
Hinana merasa bersalah menanyakan hal itu pada Shota. Tapi tampaknya Shota merasa biasa saja, dan tidak frustasi.
"maaf." ucap Hinana.
"tidak masalah, aku sering kemari dengan Aoyama. Tapi hari ini dia sedang shift malam. Kalau kau?"
"tidak begitu, jika banyak pikiran aku sering ke Niseko. Tapi sudah hampir musim semi tentu tidak indah lagi kesana."
"kau suka ke sana. Emm sama dengan Ren, entah apa yang ia pikirkan padahal Ren tidak tahan dengan udara dingin."
"Ren sering kesana?"
"hem, kami selalu bermain ice skating. Ren mengajariku, tapi aku begitu payah. Jadi saat kesana aku lebih sering melihat Ren bermain."
"tunggu, kau bilang Ren selalu bermain ice skating?" Hinana sangat terkejut mendengar cerita Shota. Karena saat ia mengajak Ren bermain ice skating Ren selalu menolak , dan mengatakan jika dirinya tidak bisa sama sekali.
" iya, saat di Paris Ren pernah ikut festival saat musim dingin. Ada apa Hinana?"
"eh tidak apa-apa. Maaf aku tidak bisa membantumu mencari pekerjaan. Karena saat aku kemari, semua yang berhubungan dengan dunia modeling sengaja ku putus."
" tidak masalah, lagi pula mungkin aku juga tidak bisa jadi fotografer." ucap Shota lalu mengangkat telepon dari ayahnya. Dan beberapa saat terlihat wajah panik Shota.
" Hinana, maaf aku tak bisa menemanimu." ucap Shota lalu pergi setelah berpamitan.
Hinana masih duduk terpaku dengan memegang botol airnya. Tanpa sadar air matanya mulai turun. Ada berapa kebohongan yang di buat Ren?
Pandangannya beralih ke ponselnya dan melihat foto Ren yang menjadi walpapernya.
Ia juga mengingat saat Aoyama mengatakan bahwa saat itu Ren juga sedang sakit. Tapi ia memaksakan diri untuk menemani Hinana operasi.
...**********************...
Keesokan harinya Hinana terbangun karena kepalanya terasa pusing. Semalam ia menangis karena memikirkan Ren.
"mulai besok, aku tidak akan menjemputmu lagi." ucapan Ren semalam masih teringat di kepala Hinana.
Ia mulai keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Hinana menyiapkan sarapannya sendiri. Sesekali ia melirik ke kursi yang ada di depannya. Ia mulai merindukan Ren, mungkin rasa ingin tahunya telah menyakiti Ren. Ia segera bergegas menuju rumah Tsubaki dan akan meminta maaf saat bertemu Ren.
"ohayou." sapa Hinana saat tiba di rumah Tsubaki, tapi semua orang tampak sibuk dengan ponselnya.
"betapa jahatnya kalian tidak menjawab sapaanku."
"Hinana, kapan kau datang?" tanya Emi kemudian menghampiri Hinana.
"barusan. Kalian sedang apa? Sampai tidak menyadari bahwa aku datang." tanya Hinana dengan kesal.
__ADS_1
"kami dari tadi menghubungi Ren tetapi tidak bisa. Oh ya kemarin kau pulang bersamanya."
"hem aku mengantarnya ke rumah dan mengambil mobil ku."
"kemarin ia mengirim pesan kepada Arumi kalau tidak bisa bekerja, mungkin sekitar satu minggu. Saat Arumi menelepon dan ingin tanya alasannya, tapi tak satupun dari kami berhasil." jelas Emi kepada Hinana.
"sekarang sepertinya Ren mematikan ponselnya." sahut Tsubaki.
"bagaimana ini? Sebentar lagi crew dari Tokyo Summer akan datang untuk mereview." ucap Arumi dengan paniknya.
"HAH dari mana kau tahu?" Hinana terkejut.
"aku dapat telepon dari panitianya."
"coba ku hubungi Shota." dengan cepat Hinana mengambil poselnya dan menghubungi Shota. Satu dua panggilan Hinana masih berharap Shota akan mengangkat teleponnya. Hingga puluhan kali panggilan tapi dengan hasil yang nihil.
Setelah berpikir lama akhirnya Hinana teringat, Shota terlihat sangat panik dan pergi dari basket indoor.
"aku pergi sekarang." ucap Hinana kemudian mengambil tasnya.
"Hinana kau mau kemana?" tanya Emi.
"aku akan mencari Ren. Jika mereka (crew dari Tokyo summer) datang katakan padanya untuk penundaan review."
"tapi kita tidak punya alasan yang tepat."
Dengan bodohnya ia melupakan kunci mobilnya di atas meja. Hinana tak ada waktu untuk kembali, ia segera berlari ke rumah Ren. Butuh waktu tiga puluh menit tapi sia-sia saja, gerbang Rumah Ren tertutup rapat.
"halo Aoyama, kau dimana?" tanya Hinana di telepon.
"aku dirumah sakit, ada apa Hinana?"
"apa kau tahu Shota kemana?"
"entahlah aku baru turun dari shift malamku. Ada apa kau mencarinya?"
"aku akan kesana, tunggu aku." ucap Hinana dan mematikan ponselnya. Ia memilih naik taksi agar cepat sampai di rumah sakit tempat Aoyama bekerja.
Tapi sayangnya rencana Hinana tak berjalan lancar. Di pertengahan jalan menuju rumah sakit ada kecelakaan dan lalu lintas menjadi macet total.
"tidak ada waktu lagi." desah Hinana, tanpa pikir panjang ia membayar ongkos taksinya dan berlari lagi menuju rumah sakit.
"Hinana." panggil Aoyama saat melihat Hinana berlari di jalan. Hinana segera menghampirinya. "kau baik-baik saja? " tanya Aoyama karena melihat nafas Hinana yang tergesa-gesa.
"jalanan macet jadi aku berlari kemari." ucap Hinana dengan mengatur nafasnya.
__ADS_1
"HaH kau gila Hinana!!! Duduklah akan ku ambilkan minum."
"aku minta bantuanmu." Hinana segara mencegah Aoyama saat pergi.
"aku akan membantumu, tapi ku ambilkan dulu kau minum."
"aku tak punya banyak waktu."
"baiklah jika kau keras kepala." Aoyama menuruti perintah Hinana. Mereka masuk ke rumah sakit menuju bagian administrasi.
Sebelumnya Hinana menceritakan bahwa akan mencari nama seseorang di rumah sakit.
"tidak ada yang namanya Ren. Mungkin dia tidak sedang sakit atau sedang pergi kemana." ucap Aoyama dengan mencari-cari arsip di komputer.
"ganti saja kata kunci dengan nama Koizumi, itu marganya "
"baiklah." Aoyama menurut dan menekan tombol enter. "satu orang saja, Renchiro Koizumi?"
"apa namanya Renchiro?" tanya Hinana.
"aku juga tidak tahu."
"apa tidak ada fotonya?" tanya Hinana sekali lagi.
"sedang di proses pengambilan data."
"terlalu lama, dia ada di kamar apa?"
" VVIP no 9, tunggu sebentar Hinana kau bisa saja salah orang." teriak Aoyama tapi Hinana sepertinya tidak memperdulikannya.
Setelah proses pengambilan data berhasil Aoyama segera membuka. Dan benar ternyata pasien yang bernama Renchiro adalah Ren.
"tebakan yang benar Hinana." gumam Aoyama sambil scoll dan membaca datanya. Seketika matanya terbuka lebar dan perlahan mengeluarkan air mata. Aoyama terkulai lemas, ia tidak percaya dengan apa yang sudah di lihatnya.
Sementara Hinana masih berlari di lorong lantai tujuh. Ia segera mencari kamar yang dimaksud. Saat itu dokter keluar dari kamar yang di tuju Hinana. Benar saja Hinana juga melihat sosok Shota dan tuan Jouji keluar bersama dokter. Hinana segara masuk ke kamar VVIP no 9.
"Ren-kun." ucap Hinana saat mendapatkan seseorang yang di carinya. Ia segera berlari menuju Ren dan memeluknya.
"Tiiiiiiit Tiiiit Tiiiiiit " gelang yang di pakai Ren berbunyi dan tertuliskan angka 130. Mungkin karena Ren juga terkejut melihat Hinana dan tiba-tiba memeluknya.
"Hinana bagaimana bisa kau tahu aku ada disini?" tanya Ren terkejut dan melepas pelukannya. Tapi Hinana tak mengatakan apapun, ia hanya menangis dan kembali memeluk Ren.
Melihat Hinana yang menangis membuat perasaan Ren menjadi kacau. Perlahan tanganya juga membalas pelukan Hinana.
"apa dia pacarnya?" tanya dokter Seto yang memeriksa Ren.
__ADS_1
"entahlah mungkin iya." jawab Shota meskipun dalam hatinya menyimpan rasa perih melihat pemandangan itu.
Saat itu Shota dan dokter Seto mendengar alarm dari gelang Ren. Mereka bergegas menuju kamar Ren, dan saat akan membuka pintu Shota sudah melihat Hinana memeluk Ren.