
Arimura yang semula ragu kemudian menceritakan perlahan kepada teman-temannya. Ia juga ingin berpamitan karena visa nya sudah akan berakhir.
"Tujuanku ke Jepang sebenarnya untuk mencari ayah kandungku. Ibuku selalu menyembunyikan dariku dan mengatakan jika ayahku mungkin sudah berkeluarga dan melupakanku. Tapi karena aku tak punya siapapun di Jepang, aku datang menemui Ren sebagai jalan pintas. Aku sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan ayah kandungku, ternyata selama ini ayahku juga mencariku." Arimura perlahan menjelaskan masalah.
"Lalu bagaimana hubungannya dengan Aoyama sensei?" tanya Emi yang berada di sebelahnya.
"Ternyata yang dikatakan ibuku benar. Ayah kandungku sudah berkeluarga dan mempunyai anak yaitu sensei. Tapi hubungan mereka ternyata tidak begitu baik.
Aku menyukai Aoyama sensei meskipun sensei sudah mempunyai pacar. Aku berharap merka akan putus dan aku bisa mendekatinya. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Oh ya lusa aku akan kembali ke Paris, masa izinku sudah berakhir. Jadi aku juga ingin berpamitan dengan kalian. Terimakasih sudah menjadi teman terbaikku. Sensei juga, tapi sepertinya sensei sudah tak mau menemuiku."
Air mata milik Arimura perlahan mulai menetes ia ingin berharap jika hari ini tak akan terjadi.
"Aoyama orang yang sangat payah, kau tidak perlu menyukai. Lagipula masih banyak laki-laki lain yang bisa kau sukai." Hinana segera mendekat dan menghibur Arimura, karena ia juga tahu rasanya saat cintanya tak berpihak.
"Iya benar, masih banyak laki-laki lain yang bisa kau cintai. Contohnya seperti Ren." sahut Tsubaki.
"Jangan Ren juga lah. Masih banyak diluaran sana." Ucap Hinana dengan spontan dan melirik kearah Tsubaki.
Emi dan Arumi serasa tak kuat menahan tawanya, ternyata seorang seperti Hinana cukup menakutkan juga jika sedang cemburu.
"Tentu saja masih banyak diluaran sana. Aku tidak pernah mencintai Ren, aku hanya menganggap Ren seperti adikku meskipun aku lebih muda darinya." Arimura akhirnya tersenyum dan memeluk Hinana.
"Besok kita semua akan makan bersama- sama. Tsubaki sudah mendapat pekerjaan baru, Hinana berhasil di audisinya dan kau juga akan kembali ke Paris. Aoyama juga akan datang, Hinana yang akan membawanya."
Ren mencoba untuk menetralkan susana agar tidak terus menerus membuat temannya bersedih.
"Kenapa harus aku yang membawanya. " Hinana memprotes kepuasan Ren.
"Kau kan temannya, walaupun aku ragu teman seperti apa Aoyama bagimu." Balas Ren yang terlihat merajuk.
"Ren, kau ternyata sama saja." Tsubaki menepuk bahu Ren dan menertawakannya. Karena ia pikir Ren bisa bersikap dewasa dari Hinana namun ternyata tidak.
"Sudahlah kalian berdua pergi saja. Urusi saja masalah rumah tangga diluar. " Arumi dan Emi bergerak untuk mengusir Hinana dengan Ren. Karena tidak kuat menahan tawa melihat keduanya. Mereka berdua tertawa keras setelah mengusir Ren dan Hinana dan menutup pintu rumah.
Ren akhirnya mengajak Hinana untuk pergi makan siang. Selama di perjalanan mereka tak banyak bicara, mungkin Ren mengira Hinana masih marah padanya dan beranggapan ia masih menyukai Arimura.
Ren meraih tangan Hinana dan ingin menggandengnya.
__ADS_1
"Mau apa? " ucap Hinana dengan ketus tapi malah membuat Ren tertawa.
"Bergandengan tangan, bukankah seharusnya begini." Tanpa ragu Ren langsung menggandeng tangan Hinana dengan erat meskipun pada awalnya Hinana menolak.
"Hentikan marahnya, kau sama sekali tidak cantik jika marah." Ren berusaha menggodanya.
"Kau menyebalkan, tidak seharusnya kau mencurigai hubunganku dengan Aoyama. Aku dan Aoyama hanya teman masa kecil dan ibuku juga mengangkatnya sebagai anak karena Aoyama adalah anak dari sahabatnya." Gerutu Hinana menjelaskan pada Ren.
"Kau juga berpikiran tentangku dan Arimura yang tidak-tidak. Hinana chan aku menyukaimu, hanya menyukaimu." Ren menangkap wajah Hinana dan membuatnya untuk menatapnya.
"Tapi kau pernah menyukainya dulu." Ucap Hinana yang masih tidak terima.
"Ayolah Hinana jangan mulai lagi." Ren mengejar Hinana yang berhasil terlepas darinya.
"Ren bilang masih menyukai cinta pertama, bahkan sampai sekarang. Jadi apa artinya aku..." Dengan malu Hinana menutup mulutnya karena kelepasan bicara.
Tapi Ren malah tertawa keras kepada Hinana, ia kemudian mengambil dompetnya di saku celana.
"Kau mau tahu siapa cinta pertamaku? Ini fotonya."
"Ehhh, kenapa foto ini ada padamu? " pekik Hinana dan terkejut karena yang ia ambil adalah foto semasa kecilnya dengan Aoyama.
"Aku mendapatkan dari Aoyama, aku beruntung karena Aoyama memberikannya padaku. Jadi orang yang selama ini ku cari ternyata ada di dekatku." Jawab Ren dan mengambil kembali fotonya.
"Hinana chan apa kau ingat pertama kali kita bertemu?" Ren berjongkok karena ingin melihat wajah Hinana yang menghadap ke bawah.
"Saat di kereta." Jawab Hinana dengan mengingat.
"Salah. Sebelumnya kita sudah sering bertemu berkali-kali. Seorang laki-laki yang kau panggil neko (kucing) karena namanya sangat mirip dengan kucing kecil yang kau pungut." Ren mencoba menjelaskan dan ingin Hinana mengingat masa kecilnya.
"Neko (kucing) ... Neko.... Ahhh kepala pirang." Teriak Hinana dengan keras karena berhasil mengingat.
"Ehhhhh kau menyebutku apa? "
"Kepala pirang. Gomenne (maaf)." Jawab Hinana dan langsung menghidari Ren.
Ren hanya terkekeh dan membiarkan kekasihnya pergi, karena tak mungkin juga ia berlari mengejarnya. Hinana yang menyadari itu lalu menghentikan larinya dan berbalik kembali.
__ADS_1
"Gomenne Ren, aku tidak bermaksud mengataimu." Hinana meminta maaf mungkin ucapannya bisa menyakiti kekasihnya.
"Kau harus dapat hukuman." Dengan senyum licik Ren segera memeluk Hinana dengan erat dan mengacak -acak rambutnya.
"Kau sangat curang. Hentikan." Hinana mencoba menghentikan tangan Ren tapi apalah daya Ren lebih tinggi darinya.
"Jangan lari dariku lagi, karena aku tak akan bisa mengejar Hinana. Mengerti." ucap Ren di dekat Hinana.
"Humm aku mengerti."
Hari sudah berganti malam, Aoyama menghubungi Ren dan mengatakan jika tidak bisa pulang. Ia harus menginap di rumah Hinana karena Bibinya sangat menghawatirkannya. Aoyama juga menyuruh Tsubaki untuk standby dua puluh empat jam menjaga Ren meskipun mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Hinana juga sudah mendengar penjelasan dari ibunya. Meskipun sering kali berselisih kepada ibunya tapi akhirnya Hinana mengerti. Bagaimanapun juga Aoyama juga harus bertemu dengan ayahnya dan juga tahu rahasianya meskipun terdengar menyakitkan.
"Kau akan tidur dengan Ryusei, tunggulah sebentar lagi dia akan pulang." Ucap Hinana saat berpapasan dengan Aoyama.
"Tentu saja." Jawab Aoyama lalu pergi membukakan pintu karena ada tamu di luar.
Hinana terkejut karena tamu itu adalah Ren. Dan ia juga sedikit marah karena Ren tak memberinya kabar jika akan berkunjung ke tempat Hinana.
"Dia adalah temanku Ren Koizumi." Ucap Aoyama memperkenalkan Ren kepada ibunya Hinana. Ia juga meminta izin untuk Ren bisa menginap rumah Bibinya karena Aoyama tidak bisa meninggalkan Ren karena alasan tertentu. Aoyama juga tidak bisa sepenuhya memercayai Tsubaki karena Ren merupakan tanggung jawabnya.
"Yoroshiku onegaishimasu. " ucap Ren kepada Ibunya Hinana.
"Yoroshiku onegaishimasu, aku senang akhirnya Aoyama mempunyai teman selain Hinana. Anggaplah seperti dirumahmu sendiri." Balas Larisa.
"Dia juga pacarnya Hinana. " ucap Aoyama dengan spontan.
"Ehhhh." Teriak Hinana dan Ren secara bersamaan. Mereka berdua terkejut karena Aoyama seenaknya saja membeberkan hubungan. Ingin rasanya Hinana memukul Aoyama.
"Eh benarkah, Hinana kenapa tak mengenalkannya pada ibu." Larisa tersenyum senang karena melihat putrinya sudah menemukan pasangan yang baru.
"Etoo.. Anoo.. " Hinana bingung harus mengatakan apa pada ibunya.
"Kami baru saja memulai hubungan. Aku minta maaf karena belum memperkenalkan diri." Jawab Ren pada akhirnya.
"Baiklah aku senang mendengarnya, dan aku senang jika pacar Hinana adalah orang pernah ku kenal sebelumnya. Tolong.jaga Hinana dengan baik ya. "Larisa memberi senyuman ramah pada Ren. Ia juga sudah pernah melihat Ren sebelumnya dan Hinana juga pernah memperkenalkan Ren sebagai temannya.
__ADS_1