Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
17


__ADS_3

Tsubaki keluar dari ruang dokter dan tertunduk lemas, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Shota berlari kearah Tsubaki sementara ayahnya menemui Ren.


"kau sudah tahu penyakitnya?" ucap Shota dengan nafas tergesa-gesa. Sementara Tsubaki tidak menjawab dan menyerahkan sebuah map hasil pemeriksaan.


"Rahasiakan dari semua orang terutama Hinana. Setelah ini Ren akan pindah rumah sakit, dan kupastikan tidak ada yang tahu. Kau tetaplah tutup mulut dan tidak tahu apa-apa." Shota mengambil map itu dan berjalan menuju kamar Ren. Sementara Tsubaki mengikutinya.


Ayah Ren masuk kemudian memeluk Ren, Hinana segera menepi dan menunduk.


"maaf telah membuatmu cemas." ucap Ren. Tak butuh waktu lama Shota dan Tsubaki datang.


"syukurlah kau sudah bangun." ayahnya melepas pelukannya. Ren melihat Shota dan Tsubaki tapi pandangannya tertuju pada Tsubaki yang tertunduk.


"terima kasih Tsubaki."


"tidak masalah, aku harus segera ke kantor. Cepatlah sembuh Ren, ayo Hinana." Tsubaki mengajak Hinana untuk pulang.


"aku kembali, cepatlah sembuh Ren." Hinana berpamitan kemudian keluar mengikuti Tsubaki.


Hinana mengikuti langkah Tsubaki dari belakang, ia pikir Tsubaki akan naik taksi ke kantor. Hinana mengikuti Tsubaki karena mobilnya ada di toko bahan-bahan kue dekat kantor Ren.


"sakit apa Ren itu?" tanya Hinana.


"dia hanya kelelahan saja."


"segitu parahnya penyakit kelelahan, aku dulu juga pernah dan sempat opname karena Typus."


"sama seperti Ren." ucap Tsubaki singkat.


"Tsubaki kau tidak apa-apa?" Hinana melihat ada sesuatu yang berbeda dari Hinana.


"aku baik-baik saja, jika kau lelah naik lah bus karena aku lupa membawa kartu akses."


"tak masalah. Tsubaki, seperti apakah Ren?"


"kenapa kau tanya padaku?"


"hanya penasaran saja. Meskipun berkali-kali aku jahat padanya, tapi Ren selalu baik padaku."


"Hinana ada sesuatu yang harus ku katakan padamu. Kau jangan...." perkataan Tsubaki terhenti karena melihat wajah Hinana, sebenarnya Hinana juga orang baik hanya saja kadang perbuatan Ren baik di luar kendali.


"jangan apa?"


"jangan marah-marah..." sebenarnya Tsubaki ingin mengatakn jangan sakiti Ren. Tapi Hinana juga tidak bersalah atas semua tuduhan Shota.


"aku tidak akan marah jika tidak di ganggu."


"apa Ren mengganggumu? Menurutku Ren orang baik, dia sebenarnya pendiam saat SMA. Hanya saja dia mulai berubah sejak kuliah."


"kau benar, Ren sangat baik." Ponsel Hinana berbunyi, Keiko menelponnya.


"ya Keiko ada apa?"


"kau lama sekali, aku sudah lapar. Kita beli cake saja terlalu lama jika membuat."


"iya aku minta maaf, aku segera pulang Daah." Hinana menutup ponselnya.


Tsubaki dari tadi memperhatikan Hinana, dan melihat foto Hinana di layar utama.


"kemarikan." Tsubaki merasa penasaran lalu mengambil ponsel Hinana.


"apa yang kau lakukan, kembalikan ponselku."

__ADS_1


"kau pacaran dengan Ren?"


"tentu saja tidak, kembalikan Tsubaki.." Hinana memohon dan merasa malu pada Tsubaki. Sebenarnya yang mengganti layar utama ponsel Hinana adalah Ren.


"kalau begitu apa kau menyukai Ren?" pertanyaan Tsubaki membuat Hinana terintimidasi.


"tidak, hanya saja Ren membuatku untuk semakin terbuka. Tapi aku hanya berteman dengannya, aku tak bohong." jawab Hinana dengan ragu, karena baru kali ini Hinana bisa bercerita pada orang lain selain Ren.


"kalau begitu bertemanlah dengan ku juga. Satu dua. CKRIK." Tsubaki mengambil foto dengan Hinana. Meskipun hasilnya tidak bagus tapi Tsubaki merasa puas dan mengembalikan ponsel Hinana.


"terima kasih."


"Hinana berteman baiklah dengan Ren, aku yakin Ren tidak akan menyakitimu. Pulanglah sudah ada yang menghawatirkanmu." Tsubaki melambaikan tangan dan masuk ke kantornya.


Sedangkan Hinana juga melangkahkan kaki ke toko kue.


************


Hinana bangun pagi tepat jam 9, karena tidak ada pekerjaan bediam diri membuatnya menjadi malas.


Hari ini Hinana bersemangat untuk membuat cake, sudah lama sekali Hinana tak pernah membuatnya.


Cake black forest dengan toping strawberi dan pisang membuat tampilan sangat manis, serta tulisan selamat ulang tahun Ren yang menjadi hiasan.


TING TONG


Bel apartemen berbunyi, Hinana yang selesai cuci muka kemudian membuka pintu.


"HAH tuan Jouji kenapa bisa kesini." pekik Hinana saat melihat dari monitor LCD.


Hinana segera merapikan rambutnya, dan memakai coat hitam panjamg miliknya.


"halo, ada yang bisa aku bantu." tanya Hinana saat membuka pintu.


"benar dengan saya sendiri. Ada apa?"


"bisakah kita bicara sebentar?"


"baiklah, silahkan masuk." Hinana mempersilahkan masuk kedalam, dan membuatkan secangkir macha untuk Jouji.


"maaf jika aku menganggu, Hinana apakah kau sudah dapat pekerjaan. Terus terang saja aku minta maaf atas perbuatan kedua putraku, dan kurang profesional dengan pekerjaannya."


"aku sudah memaafkan mereka."


"Nona Hinana bersediakah kau kembali ke perusahaan? Dan memperbaiki salah paham antara kita?"


"maaf tapi sepertinya aku tidak bisa. Aku masalah dengan psikis, yang aku takutkan jika aku marah Ren dan Shota terkena imbasnya. Aku benar-benar minta maaf." Hinana membungkukkan badan dan mengakui perbuatannya.


"aku sudah mendengar semuanya. Nona Hinana kau tak perlu khawatir Shota dan Ren tidak mengurus perusahaan. Aku sendiri yang akan memimpinnya, jadi kembalilah."


"Eh, benarkah? Tapi kenapa?"


"kondisi perusahaan sedang tidak baik, jika kau kembali maka akan ku ceritakan. Kau tak perlu menjawab sekarang, hubungi aku jika sudah mengambil keputusan yang tepat." Jouji memberikan kartu namanya dan berpamitan pulang.


Hinana masih memandangi kartu nama milik Tuan Jouji, perasaan bimbang masih ada. Sebenarnya Hinana tak bisa mencari pekerjaan baru selain di dunia entertaint karena hanya lulus SMA.


Mendapat tawaran langsung dari Tuan Jouji sebenarnya hal yang baik, tapi Hinana takut jika bertemu dengan temannya dulu.


Hinana memutuskan untuk menelpon Tsubaki, karena hanya Ren dan Tsubaki saja saat ini temannya.


"ya halo, Hinana tiba-tiba sekali kau menelepon ada apa?" jawab Tsubaki.


"apa kau sedang sibuk?"

__ADS_1


"iya, deadline ku masih banyak hari ini. Apa ada sesuatu Hinana?"


"tidak, aku hanya bertanya saja. Daah Tsubaki." Hinana menutup panggilannya, sebenarnya Hinana ingin menanyakan pendapat Tsubaki. Tapi karena Tsubaki sibuk akhirnya mengurungkan niatnya.


Tak lama kemudian Ren menelponya, Hinana terkejut karena baru saja akan menghubunginya.


"halo, ada apa?"


"Hinana apa kau sibuk?" tanya Ren.


"tidak."


"bisakah kita bertemu?."


"apa kau sudah sembuh? Bagaimana keadaanmu?"


"aku sudah lebih baik."


"baiklah, aku akan ke rumah sakit sekarang."


"Hinana bisakah kita bertemu di Bistro saja?"


"memangnya kenapa? Kau sudah pulang?"


"hem aku baru pulang pagi tadi, akan ku kirim lokasinya."


"iya aku akan bersiap-siap. Sampai jumpa."


"sampai jumpa."


Hinana segera berganti pakaian dan menuju lokasinya, ternyata tak jauh dari apartemennya. Tak lupa Hinana segara mempacking cake buatan, dan hadiah jam tangan untuk Ren.


Udara sangat dingin, Hinana masih memikirkan keadaan Ren apakah baik-baik saja?.


"apa kau menunggu ku lama?" tanya Hinana langsung menghampiri Ren.


"aku dari tadi sudah berada disini, kau mau pesan minuman hangat?"


"camomaile tea."


"baiklah." Ren segera memberi tahu pesanannya pada pelayan.


"sebenarnya aku juga ingin menyampaikan sesuatu."


"katakan saja."


"selamat hari ulang tahun, aku tak tahu tanggalnya tapi kau mengatakan bulan Desember." Hinana memberikan kue dan hadiah untuk Ren.


"WOw kawai.. Ini terlihat sangat manis. Terima kasih Hinana." Rem tersenyum senang saat membuka cake yang di berikan Hinana.


"apa kau suka?"


"hem, baru kali ini aku dapat cake. Kau membuatnya sendiri?"


"tentu saja, jika kau lapar makanlah." ucap Hinana dengan senyumnya.


Ren memesan satu buah piring kecil, sendok dan pisau kepada pelayan.


"potongan pertama untuk orang spesial, Hinana." Ren memotong cake dan memberikan pada Hinana.


"terima kasih Ren. Rasanya sesuai kau pasti suka." ucap Hinana dengan memakan satu suapan.


"benarkah, aku akan habiskan. Sekali lagi terima kasih Hinana."

__ADS_1


__ADS_2