Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
23


__ADS_3

"Yukiatsu. Siapakah dia, apa ada hubungannya dengan Hinana?" Gumam Arumi.


Ponsel Arumi berdering, ia segera menjauh agar tidak ketahuan kalau sedang menguping.


"halo Ren, kenapa susah sekali menghubungimu?"


"maaf aku sangat sibuk, apa kau sudah melihat email ku?"


"iya sudah, tuan Matsumoto juga setuju dengan designnya. Kau memang terbaik Ren." puji Arumi.


"kau berlebihan Arumi."


"oh ya Ren apa kau mengenal Yukiatsu?" pertanyaan Arumi membuat Ren terdiam di sana.


"halo Ren apa kau mendengarku?" tanya Arumi setelah sekian lama tak ada ucapan.


"entahlah ada apa?"


"aku mendengar nona Sawako selalu membahas tentang Yukiatsu pada Hinana. Dan menurutku Hinana tidak menyukainya."


"apa Hinana ada di pesta?"


"tentu saja, oh iya Shota juga ada disini."


"Arumi.. Kemarilah kita bersulang." teriak teman-teman Arumi.


"sampai nantu Ren, aku akan melanjutkan pestanya." ucap Arumi dan menyudahi teleponnya.


Hinana meminum sodanya dengan cepat, bukan karena haus melainkan hatinya sangat sakit karena masih berada di dekat Sawako.


"oh iya Hinana apa rencanamu setelah putus dengan Yukiatsu?"


"kenapa kau bertanya padaku?"


"tidak apa-apa, hanya saja apa kau masih mencintainya?" ucapan Sawako bagaikan pedang yang menghujani hatinya.


"aku pergi dulu,."


"kau mencoba melarikan diri dari ku?"


"sebenarnya apa maumu?"


"akhirnya kau bertanya padaku. Aku ingin kau membantuku mendekati Yukiatsu."


"lupakan itu tidak akan pernah terjadi." Hinana tak bisa lagi menahan air matanya. Ia segera pergi menjauh dari Sawako.


"tunggu sebentar Hinana." Sawako masih saja mengejarnya.


Hinana menunduk dan berjalan dengan cepat, sepertinya air matanya benar-benar jatuh dan rasa sesak di dadanya semakin sakit. Hingga akhirnya Hinana menabrak seseorang.


"lama tidak bertemu nona Sawako." ucap Ren kemudian memakaikan topi flatnya pada Hinana.


"senang bertemu denganmu Ren." sapa Sawako.


Hinana mendekatkan kepalanya di tubuh Ren saat tahu jika yang ia tabrak adalah Ren.


"nona Sawako ayo bergabung dengan kami bersulang." teriak Arumi mendatangi Sawako.


"oh Ren kau juga datang, ayo kita bersulang bersama." ajak Arumi.


"iya tentu kalian pergilah dulu."


"daah Ren kami menunggumu." Arumi segera menggandeng Sawako untuk naik ke balkon.


Ren memeluk Hinana setelah kedua temannya pergi. Setelah menelepon Arumi ia segera bergegas ke kantor, karena Ren tahu jika Hinana akan tersakiti kembali.


"kenapa kau tak lari saja?" Ren menghapus air mata Hinana dan menatap kesedihan di matanya.


"aku tidak bisa?"


"apa semua karena kerja sama itu?" tanya Ren dan Hinana mengangguk. "maafkan aku." Ren kembali memeluk Hinana.


Ren merasa bersalah pada Hinana, demi menyelamatkan perusahaannya Hinana rela jika tersakiti lagi

__ADS_1


Mendengar kedatangan Ren dari Arumi, Shota segera turun dan menghampirinya. Namun pemandangan yang tidak menarik harus ia lihat. Shota melihat Hinana menangis dalam pelukan Ren.


Meskipun Shota sangat menyayangi adiknya, tetap saja rasa sakit itu ada. Karena Shota sudah terlanjur mencintai Hinana.


Shota kembali ke teman-temannya, tidak lama kemudian Ren dan Hinana juga datang.


"Ren lama sekali tidak bertemu, aku merindukanmu." sapa Emi yang senang dengan kedatangan Ren.


"maaf aku sibuk sekali, aku juga merindukan kalian."


"minumlah kita bersulang malam ini." Arumi menuangkan segelas whine untuk Ren dan Hinana.


"maaf aku mudah mabuk." tolak Hinana dan Ren bersamaan.


"Hah kalian kompak sekali. Baiklah kalau begitu ini untuk kalian berdua." Arumi memberikan soda kaleng pada Hinana dan Ren.


"terima kasih." Hinana mengambilnya.


"baiklah ayo besulang, Ren kau tak mau ikut?" tanya Tsubaki karena Ren tidak juga mengambil sodanya.


Shota melempar sebotol air putih pada Ren, dengan cepat Ren mengambilnya.


"ayo kita bersulang." ucap Ren dan semua orang mengikutinya.


"makanlah." Hinana memberikan sepotong apel untuk Ren.


"apa ada banana?"


"tidak ada, kau pemilih sekali."


"aku tidak suka."


"pantas saja kau kurus, kau selalu pilih-pilih makanan." Hinana megejek Ren.


"ada buah peach juga, ini sangat enak Ren." Emi memberikan pada Ren tapi tidak diterima nya.


"tidak. Aku juga tidak suka."


"ternyata direktur utama Koizumi Clothes sangat lucu ya." ucap Sawako dan tertawa.


"hentikan Tsubaki, ini sangat sakit." rintih Ren dan semua orang tertawa.


"kau tampan dan kaya kenapa belum menikah juga Ren?" tanya Sawako dan semua memperhatikan Ren.


"emm pikiranku belum sampai kesana. Masih ada sesuatu yang harus ku lakukan." jawab Ren dengan senyumnya.


Tak terasa waktu sudah dini hari. Semua orang membersihkan balkon kantor karena pesta telah selesai.


"kapan kau pulang?" tanya Shota yang sibuk dengan Cameranya.


"tadi pagi." jawab Ren.


"kenapa kau kemari apa kau kabur lagi."


"tentu saja tidak, Dady memberiku izin karena kau juga ada di sini."


"kau selalu saja menyeret namaku."


"tentu saja, Dady tidak akan khawatir jika aku bersamamu."


Shota masih sibuk mensetting cameranya dan saat itu lampu flashnya menyala kearah teman-temannya.


Hinana menghampiri Shota dan mengambil cameranya.


"apa yang kau lakukan." tanya Shota yang terkejut. Sementara Ren melihat dan hanya tertawa. Kejadian ini sama persis saat di kereta batin Ren.


"tidak ada." jawab Hinana saat dirasa tidak ada foto dirinya di camera Shota.


"dasar aneh, kau juga mengapa tertawa."


"tidak apa-apa."


"Shota bagaimana kalau kita foto bersama." ajak Arumi.

__ADS_1


"iya sepertinya akan menjadi pengingat anak cucu kita." Tsubaki.


"baiklah akan ku foto."


"kau juga ikut, kita berenam bersama."


"aku tidak ikut kalian saja." ucap Hinana yang sibuk mengumpulkan kaleng bekas.


"ikutlah saja Hinana." Ren menarik tangan Hinana dan mengajaknya bergabung. Shota menyetujui dan mengatur cameranya.


"ayo sudah mulai, satu, dua, chesee." ucap Shota dan saat itu juga ia melihat tangan Ren memeluk tubuh Hinana.


CKRIIIKKK!!!! satu foto telah diambil. Tampak semua orang tersenyum bahagia, begitu juga Hinana.


"kami pulang dulu daah Ren, Shota." ucap Arumi dan yang lain.


"hem hati-hati."


"happy new year Ren." sahut Tsubaki.


"happy new year too."


"Hinana kau mau pulang juga?" Ren menghentikan langkah Hinana.


"hem, aku juga mengantar Emi. Ada apa?"


"tidak apa-apa. Hinana esok bisakah kita bertemu?"


"oh tentu."


"aku tunggu di taman Furano jam 9 pagi."


"baiklah, daah Ren." Hinana pergi mengikuti teman-temannya.


"Hinana bisa kah kau antar aku ke Yamato mart dulu." ucap Emi lalu masuk ke mobil Hinana.


"baiklah"


"terima kasih Hinana maaf merepotkanmu, semoga saja mobilku besok sudah beres."


"tidak apa-apa. Emi ambilkan aku sebotol shake."


"tentu." Emi kemudian turun dari mobil Hinana dan menuju minimart.


BIP BIP


Hinana membuka ponselnya, ada undangan grup dan Shota mengirimkan foto bersama.


"Happy New Year." tulis Shota.


"Happy New year too." balas yang lain kecuali Ren dan Hinana.


"ini shake punya mu." Emi selesai belanja dan masuk ke mobil Hinana.


"berapa harganya?"


"tidak usah, anggap saja aku yang traktir."


"benarkah, thank you Emi."


"kau sudah lihat fotonya?, keren sekali." tanya Emi dan Hinana hanya mengangguk dan fokus pada kemudinya.


"sudah sampai."


"terima kasih Hinana, oh iya. Aku menyukai Ren." ucap Emi tiba-tiba sebelum keluar dari mobil.


"HAh." Hinana terkejut.


"kenapa kau katakan padaku."


"entahlah, hanya saja kau perlu tahu. Aku menyukai Ren dari dulu saat SMA tahun pertama, hingga sekarang." semua pernyataan Emi membuat suasana menjadi canggung. Hinana terdiam sementara Emi masih menunggu jawaban Hinana.


"aku tak peduli, semua itu bukan urusanku."

__ADS_1


"begitukah.! Um terima kasih tumpangannya Hinana. Daah." Emi turun dari mobil Hinana dan melambaikan tangan. Hinana hanya menganguk dan melanjutkan perjalannya.


__ADS_2