Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
72 Yuki (salju)


__ADS_3

Suasana malam yang indah tentu saja membuat orang-orang ingin menikmati malam di musim semi. Meskipun sudah musim semi tapi di Hokkaido udaranya masih dingin. Tsubaki dan Shota tampak masuk ke kelab malam mengingat semasa sekolah dengam tugas yang penat.


"Yo kali ini apa kau akan mengambil identitas milik ayahmu?" tanya Tsubaki dengan bercanda.


"Tentu saja tidak, aku sudah berumur 30 tahun. Lagi pula semua itu adalah ide gilamu." balas Shota kemudian merangkul temannya masuk.


"Tapi kau setuju kan dengan rencanaku."


"Tentu saja. Baiklah hari ini aku ingin memesan wine. Bagaimana denganmu?" tanya Shota kemudian mengajak Tsubaki menuju bar.


"Terserah kau saja. Shota kun tunggu sebentar." ucap Tsubaki lalu menghampiri seorang gadis dengan baju merah yang sedang duduk di kursi pojok.


"Hinana." panggil Tsubaki yang menghampirinya.


"Yuki."


"Baka, kau benar-benar mabuk ternyata." umpat Tsubaki lalu melihat tiga botol sampanye di meja Hinana. Saat Hinana akan menuang sampanye lagi dengan cepat Tsubaki menahannya.


"Yamette (hentikan). Hinana sadarlah." Tsubaki mulai menaikkan suaranya karena suara musik yang bergemuruh.


"Yu chan kenapa kau membentakku? Kau tidak pernah berkata kasar padaku selama ini." ucap Hinana dengan air matanya mengalir.


"Oi sadarlah Hinana aku bukan Yu yang kau maksud." karena merasa bingung Tsubaki hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Hinana menopang dagunya di meja dan memanggil-manggil nama Yukiatsu.


"Aku sudah pesankan meja no tiga, ayo kesa..... Apa dia benar Hinana?" Shota yang menghampiri Tsubaki langsung terkejut begitu melihat Hinana yang sedang mabuk.


"Dia sedang mabuk."


"HAH, bagaimana bisa?" tanya Shota yang keheranan.


"Tiga botol sampanye tentu saja membuatnya mabuk." jawab Tsubaki dan mengambil satu botol yang masih utuh untuk di kembalikan. "Dia sampai mengigau memanggil aku Yuki."


"Sepertinya mabuk berat, ayo kita antarkan pulang." Shota mulai memapah Hinana untuk berdiri namun ponselnya berbunyi. "Sial siapa lagi sih. Tunggu sebentar." ucap Shota kemudian menepi untuk menjawab telepon yang ternyata dari ayahnya.


"Hey Hinana, kenapa kau lakukan sendirian?"


"Yukiatsu." balas Hinana abrsud.


"Bisakah kau mengucapkan yang lain selain Yukiatsu?" Tanya Tsubaki dan memijat keningnya.


"Yu chan." Jawab Hinana dengan berdiri lalu tergeletak lagi.


"Dasar, orang mabuk memang selalu menyebalkan."


"Hey Tsubaki maaf aku harus menggantikan ayahku ke rumah sakit. Tolong antarkan Hinana pulang." Shota menghampiri Tsubaki dengan wajah yang sedikit panik.

__ADS_1


"Tunggu, aku? Hey aku tidak tahu dimana tinggal."


"Aku buru-buru, dia tinggal di apartemen Sapporow Town. Jaa mata (sampai jumpa)." Shota langsung pergi dari kelap malam, sedangkan Tsubaki langsung memapah Hinana ke mobilnya.


"Hey Hinana aku memang tak mengenalmu dengan baik. Tapi selama ini aku tidak pernah melihatmu minum sampai mabuk, Doshite (kenapa)?" tanya Tsubaki sambil mengetir.


"Aku merindukanmu Yukiatsu." jawab Hinana melantur.


"Sudah ku bilang namaku bukan Yukiatsu. Namaku Tsubaki, Tsu-ba-ki."


"Eh, ternyata kau bukan Yukiatsu?"


"Sudah ku katakan berkali-kali bodoh." umpat Tsubaki geram.


"Lalu dimanakah Yukiatsu?"


"Entahlah, kenapa kau tanyakan padaku? Bahkan wajahnya saja aku tak pernah tahu. Hinana kita sudah di depan apartemenmu. Apa kau bisa kembali sendiri?" tanya Tsubaki tapi Hinana sudah terlelap di mobilnya.


"Kau merepotkan saja." Keluh Tsubaki lalu menggendong Hinana sampai kedalam apartemennya. Saat di lobi ia melihat sosok yang dikenalnya kemudian memanggilnya.


"Oi Aoyama." panggil Tsubaki dan tak beberapa lama pria itu menoleh kearahnya.


"Ada apa?"


"Kenapa dia?"


"Dia mabuk." Jawab Tsubaki dan menyerahkan Hinana pada Aoyama.


"Beratnya!! " pekik Aoyama. "Bagaimana dia bisa bersamamu?"


"Aku tak sengaja bertemu dengannya di kelap malam. Baiklah aku pamit dulu. Jaa mata." usai menyerahkan Hinana ke temannya Tsubaki lalu pergi.


"Kenapa kau bisa mabuk? Dasar merepotkan." tanpa pikir panjang kemudian Aoyama membawa Hinana ke apartemen milik Hinana sendiri.


...***************...


Keesokan harinya Hinana bangun dengan kepala yang sangat berat. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam, mendapati dirinya sudah ada di kamar apartemennya membuat pikir panjang namum sia-sia. Yang teringat hanyalah saat Hinana pergi ke kelap malam dan memesan sebotol sampanye.


"Aku akan terlambat lagi. Baikalah." ucap Hinana kemudian menginjakkan kakinya ke kamar mandi.


Saat berjalan ke parkiran ia baru teringat kalau mobilnya tertinggal di kelap malam. Mau tidak mau ia harus pergi naik bus. Hinana menghembuskan nafas dengan kesal saat menaiki busway karena sangat banyak penumpang dan tak bisa duduk.


"Ohayou, maaf aku terlambat." Ucap Hinana saat sampai di tempat kerjanya.


"Ohayou, tidak usah ditanyakan lagi Hinana memang sering terlambat." jawab Emi.

__ADS_1


"Oi apa kau sudah tak mabuk lagi?" tanya Tsubaki namun Hinana sangat terkejut karena ketahuan mabuk oleh Tsubaki, tak hanya Hinana yang terkejut Ren pun juga terkejut mendengarnya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Hinana dan menghampirinya.


"Kau masih belum ingat? aku yang mengantarmu pulang. Kau selalu saja menyebut nama Yukiatsu hingga terdengar panas di telingaku." Jawab Tsubaki menjelaskan semuanya.


Mendengar nama Yukiatsu membuat Hinana teringat apa yang terjadi semalam. Memang benar ia memikirkannya Hingga tenggelam dalam kesedihan.


"Kau masih memikirkan si brengsek itu?" Tanya Aoyama dan berdiri dari posisinya.


"Percuma saja kau jauh-jauh lari kemari jika masih memikirkan pria itu." Aoyama menasehati Hinana.


"Diamlah, kau pikir bisa semudah itu melupakannya? Lima tahun bersamanya bukanlah waktu yang sedikit." Hinana sedikit berteriak menjawab Aoyama, namun pandangannya tertuju pada Sawako. Ia tahu saat mendengar nama Yukiatsu bukan hanya dirinya yang terluka, tapi Sawako juga.


"Ku pikir kau mulai menyukai seseorang lagi?" ucap Aoyama.


"Memang, tapi perasaanku tak terbalas. Jadi aku merasa masih menyukai Yu chan. Tentangku dan Yukiatsu kau tak tahu apa-apa jadi jangan ikut campur. Gomenne." tanpa terasa air matanya mulai mengalir saat Hinana menjelaskannya. Sadar teman-temannya melihatnya Hinana segera keluar dan menuju ke rooftop.


"Kau benar, tidak semudah itu melupakannya. Waktu yang berputar saat bersama dengan orang yang kita cintai terasa sangat lama. Jadi mana mungkin bisa melupakannya dengan mudah". Ucap Aoyama dalam hati.


Mendengar apa yang di jelaskan Hinana membuat hati Ren terasa tertusuk pisau. Ia merasa selama ini yang di lakukan untuk Hinana sia-sia. Ren memutuskan untuk mengejar Hinana tapi langkahnya terhenti karena melihat Shota sudah berlari lebih dulu.


"Sawako genki desuka? (apa kau baik-baik saja)." tanya Ren seakan mengalihkankan pandangannya.


"Hum genki." jawab Sawako namun terlihat senyum getir yang ada di sudut bibirnya.


"Ne Sawako chan bagaimana kita akan mulai reviewnya nanti? Maksudku dimanakah view yang cocok untuk kameramennya?" Arumi langsung mengalihkan perhatian agar suasananya tidak canggung.


"Aku rasa menghadap ke barat, oh ya pastikan saat review kalian tidak perlu menyebut karya kalian yang telah di plagiat agar tidak ada perselisihan." Jawab Sawako lalu mengarahkan rencana besok. Arumi menghadap ke arah Ren dengan senyum seakan memberitahu agar tidak mengungkitnya lagi.


Sedangkan Hinana yang masih teringat membuat perasaannya kembali terluka lagi. Ia mengambil kalung berbentuk bunga salju yang di pakainya, kemudian melemparnya.


"Maafkan Tsubaki yang tidak bisa menjaga mulutnya." Ucap Shota yang mendekatinya.


"Bukan salah Tsubaki, aku bahkan masih ingat saat Tsubaki mengeja namanya di depanku." jawab Hinana.


"Aku lega bisa melihatmu lagi, jadi Tsubaki benar-benar mengantarmu dengan selamat."


"Kenapa kau bisa tahu?"


"Karena saat di kelap malam Tsubaki bersamaku, tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang karena aku harus membantu Ren pulang." Jawab Shota kemudian menuju ke kursi.


"Gomenne membuatmu khawatir. Kau melihatku mabuk semalam kan?"


"Tidak apa-apa. Ada kalanya tubuh kita sangat lemah, dan perlu hiburan untuk kembali melanjutkan kehidupan yang pahit ini."

__ADS_1


__ADS_2