Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
55


__ADS_3

Shota masih membiarkan Hinana mengusap air matanya. Hampir lima belas menit mereka tidak menyuarakan suara, hingga steak yang ada di depan mereka sudah tak panas lagi.


"Apa perlu ku pangggilkan pelayan untuk memanaskan steaknya?" tanya Shota memulai percakapan saat melihat Hinana mulai mengambil garpu dan pisau.


"Tidak perlu. Itadakimasu." tolak Hinana dan mulai memakannya.


"Itadakimasu." Shota pun juga ikut makan. "emm oishi."


"Hem oishine, meskipun sudah tidak panas lagi." balas Hinana dengan mulut yang masih di penuhi makanan. Shota yang melihat Hinana tersenyum lagi padanya merasa lega. Ia juga melempar senyum pada Hinana dan menghabiskan makanannya.


"Hinana bisakah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Shota saat selesai makan.


"Hem." Jawab Hinana dengan anggukan.


"Bagaimana keadaan Ren hari ini?" mendengar pertanyaan dari Shota membuat Hinana tertawa karena mengingat kejadian siang tadi. "Eh Doshite? (kenapa)"


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja ada kejadian yang menurutku lucu. Aku rasa Ren sudah baik-baik saja." Hinana menceritakan pada Shota keadaan Ren tentu saja saat perut Ren berbunyi saat meeting. Mendengar hal itu Shota pun ikut tertawa.


"Tapi apakah kau yakin bahwa Ren sudah makan dengan baik?" tanya Shota yang antusias dengan pembicaraan Hinana.


"Entahlah tapi Tsubaki bilang jangan khawatir. Jika kau masih ragu bisa tanya pada Tsubaki." jawab Hinana.


Tak pikir panjang Shota pun mengirimkan chat pada Tsubaki. Karena ia juga khawatir dengan keadaan adiknya.


" Ne Tsubaki, aku tahu jika perasaan Ren sedang tidak baik karena gagalnya festival itu. Tapi pastikan Ren untuk makan, karena di baru pulang dari rumah sakit." (Shota koizumi)


"Jangan cemaskan, aku juga akan menjaganya. Meskipun Ren mengatakan tak ingin makan apapun, tapi ia sudah menghabiskan dua mangkok udon. Jadi jangan khawatir, meskipun perasaannya tidak baik tapi nafsu makannya sangat baik." Balasan chat dari Tsubaki.


Hinana dan Shota membaca balasan dari Tsubaki bersama. Mereka berdua tertawa bersama dan terselimuti perasaan lega. Pembicaraan mereka kali ini tentang Ren. Karena Ren mereka berdua menangis dan karena Ren pula akhirnya tersenyum kembali.


"Sampai jumpa lagi." ucap Hinana saat sampai di depan apartemennya.


"Sampai jumpa lagi." Shota membalas ucapan Hinana dan melambaikan tangan saat Hinana masuk dalam gedung.


Setelah mengungkapkan apa yang menganjal di pikirannya membuat Hinana merasa lega. Ia berpikir selama ini berusaha untuk lari dari kenyataan tapi sebaliknya dengan Ren. Ren selalu berusaha untuk hidup. Mungkin esok ia harus berbaikan dengan Ren.


"Konbanwa." sapa Hinana pada Aoyama yang keluar dari lift.


"Konbanwa." balasnya singkat.

__ADS_1


"Apa malam ini kau akan kencan dengan pacarmu?" tanya Hinana karena melihat temannya sudah berpakaian rapi.


"Tentu saja. Daah Hinana." Jawab Aoyama dan keluar meninggalkan Hinana.


Satu lagi yang membuat perasaannya lega. Ia juga melihat teman semasa kecilnya sudah bisa hidup bersosialisasi dengan orang lain.


Dulu Aoyama terkesan nolep dan ingin menghabiskan waktunya sendiri. Karena Aoyama punya trauma berteman, saat SMP dia di bully teman-temannya. Karena itu hanya Hinana satu-satunya temannya. Mengaca dari kehidupan orang-orang yang di temuinya, ia mulai mendapatkan keyakinan untuk melanjutkan hidupnya dengan baik.


Pagi telah menyapa dan Hinana bergegas untuk pergi bekerja.


"Hinana." panggil seseorang yang Hinana kenal dan sedang menunggu di luar gedung apartemennya.


"Kenapa kau kemari?" tanya Hinana pada Ren.


"Apakah kau akan bekerja naik busway?" tanya Ren kembali dan menghampiri Hinana.


"Hem."


"Baguslah, aku ikut." Ren langsung menggandeng tangan Hinana dengan bersemangat.


"Memangnya kenapa dengan mobilmu?"


"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku ingin naik busway." jawab Ren. Seketika pikiran Hinana melayang karena mengingat bahwa sebentar lagi Ren akan meninggal. Pikiran itu memenuhi otak Hinana dan membuat kaki Hinana lemas dan tak sanggup berjalan lagi.


Ren menoleh ke belakang dan mendapati Hinana tersungkur di tanah jauh di belakangnya. Ia pun langsung menghampiri Hinana, karena melihat Hinana mengeluarkan air mata.


"Doshite? (kenapa?)." tanya Ren dan mengulurkan tangan membantu Hinana berdiri.


"Watashi wa genkidesu (aku baik-baik saja)." jawab Hinana tapi belum bisa menghentikan tangisannya, ia juga belum berdiri hingga satu bus melewati mereka berdua. Ren yang tak tega melihat Hinana menangis kemudian ikut duduk menyamakan posisinya dengan Hinana.


"Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ren kembali.


"Aku belum bisa percaya kalau kau mengatakan akan meninggal. Tapi aku selalu melihatmu baik-baik saja selama ini." jawab Hinana dan kembali menangis.


"Gomenne." Ren mendekati Hinana dan memeluknya. Berada di pelukan Ren tak membuat tangis Hinana terhenti, malah semakin pecah. "Hontouni gomennasai (aku benar-benar minta maaf)". Ucap Ren sekali lagi dengan memeluk tubuh Hinana.


*"Hinana sejujurnya aku tidak ingin mengatakan padamu karena aku tak ingin membuatmu menangisiku. Tapi aku tidak terus-terusan menyembunyikannya." batin Ren.


Setelah cukup lama memeluk Ren akhirnya Hinana mulai tenang dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Sudah lebih baik?" tanya Ren dengan ramah.


"Hem."


"Yokatta (syukurlah). Ayo pergi bus nya tidak lama berhenti." Ajak Ren dan menggandeng tangan Hinana untuk masuk kedalam bus.


Lima belas menit mereka sudah sampai di depan kantor. Sepanjang perjalanan ke ruangan Ren menceritakan bahwa naik bus tak seperti yang ia kira, Hinana yang mendengar hanya tertawa sedikit.


"Hinana terimakasih sudah menemaniku naik bus." Ren berterimakasih sebelum masuk ke dalam ruangannya.


"Douitashimashite." Balas Hinana dan menautkan senyum di bibirnya.


"Hinana chan, aku tidak suka jika kau melihatku seperti itu."


"EH."


"Maksudku jangan menatapku seperti itu, jangan pula memperlakukanku seakan besok aku mati. Aku tidak menyukainya, aku ingin menjalani hidupku dengan senang. Jadi berjanjilah."


"Hem Yakusoku (janji)." Jawab Hinana sekali lagi.


"Uhuk uhuk. Sepertinya aku terlalu pagi untuk datang." Tsubaki melewati Hinana dan Ren sehingga membuat mereka terkejut.


"Terserah kau saja." Jawab Ren dan langsung masuk ke ruangannya. Sementara Hinana tak mengatakan apapun ia langsung menuju ke meja kerjanya.


"Tunggu sebentar apa aku tidak salah dengar? Dia memanggilku Hinana chan, benarkah."gumam Hinana dan tersipu malu.


"Harusnya tadi aku tidak masuk ke kantor dulu." Tsubaki mengejutkan Hinana dan membuyarkan lamunannya.


"A-apa maksudmu?" Hinana pun tampak gugup membalas ucapan Tsubaki.


"Tidak perlu berbohong, sudah terlihat sekali wajahmu memerah."


"HAH."


"Kalian pacaran kan?" Pertanyaan Tsubaki membuat Hinana terhenyak kaget.


"T-tentu saja tidak, kemarikan file nya jika selesai." Hinana langsung mengambil dokumen yang di bawa Tsubaki. "Ne Tsubaki san, tidaklah kau berpikir untuk melanjutkan kembali festival itu, kalian bisa membuat baju dengan design baru." Ucap Hinana tiba-tiba, karena ia terpikir Ren.


"Emm sebenarnya aku sempat berpikiran ke arah situ. Tapi Hinana, prosesnya memakan waktu yang tidak sedikit. Sedangkan review nya juga dua minggu lagi." Jawab Tsubaki dan duduk di depan Hinana.

__ADS_1


"Ohayou, seperti kalian sedang asik." Sapa Emi yang baru saja datang dan langsung menghampiri Hinana dan Tsubaki.


"Ohayou gozaimasu. Aku dan Hinana sedang membicarakan tentang festival itu." Tsubaki spontan menjawab pertanyaan dari Emi.


__ADS_2