
Pagi telah menyapa, hari ini Hinana bangun dengan perasaan yang baik. Karena yang pertama ia lihat adalah lukisan dirinya.
Hinana mempersiapkan bekal makan siangnya sendiri kemudian berangkat ke kantor.
"Ohayou..." sapa Ren tepat di depan pintu saat Hinana membukanya.
Hinana merasa terkejut dan menutup lagi pintunya.
"Oh God sepertinya aku sudah gila." gumam Hinana dan menggaruk kepalanya. Dari kemarin pikiran Hinana masih tentang Ren. Kali ini Hinana beranggapan masih mengigau tentang Ren.
"Ohayou Hinana." sapa Ren kembali, baru saja Hinana akan menutup pintu Ren mencegahnya.
"tunggu sebentar,.."
"ini beneran kau Ren?"
"Hah apa maksud mu?"
"tidak ada. Kenapa kau kemari?"
"mengajakmu berangkat bersama."
"kau ini memang seenaknya sendiri, apa kau sudah benar-benar sembuh?"
"hem." Ren hanya mengangguk.
"aku tak ingin kau tiba-tiba pingsan lagi."
"maaf merepotkanmu, sebenarnya aku masih sering pingsan jika kelelahan. Tapi aku bosan jika tidak bekerja."
"jika aku jadi kau pasti akan istirahat sampai benar-benar sembuh. Ah sudahlah ayo kita berangkat kau yang menyetir." Hinana melemparkan kunci mobilnya ke arah Ren.
Disepanjang perjalanan Hinana mendengarkan musik karena tak ingin mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang karena Ren.
"kau juga suka lagu ini Hinana?" tanya Ren saat lagu Ai uta terputar pada mobil Hinana.
"tidak juga, Arumi yang memberiku flashdisknya."
"aku suka lagunya, membuatku semangat."
"kau memakai jam tangan itu?"
"hem, terima kasih."
"sudah kuduga memang cocok kau pakai."
"sebenarnya aku tak terlalu suka memakai jam tangan, karena memakai jam akan selalu mengingat tentang waktu. Sudah sampai, kau bisa turun dulu."
"berikan kuncinya nanti." ucap Hinana dan keluar dari mobilnya.
Ren akan keluar sepuluh menit setelah Hinana, karena Hinana tak ingin terlihat berangkat bersama.
Saat Hinana masuk kedalam hanya ada Tsubaki karena masih jam 8 pagi.
"selamat pagi." sapa Hinana.
__ADS_1
"selamat pagi, tidak biasanya kau berangkat jam segini."
"ada yang harus aku bereskan sebentar."
"oh ya Hinana mengenai Tokyo Summer ikutkan aku dalam team mu." Tsubaki merengek agar Hinana mengapulkan permintaannya.
"tanyakan saja pada Ren."
"ayolah Hinana, aku tidak akan mengecewakan mu. Aku berbakat dalam hal apapun."
"apa yang kalian bicarakan?" tanya Arumi yang baru tiba.
"oh aku menyuruh Hinana untuk segera membentuk Team." jawab Tsubaki.
"maaf teman-teman biar ku jelaskan, pertama aku sama sekali tak mengerti tentang design. Kedua project itu punya Ren, jadi biar Ren sendiri yang mengatur. Kalian paham!!!" Hinana mencoba menjelaskan pada kedua temannya yang dari tadi merayunya.
"begitukah." Tsubaki yang akhirnya mengerti kemudian pergi dari meja kerja Hinana.
"selamat pagi."
"Ren kau kembali?" Tsubaki langsung menghampiri Ren dan memeluknya.
"tentulah, ayolah kawan tak perlu berlebihan." dengan malasnya Ren membalas pelukan Tsubaki.
"bagaimana keadaanmu, kau sudah benar-benar sembuh."
"hem bisa kau lihat sendiri."
"aku serius Ren." ucapn Tsubaki dengan penuh harapan, karena ia tahu penyakit Ren tidak biasa.
"kau berlebihan kawan. Setidaknya kau sudah melihatku lebih baik kan."
"oh ya kau juga team ku di Tokyo Summer, apa ada lagi yang mau iku." Ren segera menutup mulut Tsubaki dan mengalihkan pembicaraan. Tsubaki hanya dia karena akan kelepasan membicarakan penyakit Ren.
"aku juga." dengan semangat Arumi mengangkat tanganya.
"tentu saja Arumi kau tidak pernah mengecewakanku."
"kita sudah punya lima orang, kurang satu orang lagi Ren." Hinana menyerahkan semua materi mengenai festival itu yang baru di cetaknya.
"bagaimana kalau mengajak Emi. Meskipun dia ahli di bidang marketing, tapi dia juga pandai menjahit." sahut Arumi.
"baiklah, tapi dimana dia." tanya Hinana.
"dia izin karena menghadiri wisuda adiknya." jawab Tsubaki.
"baiklah kalian kabari dia, Hinana kau cetak materi ini untuk masing-masing orang. Nanti kita akan bahas setelah dapat kabar dariku." ucap Ren kemudian masuk ke ruangannya.
Hinana segera menuruti perintah Ren untuk mencetak materinya. Namun ia tadi juga mendengar percakapan Tsubaki dan Ren. Tentang penyakit dan Tsubaki seolah-olah terjadi sesuatu pada Ren.
"ini untukmu." Hinana memberikan materi pada Arumi.
"oke thank's. Oh ya Hinana, punya Emi letakkan saja di mejanya."
"hem. Ini untukmu. Tsubaki apa terjadi sesuatu pada Ren?" tanya Hinana dengan memberikan materi pada Tsubaki.
__ADS_1
"sesuatu apa maksudku."
"entahlah tapi ku lihat kau menghawatirkan Ren."
"ahh soal itu, aku melihat daftar pemerikasaanya dan Ren tidak bisa kerja terlalu keras."
"kenapa?"
"karena...... karena Ren punya tifus. Kau tahu sendiri bagaimana Ren kalau bekerja, dia jarang istirahat bahkan dirumah." Tsubaki pun mencari-cari alasan untuk menjawab Hinana.
"begitukah."
"hey sejak kapan kau mulai peduli pada orang lain?"
"aku tidak peduli pada siapapun." Hinana kembali ke tempat kerjanya, sementara Tsubaki masih tertawa melihat perubahan sikap Hinana.
Ren mengatur pekerjaannya, kali ini perusahaannya di kendalikan oleh ayahnya dan Staf pembantu lainnya. Dan Ren terfokus pada festivalnya, sebenarnya Ren agak curang dengan ayahnya. Karena seluruh staf marketing yang terbaik ia jadikan team, sementara ayahnya membimbing staf marketing pembantu.
Setelah selesai kerja Hinana dan yang lain berkumpul di rumah Tsubaki. Mereka akan memulai tema dan pembuatan baju.
"baiklah langkah pertama, masing-masing orang harus membuat design baju. Design yang paling kompenten itulah yang di pakai." ucap Ren yang menjelaskan.
"anoo, aku tidak berpengalaman dalam design baju. Apakah aku juga?" Hinana mengangkat tangannya dan bertanya. Karena sebenarnya tidak ada keahlian yang dimilikinya.
"buatlah yang kau bisa, jangan melihat pada internet. Buatlah sesuai imajinasimu." jawab Ren dan tersenyum pada Hinana.
"oh ya Ren berapa lama waktu yang diberikan membuat design?" tanya Arumi.
"emmm, aku rasa satu minggu cukup."
"HAH apa kau gila? Kita membahas festival ini saja saat waktu luang." Tsubaki terkejut, karena membuat design baju tak semudah membalikkan telapak tangan.
"maaf maaf aku belum memberi tahu kalian. Kita maksudku satu team akan fokus pada festival ini. Untuk masalah kantor ada tuan Jouji dan staf marketing lainnya yang menghadle."
"jadi maksudmu kita tidak bekerja lagi."
"kau benar Arumi, hanya sampai festival ini berakhir."
"tapi Ren apa kau yakin dengan keputusanmu ? Maksudku perusahaan hampir posisi diatas angin. Bagaimana jika menurun?"
"tenanglah aku percaya ayahku bisa mengatasi semuanya. Baiklah kembali ke langkah awal." Ren tidak begitu menghawatirkan perusahaannya.
Sebenarnya alasan Ren membangun perusahaannya untuk ayahnya. Karena ayah Ren bekerja di Paris sebagai designer dan karya ayahnya selalu tidak di prioritaskan. Tapi saat ada yang brand yang memakai, atasan ayahnya mengklaim bahwa itu karyanya.
Dengan punya usaha sendiri, Ren yakin bahwa ayahnya bisa membuat design baju dan bisa dipasarkan sendiri. Meskipun belum bisa bersaing dengan brand ternama lainnya.
"apa kau sangat lelah Hinana?" tanya Ren yang melihat Hinana tampak kelelahan.
"tidak."
"lalu kenapa?"
"aku bingung, aku tidak pernah menggambar baju sebelumnya. Bahkah kali ini kau menyuruhku membuat design baju. Aku sama sekali tidak memahaminya."
"kalau begitu apa bakat yang kau miliki?"
__ADS_1
"entahlah, aku juga tidak tahu. Kalau buka karena teman ayahku aku mungkin tak bisa bekerja di kantormu."
"kalau begitu kenapa tak kembali di dunia modeling ? Kau sangat berbakat dalam hal itu." ucapan Ren membuat Hinana tediam. Meskipun sudah sampai di parkiran apartemennya Hinana belum juga turun.