Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
99 Home run


__ADS_3

"Apakah tempatmu disana menyenangkan? Apa kau merindukanku? Aku masih disini, kapan kau akan menjemputku?" (Aoyama kou)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aoyama keluar dari toko oleh-oleh, ia melihat Ren yang membereskan kotak obatnya.


"Maaf karena aku kau sampai meminum obat disini." ucap Aoyama dengan rasa canggung.


"Daijoubu (tidak apa-apa)."


"Apa kau merasa sakit?" tanya Aoyama untuk memastikan keadaan Ren.


"Tidak sama sekali, Sensei sudah membeli sesuatu?"


"Hum, ayo kita pulang." Ajak Aoyama dan mulai berjalan.


"Sensei.... Apakah tempat orang mati ada di atas langit?"


Langkah Aoyama seketika berhenti, ia menoleh kebelakang dan melihat Ren masih duduk di bangku dengan menghadap ke atas. Ia memutuskan untuk kembali dan duduk disebelah Ren.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Aoyama juga ikut melihat ke langit yang sudah mulai menjelang malam. Ingatnya kembali ke lima tahun yang lalu.


"Sensei. Ibuku bilang bahwa ayahku yang sudah mati berada diatas langit. Jadi aku selalu melihat ke langit setiap kali aku merindukan ayahku. Sensei bisa melakukannya suatu saat nanti." ucap Sakura dengan senyum yang ceria.


Aoyama melihat kearah Ren dan tanpa sadar air matanya terjatuh. Aoyama selalu teringat Sakura saat sedang bersama Ren.


"Sensei, kenapa anda menangis." Ren terkejut saat melihat Aoyama yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.


"Benarkah? Mungkin karena angin dingin yang menyambar mataku." dengan segera Aoyama mengusapnya dan berjalan meninggalkan Ren.


"Woi tungguin aku. Kau mau kemana? Jalan pulang lewat sini BAKA (bodoh)!!!." teriak Ren dengan mengejar Aoyama.


Aoyama yang salah arah langsung berbalik dan mengikuti Ren. Tanpa sengaja saat mereka berjalan melewati lapangan, terlihat beberapa anak SMA yang sedang bermain baseball. Ren berhenti sejenak untuk melihat.


"Aku dulu sangat ingin bermain base ball, tapi aku sangat payah dalam olahraga." celetuk Aoyama di samping Ren dan membuatnya kaget.


"Kau membuatku kaget."


"Gomenne (maaf)." jawab Aoyama.


"Aku pernah memainkannya, aku adalah pemukul yang hebat." Ucap Ren dengan memamerkan dirinya.


"Wakatta (aku paham), oleh karena itu aku dulu sempat mengidolakanmu. Orang yang tampan, kapten tim baseball, dan orang yang jenius."


"Sensei berlebihan sekali, yaa tapi itu dulu. Ayo pergi !"

__ADS_1


"Jangan panggil aku Sensei, bukankah kau dulu pernah satu sekolah denganku? Hanya saja aku tidak sepopuler kau." Aoyama mengomel dengan sedikit berlari mengikuti Ren. Tapi Ren malah berbalik arah menyeret jaket Aoyama.


"Oi tunggu sebentar, mau kemana lagi."


"Urusai (berisik) ikutlah saja." dengan senyum licik Ren tetap menyeret Aoyama ke suatu tempat.


Tak jauh dari stadion Tokyo Dome (stadion baseball), terdapat tempat untuk latihan memukul bola base dan disitulah Ren mengajak Aoyama.


Mereka membayar sewa satu base dan tongkat pukul. Di base terdapat lemparan bola otomatis jadi. ini hanya perlu memukul kebagian gawang yang bertuliskan home run.


"Matte (tunggu), aku tak akan membiarkan kau bersikap sembrono lagi." Cegah Aoyama saat Ren akan menghidupkan mesin pelempar bola otomatis.


"Tenang saja, karena Sensei yang akan melakukannya. Ganbate!" Ren memberikan tongkat pukul pada Aoyama dan menepuk pundaknya.


Sedangkan Aoyama hanya bisa keheranan, karena ia sama sekali tak pernah memainkannya. Bahkan memegang tongkatnya baru pertama kali ini.


"Pukulah yang benar!!!! " Teriak Ren saat Aoyama tidak bisa memukul satu bola pun yang terlempar.


"Gunakan tegamu lah!"


"Dasar Payah.!!"


Berkali-kali Ren berteriak dengan rasa putus asa karena Aoyama tak bisa memukul bola.


Dengan keringat yang bercucuran Aoyama masih memegang pemukul dengan erat dan berkali-kali mencoba memukul bola. Tapi sayangnya satu bolapun tak bisa ia pukul, sementara Ren yang melihat hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Hampir satu jam Aoyama masih pada posisinya, hingga akhirnya ia menyerah dan beristirahat.


"PAYAH." ledek Ren dengan memberikan sebotol air mineral.


"Setidaknya aku sudah berusaha." Jawabnya dengan meneguk air mineral miliknya.


Ren yang sedari mengamati pemukul bola akhirnya tanpa ragu langsung mengambil dan berjalan menuju base.


"Cotto Matte (tunggu sebentar), apa yang kau lakukan?." Dengan sangat khawatir Aoyama segera mencegah Ren


" Ren hentikan, kumohon."


Keduanya sama-sama terdiam, Aoyama masih mencegah Ren. Karena bagaimanapun juga olahraga apapun menguras tenaga dan hal itu tak mungkin bisa di lalui Ren.


"Sensei, aku hanya sebentar."


"Meskipun begitu tetap saja tidak boleh."


"Aku berjanji tidak akan terjadi apa-apa, percayalah."

__ADS_1


Entah mengapa tiba-tiba Aoyama melonggarkan tangannya, melihat wajah Ren yang tersenyum seperti itu membuatnua luluh.


"Baiklah, aku tidak akan mengampunimu jika kau melanggar janjimu." ucap Aoyama lalu mundur perlahan dari base.


Ren mengatur waktu di mesin pelempar bola, kemudian ia mengambil posisi untuk memukul bola.


SsssssTttttttt...


TTtttOoooooSssss.....


Wwwoooooosssst....


Satu kali pukulan Ren berhasil hingga mengenai home run dan Aoyama hanya bisa terdiam melihatnya. Ia teringat sewaktu masa SMA, saat melihat Ren masih menjadi kapten team baseball di sekolahnya. Keahlian Ren tidak memudar sama sekali, bahkan Aoyama juga pernah mengidolakan Ren waktu itu.


"Sugoi (hebat)." Gumam Aoyama dan tersenyum dari kejahuan.


Setelah pukulan kelima Ren mulai tersenyum dan berhenti. Meskipun sangat menyenangkan baginya tapi ia tahu jika saat ini harus berhenti.


"Kau keren sekali, sama seperti dulu." ucap Aoyama saat Ren mendekat kearahnya dan duduk disebelahnya.


"Semuanya terlihat mudah." jawab Ren dengan bercanda, kemudian melirik kearah smartband yang ia pakai.


Saat Ren akan minum, tiba-tiba ada dua orang anak laki-laki yang mendekat kearah Ren dan Aoyama.


"Hajimemashite (halo) aku Taiga, dan temanku Nomura. Kami melihatmu dari kejahuan, kau sangat keren. Maaf bisakah kau bergabung dalam club kami." Ucap salah seorang laki-laki muda berambut pirang dan memberikan sebuah kartu nama.


"Seigaku?" ucap Ren membaca kartu nama yang ia terima.


"Benar. Club kami sudah berdiri hampir sepuluh tahun dan memenangkan beberapa medali emas..."


"Gomennasai (maaf), aku tidak menyukai basseball lagi. Aku benar-benar minta maaf." Ren memotong perkataan seorang laki-laki tersebut dengan permintaan maafnya. Ia pergi meninggalkannya tapi masih menyimpan kartu nama itu dengan baik.


"Maaf membuat kalian kecewa. Tapi dia adalah pasienku, dan dia sedang tidak sehat." Aoyama mendekati dua orang pemuda sebelum ia mengejar langkah Ren.


"Anoo, Aku sangat menyesal. Aku minta maaf dengan sungguh-sungguh." Dengan menundukkan kepala yang sangat rendah, kedua pemuda itu menghampiri Ren.


Suasana seketika menjadi hening, Ren hanya berdiri tanpa tahu apa yang harus dikatakan.


"Bolehkah jika kami melihatnya." Aoyama membuka suaranya dan merangkul pundak Ren.


"Dengan senang hati, datanglah ketempat kami." Jawab seorang pemuda itu dan tersenyum lega.


"Hum, aku akan datang melihatnya." Dengan tersenyum Ren memberikan balasan kemudian berpamitan pergi.


Disepanjang jalan Ren masih melihat kartu nama yang diberikan oleh anak muda yang bernama Taiga. Dan Aoyama hanya memperhatikan Ren yang tersenyum, tapi pandangan yang menyenangkan berubah menjadi suram saat Aoyama melihat Ren yang menghadap ke langit.

__ADS_1


__ADS_2