
Ren masih mencemaskan Hinana. Mana mungkin ia bisa berpangku tangan saja saat mengetahui orang yang sangat di cintainya hancur. Ia memutuskan untuk menemui Hinana di rooftop meskipun sudah ada Shota yang mungkin saja sudah menghiburnya.
Dari kejauhan Hinana melihat bahwa Ren datang menghampirinya. Hinana juga teringat saat dirinya terluka satu-satunya orang yang mendekatinya hanya Ren. Dan sekarang saat luka itu kembali datang, Ren juga mengampirinya.
"Review besok kau bisa memakai ini." ucap Ren dengan memberikan topeng berbentuk rubah yang ia buat sendiri. Meskipun ia tahu jika Shota sedang menemani Hinana.
"Kitsune? (Kitsune nama topeng bentuk rubah)." Hinana menerimanya.
"Hem aku membuatnya, ku pikir dengan ini kau bisa ikut shooting tanpa harus rasa takut. Besok waktu reviewnya jam 9 jadi datanglah lebih awal." ucap Ren lalu memutuskan kembali setelah tahu bahwa Hinana sudah baik-baik saja.
Tapi Hinana mencegah dengan memegang tangannya. Kemudian langsung memeluknya. Sontak hal itu membuat Ren terkejut, apalagi dengan Shota yang ikut menyaksikannya.
"Saat itu aku sedang terluka, rasanya sangat perih sekali. Entah rasa perih itu dari luka yang terkena tungku panas atau karena patah hatiku. Kau adalah satu-satunya orang yang mendekatiku dan mengobati lukaku. Kemudian kau memelukku dan mengatakan Daijoubu." ucap Hinana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ima wa ,(sekarang) aku sedang terluka. Aku ingin kau memelukku dan mengatakan 'Daijoubu' seperti waktu itu." Hinana melanjutkan perkataannya dengan tubuhnya yang masih memeluk Ren.
"Daijoubu." ucap Ren dan mengeratkan pelukan Hinana.
Dan saat itu juga air mata Hinana mulai tergelincir.
"Daijoubu." ucap Ren sekali lagi dan mengusap kepala Hinana dengan lembut.
Shota perlahan menjauh dari kedua orang itu. Kini perasaannya ikut teluka juga saat melihat Hinana memeluk Ren.
Saat aku mengejarmu dan mengatakan hal-hal yang konyol tentang Tsubaki, kupikir kau akan sedikit terhibur. Karena yang ku tahu kau dan Tsubaki sering tidak akur.
Tapi ternyata tidak, yang bisa membuatmu merasa lebih baik saat Ren datang kemudian memelukmu. Andai saja waktu itu bisa ku kembalikan, aku ingin menjadi orang pertama yang mendekatimu saat terluka kemudian memelukmu dan mengatakan "Daijoubu". Aku ingin egois, aku ingin orang itu aku bukan Renchiro."
Dengan langkahnya yang gontai Shota menuruni anak tangga untuk menuju ke ruangan kerja. Ia memutuskan untuk pamit dengan beralasan akan kembali kerja. Padahal sejujurnya ia benar-benar tidak bisa mengabaikan rasa sakit yang selalu ia tahan.
"Yo Shota, bisakah besok setelah review kita mampir ke tempat kerjamu?" Tsubaki melempae pertanyaan sebelum kawannya pergi.
"Terserah kalian. Tapi aku tidak akan mentraktir." jawab Shota dengan enteng.
"Tenanglah, kau tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun."
"Jaa mata." ucap Shota lalu pergi.
__ADS_1
Angin musim semi yang terasa hangat seolah membuatku merasa lebih baik. Sejujurnya aku tidak menyukai musim semi, karena saat itu aku berpisah darinya. Tapi entah mengapa mulutku terucap untuk menyuruh seseorang orang menyukai musim semi. Entahlah...
"Sudah merasa baikan?" tanya Ren lalu melepaskan pelukan Hinana.
"Hum, arigatou."
"Kalau begitu ayo kembali, mereka semua mengkhawatirkan mu." Ajak Ren lalu menggandeng tangan Hinana dan mengajaknya kembali ke ruang kerja.
Sesampai disana Hinana melihat teman-temannya sangat sibuk mengerjakan gaunnya. Bahkan Aoyama yang notabenya hanya membantu juga di sibukkan dengan beberapa pekerjaan. Tapi ia melihat Sawako yang sedang duduk di tepi balkon dengan pandangannya menerawang jauh.
"Em em adakah yang bisa aku lakukan." Hinana mendekati Sawako yang terdiam. Ia tahu pasti saat ini Sawako juga sedang memikirkan Yukiatsu.
"Eh Hinana, seperti biasa kau bisa meronce manik-manik. Soal review besok apa kau sudah siap?" tanya Sawako namun Hinana bisa membaca raut wajah yang begitu khawatir.
"Ren membuatkan topeng kitsune, tenang saja."
"Yokatta (syukurlah), baiklah untuk hari ini sepertinya aku tak bisa membantu sampai selesai."
"Nee Sawako. Gomenne (maaf) tidak seharusnya aku...." ucapan Hinana terpotong oleh Sawako dan buru-buru pergi.
"Tidak perlu minta maaf begitu Hinana. Aku harus pergi sekarang, kuharap review besok berjalan lancar. Sumimasen (permisi)." Sawako melepas genggaman tangan Hinana kemudian menunduk pada teman-teman lainnya sebelum pergi.
"Mau mendengarkan musik?" Ucap Arumi tiba-tiba menghampiri Hinana dan memberi satu earphon miliknya.
"Hem."
"Ganbatte yo (semangat)." Arumi kembali menepuk punggung Hinana.
"Menurutmu bagaimana perasaan Sawako? Aku merasa bersalah dengannya, pasti saat ini dia sedang tidak baik-baik saja." Hinana menghentikan aktivitasnya sejenak, ia teringat bagaimana ekspresi Sawako saat ia mendekatinya.
"Jika kau mengkhawatirkan seseorang, pastikan dirimu baik-baik saja dahulu." balas Arumi lalu pergi menyelesaikan tugasnya.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa sudah pukul lima sore. Kini mereka semua segera membereskan dan merapikan ruangan untuk shooting besok. Sebelum pulang Hinana memandangi gaun yang mereka buat. Warna pink yang indah membuatnya teringat saat mantan kekasihnya melamarnya.
"Kau mau pulang bersama?" tanya Aoyama membuyarkan lamunannya.
"Tidak, aku harus mengambil mobilku yang tertinggal di kelap." Jawab Hinana dengan melangkah maju.
__ADS_1
"Kalau begitu biar kuantar kau sampai ketempat." tawar Aoyama namun tak begitu lama ia melihat Ren menghampiri mereka berdua.
"Apa kalian berdua pulang bersama?" ucap Ren dengan senyuman yang menawan seperti biasanya.
"Tentu saja tidak, Jaa Mata Ren." Aoyama membalas pertanyaan dari Ren kemudian pergi meninggalkan Hinana dan Ren.
*"Dasar aneh, sedetik yang lalu menawarkan pulang bersama tapi detik berikutnya meninggalkanku." pekik Hinana dalam hati.
"Kau mau pulang denganku?" tanya Ren pada Hinana.
"Sebenarnya aku akan ke kelap malam, mobilku tertinggal di sana."
"Sokka (begitukah). Biar aku antar sampai sana. Igo (ayo)." ajak Ren dan Hinana mengikuti langkah Ren dari belakang.
Sepuluh menit mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan Hinana. Setelah mengucapkan terimakasih Hinana keluar dari mobil Ren dan mengambil mobil miliknya.
Shota Koizumi
Semangat untuk besok. Setelah selesai kalian akan makan bersama bukan? Ren sudah memberitahu rencana itu. Jadi antarkan mereka ke resto tempatku bekerja.
Hinana Arizawa
Wakatta (baiklah).
Setelah membalas pesan dari Shota ia langsung melajukan mobilnya ke apartemen.
Sesampainya di Apartemen Hinana langsung menghempaskan badannya ke kasur. Ia berharap esok akan berjalan dengan baik.
...********************...
Hari yang ditunggu-tunggu telah datang, sesuai dengan perintah Ren mereka semua datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya.
Arumi dan Emi yang sibuk merias diri mereka karena ingin terlihat cantik di depan kamera. Sedangkan Tsubaki dan Ren memulai mengatur tempat untuk pengambilan gambar yang bagus.
Hinana masih memegangi topeng kitsune yang diberikan oleh Ren. Ia menatap dengan senyuman yang getir, karena satu tahun yang lalu produser, wartawan atau crew kameramen lainnya menantikan untuk menyorotinya. Namun kali ini ia harus bersembunyi, rasanya sangat perih.
like+coment ya....
__ADS_1
sejujurnya otor kurang semangat lanjut karena merasa gg ada peminatnya.