Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 99 : Terbang ke Langit


__ADS_3

"Seharusnya aku tidak boleh berada di sini, karena aku adalah seorang pelayan di kedai ini," ucap Colin dengan muka yang memucat. "Tapi kau malah memaksaku bergabung, aku malu ketika rekan-rekanku memandangiku dengan aneh."


Colin saat ini sedang duduk di meja yang sama dengan Paul, Isabella, dan Abbas. Namun, saat tiga orang itu tengah menikmati makanan dan minuman yang tersaji di atas meja, Colin hanya terdiam kaku di kursinya, tanpa sedikit pun menyentuh makanan mau pun minuman yang diberikan Paul padanya.


"Ngomong-ngomong," Isabella berkata sembari mulutnya mengunyah kentang goreng yang berbentuk stik. "Aku telah mengajak pindah teman-teman pahlawanmu ke hotel di dekat sini, apa kau sudah tahu tentang itu?"


"EEEEEEEH!?" Colin memekik dengan histeris saat mendengar pernyataan yang diungkapkan Isabella. "P-Pindah!? Ke sebuah hotel!?" Colin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung. "Aku baru tahu tentang hal itu!" Colin menatap mata Isabella lekat-lekat. "Mengapa kau memindahkan mereka ke sebuah hotel!?" Colin pun langsung menoleh pada Paul dengan cepat. "Hey! Paul! Mengapa kau terima-terima saja murid-muridmu dipindahkan ke sebuah hotel!? Bukankah biaya tidur di hotel itu sangat mahal!? Memangnya siapa yang akan membayar tagihannya!? Apalagi jumlah murid-muridmu itu cukup banyak, kan!? ITU GILA! ITU SANGAT GILA!""


"DIAM! BRENGSEK!" Jengah mendengar teriakan-teriakan Colin, Paul langsung membentaknya dengan keras. "Kau ini berisik sekali! Dasar Pecundang!" Paul menghela napasnya dengan jengkel.


"Tapi! Aku masih--"


"JUSTRU!" seru Paul dengan kencang. "ITU ADALAH IDEKU!"


Seketika, Colin mematung. "Hah? Idemu? Kau pasti bercanda, kan?"


"AKU SERIUS!"


"Mustahil!"


"AKU BILANG! AKU SERIUS!"


Akhirnya Colin mengalah, dia membiarkan dulu Paul berbicara dengan tenang. Agar seruannya itu tidak mengganggu ketenangan para pelanggan lain--yang kini mereka semua tengah memandangi meja yang dihuni oleh Paul dan kawan-kawan.

__ADS_1


"Yang menanggung biaya penginapan dan segala hal, adalah orang ini." Paul menunjuk ke arah Isabella yang sedang menyeruput segelas jus jeruk asam. "Dia menggunakan uang yang ada di dalam rekeningnya, hasil dari pekerjaannya sebagai seorang *******, untuk membiayai semua kebutuhan kami!" Paul memelototi Colin dengan tajam. "Meskipun dia dulunya seorang *******! Dia cukup dermawan! Jadi, jangan mengatakan hal-hal yang menyakitkan padanya! Brengsek!"


Colin terbelalak mendengar semua penjelasan itu, rasanya kepalanya seperti mau pecah. Sungguh, dia tidak percaya keberuntungan memihak kepada Paul dan para pahlawannya, bayangkan saja kalau Isabella tidak terpilih sebagai pahlawan, mungkin Colin selalu melihat Jeddy dan yang lain berada di rumah Paul. Perlahan-lahan, Colin mulai memahaminya dan ia pun tidak berat lagi untuk menyunggingkan senyumannya.


"Begitu rupanya," Colin tampak gembira setelah memahaminya. "Aku lega mendengarnya, terima kasih, Paul!" Pelan-pelan, Colin menggeserkan pandangannya pada Isabella yang duduk di sampingnya. "Maafkan aku, karena tadi sempat menganggapmu aneh hanya karena kau ini seorang *******. Aku benar-benar minta maaf, Isabella!"


Tawa Isabella pecah mendengar permohonan maaf itu. "Ya ampun, kau ini ada ada saja, ya?" Isabella terheran-heran pada Colin. "Kau tidak perlu meminta maaf padaku, pekerjaanku memang kotor, dan wajar jika orang lain memandangku dengan pandangan negatif. Itu bukan hal yang aneh. Aku sudah terbiasa. Jadi, tidak usah sungkan." Mendadak, Isabella meraba-raba paha Colin dengan lembut. "Tapi kalau kau masih saja ragu-ragu, aku akan menjilati batang yang menempel di selangkanganmu itu, sampai air putihnya keluar. Kau mau?"


Colin langsung bergidik ngeri saat pahanya tiba-tiba disentuh oleh Isabella, ia langsung berdiri dari kursinya dan menepis tangan perempuan itu dengan ketakutan. "Kumohon! Jangan lakukan itu padaku!" pinta Colin saking kagetnya pada perlakuan Isabella yang agresif.


Melihatnya, Isabella kembali tertawa terbahak-bahak. "Baiklah, maaf-maaf!"


Colin pun kembali duduk di kursinya, dan ia pun mulai menatap lekat-lekat muka Abbas, Paul, dan Isabella. "Kelihatannya, kalian akan pergi ke suatu tempat, pasti mencari pahlawan baru, ya!?"


"WOW!" Colin sumringah mendengarnya. "Katakan padaku! Kota mana yang akan kalian kunjungi! Dan orang seperti apa yang akan kalian temui di sana!" Colin tampak bersemangat sekali. "Andai saja ini hari minggu! Mungkin aku akan ikut bersama kalian! Tapi sayangnya ini hari kerja."


"Kami akan pergi ke Kota Barasta!"


"Barasta!?" Colin tercekat saat mendengar ucapan Paul. "Itu kota pelabuhan, kan!? Yang letaknya berada di bagian utara Negara Madelta!" Colin mulai berbisik. "Katanya sih, dengar-dengar, Barasta itu tempatnya para bajak laut, perompak, penjahat, dan pembunuh bayaran, berkumpul!"


"Hah?" Paul mengerutkan kening. "Kau tahu dari mana?"


"Aku tahu dari para pelanggan!" jawab Colin dengan antusias. "Aku sering mendengar percakapan para pelanggan yang dulunya penduduk asli di Barasta. Dan kebanyakan, mereka sering membicarakkan keburukkan-keburukkan yang ada di kota itu, bahkan tindakan kriminal sudah seperti kegiatan rutin di kota itu! Kasus pencurian, perampokan, pemerkosaan, hingga pembunuhan, sudah menjadi hal yang biasa di Barasta!"

__ADS_1


"Sepertinya menarik," Isabella tersenyum senang. "Aku suka dengan ketegangan, itu membuat 'bibir keduaku' berdenyut-denyut tak karuan."


"Jangan khawatir," Abbas memperlihatkan otot besar di tangannya pada Paul, Colin, dan Isabella. "Aku akan melindungi kalian."


"Ahhh," Isabella mendesah saat melihat otot-otot yang ada di tangan Abbas. "Kau membuatku bergairah, Abbas."


Colin memandang ngeri pada tingkah Isabella, Abbas hanya tersenyum tipis, sementara Paul langsung berseru pada mereka, "Kalau situasi Barasta memang benar begitu! Maka itu artinya, petualangan kita dalam menemukan pahlawan baru, sedikit lebih berat! Tapi," Paul memandang muka Abbas dan Isabella dengan serius. "Apa kalian masih siap!?"


Abbas dan Isabella menganggukkan kepalanya serentak. Paul tersenyum melihatnya. "Bagus! Kalian memang bisa diandalkan! Tidak seperti orang yang ada di depanku ini!" sindir Paul pada Colin yang duduk di seberangnya.


"Eeeeh!? Jangan begitu, dong!" Colin kesal saat Paul menyindirnya dengan blak-blakkan begitu. "Bukankah selama ini aku cukup berguna!"


"Berguna apanya!?" Paul mengangkat bahunya dengan memandang rendah Colin. "Kau selalu menjerit-jerit ketakutan saat berpetualang denganku! Jujur saja, itu memuakkan sekali."


Setelah menghabiskan sarapannya masing-masing dan membayar tagihannya, Paul, Isabella, dan Abbas bergegas pergi dari kedai tersebut. Kepergian mereka diantar oleh Colin.


"Kalau kalian mau naik bus! Di dekat situ ada halte! Tunggu saja busnya di sana!" seru Colin pada Paul, Isabella, dan Abbas yang sudah berjalan jauh.


"Kami tidak naik bus lagi! Bodoh!" Paul membalas seruan itu dengan teriakan. "Kami akan terbang ke langit!"


Mendengar itu, Colin mengernyitkan alisnya. "Terbang!? Apa-apaan itu!? Jangan bercanda, Paul!"


"Kami seriuuuus! Bodoh!" timpal Paul dengan berteriak kencang. "Kami akan terbang ke langit dengan sebuah helikopter!"

__ADS_1


"Apa!?" Colin terbelalak mendengarnya. "Helikopter!?" Colin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan banyak bercanda, Pauuuuul!"


__ADS_2