
(flashback)
Ryusei menghampiri Hinana saat sedang pesta dengan brand Dior. Tiba-tiba Hinana melihat Ryusei memukul Yukiatsu.
BRUUKK!!!!
"putuslah dengan Hinana." ucap Ryusei setelah memukul Yukiatsu.
"HAH mengapa?" Yukiatsu memegangi bekas pukulan Ryusei dan berdiri.
"kau akan malu jika menikah dengannya, putuslah sekarang juga."
"Ryusei pergilah kau membuatku malu." Hinana mengahapiri Ryusei dan menamparnya. Semua orang di club memperhatikan Hinana.
"kau malu baguslah. Kau tak pantas menikah, akan lebih bagus jika media merekam kejadian ini dan memberitakan..."
"""PLAAAAKKKK""
"Kau keterlaluan, aku tidak akan pernah memaafkanmu." Hinana menampar Ryusei lagi dan menggandeng tangan Yukiatsu untuk pergi.
(back to time)
Biiip
Biiip
Ponsel Hinana berbunyi, Keiko mengirim sebuah pesan dan fotonya jika sudah sampai di Tokyo.
""Hinana-san aku sudah sampai, oh ya ibu mengajakku ke rumah orang tuamu dan aku bertemu dengan kak Ryusei.""
Hinana hanya melihat foto yang dikirim oleh Keiko dan tanpa membalas pesan darinya. Sesaat ia memandangi lama foto Ryusei, adiknya yang dulu dikenal sangat bandel sudah tumbuh menjadi seorang yang dewasa.
"baiklah, kali ini makan malam di resto lagi." gumam Hinana dan mengambil coat warna abu lalu pergi.
Hinana menyusuri jalan dan memandangi pohon bunga sakura. Mengingat saat SMP dulu ia sering berlari dikejar adiknya, mungkin saatnya ia memaafkan Ryusei.
"Ren." panggil Hinana saat melihat sosok Ren berdiri di dekat lokasi ice skating.
"iya,"
"baru saja tadi sore aku mengantarmu pulang, kenapa kau sudah ada di sini. Kau sudah sembuh?"
"em sudah lebih baik, sedang apa kau kemari?"
"aku selesai makan, kau?"
"tidak ada. Hanya menikmati musim dingin terakhir."
"kau suka musim dingin?"
"tidak begitu."
"aku sangat menyukai musim dingin. Saat aku sedih, atau hatiku sakit bagiku musim dingin adalah obat yang bisa menyembuhkan."
"wakari masu (aku paham itu)."
"oh iya mau minum bersama, aku membeli beberapa kaleng bir."
"maaf aku menghindarinya."
__ADS_1
"oh begitukah, sorry."
"hem tidak apa, aku akan menemani kau minum jika kau mau."
"kalau begitu ayo duduk di sana." Hinana mengajak Ren untuk menjauh dari tempat ice skating.
Mereka menuju sebuah bar kecil yang tidak terlalu ramai.
"kau sudah membeli beberapa kaleng bir, mengapa masih pesan sebotol anggur?" tanya Ren saat sampai di bar.
"aku rasa tidak enak kalo aku minum sendirian. Kau pesanlah sesuatu."
"tidak perlu, jangan khawatir aku sudah terbiasa melihat orang lain minum."
"setidaknya pesanlah sesuatu untuk kau nikmati, baiklah aku saja yang pesankan."
"eh tidak perlu. Baiklah aku pesan air mineral saja."
"HAH kau yakin? Biar ku tambah sedikit camilan."
"terserah kau saja."
Sambil menunggu pesanan Hinana melihat ponselnya yang berdering, tampak Keiko melakukan panggilan video padanya.
"ada yang menelepon, kenapa tak kau angkat?"
"oh biarkan saja, Keiko melakukan panggilan video."
"angkatlah."
"tidak perlu, dia mungkin hanya menunjukkan jika sudah tiba di Tokyo. Ren aku ke toilet dulu."
"iya silahkan." jawab Ren.
"""Hinana kenapa tak angkat telponku, kak Ryusei ingin bertemu denganmu. Dia merindukanmu dan ingin minta maaf padamu."""
Pesan dari Keiko terlihat jelas di ponsel Hinana dan tak sengaja Ren membacanya.
"maaf menunggu lama, oh sudah datang pesanannya." ucap Hinana setelah selesai dari toilet.
"hem tidak apa. Oh ya Hinana sepertinya Keiko meneleponmu karena ada hal yang penting."
"biarkan saja." ucap Hinana dan memasukkan ponselnya di saku coatnya.
"Ryusei ingin bertemu denganmu." Hinana terkejut karena Ren menyebut nama adiknya.
"maaf aku tidak sengaja membaca pesan dari Keiko, dia bilang Ryusei ingin bertemu dan meminta maaf." lanjut Ren.
"biarkan saja, ayo makan. Aku sudah pesankan kue taiyaki yang enak."
"maaf tapi aku tak makan yang manis." tolak Ren. Sebenarnya Ren merasa cemburu karena ia menganggap Hinana masih berhubungan dengan mantannya.
"aku pesankan tidak manis, isian kacang merah dengan saus keju."
"oh thank you. Hinana boleh ku tanya sesuatu padamu?"
"hem." Hinana hanya mengangguk dengan memakan kue.
"siapa dia?"
__ADS_1
"hem siapa." Hinana tak mengerti siapa yang di bicarakan Ren.
"siapa?"
"maksudku siapa apanya?"
"Ryusei."
"oh dia adikku, sudahlah aku tak ingin membahasnya."
"jika hanya adikmu kenapa kau campakkan?"
"aku tak berhubungan baik dengannya, adikku sangat mengganggu. Aku membencinya dan tak ingin memaafkannya."
"maaf telah menanyakan hal yang tidak pantas."
"hem tidak apa-apa." Jawab Hinana dengan senyumnya.
Pertemuannya dengan Ren kali ini membuat Hinana lebih terbuka. Ia merasa mendapat kepercayaan diri lagi dari Ren.
Hampir dua jam Hinana bercerita pada Ren dan telah minum satu botol anggur. Hinana terlihat sangat mabuk berat.
"Hinana, Hinana apa kau bisa berjalan?" Ren menggoyang-goyang kan tubuh Hinana, tapi Hinana hanya tersenyum melihat Ren.
"oh tidak, seharusnya aku mencegahnya." gumam Ren dengan panik. Ia berusaha memapah tubuh Hinana untuk ke mobil.
Disepanjang perjalanan Ren selalu menjatuhkan Hinana. Bukan karena tubuh Hinana yang berat, tapi karena kondisi jantung Ren yang lemah. Ia harus berhenti dan menarik nafas dalam-dalam saat gelangnya berbunyi, lalu kembali menggendong Hinana lagi.
"sepertinya aku akan mati karena kau." keluh Ren dengan menggendong tubuh Hinana berjalan ke apartemennya.
"ah rasanya tubuhku sakit semua." ucap Hinana saat Ren berhasil membawanya ke apartemen.
Ren membaringkan Hinana ke ranjangnya lalu menarik nafas kembali.
"gommene Hinana, kau benar bahwa aku terlalu lemah. Bahkan aku tidak bisa melindungi orang yang kusayangi." ucap Ren tanpa sadar telah meneteskan air matanya.
Alasan kenapa Ren malam itu berada di Niseko adalah karena orang tuanya.
(flash back Ren)
Saat itu Ren sedang di periksa oleh ibunya. Ibu Ren sangat khawatir karena Ren pulang diantar Hinana dan baru saja dari rumah sakit. Terdengar suara mobil Shota yang terparkir, Ren segera membereskan bukunya dan masuk kamar karena tak ingin berdebat dengan kakaknya.
"Shota dari mana saja kau?" tanya Sheren ibunya yang menghampiri Shota.
"aku baru saja mengambil gambar yang bagus, ada apa?" tanya Shota sambil memperlihatkan camera yang di bawanya.
PYAARRR
Ibunya membanting kamera Shota, Ren pun yang berjalan menujun kamar terkejut karena suaranya.
"apa yang kau lakukan Mom." teriak Shota histeris dan memunguti pecahan kameranya.
"kau bilang ada apa? Kau tak tahu adikmu jatuh sakit lagi, seharusnya kau jaga dia. Kau malah buang-buang waktu memotret."
"Mom kau menyebutnya buang-buang waktu? Aku juga ingin mengejar impianku."
"impianmu tidaklah penting, karena egoismu kesehatan terancam." Sheren semakin meninggikan suara sehingga membuat Shota tercengang.
"begitukah." gumam Shota dengan menahan tangisnya. Tangannya meremas saku celananya seakan menahan amarah dan sedihnya.
__ADS_1
"jika terjadi apa-apa lagi dengan Ren semua ini salahmu." ucap Sheren dan pergi dari hadapan Shota.
Ren melihat semua yang terjadi dari lantai dua. Ia hanya diam tidak bisa melakukan apapun, kali ini ia benar-benar merasa ibunya sudah keterlaluan. Semuanya bukan salah Shota, ia juga ingin hidup seperti kebanyakan orang.