelaskan alasannya ia mengizinkan Ren keluar. Dan tak lama kemudian Seto keluar dari ruangannya membiarkan Aoyama yang masih berdiri mematung di dalam.
.
__ADS_1
.
"Ren..." Gumam Hinana dengan air mata yang masih tertahan dimatanya.