Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
8


__ADS_3

Esok hari seperti biasa Hinana berangkat bekerja.


"Onii-san jangan lupa bekalmu."


"terima kasih Keiko." ucap Hinana dengan tersenyum.


"eh kau terlihat bahagia hari ini, apa ada sesuatu."


"tentu saja, semalam aku puas bermain ice skating."


"eh tapi tangan Onii masih sakit."


"tidak apa-apa nanti akan sembuh dengan sendiri. Daah Keiko." Hinana berpamitan pada Keiko dan berangkat bekerja sama.


Sesampai di kantor seperti biasa Hinana melakukan pekerjaannya yang sangat padat. Hinana keluar masuk dari ruangan design grafis ke ruangan marketing.


TOK


TOK


TOK


"masuklah." ucap Ren.


"aku meminta tanda tangan persetujuan untuk permintaan dari Brand Comme des Garcons." Hinana memberikan sebuah dokumen.


"baiklah."


"eh apa itu."


"design baju musim panas." Ren kemudian menunjukkan baju yang setengah jadi di buatnya.


"Kawai..." ucap Hinana kagum karena terlihat simpel tapi elegan.


"benarkah?, aku membuatnya sendiri."


"iya. Baiklah terima kasih tanda tangannya. Saya permisi dulu."


"tunggu sebentar, bisakah kau memakainya." Ren menghampiri Hinana dan menyerahkan baju rancangannya.


"maaf aku tidak akan melakukannya. Saya permisi dulu." Hinana menolak dan pergi.


"kenapa dengannya? Apa dia bisa baik kalau bermain ice skating saja." gumam Ren.


"kau masih mendekatinya?" tanya Shota yang dari tadi memperhatikan Ren.


"jangan khawatir Shota dia tidak berbahaya. Shota kau bisa pakai baju ini. Aku ingin lihat dimana kurangnya."


"kau gila itu baju perempuan."


"hanya memakai sebentar."


"cari saja seorang wanita."


"kau tidak lihat Hinana menolaknya. Aku tidak ingin ada wanita lain yang memakai karyaku. Kau tidak lupa dengan janji mu kan?" Ren mendekati Shota dan menyerahkan baju miliknya.


Saat jam makan siang semua orang di ruang marketing di kejutkan dengan Shota yang memakai baju rancangan Ren.


"bagaimana? Apa ada yang kurang." ucap Ren dengan semangat memperlihatkan karyanya kepada teman-temannya.


"Shota mau saja kau di kerjai Ren." ucap Tsubaki dan mentertawakannya.

__ADS_1


"diamlah kau." Shota mengancam Tsubaki yang masih tertawa.


Hinana baru saja kembali dari toilet dan melihat Shota memakai gaun langsung tertawa karena tidak bisa menahannya.


Karena selama ini Shota terlihat maskulin ,tapi melihat memakai gaun buatan Ren terlihat aneh.


Semua orang di ruangan melihat Hinana, karena baru pertama kali melihatnya.


"Hinana." ucap Arumi yang terkejut.


"maaf, aku benar-benar minta maaf." Hinana berusaha menahan tawanya dan kembali mejanya.


Shota yang baru pertama kali melihat Hinana tersenyum membuat perasaanya tak karuan.


"eh Hinana kau ternyata bisa tertawa." sahut Tsubaki.


"bagaimana Hinana?" tanya Ren.


"eh apanya?"


"baju musim panas design ku?"


"terlihat bagus." jawab Hinana dengan menahan tawanya. Hinana melihat kearah Shota tampak matanya melihat Hinana tajam tapi tidak setajam tatapannya Ren.


"andai saja aku bisa memerkan karyaku di Tokyo Summer."


"kau ingin mengikuti festival itu."


"tentu saja, itu impian terakhirku karena hanya lima tahun sekali."


"aku kenal dengan produsernya."


"Hey Ren sampai kapan aku akan memakainya?" teriak Shota dengan kesal dan membuat seisi ruangan tertawa lagi begitu juga Hinana.


"maaf kau bisa melepaskan sekarang, tapi jangan sampai rusak. Aku akan membunuhmu jika satu jahitan terlepas."


"terserah kau saja." ucap Shota dan pergi meninggalkan teman-temannya.


"baiklah ayo pergi makan Ren, kami semua sudah lapar." ajak Emi.


"kalian duluan saja."


"baiklah, daah Ren." Tsubaki dan lainnya pergi meninggalkan Ren dan Hinana.


"ayo makan Hinana." Ren membuka bekal makannya dan ingin makan bersama Hinana.


"kau membawa makan siang."


"tentu saja, ibu dan ayah ku ada di jepang."


"aku biasa makan sendiri tapi baiklah karena waktu makan siang hampir selesai."


"aku minta banana milikmu." Ren mengambil buah pisang milik Hinana dan dengan cepat Hinana memukul tangan Ren.


"bisakah kau tidak memukulku, aku ini atasanmu."


"kau juga bisa kah bersikap sopan, ini separuh saja aku juga menyukai banana." Hinana memotong buah pisang dan membagi setengahnya pada Ren.


"terima kasih Hinana." ucap Ren dan memakan bekalnya.


Shota keluar dari ruangan dia melihat Ren dan Hinana makan bersama. Yang dikatakan Hinana benar bahwa Ren yang dari dulu mendekati Hinana. Tapi Shota menghawatirkan keadaan Ren saat dekat dengan Hinana.

__ADS_1


"Tuan Shota ." sapa Sawako saat bertemu di kafe.


"iya Nona Sawako, kau makan siang disini?"


"tentu, bagaimana jika makan bersama?"


"baiklah."


"Tuan Shota bolehkah aku bertanya sesuatu padamu."


"panggil saja aku Shota saat di luar, tentu saja."


"ini tentang Hinana." ucap Sawako, dan seketika Shota menghentikan makan siangnya.


"aku senang bisa melihatnya kembali, tapi Hinana sekarang sangat jauh dari yang ku kenal. Shota apakah Hinana sudah lama bekerja di kantormu?"


"emmm, entahlah. Aku baru satu bulan pindah ke Hokkaido."


"eh benarkah? Jadi yang selama ini memegang Koizumi Clothes ?"


"oh, perusahaan kecil ini milik adik ku Ren. Aku disini hanya membantu karena..... Oh iya seperti apa Hinana yang kau kenal."


"Hinana adalah gadis yang cantik, tidak hanya luarnya saja tapi dari dalam. Keceriaan Hinana membuat energi semangat bagi semua crew, termasuk aku."


"benarkah? Tapi Hinana selama ini sangat tempramental, menyebalkan ingin sekali aku menghajarnya." ucap Shota dengan meminum sodanya.


"aku yakin Hinana orang kuat, saat itu semua orang berfikir bahwa Hinana akan bunuh diri. Tapi semua orang salah, Hinana adalah gadis yang sangat tangguh. Jika aku jadi dia mungkin aku tidak akan sanggup dan memilih mati saja." Sawako begitu mendalam menceritakan sosok Hinana. Dan Shota melihat mata Sawako sudah sembab karena menahan air matanya.


"seminggu sebulum pernikahannya, mantan kekasih Hinana meninggalkannya dan menikahi sahabatnya Nanami Takamura. Dua orang yang ku kenal sangat akrab satu sama lain, ternyata ada penghianatan di balik semua itu.


Sebenarnya aku juga menyukai mantan kekasih Hinana saat itu, tapi saat aku tahu dia sudah berpacaran dengan Hinana, aku perlahan mundur. Hiks hiks maaf aku tak bisa menahannya." Sawako menceritakan semuanya dan menangis.


"tidak apa-apa. Pakailah." Shota memberikan sapu tangannya untuk Sawako.


"terima kasih, aku benar-benar minta maaf." Sawako menunduk dan menghapus air matanya.


Shota dan Sawako kembali ke kantornya setelah selesai makan siang. Shota melihat Hinana yang sudah kembali terfokus pada pekerjaannya. Shota mengingat jelas saat Hinana menertawainya.


"Aw.."


"maaf tuan Shota." ucap Emi dengan membawa setumpuk dokumen.


"banyak sekali yang kau bawa, ku bantu." Shota membanty merapikan semua berkas yang terjatuh.


"terima kasih tuan Ren."


"mau kau bawa kemana semua ini."


"Tuan Ren yang meminta." Emi membawa kembali setumpukan berkas. Shota melihat bahwa semua berkas mengenai festival Tokyo Summer Fashion.


"biar ku bawa saja, aku juga akan kembali ke ruangan."


"tidak perlu..."


"sudahlah, lanjutkan pekerjaanmu."


"terima kasih." Emi memberi hormat kepada Shota dan kembali ke mejanya lagi.


Shota masuk ke ruangan dan sudah ada Ren yang sibuk dengan komputernya.


"apa maksud semua ini." Shota agak meninggikan suara dan memberikan setumpuk dokumen.

__ADS_1


__ADS_2