Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
50


__ADS_3

Pagi sudah tiba dan sinar matahari berhasil menembus jendela kaca, sehingga membuat kamar Hinana menjadi terang.


TOK TOK TOK


"waktunya di periksa, apakah nona sudah bangun?" terdengar suara seseorang sepertinya itu perawat rumah sakit.


"iya." jawab Hinana dan tak butuh waktu lama seorang berpakaian dokter masuk kekamarnya.


"apa lagi yang terjadi padamu?"


"Eh Aoyama..." ucap Hinana terkejut karena yang memeriksanya adalah Aoyama.


"sudah stabil, sedikit memar, tak ada masalah di mata, selesai." celoteh Aoyama dengan tangannya memeriksa Hinana. "Hey ceritakan padaku bagaimana kau bisa tertimpa atap." tanya Aoyama dan sudah duduk di kursi mendekati Hinana.


"mana ku tahu jika atapnya akan runtuh." Hinana mendengus kesal.


"oh begitu, lalu kalian berdua dilarikan kerumah sakit bersamaan. Apa waktu itu kalian tertimpa bersama? atau kau sedang menyelamatkan seseorang?"


"HAH. Aku dengan siapa?" Hinana terkejut dengan cerita Aoyama.


"tentu saja kau dengan Ren, tapi sayangnya Ren masih belum sadar mungkin karena syok."


"Ren?" Hinana bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa yang terjadi pada Ren? Bukankah waktu tertimpa atap hanya dirinya saja. Apa karena Ren kecewa karena gaunnya ada yang meniru.


"baiklah, kau bisa istirahat dan cepatlah sembuh."


"Aoyama, Apa syok bisa membuat pingsan?"


"tentu saja. Itu bisa terjadi jika keadaan seseorang sangat lemah atau mempunyai penyakit. Daah Hinana aku harus kembali bekerja." jawab Aoyama sebelum meninggalkan kamar Hinana.


Hinana masih terbaring di ranjangnya dengan memikirkan ucapan Aoyama. Ia masih belum percaya jika dirinya dan Ren sama-sama di larikan di rumah sakit karena pingsan. Karena saat insiden itu hanya ia yang terkena reruntuhan atap. Apakah Ren shok karena festival itu. Ia tidak bisa berdiam diri ia ingin melihat Ren, sejujurnya ia khawatir.


"Hinana kenapa kau kemari? Kepalamu apa sudah baik-baik saja?" tanya Shota yang melihat Hinana berjalan di koridor.


"daijoubu (tidak apa-apa)." balas Hinana dan pandanganya melihat Ren masih terbaring dari luar jendela.


"dia belum sadar, aku berterimakasih karena kau menolong. Dan aku minta maaf karena menolongnya kau jadi terluka." ucap Shota dan menunduk pada Hinana.


"Anoo... Sebenarnya aku tak menolongnya. Saat kejadian itu hanya aku sendiri." ucap Hinana menjelaskan sebenarnya yang terjadi.

__ADS_1


"Eh?? Benarkah?" mata Shota terbelalak karena terkeju mendengar penjelasan Hinana.


Hinana juga menjelaskan jika gaun yang dibuat Ren dan teamnya sama persis oleh designer lain dan sudah di review.


"itulah mengapa aku tak pernah mengizinkan Ren, aku selalu melihat Ren mengahabiskan waktunya tiap malam. Ren selalu melewatkan makan malamnya dan hampir tak pernah sarapan. Jika ia normal tidak apa-apa tapi masalahnya Ren-..." Shota segera menutup mulutnya, hampir saja ia menceritakan penyakit Ren pada Hinana.


"apa yang terjadi pada Ren?"


"iie iie (tidak) ,kau tahu sendiri kan buktinya Ren sakit setelah kerja kerasnya."


"iya kau benar, sebagai kakak tentunya kau khawatir."


"sepertinya kau telah memperbaiki kameramu?" tanya Hinana seraya melirik camera yang menggantung di leher Shota. Ia mengajak Shota duduk di kursi tunggu karena merasa kepalanya sedikit sakit.


"oh ini dari Ren, sebenarnya aku tak ingin menerimanya. Karena sudah banya barang-barang yang kudapatkan darinya. Hanya saja kemarin Ren pingsan di Niseko, di bilang karena mendadak lelah berjalan setelah membeli kamera. Aku jadi tidak enak jika menolaknya."


"kemarin Ren juga pingsan?" tanya Hinana dengan terkejut. Karena kemarin ia juga bertemu dengan Ren di Niseko. Setelah pertengkaran itu Hinana langsung meninggalkannya jadi tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


"hem baru tadi pagi ia pulang dari sini, sekarang balik lagi. Hinana apa kau baik-baik saja?" tanya Shota karena melihat wajah Hinana mulai pucat.


"aku tak apa-apa." jawab Hinana melemah.


"aku tidak apa-apa, aku bisa kembali sendiri." Hinana memegang tangan Shota untuk mencegahnya memanggil perawat. Mendadak jantung Shota berdetak dua kali lebih cepat, karena baru kali ini Hinana menyentuhnya. Shota memang jatuh hati pada Hinana, tapi ia tak ingin mendekatinya saat berada dengan Ren.


Ia mengandeng tangan Hinana dan mengantarkan pada perawat perempuan yang baru saja lewat.


" sumimasen.. Bisakah anda mengantar temanku ke kamarnya. Maaf karena aku juga harus menjaga adikku."


"tentu saja, saya akan mengantarnya dengan senang hati." balas perawat tersebut dengan ramah. Kemudian mengambil sebuah kursi roda yang ada di sudut ruangan. "mari kuantarkan nona."


"arigatou." balas Hinana dan melepas pegangan tangan Shota, kemudian melambaikan tangan berpamitan pada Shota.


"sebenarnya aku sangat ingin mengantarmu, menunggumu hingga istirahat ,dan mengatakan segeralah sembuh besok. Tapi aku harus menahan diri karena tak ingin menghianati saudaraku sendiri. Aku tidak ingin bersaing dengan Ren, karena dia lemah." ucap Shota dalam hati dan memandangi kepergian Hinana.


Hinana sudah sampai kamar tempat ia dirawat, dan Aoyama sudah memeberikan obat untuk meredakan sakit di kepalanya. Tapi Hinana masih harus menjalani pemeriksaan esok hari, karena Aoyama ingin memastikan tidak ada cedera berat di kepalanya.


Hinana melihat ponselnya dan memandangi foto Ren yang menjadi layar depan. Terbesit perasaan bersalah karena telah mengatakan hal yang kasar pada Ren, padahal saat itu Ren mengahwatirkan dirinya. Hingga obat yang sutikkan ditubuhnya bereaksi membuat Hinana memejamkan matanya.


...*****************************...

__ADS_1


Kesokan harinya setelah menjalani serangkaian pemeriksaan. Emi datang mengunjunginya.


"bagaimana kabarmu Hinana?" tanya Emi dan membawakan sekotak cake.


"sudah lebih baik, tapi aku masih harus di rawat tiga hari lagi."


"yokatta."


"bagaimana dengan kalian?"


"mulai besok aku kembali bekerja di kantor." jawab Emi dengan ringan, meskipun terbesit perasaan kecewa.


" gommen, aku sedih dengan kegagalan kalian." ucap Hinana dengan asal ceplos.


"aku tidak apa-apa, tapi tahukah siapa yang paling menderita dengan kejadian ini?"


"Ren.."


"tentu saja semua tahu, tapi sebenarnya yang paling tertekan adalah Arumi. Dia menyerahkan surat pengunduran diri pada Tuan Jouji."


(flash back Arumi)


"matte (tunggu) Arumi chan." panggil Emi dan berlari mengejar Arumi. "Ne Arumi chan, kita bisa bicara baik-baik."


"apa lagi yang perlu di bicarakan?" Arumi terjatuh dan tak berniat untuk berdiri lagi.


"setidaknya jelaskan dulu yang terjadi." Emi menghampiri Arumi dan membantunya.


"aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Yang aku tahu bahwa semua akan berjalan baik-baik saja hingga akhir. Sekarang kalian pasti menganggap jika aku menjiplak, atau mungkin kalian mengira aku mencuri design dari grub Senkai."


"kenapa kau menuduhku?" Emi mulai kesal karena ucapan Arumi yang menyinggungnya.


"aku tidak menuduhmu tapi itu yang ada di pikiran kalian saat ini, begitu juga dengan Ren." ucap Arumi sekali lagi dengan menangis.


Emi mulai mengambil langkah mundur, karena merasa apa yang dikatakan Arumi benar. Memang saat ini ia berpikiran jika mungkin saja Arumi yang meniru. Karena dirinya selalu iri jika Arumi mendapat pujian dari Ren tentang design milik Arumi.


Emi mengurungkan niatnya untuk membantu Arumi, kemudian memutar arah dan pergi meninggalkan Arumi sendiri.


(back to time)

__ADS_1


"begitulah semuanya sudah terjadi." ucap Emi dan mengelap air matanya karena mengingat kejadian dengan Arumi.


__ADS_2