
"kau mau MEMBUNUHNYA...!" teriak Shota.
Suasana yang tenang menjadi tegang, tidak disangka bahwa Shota akan memukul Tsubaki.
"ma- maaf aku tidak sengaja." Tsubaki berusaha berdiri dan menunduk minta maaf pada Shota.
"Shota hentikan." Ren segera melerai kakaknya yang hampir memukul Tsubaki lagi.
"kau juga, dasar ceroboh." umpat Shota lalu keluar dari kamar pasien.
"kau tidak apa-apa?" tanya Hinana dan membantu Tsubaki karena hidungnya berdarah.
"tidak apa-apa, terima kasih tisunya."
"Ren kau berbaringlah lagi. Aku kan mengejarnya, tidak sopan sekali sudah dibantu bukannya terima kasih malah memukul." gerutu Hinana.
"Hinana..." panggil Ren dan Tsubaki secara bersamaan saat Hinana akan mengejar Shota.
"hah ada apa?"
"biarkan saja, aku baik-baik saja." cegah Tsubaki.
"Shota tidak bisa di biarkan, dia harus minta maaf padamu." ucap Hinana dan keluar.
Ren hanya menghela nafas karena suasana akan menjadi rumit.
"maaf." ucap Ren pada Tsubaki.
"em tidak apa, Shota menjagamu sangat baik."
"sebenarnya tadi pagi aku membuatkan strawbery smoothie untuk Hinana, aku takut jika kurang manis atau terlalu manis jadi aku mencobanya sedikit. Aku benar-benar minta maaf Tsubaki."
"begitukah." ucap Tsubaki dengan menghela nafas.
"gommen."
"tidak apa, aku lega jika bukan karena aku."
"ku harap kau bisa rahasiakan dari Hinana."
"kau sangat peduli pada Hinana, kau menyukainya?" tanya Tsubaki, dan Ren hanya membalas dengan anggukan.
Tsubaki teringat pada kejadian lima tahun lalu, Ren pernah menceritakan bahwa ia jatuh cinta pada seorang gadis di Paris. Namun gadis itu tahu tentang penyakit Ren dan pergi meninggalkannya.
"apa kau takut jika Hinana tahu penyakitmu?"
"hem, ku pikir ia akan pergi dariku." gumam Ren dan Tsubaki bisa mendengarnya.
Sementara Hinana masih mengejar Shota dan memarahinya.
"Shota, bisakah kau tidak menyalahkan satu pihak saja." ucap Hinana dengan mengikuti langkah kaki Shota.
"kau tidak tahu apa yang terjadi, jadi diamlah."
"okey aku tidak tahu, bisakah kau memberitahunya? Harusnya kau tidak memukul Tsubaki meskipun ia bersalah. Bagaimana pun Tsubaki sangat peduli pada Ren." Hinana terus mengikuti Shota dengan menjelaskan panjang lebar, namun Shota tetap keras kepala enggan untuk mendengar penjelasannya.
__ADS_1
"SHOTA!!" teriak Hinana dengan kesal dan akhirnya Shota berhenti.
"dengar baik-baik Hinana. Jika kau benar peduli pada Ren, jangan biarkan Ren melakukan apapun." jawab Shota pada akhirnya.
"Hinana, aku mengantar Ren pulang apa kau ikut?" ucap Tsubaki dengan membantu Ren berjalan.
"aku akan pulang dengan Shota, kalian pergilah." Ren mendengar semua percakapan Hinana dan kakaknya. Ia tahu jika Shota sangat khawatir padanya, tapi Ren juga tidak bisa jika harus berdiam diri.
"akan lebih aman jika aku saja yang membawanya pulang." Hinana langsung menarik tangan Ren dan membawanya pergi. Sedangkan pandangan matanya dengan tajam ke arah Shota.
Hinana menaiki taksi yang sedang berhenti di depan rumah sakit, Ren tetap diam saja memperhatikan bagaimana dirinya di tarik oleh Hinana.
"kau sudah lebih baik?" tanya Hinana saat di perjalanan.
"hem, terima kasih."
"tak masalah. Jika kau masih sakit lebih baik kau istirahat dulu, kita tunda saja pekerjaan saat ini."
"sebenarnya keinginanku juga begitu. Tapi waktu kita tidak banyak sampai hari itu."
"apa begitu penting festival itu untukmu?"
"hem, karena bukan hanya impianku saja. Tsubaki, Arumi dan Emi sebagai designer tentu saja kegiatan itu sangat berarti. Dan aku tidak bisa begitu saja mencegah impian mereka."
"kau sangat peduli pada teman-temanmu, aku jadi iri andai saja sahabatku sepertimu."
"kau bercanda? Aku juga temanmu, kau bisa menganggapku sahabatmu."
"bersahabat dengan laki-laki? Lupakan saja, semua laki-laki hanya omong kosong." ucap Hinana dengan memukul bahu Ren.
"tapi kau sudah peduli denganku, bahkan mengantarku pulang. Arigatou Hinana."
"kau khawatir dengan ku? Meskipun Shota seperti itu tidak mungkin menyakitiku."
"terserah kau saja. Kita sudah sampai rumahmu, turunlah."
"hem terima kasih sudah mengantarku."
"tidak masalah. Ren jika kau tak ingin mencegah impian mereka, cepatlah sembuh kami menunggumu. Daah Ren." ucap Hinana dengan tersenyum kemudian menutup pintu mobil.
Ren membalas lambaian tangan Hinana sampai taksi itu hilang dari pandangannya.
""dari sekian banyak orang hanya kaulah yang meyakinkanku untuk sembuh, gommen Hinana sepertinya aku akan mengecewakanmu.""ucap Ren dalam hati.
Hinana telah sampai di apartemennya dan melihat ada paman, bibi serta Keiko yang sudah ada di dalam.
"aku pulang."
"selamat datang Hinana-san." sapa Keiko dan memeluknya.
"kalian datang kemari kenapa tak memberi tahuku?"
"kami tidak sempat, oh ya Hinana ada oleh-oleh untukmu." pamannya memberikan sebuah bingkisan untuk Hinana.
"kalau saja aku tahu kalian liburan di Rusia aku akan minta lebih banyak lagi. Tapi terima kasih banyak paman, bibi ,Keiko."
__ADS_1
"aku ada kabar baik dan buruk untukmu."
"apa?"
"kabar baiknya aku akan kuliah di Todai aku berhasil masuk kesana, dan kabar baiknya aku akan meninggalkamu." ucap Keiko langsung memeluk Hinana dengan manjanya.
"selamat untukmu Keiko, tapi satu pesan dariku."
"akan ku penuhi pesan darimu."
"setelah lulus dari Todai jangan jadi menyebalkan seperti Ryusei, kau mengerti."
"haik wakarimasu."
"oh ya Hinana, bagaimana kabar adikmu?"
"aku tidak tahu bi."
"kau masih belum baikan?"
"tidak ada gunanya berbaikan dengannya, lagi pula dia mungkin sudah bekerja di perusahaan ayah."
"Hinana, orang pertama yang khawatir saat kejadian itu adalah Ryusei. Dia menemui Yukiatsu saat kau pergi kemari."
Hinana terkejut mendengar penjelasan dari bibinya.
"untuk apa Ryusei menemuinya? Dan kenapa bibi tidak mengatakannya padaku selama ini."
"Ryusei tak mengatakan apapun padaku, dia menghawatirkanmu. Meskipun kalian berdua tak pernah akur, tapi bagi Ryusei kau kakak yang paling berharga."
"Hinana sebenarnya hadiah itu dari adikmu bukan dari kami, dia khawatir saat itu tapi ia tak berani menemuimu." sela pamannya. Hinana segera membuka bingkisan itu dan ternyata sebuah sweter dan ada surat dari Ryusei adiknya.
""" udara di Hokkaido sangat dingin pakailah baju hangat. Cepatlah membaik, aku lebih suka kau memukul wajahku. Ryusei arizawa."""
"dasar bodoh, jika aku melihat wajahmu akan ku pastikan kau babak belur." gumam Hinana dan memakai sweter darinya.
"baiklah, aku harus pergi. Bye-bye Hinana-san."
"kabari aku jika sudah sampai di Tokyo."
"oh ya aku lupa satu hal padamu."
"apa?"
"aku menunggu kabar jadianmu dengan kak Ren." bisik Keiko.
"sudah ku katakan mustahil."
"kenapa mustahil, kalian berdua sering berkencan."
"dia hanya bos ku, pergilah."
"oke bye-bye." Keiko melambaikan tangannya dengan senang karena berhasil menggoda Hinana.
Setelah semuanya pergi Hinana segera menyiapkan kertas dan alat tulisnya, kali ini Hinana berusaha mendesain baju.
__ADS_1
"yosh, aku harus melakukannya. Meskipun aku bukan lulusan designer tapi aku tidak akan mengecewakan kalian." gumam Hinana dan mulai menggambar.
Disela-sela kegiatannya Hinana memegangi sweter dari adikya, ia teringat betapa sangat menyebalkan Ryusei baginya.