
Hampir sore hari semua orang mencari Ren dan tidak ada yang menemukannya.
Hinana, Arumi dan Tsubaki memutuskan kembali lagi ke kantor.
Keadaan kantor sudah sepi mungkin semua orang sudah pulang karena tidak ada yang dikerjakan. Sedangkan staff marketing tidak bisa, karena pekerjaannya bergantung pada target.
"andai saja aku bisa tukar posisi dengan staf design." Tsubaki menggerutu dengan di depan mesin fotocopy.
"Diamlah Tsubaki kau pikir kau saja yang lelah. Kita semua pergi mencari, enaknya yang berada di kantor." sahut Arumi menyindir Emi.
"kau membicarakanku?" Emi pun tidak terima dengan ucapan Arumi.
"apa kau tersinggung?"
"DIAMLAH!!! Kalian membuatku pusing." emosi Hinana pun ikut terpancing karena ia juga lelah.
Hinana berdiri dan akan mencopy beberapa dokumennya. Kepala Hinana merasa pusing karena dari tadi belum istirahat, dan sekarang harus lembur sampai jam 10 malam.
Terdengar langkah kaki yang berjalan, Hinana dan yang lainnya menengok. Tepat saat itu Hinana tidak bisa menahan dirinya dan terjatuh pingsan.
"Hinana.." Ren segera menghampiri Hinana yang terjatuh.
"Ren...!!!" teriak semua orang di ruang marketing.
"Hinana Hinana, jawab aku. Bantu aku membawa Hinana ke rumah sakit." Ren menggendong Hinana.
Arumi dan Tsubaki berjalan di belakangnya untuk menuju rumah sakit
Sepuluh menit kemudian mereka semua tiba di rumah sakit dan Hinana sudah di periksa oleh dokter.
"apa yang terjadi?" tanya Ren pada Tsubaki.
"kenapa kau bertanya? Kemana saja kau, seharian ini kami semua mencarimu." Tsubaki mendorong Ren ke dinding dengan marah. Karena ulah Ren semua orang di kantor kena kemarahan Shota.
"maaf, tapi aku perlu waktu untuk sendiri." Ren menyesali perbuatannya dan menunduk.
"apa ada wali dari pasien?" tanya seorang dokter.
"aku rekan kerjanya." ucap Arumi dan menghampiri dokter, karena kedua temannya berkelahi.
"begini, Nona Hinana mempunyai luka di tangannya apakah sudah lama? Sepertinya lukanya terkena infeksi hingga menyerang kekebalan tubuhnya. Untuk tiga hari kedepan Nona Hinana harus di rawat dulu di rumah sakit" Dokter menjelaskan keadaan Hinana.
"apa luka bakarnya belum sembuh?" tanya Ren.
"lukanya tidak akan sembuh jika tidak di obati dengan baik. Dan membuatnya infeksi, tapi tenanglah saya sudah membersihkannya dan mengobatinya."
"baikalah terima kasih, aku akan mengurus administrasinya."
"silahkan ikuti saya Tuan." kata dokter dan Ren mengikutinya.
Sementara Arumi dan Tsubaki masuk ke kamar Hinana.
Arumi yang membawakan tasnya Hinana dengan sengaja membuka ponsel Hinana.
__ADS_1
"sudah lama sekali pesta itu terjadi. Dasar ceroboh."umpat Tsubaki yang memandangi Hinana belum sadar.
"apa yang sudah aku lakukan?" ucap Arumi dan menangis.
"ada apa Arumi?"
"aku sudah keterlaluan terhadap Hinana, aku sangat jahat padanya." Arumi menjelajahi ponsel Hinana, tidak ada aplikasi pemutar musik dan lagu sama sekali di posel Hinana.
"kenapa Arumi? Jelaskan padaku?" Tsubaki semakin heran karena Arumi semakin menangis. Saat itu Ren langsung ke kamar tanpa mengetuk pintu
"kau lihat Tsubaki, tidak aplikasi pemutar musik. Lihat foldernya tidak ada lagu sama sekali. Selama ini Hinana selalu memakai earphone saat kami mencelanya, selama ini Hinana...... mendengarnya. Hiks hiks hiks." tangis Arumi semakin keras karena merasa bersalah.
Ren mengajak Arumi dan Tsubaki keluar dari kamar inap Hinana. Dan Arumi pun masih menangis meskipun Tsubaki sudah menenangkannya.
"biarkan Hinana istirahat." ucap Ren dan mengambil ponsel Hinana.
"minta maaflah pada Hinana besok, sekarang pulanglah Arumi."
"iya pulanglah Arumi, biar aku dan Ren yang menjaga Hinana." Tsubaki menenangkan Arumi yang belum menghentikan tangisannya.
Ren melihat ponsel Hinana dan mencari kontak keluarganya untuk mengubunginya.
"Bodoh." Ren terkejut saat melihat kontak Hinana hanya ada tiga saja. Ibunya, Keiko dan miliknya, tapi Ren kesal karena Hinana menamainya "Bodoh" di kontaknya. Ren mengubah namanya dan tersenyum saat sudah tersimpan.
"Ren...!" teriak sesorang yang sudah dikenalnya. Ren dan teman-temannya menoleh kearah suara itu, ternyata kedua orang tua Ren, Shota dan Emi menghampirinya.
"Ren, ibu sangat khawatir kenapa kau pergi?" Sheren ibu Ren memeluknya.
"infeksi luka, sementara akan dirawat tiga hari." jawab Tsubaki dengan tenang.
"ayo pulang Ren." Shota menarik tangan Ren.
"tidak..!"
"kau gila ya, kami semua seharian mencarimu. Sekarang ayo pulang." Shota menarik tangan Ren tapi, ia masih bertahan.
"pulanglah Ren, aku akan menjaga Hinana sebagai permintaan maafku." Arumi menghampiri Ren dan mengusap air matanya.
"hem itu benar, aku juga akan menjaga Hinana. Pulanglah semua orang khawatir denganmu." tambah Tsubaki untuk meyakinkan Ren.
Ren masih terdiam begitu juga dengan semuanya. Ren melihat Hinana dari jendela yang belum sadar.
"Baiklah, jangan lupa hubungi keluarganya." Ren menyerah. Dan memberikan ponsel Hinana pada Arumi.
" Saat ini kau menunjukkan sisi terlemahmu Hinana. Sebenarnya aku ingin membantumu menutupinya, tapi aku sadar bahwa aku sendiri juga lemah. Ku harap kau menemukan kepercayaan pada orang lain Hinana. (Ren Koizumi)"
Ren melangkahkah kakinya mengikuti kedua orang tuanya, meskipun dengan berat hati. Shota dan Emi juga ikut pulang.
Emi yang memberitahu jika Ren datang ke kantor dan membawa Hinana ke rumah sakit. Maka dari itu dengan cepat Shota dan keluarganya segera datang.
"Arumi jika kau lelah pulanglah tak apa, aku bisa menjaga Hinana sendiri."
"kau akan di pukul jika Hinana bangun." Ucap Arumi dan masuk ke kamar inap Hinana, sementara Tsubaki menunggu di luar.
__ADS_1
Keesokan harinya Hinana terbangun dan mendapati dirinya sudah di rumah sakit. Selang infus dan oksigen sudah menancap di tubuhnya.
"Hinana kau sudah sadar." tanya Arumi.
"kenapa aku disini?"
"kau pingsan semalam, dokter bilang ada infeksi di lukamu."
"pergilah." ucap Hinana dengan sikap dinginnya.
"eh kenapa?" tanya Arumi yang terkejut.
"ku bilang pergilah."
"tidak, aku akan menjagamu. Aku sudah menghubungi Keiko sepupumu, mereka akan kemari sekitar jam 10."
"pergilah, jangan pernah menolongku." teriak Hinana hingga membuat Tsubaki terbangun.
"Hinana bagaimana keadaanmu." Tsubaki yang panik mendengar teriakan Hinana langsung masuk.
"kau juga Tsubaki? Semuanya pergilah."
"tapi Hinana." Tsubaki masih berusaha membuat Hinana tenang.
"sudahlah Tsubaki, biarlah Hinana istirahat."
"Hinana jika ada masalah kau bisa menghubungi kami, cepatlah sembuh." Arumi mengajak Tsubaki pergi sementara Hinana masih diam tak merespon apapun.
"aku tidak percaya Hinana masih keras kepala." ucap Tsubaki yang keluar dari rumah sakit.
"aku tahu jika hal itu pasti terjadi, kau harus lebih sabar menghadapinya Tsubaki." jawab Arumi dengan senyumnya.
"aku lelah aku akan minta libur."
"aku pun juga, daah Tsubaki aku pulang dulu." Arumi melambaikan tangan dan masuk kedalam taksi.
"halo ada apa Ren?" tanya Tsubaki saat Ren menelponya.
"bagaimana keadaan Hinana?"
"dia sudah bangun dan mengejutkan semua orang."
"benarkah? Apa yang terjadi?"
"Hinana berteriak dan menyuruh kami pergi."
"sudah kuduga, kalian meninggalkannya?"
"iya, oh iya Ren aku dan Arumi absen hari ini. Sangat melelahkan."
"baiklah, akan ku sampaikan pada Shota. Terima kasih Tsubaki."
"sama-sama." kemudian Tsubaki menutup teleponnya dan menyetir untuk pulang.
__ADS_1