Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
130


__ADS_3

''Aoyama Sensei, kau menyukai teman masa kecilmu kan? Ucap Sakura dan memandang ke langit.


"Tidak."


"Jika iya tidak masalah. Aku harap setelah aku pergi, Sensei bisa bersama dengan orang yang Sensei sukai." Sakura memberikan senyuman lebar untuk Aoyama.


.


.


.


Hinana dan Ren telah sampai di kuil, mereka bertiga di sambut hangat oleh beberapa pendeta di sana. Dan Kishi langsung menuju sumur untuk minum air yang berasal dari mata air pegunungan.


"Wahhhh kuilnya tidak berubah sama sekali." Ucap Ren dengan kagum, sementara Hinana hanya melihat-lihat saja karena baru pertama kali menginjakkan kaki ke kuil ini.


"Ren, airnya sangat segar. Kau mau mencobanya minum?" Kishi memanggil Ren dan menyuruhnya minum air.


"Haik (iya). Hem...Benar sangat segar." Balas Ren setelah meneguk segelas air.


"Nona Hinana mau mencobanya?" Kishi juga menawarkan pada Hinana.


Hinana segera mendekat dan meminum seteguk air, memang benar-benar segar dan dingin batin Hinana.


"Kami juga sedang membakar ubi, ayo duduk di bawah dan makan bersama-sama." Ucap seorang pendeta dan menawarkan ubi bakar yang biasa di hidangkan untuk para tamu.


"Wahhh terimakasih banyak." Ucap Ren dengan senang dan berjalan mengikuti pendeta tersebut. Pandangan mata Ren langsung menuju ke dinding harapan, ia perlahan mendekati.


"Ada ada sesuatu anak muda? Kau bisa menggantungkan harapanmu setelah berdoa nanti." Seorang pendeta tadi mengahampiri Ren.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku masih melihat harapan ibuku masih tergantung di dinding itu." Jawab Ren dengan ramah, kemudian pergi.


"" Aku harap putraku Ren sembuh dari penyakitnya dan bisa hidup lama"""


Harapan yang di gantung oleh ibunya Ren beberapa tahun yang lalu.


Setelah makan ubi bakar Ren dan Hinana kemudian pergi untuk berdoa. Ren hanya melihat Hinana yang menutup mata dan serius untuk berdoa.


"Kenapa kau melihatku begitu?" Tanya Hinana saat membuaka matanya dan melihat Ren yang tersenyum ke arahnya.


"Tidak apa-apa. Hinana, apa doa yang kau ucapkan?" Tanya Ren dengan penasaran.

__ADS_1


"R-rahasia." Jawab Hinana dengan sedikit terbata-bata.


"Hinana chan, jika kau berdoa agar aku sembuh dan tetap hidup itu mustahil. Aku mengatakannya bukan untuk membuatmu sedih, tapi aku tak ingin kau terlalu berharap."


Perkataan dari Ren seketika membuat hati Hinana sangat sakit. Bagaimana bisa dengan santainya Ren mengatakan hal seperti itu.


Tanpa sengaja Kishi juga mendengar perkataan Ren, dan seketika air matanya tiba-tiba terjatuh.


"Kishi san, apa kau baik-baik saja?" Tanya Hinana yang kebetulan melihat Kishi sedang mengusap air matanya.


"Hum aku baik-baik saja. Aku sangat bersyukur karena mempunyai seorang putri, saking bahagianya aku menetesakan air mata." Jawab Kishi memberi alasan pada Hinana.


"Oh ya, kudengar dari Seto sensei, istrimu baru melahirkan dua minggu yang lalu. Omedeto." Hinana memberikan selamat pada Kishi.


"Iya, terimakasih. Nona Hinana, aku akan menghampiri Aoyama sebentar. Apa tidak masalah jika kau dan Ren disini sebentar."


"Hum, pergilah. Akan ku hubungi kau secepatnya jika terjadi sesuatu." Jawab Hinana dan kemudian Kishi pun pergi.


Memang letak kuil dan pemakaman tidak begitu jauh. Tapi Kishi mempunyai kewajiban untuk mendampingi Ren jadi Kishi meminta izin pada Hinana.


Hinana lalu menghampiri Ren yang terlihat berada di sebuah papan doa.


"Ren kun, sedang apa kau?" Tanya Hinana dan mendekat pada Ren.


Hinana hanya mampu menahan air matanya. Ia juga teringat ucapan Ren.


.


.


"Hinana chan, jika kau berdoa agar aku sembuh dan tetap hidup itu mustahil. Aku mengatakannya bukan untuk membuatmu sedih, tapi aku tak ingin kau terlalu berharap."


Inikah yang dimaksud oleh Ren, bahwa harapan itu akan menjadi sia-sia. Hinana masih membungkam mulutnya, ia hanya memeluk Ren dari belakang dan menyadarkan kepalanya di pundak Ren.


"Aku tidak tahu jika kau bisa semanja ini padaku." Ucap Ren dan tertawa kecil, ia membiarkan tangan kecil Hinana melingkar ditubuhnya.


"Hari ini apa yang kau doakan?"


"Apa ya.... Rahasia." Jawab Ren dan memutar badannya untuk berhadapan dengan Hinana.


"Ren kun, bolehkah aku berdoa agar kau bahagia. Jika memintamu sembuh adalah hal yang mustahil, maka aku ingin kau selalu bahagia." Hinana menatap bola mata Ren yang keabu-abuan, saat ini Hinana beranggapan pasti berat bagi Ren menjalani hari-harinya dengan penyakit yang di deritanya.

__ADS_1


"Hum, mari bahagia bersama-sama." Balas Ren dan membuat wajah Hinana tersenyum lebar. "Bagaimana jika kita tuliskan harapan kita di papan kayu. Kemarilah." Ren mengambil dua papan kayu dan memberikan pada Hinana. Keduanya sama-sama menuliskan harapan yang nantinya akan di gantungkan pada dinding harapan.


"Eh kenapa ada nama Aoyama juga?" Pekik Hinana saat melihat tulisan Ren yang di gantungkan.


"Bukankah Aoyama sahabat kita? Aku ingin Aoyama juga bahagia." Jawab Ren.


"Ehhh, aku pikir hanya kita berdua agar romantis." Gumam Hinana dengan sedikit kecewa.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Ren karena hanya mendengar gerutuan Hinana yang tidak bergitu jelas.


"Tidak ada." Hinana mengulas senyuman lebar pada Ren untuk menutupi kekecewaannya.


Meraka sama-sama tersenyum melihat tulisan yang di gantungkan pads dinding harapan. Ren tiba-tiba merasa dirinya pusing dan hampir terjatuh, untung saja ada Hinana yang memeluknya.


"Ren, apa kau baik-baik saja?" Tanya Hinana dengan khawatir dan memegangi tubuh Ren yang hampir jatuh.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing saja."


Meskipun Ren mengatakan baik-baik saja, tapi Hinana tidak bisa menghiraukannya. Hinana kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Aoyama, meskipun sambil menopang tubuh Ren.


"Apa kalian sudah selesai bersenang-senang?" Teriak Kishi dan berjalan kearah Hinana dan Ren. Kishi juga datang bersama dengan Aoyama.


"Aoyama cepatlah, Ren merasa tidak enak badan." Hinana langsung memanggil Aoyama.


Mendengar ucapan dari Hinana, kedua laki-laki itu mulai panik dan berlari.


"Apa yang kau rasakan?" Tanya Aoyama langsung pada Ren.


"Kepalaku sedikit pusing."


"Kau terlalu lama berada diluar. Kishi san bantu aku membawa Ren kedalam pondok." Aoyama dan Kishi dengan segara membawa Ren masuk kedalam pondok. Hinana yang sudah paham dengan tugasnya langsung membawa tas milik Aoyama yang sangat berat, ia mengikutinya dari belakang.


"Apa keadaan Ren baik-baik saja?" Tanya Hinana saat Aoyama sudah selesai memeriksa keadaan Ren.


"Ren terkena hipotermia, karena terlalu lama berada diluar ruangan."


"Bagaimana dengan penyakitnya?" Hinana masih bertanya karena khawatir dengan keadaan kekasihnya.


"Detak jantungnya masih stabil kurasa tidak ada masalah dengan penyakitnya. Tapi Hinana, kita harus segera pulang. Semakin malam udara akan semakin dingin." Ucap Aoyama dan terlihat wajahnya sangat khawatir.


"Baiklah kalau memang sudah saatnya pulang ya pulang saja." Jawab Hinana dengan entengnya.

__ADS_1


"Eh,,, mudahnya kau mengatakan seperti itu." Aoyama mengernyitkan sebelah alisnya. Dirinya saja berpikir bagaimana membawa Ren kembali ke bawah, bahkan Aoyama sempat ingin memanggil bantuan ke 911.


"Lalu harus bagaimana? Bukankah kau seorang dokter, harusnya kau tau apa yang kau lakukan sekarang." Ucap Hinana seolah menyindir Aoyama.


__ADS_2