Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
49 (mulai mengandung bawang)


__ADS_3

Hinana bangkit dari reruntuhan atap dengan luka yang ada di kepalanya. Sebelum kejadian itu Hinana berada di pantry untuk membuat secangkir kopi. Ia jadi tidak nafsu makan karena melihat Arimura dan Ren di rooftop.


"kepalamu terluka, mari ku obati."


"tidak perlu." tolak Hinana dengan memegang kepalanya yang berdarah. Hinana mengabaikan Ren dan keluar dari pantry yang berserakan.


"Hinana mari ku bantu kau." Arimura langsung mengikuti Hinana ,sementara Ren masih berdiri di depan reruntuhan masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"tidak perlu aku bisa sendiri." sekali lagi Hinana menolak tawaran baik.


Melihat keadaan Hinana dengan bajunya yang lungsuh membuat Arumi sangat khawatir.


"Hinana, apa suara keras itu dari mu. Mari ku bantu." Arumi langsung membantu Hinana berjalan meskipun Hinana menolaknya.


"Arumi bawa saja Hinana ke dokter." ucap tuan Jouji dan Arumi mengangguk mengerti.


"tidak perlu, aku bisa mengobati sendiri." tolak Hinana dan seisi ruangan memandangnya.


"Hinana tapi kepala berdarah, aku tak ingin kau kenapa-kenapa." Arumi mengulang perintah Tuan Jouji pada Hinana.


"jika ku bilang tidak perlu maka tidak." Hinana bersikeras dengan kemauannya. Ia segera duduk di meja kerjanya mengusap darahnya dengan tisu. Sembari menekan agar darahnya tidak keluar, meskipun sangat sakit tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih terasa.


Sementara itu Ren menghubungi petugas kebersihan dan beberapa petugas untuk memperbaikinya. Dari kejauhan ia melihat Hinana, bajunya yang sangat kotor dan kepalanya berdarah. Tapi Hinana masih tetap keras kepala tidak mau di ajak ke dokter.


"Ariko." panggil Ren pada salah satu pegawainya. Ia melepaskan sweter dan memberikan pada Ariko. Meskipun sudah musim semi tapi tetap saja Ren masih memakai baju yang tebal, karena tidak bisa menahan dingin.


"berikan ini pada Hinana, bajunya kotor suruh dia menggantinya."


"iya baik." Ariko menerimanya dan memberikan pada Hinana. Ia juga membantu Hinana untuk mengganti baju.


"kau yakin tidak mau ke dokter?" tanya Ariko yang menunggu Hinana di kamar mandi.


"hem tidak usah, lagi pula pendarahan sudah berhenti." jawab Hinana dengan mengelap tisu pada lukanya.


"itu karena kau menekannya. Baiklah jika kau berubah pikiran hubungi aku."


"tentu, bantu aku ke tempatku. Aku hanya butuh istirahat."


"wakatta."


Karena insiden itu seluruh pekerjaan di hentikan, semua karyawan memberihkan ruangan sembari menunggu selesai di perbaiki.

__ADS_1


Hinana keluar dari kamar mandi di bantu Ariko. Saat itu penayangan review dari kontestan Tokyo summer, tentu saja semua melihatnya.


"Hinana kau bisa istirahat diruanganku saja." ucap tuan Jouji.


"tidak perlu,..."


"jangan membantah ini perintah." kalau tidak memaksa mana mungkin Hinana menurut.


Saat Hinana menyandarkan kepalanya ia terkejut saat melihat tayangan di televisi, karena review gaun yang di ciptakan sama seperti yang di buat teamnya.


"KENAPA!!!!" terdengar teriakan suara yang sangat di kenal Hinana.


"tidak mungkin, mereka meniru designku. Milik ku yang asli mereka semua berbohong." teriak Arumi kecewa.


"lalu bagaimana bisa sama persis detailnya." Ren menghampiri Arumi dan mulai terlihat wajah marahnya. Selama ini Ren tak pernah terlihat seperti itu, dan semua yang melihatnya hanya tercengang.


"mana ku tahu, !!!!. Aku membuat design itu dengan susah payah bahkan aku tiga hari hampir tidak tidur malam."


"tapi mereka...." belum selesai Ren mengucapkan sesuatu smartbandnya berbunyi dan terasa dadanya sangat sesak.


"Ren..." teriak Tsubaki dan Arimura bersamaan.


" cukup Ren tenanglah, masuk kedalam dulu." Ayahnya menangkan Ren dan membawanya masuk keruangan.


"Arumi Chan..." teriak Emi dan berlari mengikutinya.


Suara pertengkaran itu terdengar jelas dari ruangan direktur tempat Hinana istirahat. Karena mendengar suara itu perlahan kepala Hinana mulai merasa sakit. Tak butuh waktu lama Ren masuk bersama ayahnya.


Hinana melihat jelas raut wajah Ren yang memerah, baru kali ini ia melihat Ren marah. Suara smartband milik Ren masih saja berbunyi, ayahnya berusa meredam amarah Ren tapi belum juga berhasil.


"Hinana kau mau kemana, kau masih sakit." tanya Jouji yang melihat Hinana berdiri.


"lebih baik aku istirahat dirumah, tolong beri aku izin."


"tentu saja, akan kupanggil kan Ariko biar dia mengantarmu."


"kau sungguh baik-baik saja? Kepalamu berdarah lagi." tanya Ren dan mencoba memegang kepala Hinana tapi di tangkisnya dengan kasar. " akan ku obati sebentar sebelum pulang." ucap Ren dan segera mencari kotak P3K saat detak jantungnya mulai stabil.


Dengan cepat Ren meneteskan obat merah ke kapas dan berniat untuk menaruhnya di luka Hinana. Tapi lagi-lagi ditolaknya. Wajah Hinana kini sudah terlihat pucat karena menahan rasa sakitnya.


"jangan mengobatinya jika kau tak bisa melakukan dengan benar. Biarkan saja nanti akan sembuh." ucap Hinana.

__ADS_1


"kau gila, kau terluka parah bagaimana bisa sembuh sendiri." Ren mulai terpancing dan baru kali ini ia mengeraskan suara.


"percuma jika kau mengobatinya kemudian kau membuatnya terluka lagi." Hinana mencegah tangan Ren yang mulai mengobati lukanya.


Mengerti apa yang maksud perkataannya, Ren mulai menghentikan niat baiknya membiarkan Hinana keluar dari ruangan Direktur.


Percuma jika kau mengobatinya kemudian kau membuatnya terluka lagi


Perkataan Hinana masih terngiang di kepala Ren, dan lagi-lagi yang di katakan Hinana benar. Smartbandnya berbunyi lagi padahal belum ada sepuluh menit.


Disaat yang bersamaan mereka berdua terjatuh.


"Hinana.... Hinana pingsan cepat tolong aku." Teriak Arimura saat melihat Hinana baru keluar dari ruangan direktur kemudian pingsan.


"seseorang panggil ambulance, Ren pingsan." teriak Jouji Ayah Ren dan membuka pintu ruangan. Ia juga melihat Arimura menolong Hinana yang juga pingsan. Sejenak Jouji memijat pelipisnya yang terasa pusing dengan kekacauan di kantor anaknya.


...***********************...


Mereka berdua dilarikan di rumah sakit yang sama. Arimura memilih untuk menunggu Hinana dan Jouji menunggu Ren. Keadaan kantor sangat kacau ditambah lagi Hinana dan Ren terluka memutuskan Tuan Jouji menghubungi Shota.


"Hinana sudah kau sadar?." tanya Arimura dengan khawatir. "kau dirumah sakit, tadi kau pingsan."


"kepalaku pusing." Hinana menyentuh kepalanya yang sudah terlilit perban.


"minumanlah sedikit." Arimura membantu Hinana duduk dan memberikan air putih. "sudah merasa baikan?"


"hem, arigatou." ucap Hinana dan kembali ke posisi tidurnya lagi. Sesaat pintu kamarnya terbuka dan terlihat Shota masuk.


"Shota." panggil Arimura terkejut melihatnya. Karena selama ini Arimura mencari Shota.


"bagaima keadaanmu? Ku dengar dari teman-teman kau kecelakaan." tanya Shota tak menghiraukan ada Arimura disana.


"sudah lebih baik, terimakasih sudah menjenguk." jawab Hinana dan tersenyum tipis pada Shota.


"maaf aku tak bisa lama-lama disini, Sumimasen (permisi)."


"Shota." panggil Arimura tapi Shota sudah pergi. "Hinana aku pergi sebentar." ucap Arimura kemudian bergegas mengejar Shota.


Hinana masih mengingat kekacauan yang menimpanya di kantor, wajah Ren yang memeluk Arimura tergambar jelas di ingatannya. Ia sudah berusaha melupakan Ren tapi bagaimana mungkin jika setiap hari masih bertemu.


"aku kembali, maaf Hinana meninggalkanmu." Arimura kembali membuyarkan lamunan Hinana.

__ADS_1


"Arimura san kau bisa pergi dari sini, aku sudah merasa baik?"


"benarkah? Baiklah kalau begitu, cepatlah sembuh." Arimura segera meninggalkan Hinana, ia tahu dari cerita Ren kalau Hinana tidak suka jika sisi telemahnya di lihat oleh seseorang.


__ADS_2