
Aoyama paham apa yang dirasakan Hinana saat ini, tapi ia tidak bisa menghiburnya. Dari dulu Aoyama tidak pandai membuat susana yang menyenangkan.
"Akibat beraktivitas yang berat, pembulu darahnya memompa darah dengan kuat hingga akhirnya sedikit mengalami pembengkakan pada jantungnya." ucap Aoyama menjelaskan kondisi Ren. Karena Aoyama memang tipe orang yang menepati janji.
"Apa sering seperti itu?" tanya Hinana ragu.
"Hum, semua kerja jantung memang seperti itu. Hanya saja miliknya memiliki kelainan, jadi tidak bisa bekerja secara normal."
Mendengar ucapan Aoyama membuat Hinana memegang sumpitnya dengan erat hingga akhirnya patah. Ia mencoba menahan kesedihannya agar tidak terlihat.
"Jika semua orang bisa menyembunyikan emosinya, dia tidak akan bisa. Karena semakin ditahan kerja jantungnya semakin berat juga." ucap Aoyama kembali dan kali ini membuat air mata Hinana berhasil keluar.
"Mo yamete, yamete kudasai (tolong hentikan)." ucap Hinana dengan tangisannya.
"Orang-orang disekitarnya selalu menangis karenanya. Tapi mereka tidak memikirkan perasaannya, bagaiman ia mencoba menerima kenyataan." Aoyama masih saja mengucapkan kata-kata yang membuat Hinana sedih.
"Kumohon hentikan..." Hinana semakin terisak. Sejujurnya Aoyama juga menahan kesedihannya saat menceritakan semuanya pada Hinana.
Suasana menjadi hening, mereka berdua makan tanpa mengucapkan apapun hingga akhirnya semua makanan yang di sediakan dimeja sudah tak tersisa.
Hinana memilih langsung pulang ke apartemennya tanpa kembali lagi kerumah sakit.
Hampir tengah malam Hinana masih belum bisa tidur, ia masih tidak bisa melupakan perkataan dari Aoyama. Hingga akhirnya ponselnya berhasil menghentikan lamunannya.
" Moshi-mosi Hinana." ucap Arimura dari telepon.
"Hum, ada apa?"
"Anoo bagaimana keadaannya? Teman-teman di kantor shock saat mendengar kabar dariku." tanya Arimura dengan hati-hati.
"Aku tidak bisa menjelaskannya, terlalu menyakitkan untuk dikatakan." jawab Hinana dengan menahan air matanya agar tidak mengalir.
"Gomenne Hinana. Hey bisakah kau besok kembali di kantor? Teman-teman menantikanmu, aku tahu ini berat bagimu. Tapi mereka semua juga harus tahu tentang Ren."
"Wakatta (baiklah). Arimura, maaf aku harus segera menutup teleponnya." ucap Hinana dan mematikan teleponnya.
*Mereka semua harus tahu keadaan Ren, tapi aku sendiri tak akan sanggup mengatakannya.
__ADS_1
Keesokan harinya Hinana sudah ada di kantor dan bertemu dengan teman-teman lainnya. Ia juga melihat wajah Arumi yang habis menangis, wajar saja karena Arumi juga sangat dekat dengan Ren.
Hinana menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk menceritakan bagaimana keadaan Ren saat ini.
"Akan ku jelaskan kondisi Ren saat ini." ucap seseorang dan membuat semuanya terkejut.
"Sensei..." gumam Arimura karena melihat Aoyama tiba-tiba sudah ada diantara mereka.
"Jika ada yang tidak ingin mendengar makan bisa tutup telinga kalian." ucap Aoyama kembali.
"Katakanlah, bagaimanapun juga Ren adalah teman kami semua." Sahut Tsubaki.
Aoyama mulai menceritakan kondisi Ren dengan sama persis yang pernah ia katakan pada Hinana. Aoyama juga mengatakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika Ren tidak bisa melewati masa kritisnya.
Satu persatu dari mereka mulai meneteskan air mata, bahkan Aoyama juga sama. Meskipun ia tak terlalu kenal dengan Ren, tapi waktu dua minggu bersama membuatnya mengerti satu sama lain. Setelah mendengar penjelasan dari Aoyama, semua orang menjadi lemah dan kehilangan harapan. Hinana pun hanya bisa menyandarkan punggungnya di tembok.
"Apa kalian semua ada masalah?" tanya Jouji san yang masuk dengan tiba-tiba. Melihat semuanya orang hanya berdiam diri tentu saja membuat Jouji tahu kalau semuanya sudah tahu kondisi Ren.
"Oh ya, jika kalian semua melihat Shota atau bertemu dengannya. Tolong hubungi aku." ucap Jouji sekali lagi.
"Tuan Jouji, bisakah kami semua menjenguk Ren?" kali ini Emi bertanya pada ayah Ren karena semua orang hanya terdiam.
"Kalau boleh tahu apa yang Jouji san inginkan. Kami sebisa mungkin akan melakukannya." Balas Emi.
"Tolong selesaikan pekerjaan ini. Kumohon wujudkan impiannya. Yoroshiku onegaishimasu (mohon bantuannya)." ucap Jouji dengan menundukkan kepalanya.
Perkataan ayah Ren malah membuat suasana menjadi sulit dan menambah kesedihan. Mereka semua tidak ada yang berani menjawabnya.
"Maaf aku terlalu banyak bicara, silahkan selesaikan pekerjaan kalian." Jouji menyeka sisa air matanya kemudian kembali keruangannya.
Tanpa mengajak teman-temannya Aoyama langsung mengambil benang dan melanjutkan apa yang harus ia kerjakan. Hinana hanya tersenyum melihat kelakuan temannya, karena bisa sesantai itu menanggapi situasi saat ini.
"Baiklah kita mulai sekarang." ucap Hinana mengajak teman-temannya kembali bekerja.
"Hinana bisa bicara sebentar?" Sawako mengajak Hinana keluar karena ada sesuatu yang harus di bicarakan. Hinana mengikuti instruksi Sawako.
Sawako menyerahkan lembaran undangan formal untuk Hinana.
__ADS_1
"Tokyo?" pekik Hinana setelah membacanya.
"Hum, dengan situasi seperti ini bagaimana menurutmu? Aku tahu sangat berat saat situasi ini, tapi disitulah penilaian akhir." tanya Sawako.
"Kita semua akan pergi bersama, meskipun dengan atau tanpa Ren." ucap Hinana dan mencoba mengulas senyum di bibirnya.
"Ganbatte." Sawako memberi semangat untuk Hinana.
"Hum, Sawako arigatou (terimakasih) telah membantuku sejauh ini."
"Ngomong apa sih kau. Tapi aku senang." Sawako duduk di kursi sebelah balkon dengan wajah tersenyum.
"Eh. Doshite? (kenapa)." tanya Hinana dan menghampiri Sawako.
"Aku senang. Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana melakukan sesuatu untuk orang lain, rasanya bahagia sekali. Dulu aku selalu melakukan apapun sendiri dan untuk diriku sendiri. Tapi disini aku merasakan senang dan sedih bersama-sama." Sawako menceritakan perasaannya kepada Hinana dengan senang. Karena beberapa hari terakhir ia merasa kehidupan tidak kosong seperti dulu.
"Aku senang kau sudah berubah, bertemanlah dengan semua orang." ucap Hinana.
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Kini sudah dua minggu mereka bekerja tanpa Ren, dan Ren juga belum bangun dari masa kritisnya. Setiap hari Hinana selalu mengunjungi Ren kerumah sakit, meskipun hanya sebentar. Tapi kali ini Hinana akan pergi dengan teman-temannya ke rumah sakit untuk menjenguk Ren. Ia juga membawakan Yakitori dan okonomiyaki untuk Aoyama.
"Eh, banyak sekali." ucap Aoyama yang kerepotan menerima bungkusan makanan dari teman-temannya.
"Sebenarnya ini untuk Ren juga tapi ia masih belum bangun jadi kau habiskan saja." Jawab Tsubaki dengan menepuk bahu Aoyama.
"Karena keadaannya belum stabil jadi masih tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam."
"Wakatta (aku paham). Aku kemari untuk mengunjungimu."
"Eh Ore wa (aku)?." tanya Aoyama dengan bingung.
"Karena tidak bisa menemui Ren aku lebih baik menemuimu." Ucap Tsubaki dengan nada yang bercanda. Aoyama pun akhirnya tertawa kecil karena Tsubaki.
Sementara Hinana masih berdiri di depan pintu dengan melihat Ren yang masih saja belum bangun.
"Hey Hinana, kami akan pergi makan." sapa Arimura yang menghampirinya.
"Pergilah dulu nanti aku akan menyusul." jawab Hinana.
__ADS_1
"Baiklah. Jaa." Arimura menuruti perkataan Hinana lalu pergi.