Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
44


__ADS_3

"tentu saja, aku datang untuk melihat kalian." jawab Shota.


"kemarilah Shota, gantikan aku menyapu." ucap Hinana dan menyerahkan sapunya.


"HAH, aku kesini hanya melihat kalian bekerja. Lagi pula aku bukan karyawannya Ren."


"Heh ... Shota aku sudah lelah." ucap Hinana menyerah.


"sudahlah Hinana kau baru menyapu sebentar saja sudah mengeluh." ucap Emi yang senang melihat Hinana kelelahan.


"oi Hinana bersihkan yang benar, lihat masih banyak sampah tercecer." Tsubaki pun ikut mengatai Hinana.


"kau juga sampah." umpat Hinana dengan kesal. Hinana merasa hidupnya seperti upik abu, dan teman-temannya mentertawakannya.


"eh ada TIKUS....." teriak Arumi saat melihat seekor tikus berlari kearah Hinana.


"AHHHH....." Hinana berteriak histeris dan melompat kearah Ren.


Tanpa sengaja ia segera memeluk Ren dengan erat dan memejamkan matanya. Mereka berdua terjatuh karena Hinana melompat dengan spontan. Ren menopang kepala Hinana dengan tangannya agar tidak terbentur di lantai.


"Menjijikkan menjijikkan cepat usir tikusnya." ucap Hinana dengan menutup mata dan masih memeluk Ren.


"Hinana, tikusnya sudah pergi." ucap Shota dan masih melihat pemandangan yang menyesakkan.


"tidak tidak itu sangat menjijikkan." Hinana masih saja merasa geli, padahal tikus tadi hanya melewatinya.


Semua orang sudah mengatakan bahwa tikus nya sudah pergi, tapi tetap saja Hinana masih tidak percaya. Ia bahkan masih memejamkan matanya seraya memeluk tubuh Ren dengan erat.


"Hinana, bukalah matamu. Tikusnya sudah pergi." terdengar suara Ren yang lembut dan Hinana perlahan membuka matanya. Dan benar tikusnya sudah tidak ada, ia bisa bernafas lega sekarang. "Jadi sampai kapan kau akan memelukku." ucap Ren dan membuat Hinana tersadar bahwa posisinya sangat tidak tepat.


"Gomennassai." Hinana segera berdiri dan menunuduk minta maaf pada Ren.


"Daijoubu (tidak apa-apa). Kembali bersihkan aku keluar sebentar." ucap Ren dan melempar senyum pada teman-temannya.


Ren keluar untuk membelikan minuman, dengan menahan rasa sakit ditangannya ia mulai menyalakan mobilnya. Sebenarnya saat Ren menahan kepala Hinana, pergelangan tangannya sedikit terkilir. Ia memilih keluar karena juga harus membeli perban untuk tangannya.


"apa ini ?" tanya Emi saat melihat kanvas yang sangat besar dan ditutupi kain putih.


"entahlah sepertinya sebuah lukisan." jawab Tsubaki.

__ADS_1


"pindahkan saja, ayo Tsubaki." Shota membuka kain putih yang menutupi lukisan dan mengajak Tsubaki memindahkan.


"JANGAN SENTUH !!!!!!." Ren datang dan melarang Shota menarik kain putihnya. Tapi kain yang menutupi lukisan itu sudah di buka oleh Shota dan terlihat lukisan wajah perempuan yang sangat cantik.


"ALICE." ucap Arumi saat melihatnya.


"eh siapa Alice?" tanya Emi yang penasaran.


"seseorang yang dulu di cintai Ren saat di paris." jawab Arumi.


"hanya aku yang boleh memanggilnya Alice." Ren mengatakan pada Arumi lalu membawa lukisannya seorang diri.


"aku pikir kau sudah melupakan orang itu, Ren." Shota membantu Ren membawakan lukisan itu tapi Ren menolaknya.


"sudah ku bilang jangan sentuh." Ren segera membawanya pergi.


Sementara Hinana yang melihatnya hanya terpaku. Ia memegang gagang sapu sangat kuat, hatinya sangat sakit saat mendengar apa yang di katakan Arumi.


Terlebih lagi Hinana mendengar Ren menegaskan kalau hanya ia yang boleh memanggil nama Alice. Hal itu sangat menyakitkan bagi Hinana, seminggu yang lalu Ren mengajaknya berkencan tapi masih ada orang lain di hati Ren.


"Hinana kau mau kemana, kami semua belum selesai." teriak Emi.


Hinana melewati Ren yang membawa lukisan. Kali ini rasanya lebih sakit dari pada ditinggal oleh Yukiatsu. Sebenarnya Ren menyadari bahwa ia telah membuat Hinana menangis, mungkin dengan hal ini bisa membuatnya Hinana menjauhinya.


(flash back Ren)


Shota menjenguk Ren di rumah sakit dan membawakan sashimi yang Ren pesan.


"terimakasih Shota." ucap Ren dan mulai memakannya.


"hem, aku mengantar Hinana dengan selamat. Ia mengatakan "maaf" telah mengajakmu ke Disneyland. Apa kalian berkencan?" pertanyaan Shota membuat Ren berhenti mengunyah makanannya.


"hem." balas Ren dengan anggukan.


"apa kau tahu, Hinana begitu putus asa setelah ditinggal mantan kekasihnya? Aku senang jika Hinana bisa ceria kembali. Tapi apa kau bisa menjanjikan untuk bersama lebih lama dengan Hinana."


"aku akan membuat hidup Hinana bahagia kembali." jawab Ren.


" Wakatta aku percaya padamu. Tapi apa kau tahu? Saat Hinana putus dengan mantan kekasihnya ia melarikan diri ke Hokkaido dengan sangat terpuruk. Suatu saat jika kau meninggalkannya, ada hal yang aku takutkan. Bagaimana jika Hinana berniat mengakhiri hidupnya? Karena rasanya seperti seseorang bisa terbang tinggi diatas langit, lalu terhempas jatuh ke bumi." Sebenarnya Shota tidak tega mengatakan hal itu pada adiknya, tapi ia juga mencemaskan Hinana.

__ADS_1


Mendengar perkataan kakaknya Ren hanya meremas sumpitnya hingga patah. Ia menahan perasaan, memang menyakitkan jika perumpamaan seperti itu.


"lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Ren dengan memalingkan wajahnya dari Shota.


"setidaknya kau bisa menjaga jarak denganya." jawab Shota dan keluar dari kamar Ren.


Ren menutup matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam. Rasanya sangat menyakitkan, ia seperti menghirup aroma buah lemon yang terasa sangat pahit.


(back to time)


Ren hanya memandangi punggung Hinana dari kejauhan, sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa semua itu salah paham. Tapi sudahlah, mungkin sedikit menjaga jarak dari Hinana lebih baik.


"musim semi sudah benar-benar tiba rupanya." terdengar suara Shota dan perlahan mendekati Hinana.


Hinana masih tak menjawab dan pandangan menuju kearah pohon sakura yang sudah lebat daunnya. Melihat bunga sakura ia teringat tentang mimpinya di waktu itu.


"apa yang sedang kau pikirkan tentang musim semi?" tanya Shota kali ini benar-benar ingin membuka percakapan dengan Hinana.


"tidak ada, permisi Shota aku harus kembali bekerja." Hinana enggan untuk berbicara dengan Shota karena suasana hatinya mendadak menjadi buruk. Tapi saat Hinana akan pergi dengan cepat Shota mencegah dan memegang tangan Hinana.


"tinggal lah sebentar." dengan cepat Shota menjatuhkan Hinana ke pelukannya.


Ternyata dari sudut rooftop Ren masih saja memperhatikan Hinana. Sebenarnya saat melihat wajah sedih Hinana ia merasa tak tega dan ingin segera menghbur. Tapi perkataan Shota memang benar, jika Ren terus membuat Hinana nyaman dengannya, suatu saat ia seperti menjatuhkan Hinana dari atas. Dan Ren juga tidak bisa memastikan bisa berada disisi Hinana untuk waktu yang lama.


Memikirkan tentang keadaannya yang sekarang membuat dada Ren sangat sakit. Ia memegang dadanya dan tak lama kemudian.


"TiiiiiT......TiiiiiiT....TiiiiiT " smartband nya berbunyi menandakan jantungnya berdetak melebihi normalnya.


"Ren." pekik Shota, ia mendengar suara smartband dan pasti itu milik Ren. Dan Hinana pun melepas pelukan Shota hingga menjadikan kesempatan untuk pergi darinya.


Hinana menuruni tangga dan melihat Ren berjan pula menuruni anak tangga.


"apa kau akan rooftop?" tanya Hinana dan Ren hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Hinana.


"apa kau melihatku dengan Shota?" tanya Hinana kembali, ia juga mendengar suara smartband tapi tidak menyadari jika itu milik Ren.


"tidak." jawab Ren berbohong kemudian melanjutkan turun kebawah. Detak jantungnya sudah stabil tapi rasa nyeri masih terasa.


Sedangkan Hinana hanya memandangi Ren dari kejahuan dan kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2