
Mereka semua, manusia-manusia yang punya hubungan darah dengan Rara, terlihat jengkel saat Lizzie mengejek dan meremehkan mereka. Gadis berambut oranye itu, yang dadanya sangat rata seperti lelaki, telah menciptakan suasana yang tegang, ia masih belum sadar kalau apa yang diucapkannya bisa menimbulkan malapetaka untuk dirinya sendiri.
Lizzie, yang masih tampak santai, hanya menyunggingkan senyuman miring sembari memandangi gerombolan orang yang kini sedang berdiri beberapa meter di depannya, dengan membawa senjata-senjata pamungkas seperti pedang, tongkat bisbol, gergaji mesin, pistol, bahkan bom waktu. Gadis itu menganggap kalau orang-orang yang ada di depannya ini, hanya sekumpulan **** yang tidak tahu caranya bertarung, mungkin iya mereka saat ini membawa senjata-senjata yang cukup mematikan. Tapi Lizzie yakin, mereka semua tidak akan bisa menggunakannya dengan benar.
Rasanya seperti melihat anak-anak sedang memegang senjata-senjata mainan.
"Ayo? Kemarilah! Bunuh aku! Tunjukkan kemampuan kalian!" Lizzie menyeringai jahat dengan nada yang sengaja memancing mereka untuk bergerak, karena sejujurnya ia pun penasaran pada bagaimana caranya mereka bertarung.
Dan, secara kompak, keluarga besar itu langsung bergerak dengan mata yang mengeluarkan amarah besar terhadap Lizzie. Mereka semua tidak terima rumah yang mereka tinggali dimasuki oleh gadis biadab seperti Lizzie, mereka juga tidak terima melihat salah satu keluarga mereka, Wanita yang merupakan Ibu Kandung Rara, terluka oleh sayatan yang dibuat oleh Lizzie.
"KAU TELAH MELUKAI ISTRIKU!" Pria tegap, yang ditangannya memegang gergaji mesin, berteriak kencang dengan emosi yang kuat. Air matanya sedikit mengalir, sepertinya lelaki itu sangat terpukul melihat wanita yang dicintainya, terbaring lemah dengan darah segar yang menggenangi lantai. "KAU AKAN MENYESAL TELAH BERURUSAN DENGAN KELUARGA INI! LIZZIE!"
"HAHAHAHAHA!" Tak mau diam saja, Lizzie pun tertawa-tawa dengan begitu membahana, mengalahkan teriakan pria itu. "Aku tidak menyangka kalau kalian sebusuk itu! Terutama kau!" Lizzie menunjuk pria yang barusan bersuara, yang juga merupakan ayah kandungnya Rara. "Kenapa kau bisa begitu marah saat melihat perempuan ini terluka! Sedangkan saat Putrimu terusir dari rumah, kau tidak menunjukkan kemarahan sama sekali! Apa maksudnya itu!? Apakah maksudnya dia lebih berharga dari Anak Kandungmu sendiri!? Kalau itu benar, artinya kau ini... BENAR-BENAR SOSOK AYAH YANG ********!"
Paul terdiam saat melihat pertengkaran itu, entah kenapa, dia merasa kalau tindakan Lizzie tidak sepenuhnya salah. Gadis itu datang kemari hanya ingin membela sahabat kecilnya yang terusir dari keluarganya. Lizzie terlihat sangat marah dengan itu semua, gadis itu tidak main-main, amarahnya benar-benar meruak layaknya harimau yang meraung-raung.
Hening sesaat.
Pria itu tidak membalas ucapan Lizzie, malah sebaliknya, dia memberikan suatu kode pada keluarganya, dan sedetik kemudian, mereka semua bergerak, maju secara bersamaan mendatangi Lizzie. Suara gergaji mesin yang dinyalakan menambahkan kesan yang sangat menyeramkan, mereka semua akan membantai Lizzie tanpa ampun.
Lizzie sedikit tersentak, apalagi kali ini lengan kanannya patah, ia tidak bisa bergerak leluasa dengan kondisi seperti ini, rasa sakit di tulangnya pun masih terasa perih. Tapi Lizzie tidak mau menunjukkan kelemahannya pada orang lain, dia akan melawan mereka semua, tidak peduli pada keadaan tubuhnya yang sedang rusak.
Menyaksikan Lizzie akan didatangi oleh gerombolan keluarga Rara, Paul langsung cepat-cepat menghampiri gadis itu lalu berseru, "Kau akan mati jika menghadapi mereka sekaligus! Bodoh!" Lizzie menoleh pada Paul, tapi ketika gadis itu hendak merespon ucapannya, dia langsung menarik tangan Lizzie dengan kasar. "Kita harus kabur dari sini!"
__ADS_1
"Hey! Lepaskan! Apa yang kau lakukan! Aku masih bisa bertarung!" Saat tangan Lizzie ditarik oleh Paul, gadis itu langsung meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Tapi Paul tidak mendengarkannya, dia langsung menarik dan membawa Lizzie lari dari sergapan keluarga Rara.
Paul terus berlari kencang dengan tangan yang masih menarik lengan Lizzie, sementara di belakang, gerombolan itu mengejar mereka dengan teriakan-teriakan yang menggelora. Paul tidak sangka kalau rumah mewah ini diisi oleh orang-orang yang sangat menakutkan, bahkan untuk ukuran nenek dan kakekpun, begitu energik ketika mengejar Paul dan Lizzie.
Paul terus berlari dan berlari menuju pintu keluar, mengabaikan seruan-seruan tajam dari orang-orang yang mengejarnya di belakang. Sedangkan Lizzie terlihat kesal tapi sedikit pasrah, karena tarikan tangan Paul benar-benar kuat dan sulit untuk dilepas, yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha untuk mengimbangi kecepatan larinya agar tidak menghambat pergerakan lelaki itu.
"BERHENTI KAU! LIZZIE!" Tampaknya, pria itulah yang memimpin keluarganya untuk menyerang Lizzie, karena hanya dia yang terlihat begitu marah. Gergaji mesin yang dipegangnya pun terus dinyalakan, mengeluarkan suara derikan yang menyeramkan.
"Hahh... Hahh.... Hahh...," Napas Lizzie hampir habis, dia tidak kuat lagi untuk berlari, pergerakannya mulai melambat dan melambat. Sadar pada hal itu, Paul langsung berhenti mendadak, kemudian, ia langsung membopong tubuh Lizzie dan kembali berlari hingga akhirnya, mereka berdua berhasil keluar dari rumah mewah itu dan tentunya lolos dari sergapan keluarga gila tersebut.
"B-********!" Setelah Paul menurunkan tubuh Lizzie di bawah tiang listrik pinggir jalan, gadis itu langsung beringsut menjauhi lelaki itu dengan tatapan ngeri. "Untuk apa kau menggendongku tadi!? Aku tidak butuh pertolonganmu!" Lizzie jengkel mengingat dirinya dibantu oleh Paul untuk kabur dari serbuan keluarganya Rara. Padahal dia sama sekali tidak punya niat untuk melarikan diri, itu membuat harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Aku tidak peduli kau senang atau pun tidak pada tindakanku, tapi jika kau kubiarkan berada di sana, kau bakal mati dibantai oleh keluarga itu!"
"Memangnya kenapa jika aku mati!?" Berang, Lizzie menimpali omongan Paul dengan muka yang congkak. "Aku bukan temanmu! Aku ini musuhmu! Untuk apa kau membantu musuhmu yang sedang kesulitan!? Kau hanya akan mendapatkan perlakuan seperti ini dariku! Aku tidak akan berterima kasih padamu! Karena aku tidak meminta bantuanmu! Kau yang melakukannya tanpa permisi!"
Karena ini masih tengah malam, suara Paul terdengar sangat nyaring sampai memantul-mantul di jalanan yang gelap dan sepi ini. Di sepanjang jalan, hanya tampak kegelapan dan keheningan, tidak ada kendaraan yang lewat sedikit pun. Sepertinya Paul membawa Lizzie jauh dari lokasi sebelumnya, mungkin jika dia membawa gadis itu ke rumahnya, itu sama saja bunuh diri.
Karena lokasi rumah keluarga Rara dengan rumah Lizzie itu bersebelahan, yang artinya, mereka pasti bakal tertangkap jika melarikan diri ke sana.
Seketika, Lizzie menjongkokan badannya, dia terlihat kelelahan. Napasnya masih terengah-engah dan dadanya kembang-kempis, sama seperti Paul.
"Gagal! Aku gagal!" Disela-sela hirupan napasnya, Lizzie terlihat kesal. "Padahal hanya membantai keluarga kaya yang lemah, tapi aku malah gagal! Rara pasti bakal kecewa padaku!" Lizzie langsung memandangi Paul yang berdiri di sampingnya. "Ini juga karena ulahmu! Jika kau tidak ikut campur, mungkin aku sudah berhasil membantai mereka semua! Kau memang pembawa sial! ********!"
__ADS_1
Paul hanya terdiam sejenak, hingga akhirnya, ia berkata, "Lizzie, dengarkan aku," Ekspresi Paul terlihat sangat serius, membuat Lizzie sedikit heran. "Aku akan bicara langsung ke intinya."
"Kau mau apa lagi!?" Tapi Lizzie masih tidak begitu suka pada Paul. Dia menganggap apa pun yang diucapkan lelaki bodoh itu, tidak penting.
"Untuk kali ini! Aku ingin kau dengarkan omonganku dengan serius!" Urat-urat di leher Paul sampai menonjol saat mengatakan itu, saking jengkelnya. "Dengar! Aku sudah sangat muak pada sikapmu! Tapi aku harus mengatakan ini karena aku tidak mau buang-buang waktu lagi di sini! Jadi dengarlah baik-baik! Brengsek!"
Lizzie merengut, menampilkan raut muka yang tidak tertarik.
"Lizzie! Aku tidak peduli kau mau percaya atau pun tidak pada ucapanku! Tapi akan kukatakan dengan jujur sekarang!" Paul menarik napasnya dalam-dalam, lalu dihembuskan secara perlahan. "Kau telah terpilih menjadi pahlawan!" Lizzie terbelalak mendengarnya. "Dan aku! Paul! Sebagai Mentormu! Akan membimbingmu menjadi pahlawan sejat--"
"CUKUP! ITU MENJIJIKAN!"
Tiba-tiba, omongan Paul dipenggal oleh Lizzie dengan cepat, membuat lelaki itu tersentak mendengarnya.
"Aku belum selesai berbicara! Brengsek!"
"Sudah kubilang! Cukup! Itu sangat menjijikan!
"Menjijikan apanya!? Keparat!"
"Pokoknya menjijikan!"
Paul benar-benar geram pada tanggapan Lizzie, dia harus mencari cara lain agar bisa membuat gadis itu bersedia jadi muridnya secepat mungkin. Karena jujur saja, dia harus kembali ke rumah sakit untuk membangunkan Abbas yang katanya sudah mati, jadi dia tidak punya waktu banyak.
__ADS_1
Paul mulai memikirkan strategi agar Lizzie bisa takluk padanya, dan beberapa detik termenung, tiba-tiba saja matanya terbuka lebar.
Paul menemukan ide baru.