Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
18


__ADS_3

Ren dan Hinana berbicara cukup lama, dan Hinana sudah menghabiskan satu potong kuenya. Sementara Ren hanya memandangi Hinana makan.


"Ren, pagi tadi ayahmu mengunjungiku. Dia meminta ku kembali bekerja."


"benarkah?, ku ucapkan selamat."


"tapi aku ragu tawaran itu, aku tidak tahu bagaimana pendapat orang-orang di kantor."


"kau takut?" tanya Ren dan Hinana hanya menunduk.


"Hinana, suasana kantor akan berbeda. Ayahku sendiri yang akan memimpin. Jadi lupakan yang dulu anggap saja pekerjaan barumu."


"bagaimana denganmu?"


"aku bekerja dari rumah, kau tidak akan bertemu denganku maupun Shota di kantor." Ren menjelaskan agar Hinana tak perlu khawatir.


Sebelumnya Ren juga sudah membicarakan hal itu dengan ayahnya, untuk sementara waktu perusahaan Ren akan di kendalikan ayahnya.


"baiklah." kata Hinana meskipun ada keraguan di hatinya.


Ren beranjak berdiri mendekati Hinana.


"Hinana kau hanya perlu mendengar kata hatimu, jika kau merasa ingin maka lakukanlah. Tapi kalau kau keberatan kau tak harus memaksanya." kata Ren dengan menepuk lembut kepala Hinana dlsebelum pergi.


Hinana masih terdiam memikirkan apa yang di katakan Ren. Sebenarnya ia bisa saja meminta ayahnya untuk memasukkan Hinana ke dapartemnnya, tapi Hinana tak punya keahlian dengan teknologi.


"halo, tuan Jouji Koizumi. Aku Hinana." Hinana menelepon ayahnya Ren.


"oh iya Hinana, ada apa? Kau sudah mengambil keputusan?"


"um, sebenarnya aku ingin kembali. Tapi aku takut dengan orang-orang di kantor, oh bukan maksudku..." Hinana bingung bagaimana harus mengatakannya pada Tuan Jouji.


"aku tahu, besok datanglah ke rumahku sebelum bekerja. Aku akan jelaskan pada semua orang."


"eh iya,"


"baiklah Hinana persiapkan dirimu untuk pekerjaan besok."


Hinana mengakhiri panggilannya, akhirnya dia akan bekerja lagi. Meskipun hanya perusahaan kecil ,tapI setidaknya Hinana mempunyai pekerjaan baru.


Menjadi model sebenarnya Hinana merindukannya, tapi kejadian dimasa lalunya yang membuat Hinana enggan untuk kembali.


**********


Keesokan harinya Hinana datang ke rumah keluarga Koizumi.


TING TONG


"kau." ucap Shota terkejut saat melihat Hinana begitu juga dengan Hinana.


"apa nona Hinana yang datang?" teriak tuan Jouji, kemudian menghampiri Shota dan Hinana.


"masuklah nona Hinana kami sedang makan pagi, ikutlah juga."


"maaf tapi aku tidak terbiasa makan pagi."


"aku tak ingin ada penolakan, masuklah." kata tuan Jouji.

__ADS_1


Hinana berpikir bahwa bahwa prilaku Ren sangat mirip ayahnya.


Mereka makan berempat, tuan Jouji dan istrinya serta Hinana dan Shota. Hinana tak melihat sosok Ren.


"ano... Apa Ren tidak sarapan?" tanya Hinana dan membuat semua orang terdiam.


"Ren sedang menginap di rumah temannya, apa kau teman dekat Ren?" Sheren menjawab pertanya Hinana dengan senyumnya.


"ah tidak." dengan perasaan malu kemudian Hinana melanjutkan makannya.


Hinana dan tuan Jouji berada di kantor. Tuan Jouji juga menjelaskan bahwa dia mengambil alih pekerjaan Ren, dan Hinana kembali bekerja.


"selamat datang kembali Hinana." sapa Arumi.


"terima kasih, mohon bantuanmu." jawab Hinana dan kembalinke meja kerja lamanya.


"Hinana maaf waktu itu aku tidak berlama-lama menjawab teleponmu." Tsubaki yang bersebelahan memberikan laporan baru untuk Hinana.


"tak masalah."


"apa waktu itu kau ingin membahas tentang kau kembali?"


"hem." jawab Hinana singkat.


"semua dokumen untukmu, kau masih ingat cara kerjanya kan?" Emi memberikan setumpuk pekerjaan pada Hinana.


"terima kasih Emi."


"kau jauh lebih baik Hinana, bekerja keraslah dan tetaplah bertahan di kantor ini." ucap Emi kemudian kembali ke mejanya.


Ponsel Hinana berbunyi mendapat pesan dari Ren.


""iya aku baru mulai hari ini.""


""syukurlah akhirnya kau kembali.""


""hem terima kasih sarannya. Berapa lama kau menginap ke rumah temanmu?""


""entahlah, ada apa?""


"aku ingin mengajakmu makan malam sebagai ucapan terima kasih." Hinana dengan senang ingin bertemu Ren. Tapi mengurungkan niatnya dan menghapus kata-katanya.


"tidak apa-apa. Baiklah aku kerja dulu."


Setelah pesan terakhir tidak ada pesan lagi dari Ren. Hinana kembali ke pekerjaannya.


Satu dua hari pekerjaan Hinana berjalan dengan lancar. Namun hari ketiga semua orang mulai membicarakan Hinana dari belakang.


Mereka menganggap Hinana mendapat perlakuan khusus dan menjadi istri simpanan tuan Jouji.


Itulah yang Hinana takutkan, dulu Hinana menjadi omongan semua karyawan karena Ren sangat perhatian padanya.


Hinana mengambil earphone dan memasang di telinganya.


"Hinana aku tahu sebenarnya kau mendengar semuanya. Kau hanya pura-pura mendengarkan musik." ucap Arumi dan semua orang melihat kearah nya.


"bagaimana Arumi tahu." pekik Hinana dalam hati. Hinana memutuskan untuk pergi ke atas.

__ADS_1


"Hinana, tunggu sebentar." panggil Tsubaki tapi Hiana tak memperdulikannya.


"biar aku saja Tsubaki." Arumi mencegah Tsubaki untuk mengejar Hinana.


Hinana mencoba menahan kesedihannya, harusnya ia tahu resiko jika ia kembali. Hinana memandangi langit yang mendung dan mencoba untuk kuat kembali.


"mau mendengarkan lagu bersama?." ucap Arumi yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya.


Hinana tak menjawab pertanyaan Arumi, namun Arumi langsung memasangkan earphone miliknya ditelinga Hinana.


Beberapa saat kemudian Hinana menangis karena tak bisa menahannya terlalu lama.


"Hinana kau baik-baik saja?" tanya Arumi karena baru kali ini melihat Hinana menangis.


"tenanglah Hinana."


"aku harus bagaimana? Semuanya menyakitkan untukku." jawab Hinana masih dengan tangisannya.


Arumi memeluk Hinana dan membiarkan Hinana yang masih menangis. Memang benar semua tak akan selesai dengan air mata, tapi setidaknya tidak menjadi beban.


"jangan lari Hinana, apapun yang terjadi kau harus menghadapinya." Arumi meyakinkan Hinana.


"tapi aku tak bisa."


"aku akan membantumu, terserah kau menganggapku teman atau tidak. Tapi kau temanku Hinana, aku akan membantumu."


Perkataan Arumi terdengar meyakinkan, Hinana menatap kearah mata Arumi mencari ketulusannya. Apakah bisa Hinana mempercayai orang lain lagi selain orang tuanya.


Sedangkan di sudut gedung tampak Shota sedang memperhatikan Hinana dan Arumi dari tadi.


Shota sengaja datang ke kantor diam-diam karena ia ingin melihat Hinana. Perasaannya sudah terpaku pada Hinana tapi tak dapat tersampaikan.


TOK TOK TOK...


"masuklah. Oh Hinana ada apa?"


"maaf Tuan Jouji bisakah kita melakukan kerja sama dengan brand Comme des Garcons lagi?"


"entahlah, kau sudah tahu semua? Sejak kerja sama di batalkan keuangan perusahaan kurang stabil. Aku juga kurang yakin apakah perusaan ini akan masih berdiri."


"aku mencoba menghubunginya lagi, bagaimanapun juga semua salahku."


"aku tidak menyalahkanmu Hinana, kita cari Client baru saja yang mau menutupi keadaan ini."


"aku akan bertanggung jawab. Tuan Ren kumohon izinkan aku memperbaiki semuanya." Hinana memohon dengan membungkukkan badan.


"aku Jouji bukan Ren."


"eh maaf, aku benar-benar minta maaf."


"jika kau berbicara dengan seseorang tataplah orang itu." tuan Jouji memberikan setumpukan berkas yang tebal.


"Baiklah ku izinkan, tapi jika memang tidak bisa carilah client yang mau membantu. Bagaimana pun juga perusahaan ini kerja keras Ren."


"baiklah aku akan berusaha. Terima kasih tuan Jouji." Dengan senyum semangat Hinana keluar dari ruang Direktur.


"anak yang tangguh." lirih tuan Jouji. Sebuah kertas di laci meja Ren, terlihat ada foto Hinana sewaktu di kereta.

__ADS_1


Jouji tersenyum karena sepertinya Ren benar-benar menyukai Hinana.


__ADS_2