Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
64


__ADS_3

Barang-barang yang ada di ruangan berserakan. Hinana hanya bisa menelan ludah karena ia sendirian yang harus membersihkan.


"Eh kenapa aku yang harus membersihkannya?" Tanya Hinana.


"Karena kau tak ikut kami makan siang. Jadi lebih baik kau yang bereskan." Jawab Tsubaki.


"Ogah, kau saja yang bereskan." Hinana kesal kemudian meninggalkan teman-temannya.


"Kau keterlaluan Tsubaki." umpat Emi.


"Aku hanya bercanda kok."


"Sudahlah biar aku saja yang bereskan. Kalian pergilah makan dulu nanti aku menyusul." Ucap Arumi dan tangannya mulai bergerak mengumpulkan manik-manik yang berserakan.


"Aku akan membantu." Emi segera mengumpulkan manik-manik yang berserakan.


"Sudahlah Emi, kau pasti lelah. Pergilah."


"Apa kau mau ku belikan sesuatu?" tanya Emi.


"Tentu saja, sudah pergilah. Pesankan aku sesuatu di resto." balas Arumi.


Sementara itu Hinana diam-diam pergi ke ruangan Ren tetapi tidak ada. Hingga akhirnya ia kembali ke ruang kerja.


"Arumi chan, kau bilang tadi Ren di ruangannya tapi tidak ada." ucap Hinana yang baru datang.


"Dia ada di pojokan." jawab Arumi sambil merapikan barang-barang.


"Kenapa kau bereskan sendiri? Tsubaki memang kejam ya." umpat Hinana.


"Tidak juga, aku sendiri memang yang ingin membereskan. Kau istirahatlah Hinana." Sebenarnya Arumi sudah paham maksud Tsubaki. Ia ingin membiarkan Ren berdua dengan Hinana, hanya saja waktunya kurang tepat.


"Aku akan membantu sebentar." ucap Hinana dan melipat kain yang baru saja di gunting beberapa bagian.


"Haik, sudah selesai. Hinana tolong kau letakkan di meja ya. Aku akan pergi makan, apa kau mau ikut." Ajak Arumi.


"Pergilah." Jawab Hinana dan menerima beberapa barang dari Arumi.


"Terimakasih sudah membantu. Bye-bye Hinana." Arumi melambaikan tangan pada Hinana kemudian pergi.


Saat Hinana meletakkan barang yang ada di meja, ia melihat Ren yang tertidur di kursi panjang. Hinana meletakkan secara hati-hati agar tidak membangunkan Ren, setelahnya ia pergi menghampiri.


"Dia tertidur seperti bayi." Ucap Hinana dengan pelan.


Perlahan Hinana membelai poni yang menutupi mata Ren dan saat itu angin berhembus membuat kelopak sakura jatuh di dahi Ren.


Hinana ingin mengambilnya tapi tiba-tiba tangan Ren menahannya.


"Ku kira kau tidur." Ucap Hinana terkejut.


"Memang. Tapi aku mencium aromamu."Ren menarik tangan Hinana sehingga membuatnya memeluk tubuhnya. "Kau tidak lelah?" tanya Ren yang masih menutup matanya. Sementara Hinana hanya diam, ia pun bersandar pada dada Ren. Ia juga dapat mendengar detak jatung milik Ren.


Suara deguban terasa seirama dengan deguban jantung miliknya. Hinana tidak bisa menyangkal bahwa jantungnya selalu berdebar-debar ketika Ren memeluknya. Akhirnya Hinana memutuskan memejamkan matanya. Aroma tubuh Ren juga bisa ia hirup sehingga terasa nyaman, dan tak berapa lama Hinana pun tertidur di pelukan Ren.


"Hinana chan, masih ingatkah kau saat kita pertama bertemu? Kau membuang syal warna merahmu yang bertuliskan. Saat kau membuangnya kembali, aku membawanya pulang." Ucap Ren dengan mengingat awal bertemu dengan Hinana

__ADS_1


Tapi lama tidak ada jawaban dari Hinana hingga terdengar suara dengkuran kecil dari Hinana.


"HAH, ternyata kau tidur. Baru kali ini aku merasa tidak diperhatikan seseorang." Gumam Ren dengan membelai rambut Hinana. Ia pun akhirnya menidurkan Hinana di kursi yang ia duduki dan menyelimuti dengan coat warna putihnya.


"Yo !! minuman untukmu." Tsubaki yang baru datang dan melempar sebotol air mineral untuk Ren.


"Arigatou." Tangkap Ren kemudian meminumnya. Ren sudah duduk di sofa dengan membuat pola untuk gaun yang baru.


"Apa kau membuatnya dari tadi?" Tanya Tsubaki dan mengampiri Ren.


"Tidak juga, sudah kubuat untuk yang atas. Tinggal bagian bawahnya." Jawab Ren dan tangannya masih sibuk menjahit.


Tsubaki juga melihat Hinana yang tidur di kursi panjang dengan coat milik Ren.


"Apa Hinana juga dari tadi tidur?"


"Tidak juga, biarkan saja. Lagi pula setelah ini jam pulang kita bersantai dulu saja."


"Wakatta. Lihatlah mereka kembali." Tsubaki menunjuk ke arah Arumi, Emi dan Sawako yang baru datang.


"Aku datang. Ren kau sudah lama mengerjakan semua?" Arumi langsung menuju manekin yang ada di depan Ren.


"Tidak juga, kalian bersantailah. Hey Sawako bagaimana menurutmu?" Tanya Ren menunjukkan baju dasar pada Sawako.


"Tidak begitu buruk, darimana kau dapatkan kain cashmere?"


"Dari sisan bahan kemarin. Yosh sudah selesai."


"Kau cepat sekali mengerjakannya." Puji Sawako dengan kagum.


"Dipojokan." jawab Tsubaki dan menoleh ke belakang. Emi dan Arumi melihatnya.


Nampak Hinana sedang tertidur pulas dan coat milik Ren di jadikan selimutnya.


Arumi yang memang selalu usil terhadap Hinana ingin segera menjahili. Ia mengambil payet bunga dan ingin menggosokkan di hidung Hinana.


"Jangan ganggu Hinana, Okey!." Ren yang tahu langsung mencegah Arumi.


"Dasar kau Ren menggagalkan rencanaku." ucap Arumi dengan kesal.


"Sudahlah apa kau tidak capek. Duduklah dan bersantai sebentar lagi waktunya pulang." Ren segera menggiring Arumi dengan memijat pundaknya.


"Hentikan Ren kau membuat pundak ku patah." Keluh Arumi dan mengibaskan payet bunga ke wajah Ren.


Dari dulu Ren memang suka menjahili Arumi begitu juga dengan Arumi. Dan tidak semua temannya tahu kalau Ren dan Arumi adalah saudara. Begitu juga Emi melihat keduanya bercanda, api cemburunya mulai tersulut.


"Kenapa kaliam berdua ribut sekali?" tanya Sawako.


"Dia mencoba mengganggu Hinana." Jawab Ren dan mendorong Arumi ke kursi.


"Aku hanya ingin lihat seberapa pulasnya Hinana tidur."


"Tidak boleh."


"Sepertinya kau sangat melindungi Hinana." ucap Sawako sekali lagi.

__ADS_1


"Tidak juga, aku kasihan sepertinya Hinana sangat lelah."


"Memang benar, dari tadi Hinana menguap saat di pabrik tekstil." Balas Emi.


"Baiklah aku akan berkemas untuk pulang." Ucap Arumi kesal karena Ren menghalanginya untuk menjahili Hinana.


"Aku pulang dengan mu." Ren mengucapkannya pada Arumi sehingga membuat Emi terkejut. Karena rumah Ren dan tempat tinggal Arumi berlawanan arah.


"Ren kenapa tak pulang denganku saja? Lagi pula kau dan Arumi tidak searah." Tanya Tsubaki.


"Emm ada sesuatu yang harus ku lakukan dengan Arumi."Jawab Ren dengan santainya.


"Aku pulang dulu. Jaa mata." Emi yang mendengarnya merasa kesal kemudian ia pamit untuk pulang duluan.


"Baiklah kalau begitu aku juga pulang. Sampai jumpa lagi." Sawako pun ikut pulang.


"Hem Arigatou. Kau banyak sekali membantu." Balas Ren dan mengucap terima kasih.


"Sudahlah, jika ada apapun jangan sungkan menghubungiku."


Sawako dan Emi keluar bersama, dan Tsubaki ikut menyusul keduanya. Sementara yang masih tersisa hanya Hinana, Ren dan Arumi.


Hinana terbangun karena karena Arumi memencet hidungnya berkali-kali.


"Apa tidurmu nyeyak tuan putri." Ucap Arumi dengan mengejek Hinana.


"Eh. Dimana yang lain?" tanya Hinana yang baru bangun dan membenarkan rambutnya.


"Sudah pulang, oh ya Hinana bisa kau buat lagi kelopak bunga seperti kemarin? Nanti sisanya akan ku buat seperti ini." Arumi menunjukkan payet bunga yang di buatnya.


"Tentu saja."


"Kau sudah bangun Hinana?" Tanya Ren yang baru keluar dari kamar mandi. Dan Hinana mengangguk.


"Pasti ulah Arumi yang mengganggumu."


"Gomenne." Jawab Arumi dengan tertawa kecil.


Hinana teringat bahwa tadi ia tertidur di pelukannya Ren sehingga membuat pipinya memerah.


"Eh ada apa Hinana?" tanya Arumi.


"Apa? Aku tak mengatakan sesuatu?"


"Pipimu sangat merah."


"K-kau mengarang saja. Ayo pulang." Hinana menyangkal perkataan Arumi.


"Baiklah hati-hati di jalan. Jangan lupa kau bawa ini." Arumi menyerahkan beberapa kain dan perlengkapan lain untuk di bawa pulang Hinana.


"Kau tak pulang?" tanya Hinana.


"Aku akan pulang dengan Ren, karena dia mengajakku makan malam. Kau mau ikut sekalian?"


"Eh tidak usah, baiklah mata ashita (sampai jumpa besok)." ucap Hinana kemudian pergi, ia juga melihat Ren melambaikan tangan padanya.

__ADS_1


*"Aku akan pulang dengan Ren, karena dia mengajakku makan malam." ucapan Arumi masih berbekas di ingatan Hinana. Entah mengapa perkataan itu membuat ia merasa sedih, apakah Hinana benar-benar menyukai Ren.


__ADS_2