
...Sekarang, aku kembali...
...Kota dimana meninggalkan sejuta luka, aku pulang. (Hinana Arizawa)...
...___________________________________________...
Hinana berjalan menyusuri kota menuju kerumahnya. Meskipun musim panas terlihat cerah, tapi perasaannya seakan mengatakan bahwa masa lalu di kota Tokyo sangat pahit baginya.
"Tadaima (aku pulang)." ucap Hinana saat memasuki rumahnya. Ia melihat ibunya sedang berada di ruang makan.
"Hinana."
"Password pintunya masih sama, jadi aku masuk saja." Dengan santainya ia mengatakan hal demikian saat ibunya datang dan memeluknya.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau makan dengan baik? Kenapa tak pernah menjawab telpon dari ibu."
"Okaasan (ibu), bisakah kau bertanya satu-persatu? Aku bingung harus menjawab pertanyaanmu yang mana."
"Tidak perlu dijawab, yang penting kau sudah pulang."
Hinana membalas pelukan ibunya. Memang hampir satu tahun Hinana tak pernah menginjakkan kaki di Tokyo. Dan saat itu Hinana pergi dengan perasaan tidak baik, jadi wajar saja jika ibunya merindukannya.
"Hinana."
Ibunya memanggilnya saat ia akan pergi ke kamarnya, Hinana berhenti dan menoleh pada ibunya.
"Bersihkan dirimu, okaasan akan membuat makan malam bersama." Dengan senyuman yang cantik Larisa tersenyum bahagia kearah putrinya.
Suasana di Mansion Ren
Jouji memberikan kunci rumahnya yang berada di Tokyo.
Sudah hampir dua puluh tahun ia tak pernah tinggal di rumah itu, sekarang Ren mulai membuka kuncinya.
"Tadaima." Lirih Ren saat membuka kunci rumah.
Dulu ia selalu bermain-main dirumah ini dengan ayah dan kakaknya, tapi sampai sekarang Shota pun masih belum menghubunginya. Dirumah ini menyimpan banyak kenangan, terutama gadis kecil yang menjengkelkan. Dia adalah cinta pertama Ren.
"Wuah besar sekali!!!." Decak Tsubaki dengan kagum.
"Rumah sebagus ini kenapa tuan Jouji tidak menempatinya?" Emi berbicara sendiri seraya mengagumi rumah atasannya, tanpa disadari Ren mendengarnya.
"Semenjak ayahku bekerja lagi, dia memutuskan untuk tinggal di Sapporo. Kemudian kami sering pergi ke Paris." Jawab Ren dengan nada santai.
__ADS_1
"Baiklah karena hanya ada dua kamar yang sudah dibersihkan, maka kau dan Arumi tidur disana. Mungkin besok atau lusa Alice baru datang." ucap Ren dengan menunjuk kearah kamar.
"Wakata (baikalah), ayo Emi aku sudah lelah." Arumi mengangguk mengerti dan pergi menuju kamar yang sudah disediakan.
"Apakah kita harus sekamar juga?" tanya Aoyama.
"Hum, tentu saja. Tenang saja kasurnya tidak kecil kok."
"Kalian saja, aku tidur di ruang tamu." Aoyama segera membuka kain putih yang menutupi sofa kemudian meletakkan tasnya.
"Hei Aoyama, kenapa kau jual mahal seperti itu? Ayolah kita sama-sama laki-laki." Tsubaki yang sangat geram langsung membawa tas milik Aoyama, tapi telah dicegah oleh pemiliknya.
"Gomenne (maaf), aku tidak bisa tidur dengan siapapun."
"HAH!!! Lelucon apa itu, lalu bagaimana jika kau menikah? Aneh-aneh saja." Gumam Tsubaki dan menatap aneh kearah Aoyama. Sementara Aoyama merasa tak peduli dan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Sudahkah Tsubaki sebaiknya kita istirahat juga." Ren mendorong Tsubaki untuk pergi agar tidak bertengkar dengan Aoyama. "Sensei aku akan memanggil pekerja paruh waktu untuk membersihkan rumah ini."
"Terserah kau saja."
Tanpa berlama-lama Ren segera menghubungi pekerja paruh waktu dan meninggalkan Aoyama sendiri. Selepas dari perjalanan Ren sudah merasakan sangat lelah, ia tersenyum dengan memandangi telapak tangannya.
"Bisakah kau bertahan sebentar lagi? Kumohon." gumam Ren dalam hati.
"Moshi-moshi. (halo)." jawab Hinana ketika mengangkat telepon.
"Apa kau sudah tidur?" tanya seorang dari dalam telepon yang tak lain adalah Ren.
"Belum, aku melihat menara Tokyo." ucap Hinana dengan singkat, memang saat ini ia sedang berada di balkon kamarnya.
"Disini tidak terlihat sama sekali."
"Begitukah? Kalau begitu harus datang kemari, disini terlihat sangat jelas, lampunya sangat terang." dengan memandang kearah menara Tokyo, Hinana melingkarkan jari-jemarinya dan meletakkan dimata sebelah kanan.
"Hinana, besok aku akan menjemputmu."
"Untuk apa?"
"Pergi ke tempat acara." Jawab Ren sambil melepaskan sepatunya.
"Eh, bukankah masih dua hari lagi?"
"Memang benar, kita harus menandatangani kehadiran dua hari sebelumnya bukan."
__ADS_1
"Wakatta (baiklah), biar aku saja ketempat kalian." Jawab Hinana.
"Tidak perlu, aku dan yang lainnya yang akan ke rumahmu."
"Eh, cotto matte (tunggu sebentar). Bagaimana ya, Anoo." Hinana menggaruk kepalanya apa yang harus ia katakan pada ibunya saat teman-temannya datang nanti.
Sementara itu Ren hanya tersenyum mendengar kegugupan Hinana. Ia mengenggam sebuah foto yang ia temukan terjatuh dilantai ruang tamunya.
"Aoyama, dia bilang ingin mengunjungi Obasan (bibi) di Tokyo. Bukankah itu adalah ibumu?" ucap Ren dan seketika Hinana teringat akan pesan ibunya untuk menyuruh Aoyama mengunjungi ibunya.
"Benar." Jawab Hinana dengan pasrah.
"Baiklah, tolong kirimkan lokasinya. Besok pagi aku dan yang lainnya akan ketempat mu. Oyasuminassai (selamat malam)."
"Oyasuminassai." balas Hinana lalu menutup panggilannya.
Ia bergegas keruang tamu untuk mengambil foto-fotonya. Ada banyak fotonya dicover majalah, entah mengapa Hinana tak ingin jika teman-temannya melihatnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya seseorang yang baru saja pulang. Namun Hinana tak menghiraukan sama sekali.
"Hey, kau baru pulang mengapa mengacak-acak rumah." ucapnya lagi. Karena tak tahan laki-laki itu mendekati Hinana dan mencegahnya saat Hinana menurunkan bingkai foto.
"Yamete kudasai (tolong hentikan). Oniichan." ucap laki-laki itu dan memasang kembali bingkai foto Hinana.
Dia adalah Ryusei adik laki-laki Hinana.
"Meskipun kau membenci, tapi foto ini kebanggaan keluarga." Dengan tersenyum Ryusei memperbaiki posisi bingkai foto itu. Foto Hinana saat di red carpet pertama kali.
"Okaeri (selamat datang) Oniichan." sapa adiknya dan akhirnya mengulurkan tangannya. Hinana tak membalasnya. Karena semenjak Hinana pergi dari rumah, ia dalam posisi bertengkar
"Tadaima (aku pulang)." ucap Hinana dengan lirih kemudian ia berlari menuju kamarnya dengan membawa semua foto dan majalah.
Ryusei hanya membatu seraya memandangi tangan yang ia ulurkan untuk kakaknya. Ingatan lima tahun yang lalu mulai tergambar dikepalanya.
Malam dihari kelulusan SMA Ryusei dan teman-temannya pergi ke kelap malam untuk bersenang-senang. Ia terkejut saat melihat pacar kakaknya yang berciuman dengan wanita lain padahal mereka sudah bertunangan dan merencanakan pernikahan. Dengan emosi Ryusei langsung memukulnya, tapi tak lama kemudian perbuatannya di ketahui oleh Hinana.
" Kau tidak akan menikah dengannya, akan kupastikan itu." ucap Ryusei pada Hinana yang mendekatinya.
"Bisakah kau tidak mencampuri urusanku?" Dengan tatapan tajam dan sedikit berteriak Hinana mengucapkannya.
"Oniichan bisakah kau tidak menjadi bodoh? Kau hanya dimanfaatkan oleh si brengsek ini. Kakaku tidak sebodoh ini, gunakan kedua matamu untuk melihat." Ryusei membalas ucapan kakaknya dengan nada yang sedikit meninggi.
"Urusai (berisik), aku bukan kakakmu!." ucap Hinana dan pergi dengan membawa Yukiatsu yang sedikit babak belur.
__ADS_1
"Oniichan, gomenne."