
Shota mengajak Hinana ke kedai ramen setelah Aoyama pergi, karena turun salju dan udaranya sangat dingin.
"kau sengaja membuatku gendut lagi." celetuk Hinana.
"seporsi ramen tidak akan membuatmu gendut, akan ku jamin."
"jika aku gendut kau yang harus bayar pajakku. baiklah Itadakimasu.!!" Hinana segera memakan ramen yang di hidangkan.
"kau sangat dekat dengan Aoyama?"
"hem tentu saja dia sahabat baikku, tapi dia sangat pengecut."
"selain pengecut dia juga payah."
"kau juga sepemikiran dengan ku. Aoyama dulu saat SMP selalu di bully, sejak saat itu aku berteman baik dengannya."
"tapi Hinana kenapa kau tak melanjutkan menjadi atlet saja?"
"hentikan kau masih saja mengejekku." Hinana memukul Shota karena kesal.
"Aw, bahkan pukulanmu sakit sekali."
"hentikan Shota." Hinana ingin sekali lagi memukul Shota tapi tidak berhasil, hingga akhirnya mereka tertawa. Hinana merasa bahwa sebenarnya Shota orang yang baik, kejadian yang ia alami di kantor mungkin hanya sifat Shota sebagai atasan.
"Akhirnya Hinana mendapatkan senyumnya kembali." dari kejahuan Ren memperhatikan Hinana dan Shota.
Ren berjalan pulang dengan payungnya melewati badai salju. Sebenarnya Ren kembali dirawat lagi kerumah sakit, tapi bukan Ren kalau tidak kabur.
Gelangnya berbunyi tanda semakin lemah jantungnya.
"sedikit lagi, aku tak boleh pingsan disini." ucap Ren dengan memegangi dadanya. Sakit di dadanya bukan karena udara yang dingin, melainkan melihat Hinana dengan Shota.
Hingga akhirnya Ren bisa kembali ke rumah sakit dengan selamat.
"Hinana libur tahun baru kau pergi kemana?" tanya Shota saat mengantar Hinana pulang.
"entahlah,."
"maukah besok Niseko? Rasanya bermain SKI sangat bagus. Akan ku jemput kau."
"aku tidak janji bisa."
"kenapa? Dari pada hanya di rumah."
"sebenarnya aku ingin pergi bersenang-senang, tapi hatiku belum siap memulai hidup lagi. Aku belum siap jika orang lain datang dan membuat ku nyaman, pada akhirnya akan pergi lagi." penjelasan Hinana membuat Shota hanya terdiam, ia tak tahu bahwa sikap keras kepalanya selama ini ternyata karena trauma.
"lalu apa kau pernah memulainya pada orang lain?"
"hem, sebenarnya aku tak memulainya. Hanya saja..."
"aku tahu tak perlu ku jelaskan. Besok datanglah ke Niseko jam 8 aku menunggumu." Shota pergi mendahului Hinana karena tak ingin ada penolakan.
"hey Shota, jangan menungguku mungkin aku tak akan datang."
"kenapa?"
"karena aku tak ingin membuat janji, sebenarnya hari ini ada seseorang yang harus ku temui. Tapi aku sengaja melupakannya."
"begitukah? Apa itu Ren?" pekik Shota.
"hem, daah Shota aku pulang naik taksi." Hinana menghentikan taksi yang barusan lewat dan pergi meninggalkan Shota.
Saat tiba di apartemen Hinana merapikan pakaiannya yang telah di laudry nya. Hinana mengambil jaket Ren yang waktu itu belum sempat ia kembalikan.
Waktu itu Ren masih sakit tapi Hinana mendorongnya hingga terjatuh. Tapi meskipun begitu Ren masih tetap memperdulikannya.
"apa aku terlalu jahat padamu Ren?" gumam Hinana dengan memeluk jaket Ren.
__ADS_1
BIP...BIP
Lamunan Hinana di hentikan oleh ponselnya yang berbunyi.
"" nona Sawako sudah mendaftarkan perusahaan kita untuk festival Tokyo Summer, persiapkan team kalian.""
"" ada lima orang dalam satu team, ada Ren dan Hinana. Sisanya kuserahkan pada kalian."""
Jouji ayah Renmemberi pesan lewat grub kerjanya. Tentu saja Sawako membantunya karena Hinana sendiri yang memintanya.
"" aku akan ikut.""" balas Arumi.
"" ya tentu saja aku juga mau bergabung."" tambah Tsubaki.
""" baiklah semua ku serahkan pada Ren dan Hinana."" balas Jouji.
Hinana merasa senang karena teman-temannya sangat antusias dengan kegiatan ini.
"perusahaan sudah terdaftar di festival Tokyo Summer, bagaimana menurutmu? Kau sudah ada ide bagus?"
Hinana menulis pesan pada Ren. Namun sudah hampir satu jam tidak ada balasan, dan Ren juga belum melihat emailnya. Hinana merasa kesal lalu tertidur dengan memandangi ponselnya.
Pemandangan musim semi sangat indah, bunga sakura bermekaran menghiasi taman Furano. Hinana menikmati suasana musim semi, meskipun masih sedikit berbalut salju.
Hinana melihat Ren sedang duduk dan membaca sebuah buku.
"Ren." panggil Hinana lalu Ren menoleh dengan senyum di wajahnya. Ren berjalan mendekati Hinana kemudian mencium kening Hinana.
Seketika mata Hinana terperanjak dan bangun dari tidurnya.
"aku hanya mimpi?. Lalu kenapa aku memimpikannya?" gumam Hinana dan memukuli pipinya sendiri.
Pagi sudah datang, kali ini Hinana merasa kesepian karena biasanya ia selalu bercanda dengan Keiko. Hinana memutuskan untuk makan pagi diluar saja.
"Hinana." sapa Aoyama.
"aku membeli cake, kau?"
"makan pagi, sepertinya cake enak untuk sarapan." ucap Hinana dan melihat cake yang dibeli Aoyama.
"ini milikku belilah sendiri." Aoyama menyembunyikan bingkisannya dari Hinana.
"aku hanya bercanda, kau masih saja pelit."
"apa kau sudah lupa saat itu menghabiskan cake punya ku, padahal aku membelikan untuk ibumu."
"Aish.. Kejadian itu sudah lama, lagi pula ayahku juga sudah menggantinya."
"iya iya, Hinana aku tak bisa berlama-lama disini. Daah." Ayoama segera pergi saat taksi yang dipesan sudah datang.
Hinana pun melangkahkan kakinya masuk ke toko roti.
"konnichiwa." sapa pelayan saat Hinana masuk.
Hinana melihat Ren membeli roti dan saat ingin menyapanya ia teringat mimipnya. Ia pun besikap cuek dan memilih roti.
"Hinana." Ren menyapanya.
"ah kau disini juga."
"hem aku mengambil pesanan ku, kau juga membeli roti?"
"iya sepertinya aku ingin sarapan dengan cake saja." ucap Hinana dan memesan cake black forest kesukaannya.
"sepagi ini kau makan yang manis-manis."
"aku menyukainya, terima kasih." ucap Hinana dan duduk di bangku dekat jendela untuk sarapan.
__ADS_1
"emm enak sekali. Kau tidak pulang?." tanya Hinana saat Ren ikut duduk dengannya.
"aku rasa aku juga akan sarapan disini." Ren membuka roti yang dipesannya dan memakannya.
"eh kau juga suka makan croissant. Boleh aku mencobanya."
"aku biasa makan ini saat di Paris. Kau mau?" Ren memberikan sepotong untuk Hinana.
"ini tidak enak, hambar sekali."
"eh maaf harusnya ku berikan yang ini." Ren mengambilkan croissant dengan bungkus warna merah untuk Hinana.
"yang tadi tidak ada rasanya,."
"iya memang tanpa gula yang ku pesan."
"HAH... Kau sangat lahap memakannya padahal sangat tidak enak. Kenapa tak makan yang manis saja."
"hem aku sedang diet gula."
"aneh sekali, kau mau cake ku?" Hinana menawari Ren.
"tidak aku sudah kenyang dengan rotiku." tolak Ren dan tersenyum pada Hinana.
Hinana pun melihat dan teringat pada mimpinya, senyum Ren sama dan membuat hati Hinana berdebar-debar.
"ada cream di bibirmu." ucap Ren dan Hinana segera mengusap tapi malah membuatnya belepotan. Dan Ren langsung mengusap dengan tangannya, tentu saja Hinana terkejut dan menjatuhkan sendoknya.
"maaf." ucap Hinana dan pergi keluar.
"Hinana.. tunggu sebentar...Hinana." panggil Ren dan pelayan toko tapi Hinana tetap keluar dari toko.
"maaf, nona tadi belum membayar."
"Eh.. Baiklah aku yang bayar." Ren menyerahkan kartu kreditnya.
"baik terima kasih, datanglah kembali." sapa pelayan toko dan menyerahkan kartu kredit Ren.
Hinana terasa nafas nya sangat berat, dia sudah cukup shok karena mimpinya. Dan pagi ini Ren membuat hatinya berdebar-debar.
"Hinana, kenapa kau tiba-tiba pergi."
"heh aku rasa sudah kenyang."
"iya setidaknya bayar dulu yang kau makan."
"HAH aku belum membayarnya?." Hinana segera balik masuk ke toko kue, tapi Ren menahannya dengan memegang tangan Hinana.
"aku sudah membayarnya."
Hinana langsung menutupi wajahnya dan duduk di tanah karena malu.
"eh Hinana kau kenapa." tanya Ren.
"pergilah, jangan melihatku."
"wajahmu sangat merah, apa kau kedinginan." Ren menyadari dan mengejek Hinana.
"ku bilang jangan melihatku." semakin erat Hinana menutupi wajahnya dengan tasnya.
"apa kau malu."
"diam dan pergilah saja. emmm terima kasih sudah membayar makananku."
"tidak apa Hinana, hey mau jalan-jalan sebentar?" ajak Ren yang membantu Hinana bangun.
"emm baiklah." akhirnya Hinana menegakkan kepalanya dan menerima ajakan Ren.
__ADS_1