
..."Aku akan mengingatnya, semuanya akan ku gambar di pikiranku. Bunga sakura yang bermekaran, sejuknya udara musim semi," (Ren Koizumi)...
...--------------------------------------------------------------------...
Aoi menerima bunga krisan dengan sangat senang. Karena beberapa tahun ini ia tak pernah mengunjungi saudaranya yang telah meninggal.
"Eh terimakasih, indahnya. Apa kalian akan pergi, pergilah saja." Aoi menghirup bunga krisan yang baru saja ia terima dari Ren.
Hinana mencegah ayahnya menutup pintu apartemennya. Ia mengambil bunga krisan dari tangan ayahnya.
"Aku pergi dulu." ucap Hinana dan menggandeng tangan Ren untuk pergi menjauh dari apartemennya.
Mereka berdua belum tahu tujuan akan pergi kemana, karena hari minggu tentu saja kantornya libur.
"Kenapa kau mengambilnya?" tanya Ren.
"Oh ini, sebenarnya aku membencinya."
"Aku tidak memberikannya padamu. Ayahmu terlihat sangat menyukainya." Ren mengikuti langkah Hinana yang berhenti, kemudian duduk di bangku tepi jalan.
"Aku membencinya karena ayahku akan menemui dosanya ketika mendapatkan bunga ini."
"Maaf, tapi aku tidak mengerti apa maksud Hinana." Ren tertawa kecil dan menggaruk kepalanya.
"Hem tidak ada apa-apa, hari ini kita mau kemana?" tanya Hinana tapi Ren malah mengernyitkan dahinya.
"Eh doshite (kenapa)?" tanya Hinana sekali lagi lalu mereka berdua sama-sama tertawa karena belum merencanakan akan pergi kemana.
"Hinana akan kemana? Aku mengikuti saja."
"Sebenarnya aku akan menjengukmu di rumah sakit. Lalu aku terkejut saat kau tiba-tiba muncul di hadapanku. Tunggu sebentar." Hinana langsung membuka pergelangan tangan Ren dan melihat ia masih memakai gelang rumah sakit.
"Sudah kuduga." pekik Hinana dan Ren hanya tertawa seperti anak kecil yang ketahuan mencuri.
"Baiklah aku akan membawamu ke tempatku." ucap Hinana dan menyuruh Ren mengikutinya.
Hinana mengajak Ren ke basket indor tempat dimana ia biasanya menghabiskan waktunya.
"Kau menyukai basket?" tanya Ren dan memberikan bola basket pada Hinana. Meskipun ia tidak bermain, tapi Ren cukup.senang menemani Hinana.
"Emm tidak juga, tapi akhir-akhir ini aku sering kemari." jawab Hinana.
"Sendirian?"
Pertanyaan Ren kali ini membuat Hinana bimbang menjawabnya. Mana mungkin ia mengatakan kalau sering kemari dengan Shota.
"Apa sebelum pergi kau menemuinya di sini, onichan (kakakku)."
__ADS_1
Bola basket yang sedari tadi dipegang Hinana tiba-tiba terjatuh. Hinana terkejut, bagaimana Ren bisa tahu jika Shota pergi meninggalkannya.
"Aku dan Shota juga sering kesini kok, tapi saat ada sesuatu yang membuat hatiku tertarik di tempat ski jadi aku lebih sering kesana. Syukurlah jika Shota sudah menentukan impiannya, aku harap dia akan berhasil." ucap Ren dan memungut bola yang menggelinding tidak begitu jauh.
Hinana merasa bersalah karena menyembunyikan kepergian Shota pada Ren. Tapi jika Ren sudah tahu yang sebentar, mengapa ia tidak marah padanya.
"Anoo, gomen'nasai (aku minta maaf)." Hinana memegang tangan Ren saat melihat Ren akan pergi. Ia mengucapkan minta maaf dengan menundukkan kepalanya seakan tak berani melihat kearah Ren.
"Aku tak bermaksud menyembunyikan apapun, tapi... tapi.."
"Tapi kau melindungiku. Arigatou (terimakasih) Hinana chan." Ren memotong ucapan Hinana yang sedikit terbata-bata. Karena Ren mengingat perkataan Aoyama pada saat di kamarnya.
"Hinana melihatmu tersedak dan kesulitan bernafas. Tahukah Ren, saat itu aku melihat tangan Hinana yang gemetar memegangi ponselnya. Kejadian itu sama persis saat dua belas yang lalu, ketika Hinana memberitahu bahwa ibuku meninggal bunuh diri. Lalu aku bilang padanya untuk jangan katakan."
Ren mengukir senyuman di bibirnya, ia berusaha meyakinkan Hinana bahwa dirinya baik-baik saja.
"Darimana kau mengetahuinya?" tanya Hinana dengan sedikit ragu.
"Bukankah Shota mengirimkan voice note padamu? Aku sudah mendengarnya. Kali ini aku akan mendukung keputusan Shota."
"Maaf Ren." Gumam Hinana dengan menundukkan kepala, meskipun ia tahu Ren sudah baik-baik saja.
"Daijoubu (tidak apa-apa) Hinana, kau tak perlu cemaskan aku. Lihatlah aku sudah baik-baik saja kan."
Kali ini Ren melebarkan senyumannya dan membelai rambut Hinana dengan lembut. Meskipun ia sempat kecewa, tapi akhirnya Ren tahu bahwa selama ini Hinana selalu mengkhawatirkannya.
"Padahal aku juga tidak tahu apa isi voice note itu, aku belum mendengarnya sama sekali." ucap Hinana dan membereskan bola yang berserakan pada keranjang.
"Aku sudah bicara pada ayahmu, kami akan pergi ke Tokyo pekan depan." Hinana memberitahu Ren saat selesai menyantap ramennya.
"Ahhh senangnya, akhirnya aku bisa ke Tokyo lagi."
"Eh, apa maksudmu? Hanya kami berempat yang akan pergi." ucap Hinana segera.
"Kenapa kalian berempat? Bukankah ada lima orang." Ren menyangkal ucapan Hinana meskipun ia tahu bahwa ayahnya tak memperbolehkan ikut.
"Ren, kau tak mungkin kesana. Ayahmu juga tidak memberimu izin." Hinana menggaruk kepalanya karena kesal. Sudah pasti Ren akan merajuk untuk ikut.
"Desainku, gaunku, dan perusahaanku. Jadi tidak ada alasan kau melarangku pergi." Ren mengernyitkan dahinya sambil menatap Hinana dengan tajam.
Sementara Hinana hanya bisa membenturkan kepalanya di meja dan akhirnya bersandar.
"Sudah kuduga." gumam Hinana dan membuang nafas kasar. Ren yang melihatnya hanya tertawa sendiri.
Ren meminta Hinana untuk mengantarkan ke rumah sakit. Tidak biasanya ia kembali secepat ini, bahkan Seto pun yang melihat ikut terkejut.
"Eh kenapa?" tanya Seto saat melihat Ren masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa apanya?" jawab Ren dan mengganti bajunya dengan pakaian rumah sakit.
"Ren aku dengar kau ada masalah dengan Aoyama? Tolong maafkan dia, akan ku pastikan tidak akan terjadi lagi."
Seto sudah mendengar dari perawat Kishi yang sering merawat Ren sewaktu di rumah sakit. Ingin ia menegur Aoyama, tapi Seto masih melihatnya sedang sibuk mempersiapkan operasi.
"Sokka (begitukah)." ucap Ren yang asal keluar dari mulutnya, ia merasa tak peduli dengan masalah itu.
"Sensei, aku akan beristirahat selama beberapa hari. Tapi kau harus janji untuk keluarkan aku dari sini."
Ren membaringkan tubuhnya di kasur, ia sudah merencanakan akan pergi ke Tokyo.
"Apa ada sesuatu?"
"Itu rahasia." Jawab Ren dan tertawa kecil.
"Baiklah, istirahatlah." ucap Seto dan keluar dari kamar Ren.
Melihat Ren yang sering tertawa dan selalu menjahilinya, tentu saja membuat Seto terkejut saat perawat Kishi bercerita bahwa Ren menangis. Tak ingin masalah berlarut, Seto segera pergi menemui Aoyama untuk menegurnya.
"Aoyama sensei, apa kau sedang sibuk?" sapa Seto saat bertemu Aoyama di koridor.
"Tidak begitu, hanya tinggal membereskan alat operasi. Ada apa?"
"Datanglah ke ruanganku kalau sudah selesai, ada yang ingin aku bicarakan." Jawab Seto lalu pergi.
Aoyama menundukkan kepalanya seakan mengiyakan perintah dari seniornya.
Sepuluh menit kemudian Aoyama sudah berada di ruangan Seto. Ia juga memberikan catatan medis pasien yang mempunyai penyakit jantung yang barusan ia periksa hari ini.
"Nee Aoyama aku langsung saja berterus terang padamu, aku sudah dengar semuanya dari perawat Kishi. Ada apa? Bisakah kau bersikap lebih sopan pada pasien? Aku tahu kau sulit menarik simpati para pasien, tapi kau tidak pantas mengkritik pasien."
Seto benar-benar menegur sikap Aoyama. Meskipun ia juga sering kesal dengan sikap Ren, tapi sebagai seorang dokter harusnya menegur pasien dengan pelan.
"Tidak seorang pun melihat Ren menangis, bahkan waktu aku mengatakan jika sisa hidupnya tinggal tahun ini. Tapi hari itu Kishi san melihat Ren menangis dengan tubuh yang sangat lemah, apa yang terjadi sebenarnya? Mereka semua sudah merasa sedih dengan penyakit yang dideritanya, jadi kumohon jangan membuat tindakan yang menyakitkan lagi. Kumohon Aoyama sensei."
Ucap Seto kembali dan memohon Aoyama untuk menyadari perbuatannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
like + coment ya please.